2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 11, 2019
in Khas
Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 -- Duta Kabupaten BUleleng (Foto-foto Widnyana Sudibya)

Ini pertanyaan sejak lama, sejak lagu Pop Bali atau Lagu Daerah Bali dilombakan lalu diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Kenapa lagu-lagu pop Bali ala PKB yang selalu menyedot penonton dan mendapat tepuk tangan meriah itu jarang sekali berlanjut kepada kepopuleran lagu-lagunya di masyarakat?

Di PKB, lagu pop Bali yang ditampilkan di atas panggung dengan segala properti, kadang lebih menonjolkan tarian, kadang lebih mengedepankan aksi teatrikal, itu memang selalu mendapat penonton melimpah.

Bahkan, selain menonton gong kebyar, para bupati, wakil bupati, dan pejabat-pejabat penting di setiap kabupaten hampir selalu punya kesempatan untuk menonton pemanggungan lagu-lagu daerah Bali itu – satu bentuk dukungan dari pejabat yang jarang dilakukan terhadap pementasan kesenian langka semacam wayang kulit, gambuh, wayang wong, arja atau taman penasar alias arja duduk.

Mungkin karena penonton yang selalu melimpah, maka pementasan lagu daerah Bali yang dulu-dulunya diadakan di Gedung Ksirarnawa dipindah ke panggung terbuka Ardha Candra. Atau mungkin karena para penyanyi, pemusik dan artis-artis pendukungnya mengiginkan kalangan yang lebih besar agar lebih leluasa memainkan aksi-aksi panggungnya.

Di kalangan yang sebesar itu, penyanyi, apalagi penyanyi anak-anak, tentu saja tak bisa hanya mengandalkan suara. Ia harus melanglang panggung, bila perlu dengan mengajak banyak pendukung seperti penari latar atau properti meriah. Jika hanya dibiarkan satu penyanyi klutar-klatir di tengah panggung, bisa terjadi “penyanyi uluh panggung” – tubuh penyanyi disantap oleh kebesaran panggung.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 – Duta Kabupaten Badung

Mungkin hal semacam itulah yang membuat kita menjadi maklum bahwa sebuah penampilan seorang penyanyi dianggap bagus bukan semata karena suaranya, iramanya, nadanya, dan hal-hal teknis menyangkut seni suara, melainkan seorang penyanyi mendapat sanjungan karena tampil secara bagus, tak jelas apakah bagus akibat penari latar, performance, aksi teatrikal, atau properti-properti, selain alat musik tentu saja, yang kadang menumpuk dan ikut berseliweran di atas panggung.

Meski banyak pengamat punya anggapan bahwa lagu pop daerah Bali memiliki pakem dan aturan-aturan estetika yang khas, namun sesungguhnya sejak awal dipentaskan dalam PKB seni suara yang dipanggungkan itu seakan tak memiliki batasan yang jelas.

Kalau grup yang sudah kerap ditunjuk, apalagi hampir setiap tahun, mungkin saja punya gambaran yang jelas tentang apa-apa yang hendak ditampilkan dan bagaimana cara menampilkannya agar penonton puas. Namun bagi peserta yang baru pertama kali ditunjuk untuk mewakili sebuah kabupaten, misalnya, tak akan punya gambaran yang pasti tentang apa yang hendak diprioritaskan dalam pementasan itu, kecuali mereka ikut-ikut saja kata senior.

Aksi Panggung atau Aksi Musik dan Vokal?    

Jika disampaikan pertanyaan apakah parade pop Bali itu mengedepankan aksi panggung atau aksi musik dan suara, maka kita akan mendapat jawaban yang klise. “Ya, kedua-duanya. Nyanyinya harus bagus, aksi panggungnya juga bagus!”

Ya, iyalah. Faktor musik dan suara tentu saja penting. Namanya saja lagu, lengkapnya Parade Lagu Daerah Bali. Namun aksi panggung juga penting karena tidak semua orang yang dating di Ardha Candra mengerti sepenuhnya soal musik. Mungkin termasuk pejabat-pejabat yang anteng duduk di depan itu tak banyak yang tahu soal musik. Mereka datang menonton, dan tak sepenuhnya menyiapkan telinganya untuk mendengar, apakah musiknya meleseta atau bukan, apakah suara penyanyinya fals atau bukan.

Yang diharapkan penonton adalah tontonan yang bagus. Maka, ya, pastilah aksi panggung juga harus penting. Maka itu properti (bukan rumah BTN, ya), dan penari-penari latar juga harus dimainkan di atas panggung.

Tak penting, apakah lagu itu kemudian diingat, menjadi kenangan, dan akhirnya menjadi lagu legenda sepanjang masa, atau lagu itu dilupakan setelah penonton bubar dan berebut mengambil motor di parkiran.  


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Bangli

Mungkin sebab itu pula maka banyak yang mempertanyakan kenapa lagu-kagu hasil ciptaan para seniman musik yang pentas dalam PKB tak banyak dikenal orang. Lagu-lagu pop Bali ala PKB yang konon sudah sesuai rumusan dan pakem khas Bali itu masih kalah popular di masyarakat atau di pasaran dengan lagu-lagu Bali yang dibuat sekadarnya, semisal lagu Bali yang cengeng dengan lirik tanpa logika yang jelas. Yang ada malahan banyak lagu-lagu yang sudah popular dan komersil justru diangkat ke atas panggung.

Ini mungkin karena sebagai tontonan kadang sebuah grup musik yang tampil lebih memprioritaskan aksi panggung ketimbang kualitas lagu yang diciptakan. Karena bagaimana pun sorak di panggung lebih memuaskan ketimbang segelintir orang yang terkesima mendengarnya dan sesekali memberi apresiasi lewat tulisan di media massa.  

Seorang seniman penggarap dalam Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja dalam PKB tahun 2019 ini sempat menyampaikan keluhan lewat WA. “Dari zaman dulu panitia atau pembina selalu menekankan, ‘Jangan membawa banyak properti di atas panggung, wujudkan ide-ide kreatif dalam bentuk garapan…!”


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kota Denpasar

Tapi kenyataanya, kata dia, pada saat pentas sejumlah grup seaakan saling berlomba banyak-banyakan bawa properti. Kalau penonton yang tak paham soal musik, mungkin akan menganggap yang banyak properti itulah yang wah dan bagus, meski misalnya garapan musik dan suara penyanyinya pas-pasan.

Mungkin karena itu pula, jangan-jangan sebuah grup musik keasyikan main di atas panggung, tanpa punya kepercayaan diri untuk rekaman. Jangan-jangan pula, panitia hanya ingin musik itu berada di atas panggung. Untuk urusan apakah lagu itu menyebar ke masyarakat, itu urusan bagian lain.

Belum Berhasil

Sebagai tujuan awal diadakannya Parade Lagu Daerah Bali pada setiap PKB adalah memperkenalkan sekaligus mengakarkan lagu pop Bali di hati masyarakat. Namun tampaknya parade itu sepertinya hanya jadi ajang rutin yang belum banyak menularkan iklim penciptaan musik yang berkualitas di masyarakat.

Ketut Sumerjana, salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja, mengaku bahwa sampai saat ini belum ada upaya lebih lanjut untuk mengeksiskan lagu pop Bali baik secara nasional maupun internasional.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Gianyar

“Padahal visi misinya supaya tahu lagu pop Bali itu kayak gimana sih, sayang sekali ini baru sebatas rutinitas,” katanya di sela-sela Parade Lagu Daerah Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar , Selasa malam (9/7). Saat itu kelompok yang tampil adalah duta Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar.

Pria yang kesehariannya menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini juga mengungkapkan pada parade terdahulu dirinya dan tim sempat mengajukan untuk memperjelas bentuk karya selepas parade ini.

 “Sempat kita ajukan untuk memperjelas bentuk karya dalam parade ini ya agar dialbumkan dan dapat  mendarah daging di masyarakat tapi ya belum berhasil,” terang Sumerjana.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Jembrana

Ketidakberhasilan dalam rencana produksi lagu-lagu yang dinyanyikan dalam parade ini kepada pemerintah lantaran alasan klise yakni soal pendanaan. Sayang beribu sayang apabila perhelatan akbar ini hanya sebatas rutinitas tanpa sebuah keberlanjutan.

“Tidak hanya parade ini saja, parade lainnya di PKB pun juga berhak diramu kembali bentuk karyanya, minimal album digital-lah,” usul Sumerjaya. “Media sosial tak cukup untuk memperkenalkan karya para seniman yang sungguh berbakat ini, sebab yang terpenting dalam sebuah karya seni adalah hak cipta.”

Tak Perlu Kaku

“Semuanya punya sasaran dan tujuan berbeda, apa yang jadi selera pasar ya itu yang diputar!”

Pendapat itu dating dari pengamat seni, I Komang Darmayuda, sela-sela parade, Rabu malam (10/7). Saat itu, yang tampil adalah kelompok musik daerah Bali dari Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli.

Menurut Darmayuda, lagu daerah Bali non komersil memang diikat oleh pakem bahasa, sehingga perlu nalar lebih untuk menikmatinya. Walau begitu sebenarnya pelestarian tak mesti kaku. Untuk bertahan di tengah derasnya arus globalisasi, Lagu Bali perlu pengembangan besar-besaran tanpa harus khawatir meninggalkan pakem. Selaku salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali, Darmayuda telah mengupayakan pembuatan album Bali Kumara yang berisi kumpulan penyanyi anak-anak dan remaja dengan lagu bertemakan budaya serta nasionalisme.

“Bali Kumara adalah album anak-anak di youtube, tapi kita ini tujuannya bukan komersil melainkan pelestarian,” jelas Darmayuda. Darmayuda pun tak menampik bahwa lagu-lagu bertemakan budaya dengan bahasa Bali halus memang cukup sulit diterima masyarakat.

“Lagu daerah Bali dibunuh berdasarkan kriteria yang mengikat, sebagai penonton itu harus beda menikmatinya, perlu wawasan ekstra,” terang Ni Wayan Ardini yang turut sebagai tim pengamat.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Klungkung

Sejauh ini, lagu-lagu daerah Bali dengan nuansa Budaya dan Nasionalisme menggunakan istilah-istilah yang berat dipahami pendengar. Aransemen musik perlu dibuat lebih ringan jika lagu dengan tipikal budaya dan nasionalisme tetap ingin didengarkan. Ardini pun mengungkapkan, pernah diadakan sebuah kompetisi menciptakan lagu Bali bertemakan budaya untuk dikomersialisasikan yang didanai proyeknya oleh pemerintah.

“Waktu eranya Wirasuta (salah seorang penyanyi Bali) itu Taluh Semuuk nika, pernah sekali mengkomersialisasikan lagu tema budaya tapi tidak berhasil,” tutur Ardini.

Meng-indie-kan lagu daerah Bali adalah langkah yang terbaik, penciptaan lagu perlu dimaknai dengan filosofi mendalam sehingga membekas dibenak pendengar. “Pengemasannya perlu diperbaiki, penampilannya bisa lebih disederhanakan, dan strategi pelestarian harus terus digali,” papar pengamat seni, Ketut Sumerjaya.

Sumerjaya memang tak mau kaku soal pelestarian dan tak menampik jika ingin lagu daerah Bali didengar masal masyarakat, harus melalui tahap-tahap strategi pasar. Sayangnya, hal ini masih menjadi polemik tersendiri. Di satu sisi untuk meningkatkan eksistensi lagu daerah Bali dengan pesan bajik perlu langkah komersil, dalam sisi lainnya Parade Lagu Daerah Bali utamanya adalah pelestarian bukan ajang komersil.

Penampilan Duta Kabupaten dan Kota

Dalam PKB 2019 ini pada hari pertama Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja menampilkan empat kabupaten/kota yang memukau penonton.  Dengan ciri khasnya masing-masing, keempat kabupaten/kota tersebut yakni Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar, mengemas dengan apik lagu anak-anak daerah Bali yang mulai jarang diperdengarkan.

Penampil pertama datang dari Sanggar Giri Anyar, Banjar Celuk, Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar dengan membawakan lagu Ratu Anom, Guak Maling, Made Cenik sebagai lagu gabungan, disusul dengan lagu bertajuk Melayangan, Tresna Sehidup Semati (Lagu Komersil), Kebo Iwa (Lagu Ciptaan Sendiri), dan Sasih Kawulu (Lagu Wajib).

Sebagai penampil kedua, Sanggar Eka Mahardika, Abiansemal sebagai Duta Kabupaten Badung membawakan lagu bertajuk Meme sebagai lagu anak-anak, Made Cenik, Pulsinoge, Ketut Garing sebagai lagu gabungan, dan dilanjutkan dengan lagu bertajuk Bungan Jepun, Baleganjur, Sasih Kaulu.

Selepas ke selatan, penonton pun diajak menuju Bali Utara yakni Demores Rumah Musik Singaraja, Desa Pemaron, Buleleng. Dengan lagu yang dibawakan diantaranya Lila Cita, lagu gabungan Janger, Don Dap dappe, Dija Bulane, lalu berlanjut dengan lagu Spirit Truna Jaya, Sasih Kaulu, dan Lagu Luu.

Terakhir, Denpasar yang diwakili oleh Sanggar Musik Catur Muka Swara membawakan lagu Jempiring Putih, Ratu Anom, Made Cenik, Kaki Jenggot Uban (Lagu Gabungan), Pindekan Pakubon, Sasih Kaulu, dan Toh Langkir. Seluruh penampil tampak luar biasa dengan keterampilan layaknya penyanyi profesional.

Di hari kedua, Rabu malam (10/7) Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja kembali berlanjut dengan penampilan keempat kabupaten yakni Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli. Jembrana yang diwakili oleh Sanggar Kumara Widya Suara mengawali garapan dengan membawa nafas Jegog yang khas dalam setiap lagu-lagu yang dibawakannya yakni Melali ke Hotel Nusa Dua, Medley lagu Ratu Anom, Curik-Curik, Meong-Meong, dan lagu untuk kategori remaja Bungan Sunar Raga, Pelagan Selat Bali, dan Sasih Kaulu.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Tabanan

Penampilan pun berlanjut ke Sanggar Vocalia Kencana Nada, Duta Kabupaten Klungkung dengan lagu anak anak Tridatu Maha Suci, Medley: Goak Maling, Putri Cening Ayu, Juru Pencar, dan lagu Remaja diantaranya Jukut Serombotan, Idup Melarat, dan Sasih Kaulu. Tabanan yang diwakili oleh Gita Music Study Tabanan membawakan lagu bertajuk Merah Putih, Ratu Anom, dan Macecimpedan.

Dilanjutkan dengan lagu betajuk Luwih Rasa, Sasih Kaulu, Jagat Tabanan, Don Dapdape. Penampilan terakhir datang dari Sanggar Seni Belog Ajum Bangli dengan mebawakan lagu anak-anak Sekar Cempaka, Medley: Curik-Curik, Cening Putri Ayu, Ngalih Bagia, Sasih Kaulu, Cihna, dan Mebunga-bunga dengan memukau. [T] [*] [Ananta]

Tags: laguLagu Pop Balimusikmusik pop baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2019
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Jenis Pasien Berdasarkan Kegawatannya

Next Post

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co