5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 11, 2019
in Khas
Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 -- Duta Kabupaten BUleleng (Foto-foto Widnyana Sudibya)

Ini pertanyaan sejak lama, sejak lagu Pop Bali atau Lagu Daerah Bali dilombakan lalu diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Kenapa lagu-lagu pop Bali ala PKB yang selalu menyedot penonton dan mendapat tepuk tangan meriah itu jarang sekali berlanjut kepada kepopuleran lagu-lagunya di masyarakat?

Di PKB, lagu pop Bali yang ditampilkan di atas panggung dengan segala properti, kadang lebih menonjolkan tarian, kadang lebih mengedepankan aksi teatrikal, itu memang selalu mendapat penonton melimpah.

Bahkan, selain menonton gong kebyar, para bupati, wakil bupati, dan pejabat-pejabat penting di setiap kabupaten hampir selalu punya kesempatan untuk menonton pemanggungan lagu-lagu daerah Bali itu – satu bentuk dukungan dari pejabat yang jarang dilakukan terhadap pementasan kesenian langka semacam wayang kulit, gambuh, wayang wong, arja atau taman penasar alias arja duduk.

Mungkin karena penonton yang selalu melimpah, maka pementasan lagu daerah Bali yang dulu-dulunya diadakan di Gedung Ksirarnawa dipindah ke panggung terbuka Ardha Candra. Atau mungkin karena para penyanyi, pemusik dan artis-artis pendukungnya mengiginkan kalangan yang lebih besar agar lebih leluasa memainkan aksi-aksi panggungnya.

Di kalangan yang sebesar itu, penyanyi, apalagi penyanyi anak-anak, tentu saja tak bisa hanya mengandalkan suara. Ia harus melanglang panggung, bila perlu dengan mengajak banyak pendukung seperti penari latar atau properti meriah. Jika hanya dibiarkan satu penyanyi klutar-klatir di tengah panggung, bisa terjadi “penyanyi uluh panggung” – tubuh penyanyi disantap oleh kebesaran panggung.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 – Duta Kabupaten Badung

Mungkin hal semacam itulah yang membuat kita menjadi maklum bahwa sebuah penampilan seorang penyanyi dianggap bagus bukan semata karena suaranya, iramanya, nadanya, dan hal-hal teknis menyangkut seni suara, melainkan seorang penyanyi mendapat sanjungan karena tampil secara bagus, tak jelas apakah bagus akibat penari latar, performance, aksi teatrikal, atau properti-properti, selain alat musik tentu saja, yang kadang menumpuk dan ikut berseliweran di atas panggung.

Meski banyak pengamat punya anggapan bahwa lagu pop daerah Bali memiliki pakem dan aturan-aturan estetika yang khas, namun sesungguhnya sejak awal dipentaskan dalam PKB seni suara yang dipanggungkan itu seakan tak memiliki batasan yang jelas.

Kalau grup yang sudah kerap ditunjuk, apalagi hampir setiap tahun, mungkin saja punya gambaran yang jelas tentang apa-apa yang hendak ditampilkan dan bagaimana cara menampilkannya agar penonton puas. Namun bagi peserta yang baru pertama kali ditunjuk untuk mewakili sebuah kabupaten, misalnya, tak akan punya gambaran yang pasti tentang apa yang hendak diprioritaskan dalam pementasan itu, kecuali mereka ikut-ikut saja kata senior.

Aksi Panggung atau Aksi Musik dan Vokal?    

Jika disampaikan pertanyaan apakah parade pop Bali itu mengedepankan aksi panggung atau aksi musik dan suara, maka kita akan mendapat jawaban yang klise. “Ya, kedua-duanya. Nyanyinya harus bagus, aksi panggungnya juga bagus!”

Ya, iyalah. Faktor musik dan suara tentu saja penting. Namanya saja lagu, lengkapnya Parade Lagu Daerah Bali. Namun aksi panggung juga penting karena tidak semua orang yang dating di Ardha Candra mengerti sepenuhnya soal musik. Mungkin termasuk pejabat-pejabat yang anteng duduk di depan itu tak banyak yang tahu soal musik. Mereka datang menonton, dan tak sepenuhnya menyiapkan telinganya untuk mendengar, apakah musiknya meleseta atau bukan, apakah suara penyanyinya fals atau bukan.

Yang diharapkan penonton adalah tontonan yang bagus. Maka, ya, pastilah aksi panggung juga harus penting. Maka itu properti (bukan rumah BTN, ya), dan penari-penari latar juga harus dimainkan di atas panggung.

Tak penting, apakah lagu itu kemudian diingat, menjadi kenangan, dan akhirnya menjadi lagu legenda sepanjang masa, atau lagu itu dilupakan setelah penonton bubar dan berebut mengambil motor di parkiran.  


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Bangli

Mungkin sebab itu pula maka banyak yang mempertanyakan kenapa lagu-kagu hasil ciptaan para seniman musik yang pentas dalam PKB tak banyak dikenal orang. Lagu-lagu pop Bali ala PKB yang konon sudah sesuai rumusan dan pakem khas Bali itu masih kalah popular di masyarakat atau di pasaran dengan lagu-lagu Bali yang dibuat sekadarnya, semisal lagu Bali yang cengeng dengan lirik tanpa logika yang jelas. Yang ada malahan banyak lagu-lagu yang sudah popular dan komersil justru diangkat ke atas panggung.

Ini mungkin karena sebagai tontonan kadang sebuah grup musik yang tampil lebih memprioritaskan aksi panggung ketimbang kualitas lagu yang diciptakan. Karena bagaimana pun sorak di panggung lebih memuaskan ketimbang segelintir orang yang terkesima mendengarnya dan sesekali memberi apresiasi lewat tulisan di media massa.  

Seorang seniman penggarap dalam Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja dalam PKB tahun 2019 ini sempat menyampaikan keluhan lewat WA. “Dari zaman dulu panitia atau pembina selalu menekankan, ‘Jangan membawa banyak properti di atas panggung, wujudkan ide-ide kreatif dalam bentuk garapan…!”


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kota Denpasar

Tapi kenyataanya, kata dia, pada saat pentas sejumlah grup seaakan saling berlomba banyak-banyakan bawa properti. Kalau penonton yang tak paham soal musik, mungkin akan menganggap yang banyak properti itulah yang wah dan bagus, meski misalnya garapan musik dan suara penyanyinya pas-pasan.

Mungkin karena itu pula, jangan-jangan sebuah grup musik keasyikan main di atas panggung, tanpa punya kepercayaan diri untuk rekaman. Jangan-jangan pula, panitia hanya ingin musik itu berada di atas panggung. Untuk urusan apakah lagu itu menyebar ke masyarakat, itu urusan bagian lain.

Belum Berhasil

Sebagai tujuan awal diadakannya Parade Lagu Daerah Bali pada setiap PKB adalah memperkenalkan sekaligus mengakarkan lagu pop Bali di hati masyarakat. Namun tampaknya parade itu sepertinya hanya jadi ajang rutin yang belum banyak menularkan iklim penciptaan musik yang berkualitas di masyarakat.

Ketut Sumerjana, salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja, mengaku bahwa sampai saat ini belum ada upaya lebih lanjut untuk mengeksiskan lagu pop Bali baik secara nasional maupun internasional.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Gianyar

“Padahal visi misinya supaya tahu lagu pop Bali itu kayak gimana sih, sayang sekali ini baru sebatas rutinitas,” katanya di sela-sela Parade Lagu Daerah Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar , Selasa malam (9/7). Saat itu kelompok yang tampil adalah duta Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar.

Pria yang kesehariannya menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini juga mengungkapkan pada parade terdahulu dirinya dan tim sempat mengajukan untuk memperjelas bentuk karya selepas parade ini.

 “Sempat kita ajukan untuk memperjelas bentuk karya dalam parade ini ya agar dialbumkan dan dapat  mendarah daging di masyarakat tapi ya belum berhasil,” terang Sumerjana.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Jembrana

Ketidakberhasilan dalam rencana produksi lagu-lagu yang dinyanyikan dalam parade ini kepada pemerintah lantaran alasan klise yakni soal pendanaan. Sayang beribu sayang apabila perhelatan akbar ini hanya sebatas rutinitas tanpa sebuah keberlanjutan.

“Tidak hanya parade ini saja, parade lainnya di PKB pun juga berhak diramu kembali bentuk karyanya, minimal album digital-lah,” usul Sumerjaya. “Media sosial tak cukup untuk memperkenalkan karya para seniman yang sungguh berbakat ini, sebab yang terpenting dalam sebuah karya seni adalah hak cipta.”

Tak Perlu Kaku

“Semuanya punya sasaran dan tujuan berbeda, apa yang jadi selera pasar ya itu yang diputar!”

Pendapat itu dating dari pengamat seni, I Komang Darmayuda, sela-sela parade, Rabu malam (10/7). Saat itu, yang tampil adalah kelompok musik daerah Bali dari Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli.

Menurut Darmayuda, lagu daerah Bali non komersil memang diikat oleh pakem bahasa, sehingga perlu nalar lebih untuk menikmatinya. Walau begitu sebenarnya pelestarian tak mesti kaku. Untuk bertahan di tengah derasnya arus globalisasi, Lagu Bali perlu pengembangan besar-besaran tanpa harus khawatir meninggalkan pakem. Selaku salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali, Darmayuda telah mengupayakan pembuatan album Bali Kumara yang berisi kumpulan penyanyi anak-anak dan remaja dengan lagu bertemakan budaya serta nasionalisme.

“Bali Kumara adalah album anak-anak di youtube, tapi kita ini tujuannya bukan komersil melainkan pelestarian,” jelas Darmayuda. Darmayuda pun tak menampik bahwa lagu-lagu bertemakan budaya dengan bahasa Bali halus memang cukup sulit diterima masyarakat.

“Lagu daerah Bali dibunuh berdasarkan kriteria yang mengikat, sebagai penonton itu harus beda menikmatinya, perlu wawasan ekstra,” terang Ni Wayan Ardini yang turut sebagai tim pengamat.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Klungkung

Sejauh ini, lagu-lagu daerah Bali dengan nuansa Budaya dan Nasionalisme menggunakan istilah-istilah yang berat dipahami pendengar. Aransemen musik perlu dibuat lebih ringan jika lagu dengan tipikal budaya dan nasionalisme tetap ingin didengarkan. Ardini pun mengungkapkan, pernah diadakan sebuah kompetisi menciptakan lagu Bali bertemakan budaya untuk dikomersialisasikan yang didanai proyeknya oleh pemerintah.

“Waktu eranya Wirasuta (salah seorang penyanyi Bali) itu Taluh Semuuk nika, pernah sekali mengkomersialisasikan lagu tema budaya tapi tidak berhasil,” tutur Ardini.

Meng-indie-kan lagu daerah Bali adalah langkah yang terbaik, penciptaan lagu perlu dimaknai dengan filosofi mendalam sehingga membekas dibenak pendengar. “Pengemasannya perlu diperbaiki, penampilannya bisa lebih disederhanakan, dan strategi pelestarian harus terus digali,” papar pengamat seni, Ketut Sumerjaya.

Sumerjaya memang tak mau kaku soal pelestarian dan tak menampik jika ingin lagu daerah Bali didengar masal masyarakat, harus melalui tahap-tahap strategi pasar. Sayangnya, hal ini masih menjadi polemik tersendiri. Di satu sisi untuk meningkatkan eksistensi lagu daerah Bali dengan pesan bajik perlu langkah komersil, dalam sisi lainnya Parade Lagu Daerah Bali utamanya adalah pelestarian bukan ajang komersil.

Penampilan Duta Kabupaten dan Kota

Dalam PKB 2019 ini pada hari pertama Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja menampilkan empat kabupaten/kota yang memukau penonton.  Dengan ciri khasnya masing-masing, keempat kabupaten/kota tersebut yakni Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar, mengemas dengan apik lagu anak-anak daerah Bali yang mulai jarang diperdengarkan.

Penampil pertama datang dari Sanggar Giri Anyar, Banjar Celuk, Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar dengan membawakan lagu Ratu Anom, Guak Maling, Made Cenik sebagai lagu gabungan, disusul dengan lagu bertajuk Melayangan, Tresna Sehidup Semati (Lagu Komersil), Kebo Iwa (Lagu Ciptaan Sendiri), dan Sasih Kawulu (Lagu Wajib).

Sebagai penampil kedua, Sanggar Eka Mahardika, Abiansemal sebagai Duta Kabupaten Badung membawakan lagu bertajuk Meme sebagai lagu anak-anak, Made Cenik, Pulsinoge, Ketut Garing sebagai lagu gabungan, dan dilanjutkan dengan lagu bertajuk Bungan Jepun, Baleganjur, Sasih Kaulu.

Selepas ke selatan, penonton pun diajak menuju Bali Utara yakni Demores Rumah Musik Singaraja, Desa Pemaron, Buleleng. Dengan lagu yang dibawakan diantaranya Lila Cita, lagu gabungan Janger, Don Dap dappe, Dija Bulane, lalu berlanjut dengan lagu Spirit Truna Jaya, Sasih Kaulu, dan Lagu Luu.

Terakhir, Denpasar yang diwakili oleh Sanggar Musik Catur Muka Swara membawakan lagu Jempiring Putih, Ratu Anom, Made Cenik, Kaki Jenggot Uban (Lagu Gabungan), Pindekan Pakubon, Sasih Kaulu, dan Toh Langkir. Seluruh penampil tampak luar biasa dengan keterampilan layaknya penyanyi profesional.

Di hari kedua, Rabu malam (10/7) Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja kembali berlanjut dengan penampilan keempat kabupaten yakni Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli. Jembrana yang diwakili oleh Sanggar Kumara Widya Suara mengawali garapan dengan membawa nafas Jegog yang khas dalam setiap lagu-lagu yang dibawakannya yakni Melali ke Hotel Nusa Dua, Medley lagu Ratu Anom, Curik-Curik, Meong-Meong, dan lagu untuk kategori remaja Bungan Sunar Raga, Pelagan Selat Bali, dan Sasih Kaulu.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Tabanan

Penampilan pun berlanjut ke Sanggar Vocalia Kencana Nada, Duta Kabupaten Klungkung dengan lagu anak anak Tridatu Maha Suci, Medley: Goak Maling, Putri Cening Ayu, Juru Pencar, dan lagu Remaja diantaranya Jukut Serombotan, Idup Melarat, dan Sasih Kaulu. Tabanan yang diwakili oleh Gita Music Study Tabanan membawakan lagu bertajuk Merah Putih, Ratu Anom, dan Macecimpedan.

Dilanjutkan dengan lagu betajuk Luwih Rasa, Sasih Kaulu, Jagat Tabanan, Don Dapdape. Penampilan terakhir datang dari Sanggar Seni Belog Ajum Bangli dengan mebawakan lagu anak-anak Sekar Cempaka, Medley: Curik-Curik, Cening Putri Ayu, Ngalih Bagia, Sasih Kaulu, Cihna, dan Mebunga-bunga dengan memukau. [T] [*] [Ananta]

Tags: laguLagu Pop Balimusikmusik pop baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2019
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Jenis Pasien Berdasarkan Kegawatannya

Next Post

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co