14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moron +62 dan Tugas Berat Penyintas Waktu di Masa Depan: Catatan Menjelang UAS

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
June 24, 2019
in Esai

Kali pertama saya membaca “moron” pada unggahan status FB personel band indie lokal, SID, yakni JRX. Ia adalah salah satu member SID yang sangat aktif menyapa outsiders dan ladyroses via media sosial IG maupun FB. Unggahan statusnya tak jauh dari tema sosial, lingkungan, politik, kadang seni dan kebudayaan. Kritik sosial yang sering dilontarkannya itu kerap menjadikanya bulan-bulanan warganet, namun tak sedikit pula yang mendukung. Kedekatan dengan Bali Tolak Reklamasi (BTR) menyebabkan ia dan bandnya dianggap bagian dari gerakan ini.

Tulisan ini tidak hendak mengulas JRX, SID, BTR atau persoalan sosial politik tempo hari yang sempat mengemuka semacam pro kontra film sexy killers, namun mengulas perilaku moron garis keras. Sejak awal, saya pikir, kata “moron” itu istilah Barat, tetapi setelah dicek melalui KBBI online, bermakna “orang dewasa yang perkembangan mentalnya sama dengan anak berumur 8-12 tahun”. Istilah ini  juga digunakan untuk mengumpat seseorang, sinonim dengan goblok, tolol dan bodoh. Tidak berhenti sampai disitu, JRX membubuhi penjelasan tambahan bahwa “moron” merupakan akronim untuk “mayoritas orang korban sinetron”. Sedangkan +62 maksudnya kode negara yang digunakan oleh Indonesia. Penggunaan +62 berfungsi menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional. Bisa disimpulkan moron +62  bermakna sekumpulan orang goblok yang bermukim di Indonesia.

Menurut saya, warganet yang tersindir dengan status itu rada stres, kurang gaul, pikniknya kurang jauh. Mengaku modern tetapi primitif dan barbar. Polanya selalu sama, setiap unggahan status yang berkaitan dengan dimensi agama, politik, suku dan golongan selalu menghasilkan keriuhan sosial. Berbeda jika yang diunggah itu konten positif. Bisa dipastikan sepi “like” dan minim komentar layaknya kuburan di perempatan jalan, alih-alih apresiasi.

Meski istilah ini cenderung kontemporer, tetapi sesekali dalam tatap muka di perkuliahan, saya selalu menyelipkannya untuk menyebut tiga tipe mahasiswa. Pertama, mahasiswa maye–maye (ngenah ilang), yakni jenis mahasiswa yang hanya kelihatan di pertemuan pertama dan terakhir. Beberapa informasi yang saya dapat menyebutkan bahwa yang bersangkutan tidak sakit, tidak juga berkabung. Sebalinya dalam kondisi sehat. Hal itu dibuktikan dengan unggahan story WA yang memperlihatkan aktivitas normal.

Moron tipe ini pernah saya temui di acara Tatkala.co di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja. Saat itu, saya menjadi pembedah buku “Bali yang Berubah” karya Ngurah Suryawan. Dengan raut muka lesu, yang bersangkutan datang menghampiri, diselingi salim sambil tertunduk malu. Ketika saya tanya, “kok kamu jarang kelihatan di kuliah saya?”, dengan jurus ngeles dijawab,   “Iya pak, saya sedang berjuang melawan kemalasan. 

Hal yang membuat saya kurang simpatik adalah pengakuan kuliah moron tipe ini ke orang tua di rumah. Saya pikir ia juga salah masuk jurusan, salah kandang dan salah habitat. Sepertinya lebih cocok masuk jurusan sastra. Alasannya, gaulnya lebih banyak dengan anak-anak Tatkala. Baca novel A sampai Z. tetapi buku-buku kuliahnya terbengkalai, lapuk bahkan lumutan.

Hal itu terbukti ketika yang bersangkutan tiba-tiba ikut acara KKL prodi pendidikan sejarah ke Jawa. Rasa jengkel semakin memuncak saat rombongan Prodi Sejarah tiba di Museum Gajah Jakarta. Sebuah arca raksasa setinggi kira-kira 3 meter yang beratribut Tantra Bairawa dan merupakan representasi Prabu Kertanegara sukses menjadi daya tarik hampir sebagian besar mahasiswa. Kebetulan, saya memiliki sedikit informasi perilaku tantrik raja ini berdasarkan isi prasasti. Setelah penjelasan usai, mahasiswa yang berkerumun di sekitaran arca membubarkan diri, berjalan-jalan melihat-lihat koleksi lainya. Saya sendiri masih betah berada di dekat arca sambil sesekali mengabadikan foto. Tiba-tiba, dari arah belakang, moron tipe ini menghampiri. “Pak, ini arca apa, dan siapa yang diarcakan?”

Saya jawab, “Owh, iya dik, ini arca Prabu Kertanegara dalam wujud tantra bhairawa. Kamu tahu siapa Prabu Kertanegara?”. Pertanyaan saya dijawab gelengan kepala dan dengan polos dijawab, “Tidak, Pak, saya baru pertama kali dengar”. Seketika saya mati rasa, jawaban itu seperti muntahan peluru yang menghujam jantung.

Di Prodi Pendidikan Sejarah, pengetahuan tentang raja-raja era klasik adalah kredo yang seharusnya telah khatam di semester 2. Gagap sosial yang dipertontonkan mahasiswa di atas adalah preseden buruk yang tidak saja mencoreng kehadiran kami, khususnya saya selaku salah satu staf pengajar, dan lebih parah dari itu telah melahirkan stigma ketidakbecusan kami dalam mentransformasikan pengetahuan sejarah kepada peserta didik.

Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswa membaca sastra, novel khususnya. Malahan, dalam beberapa momen perkuliahan sejarah intelektual di tahun 2017 lalu, saya membebankan mereka mereview Tetralogi Pulau Buru Pram yang termasyur itu. Di samping karya-karya Pram yang lumayan banyak, dan saya sendiripun belum khatam semua,  saya lebih suka mengarahkan mahasiswa pada sastra angkatan Balai Pustaka hingga angkatan ‘66. Alasannya, setelah peristiwa ’65, tidak saya temukan kegairahan intelektual akibat genosida akademik  Orde Baru selama 32 tahun. Hasilnya, sastra absurd dan ambivalen yang terlahir dari rahim represif rezim Orde Baru selalu phobia dengan bahaya laten komunisme. Meski dua dekade reformasi telah memperlihatkan perkembangan positif pada sastra Indonesia kontemporer, tetap saja belum mampu memuaskan dahaga primitif saya sebagaimana yang ditawarkan sastra Indonesia modern sejak 1920-an.

Dalam usaha pemutakhiran metodologi sejarah, monumen ingatan 65 di era reformasi mampu dikemas dengan apik oleh sastrawan, namun justru melahirkan dendam sejarah melingkar. Gen Z yang lahir belakangan disuguhi racun masa lalu antara siapa pelaku dan siapa korban. Kesimpulanya, historiografi ‘65 era reformasi tidak berbeda jauh dengan historiografi Orde Baru dan Orde Lama. Baik pelaku dan korban tidak berani mengungkap kesalahan yang telah dilakukan terhadap lawan politiknya. Pelaku hanya mengingat apa yang korban 65 lakukan sebelum 65, begitu sebaliknya, korban 65 mengedepankan nestapa pasca 65. Akibatnya historigrafi yang lahir mandul, non emansipatoris dan menghalangi rekonsiliasi di masa depan. 

Meski saya mendukung mahasiswa membaca sastra, mereka perlu diberikan batasan-batasan, bahwa meskipun yang ditulis Pram adalah sastra sejarah, karyanya tidak bisa dijadikan sumber primer. Secara ideal, sejarah dan sastra  harus berjarak. Sastrawan adalah Tuhan dalam alur cerita yang dibuatnya, bebas sekehendak hati mengatur subjek dan objek. Sejarawan sebaliknya tidak memiliki ruang gerak sebebas sastrawan. Sejarawan dituntut menunjukkan bukti dari sumber-sumber kredibel. Baik sejarawan dan sastrawan bertemu pada satu titik, yakni imajinasi. Tetapi, saya lebih menyukai istilah “fiksi”. Kata ini sempat diviralkan dalam acara ILC oleh Rocky Gerung untuk merujuk kitab suci semua agama yang dimaknai energi mengaktifkan. Sejarah yang dibuat tanpa imajinasi akan kering, bisu, tuli bahkan angkuh, karena hanya menyajikan fakta keras. Dengan meminjam keterampilan berimajinasi ala sastrawan, narasi masa lalu itu bisa dikunyah dalam rasa yang lebih populis. Dengan saling pinjam metode masing-masing, sejarawan sebenarnya adalah sastrawan yang sedang nyambi          

Kedua, mahasiswa sok marxis, saya menyebutnya marxis kimcil. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berorganisasi. Ruang HMJ, sekarang HMPS menjadi base camp utuk sekedar kongkow, menyelesaikan tugas kuliah hingga merumuskan kegiatan. Dedikasi yang tinggi dan kadang berlebihan terhadap kegiatan kampus ditambah buruknya manajemen waktu, bahkan sampai mengorbankan perkuliahan. Akibatnya, tugas-tugas menumpuk dan terbengkalai, materi perkuliahan keteteran. Jalan satu-satunya adalah SKS, “sistem kebut semalam”. Jurus pamungkas yang sangat populer di kalangan mahasiswa sejak era bahula. Jika beruntung, tugas bisa selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Jika kurang mujur, ketidakjujuran dalam wujud plagiasi dan copy paste tanpa etika menghasilkan tugas asal-asalan.  

Moron jenis ini rata-rata memiliki cara pandang idealis. Bagi mereka, ada batas yang jelas dengan warna dunia yang hitam dan putih. Dalam momen tertentu, sikap kritis terhadap penyimpangan dualitas itu justru terperosok pada involusi, stagnasi berpikir ; yang sederhana terkesan ruwet, yang ruwet disederhanakan. Merekalah, yang dalam rapat-rapat jelang kegiatan kemahasiswaan menciptakan kondisi horor dan kaku. Rapat tidak akan usai jika alurnyanya tidak sesuai dengan apa yang moron jenis ini bayangkan.

Beberapa di antaranya saya lihat memiliki kemampuan akademik yang lumayan. Hal itu ditopang juga dengan budaya membaca yang bagus. Kebanyakan tertarik dengan buku-buku bertemakan gerakan dan protes sosial yang menjadikan kemiskinan, kebodohan, keterasingan, gender, kebudayaan, lingkungan dan bahkan politik sebagai trade mark. Di setiap tatap muka, merekalah yang menjadi pioner kognitif kelas. Meski begitu, kadang saya menemukan kepongahan intelektual. Mereka menjelma menjadi marxis kimcil, metafora sosial bagi yang belajar teori gerakan sosial ala marxisme, tetapi setengah-setengah. Mereka hanya melahap buku bacaan gerakan dan protes sosial tanpa mentoring. Sekedar tahu, bukan paham.

Di prodi kami, penjelasan tentang teori agaknya terbatas. Materi perkuliahan lebih didominasi aspek pedagogik normatif. Teori sosial khususnya, hanya bisa didapatkan pada mata kuliah tertentu. Alasanya, background keilmuan prodi adalah pendidikan.

Pada sisi yang lain, sikap dan sifat konvensional ilmu sejarah termutakhir yang tidak menganggap teori sebagai ultima menyebabkan skripsi sebagai tugas akhir mahasiswa tidak terlalu banyak menggunakan teori. Alasannya, akan terperangkap pengkultusan dan etalase teori. Saya rasa sense of time dipadu metode the power chronolgy sudah lebih dari cukup memberikan penjelasan yang komprehensif tentang fenomena sosial di masa lalu.

Salah satu teori sosial yang paling sering didiskusikan di mimbar akademik kampus adalah marxisme.  Ketiadaan mentor dalam memahami teori sosial sekelas marxisme membuat jiwa-jiwa idealis aktivis mahasiswa ini mudah terprovokasi, khususnya melalui hoaks yang didesimnasikan melalui jejaring media sosial. Marx sebagai “isme” memiliki banyak sekali kelemahan organisatoris sehingga negara-egara penganut ideologi ini justru tergelincir pada diktatorisme, jauh dari visi egalitarianisme yang diangankan Marx. Marx dalam hal ini juga keliru, karena tidak memberikan penjelasan lanjut dalam berjilid-jilid karyanya yang berjudul “das capital” itu tentang apa yang terjadi setelah Fanguard Party didirikan utuk melakukan revolusi sosial mewakili kaum proletar mengambil alih kekuasaan borjuis. Dalam sejarah sosial bangsa-bangsa di dunia, Fanguard Party menjelma menjadi penguasa tiran. Eric Wolf menyebut golongan ini bermental petani atau peasant syndrome. Robert K Merton menyebutnya telah mengalami keguncangan budaya atau cultural shock.

Ketiga, mahasiswa melow. Moron jenis ini kebanyakan mahasiswi. Bisa juga mahasiswa sebagai pengecualian. Bagi mereka, kuliah ke kampus adalah ajang tampil fashionable, kekinian berbalut bedak tebal dan kutek cetar. Mereka adalah pribadi yang selalu update sekaligus upgrade teknologi informasi. Fesyen itu menjadikanya golongan yang mudah terpapar produk-produk kapitalis mulai dari parfum, peralatan make up, pakaian branded, musik, dan film. Mereka cukup antusias belajar di kelas jika dosen mampu menautkan tema pembelajaran dengan kehidupan asmara sehari-hari misalnya, atau mengkemas materi dengan banyolan-banyolan absurd mengocok perut. Sebaliknya, mereka akan mudah menguap dan membayang berada di “pulau kapuk” secepat mungkin meski perkuliahan baru berjalan beberapa menit jika dosen mengajar dengan cara-cara konvensional.

Sebelum menyampaikan kegaduhan sosial yang kerap terjadi pada setiap angkatan di prodi kami yang populasinya menjelang punah ini, makna sosial kontemporer moron saya kuliti. Lalu, dengan menarik benang merah ke masa lalu, akan mudah dicarikan padanan sekaligus genealogi ilmiahnya. Melalui cara kerja seperti itu, didapat gambaran bahwa moron tidak lain dan tidak bukan dekolonialisasi Barat yang tidak kunjung usai. Dengan sedikit sentuhan historis, jadilah istilah moron yang terkesan remeh mendapatkan panggung akademik dengan penjelasan yang lebih ilmiah.

Saya menyebut gaya ajar di atas sebagai ekspresi posmo, antitesis gaya konvensional yang text dan teacher sentris. Posmo berarti beyond modernity yang terispirasi dari teks-teks renaisance Eropa. Meski sudah muncul sejak dekade pertama abad XX, baru sejak tahun 80-an menjadi fesyen berpikir intelektual di Indonesia. Dalam mimbar akademik, kritik posmo kepada sejarah sebagai ilmu ditujukan pada kemiskinan epistemologis sejarawan dalam menautkan prosesualisasi masa lalu, kini dan masa depan. Di sisi yang lain, sejarawan pendidik yang berorientasi pada fesyen berpikir posmo harus mampu menjembatani konflik ideologis sejarah sebagai ilmu dan sejarah sebagai normativitas pendidikan. Keduanya, baik sejarawan ilmu dan sejarawan pendidik berhadapan musuh yang sama, yakni dekadensi kemapanan yang diakibatkan modernitas yang mendewakan masa depan, tanpa pernah menoleh ke masa lalu. Akibatnya, praktik-praktik pencecapan terhadap masa lalu dianggap “haram”, lalu muncul pertanyaan, untuk apa belajar sejarah?, gagal move on ya ?.

Hal semacam itu sering saya lakukan di perkuliahan, mengingat sebagian besar mahasiswa di prodi ini adalah “residu” dari calon mahasiswa yang gagal diterima di jurusan atau fakultas lain yang lebih populer. Masalahnya tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa prodi sejarah harus berhadapan dengan stigma penampilan dan kesan kudet teknologi. Orang di luaran sana akan dengan mudah menuduh atau minimal memparodikan kami dengan  satir-satir “kampungan”. Misalkan menyuguhkan gestur manusia purba yang tinggal di gua-gua, barbar sekaligus primitif.

Harapan saya, output mahasiswa di prodi ini meningkat, meski tidak ditunjukkan dengan raihan prestasi akademik, alih-alih non akademik, minimal muncul kegairahan belajar dan terpenting kebanggaan. Saya menyebutnya dengan “membangun militansi calon penyintas waktu di masa depan”.

By the way, saya sampai lupa menjelaskan makna moron sebagai dekolonialisasi Barat yang tidak kunjung usai. Jika dekolonisasi Barat diaktualisasikan dengan lahirnya sebuah negara baru secara de facto sejak 17 Agustus 1945, maka dekolonialisasi Barat berhubungan dengan revolusi mental keindonesiaan. Dengan memakai kacamata Ben Anderson, keindonesiaan itu hanya fatamorgana, khayalan dan tidak sungguh-sungguh ada, bahkan cenderung absurd. Sebab, ia tidak lain adalah kebudayaan Barat itu sendiri yang bermimikri, diimitasi, diadopsi, lalu diberikan sentuhan lokal dan digunakan sebagai alat memerdekakan diri bangsa-bangsa terjajah. Thus, mimikri produk mental Barat itu menubuh (embodied) dalam alam pikiran bahkan perilaku kita. Beberapa sikap itu misalnya rasis, diskriminatif, mental penerabas hingga perilaku koruptif permisif.

Akhir-akhir ini, kata moron +62 itu tengah viral di prodi kami, khususnya di semester 4. Bukan saja stigma karena kandungan makna kontemporernya semata yang dikunyah remah ditelan mentah, namun juga makna akademisnya yang telah membatin. Dengan sangat mudah, orang-orang yang terkategorisasikan seperti ciri di atas dituduh moron, lebih sadis lagi “moron kimcil”.

Yang terbaru adalah ketika salah satu lagu pop Indonesia yang dinyanyikan Admesh Kamaleng, penyanyi asal Pulau Alor NTT, sekaligus juara ajang Pencarian Bakat The Raising Star Indonesia Season II berjudul “Cinta Luar Biasa” diperdengarkan hampir setiap malam di bus yang kami tumpangi pada acara KKL bulan April kemarin. Beberapa lirik yang digarisbawahi “aku tak punya bunga”, aku tak punya harta, yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu. Beberapa mahasiswa nyeletuk, “nikah makan cinta?”…”dasar ababil”, “wah lagu moron garis keras”, “moron radikal nih”. Sayapun tersenyum kecut mendengar ocehan malam genting itu.

Saat Study Tour usai, saya terkejut karena mendapati bahwa lagu yag dicap moron itu tersimpan di hp. Well, kesimpulannya, saya pun kadang dalam beberapa momen bisa menjadi moron, sederhananya “moron teriak moron”. [T]

Tags: kemanusiaanPendidikanPengetahuansastrasejarah
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Rabies Yang Terus Menyalak

Next Post

Dalang Banyuning # Melacak Jejak Sejarah Seni Rupa dari Museum Buleleng [1]

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post

Dalang Banyuning # Melacak Jejak Sejarah Seni Rupa dari Museum Buleleng [1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co