14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moron +62 dan Tugas Berat Penyintas Waktu di Masa Depan: Catatan Menjelang UAS

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
June 24, 2019
in Esai

Kali pertama saya membaca “moron” pada unggahan status FB personel band indie lokal, SID, yakni JRX. Ia adalah salah satu member SID yang sangat aktif menyapa outsiders dan ladyroses via media sosial IG maupun FB. Unggahan statusnya tak jauh dari tema sosial, lingkungan, politik, kadang seni dan kebudayaan. Kritik sosial yang sering dilontarkannya itu kerap menjadikanya bulan-bulanan warganet, namun tak sedikit pula yang mendukung. Kedekatan dengan Bali Tolak Reklamasi (BTR) menyebabkan ia dan bandnya dianggap bagian dari gerakan ini.

Tulisan ini tidak hendak mengulas JRX, SID, BTR atau persoalan sosial politik tempo hari yang sempat mengemuka semacam pro kontra film sexy killers, namun mengulas perilaku moron garis keras. Sejak awal, saya pikir, kata “moron” itu istilah Barat, tetapi setelah dicek melalui KBBI online, bermakna “orang dewasa yang perkembangan mentalnya sama dengan anak berumur 8-12 tahun”. Istilah ini  juga digunakan untuk mengumpat seseorang, sinonim dengan goblok, tolol dan bodoh. Tidak berhenti sampai disitu, JRX membubuhi penjelasan tambahan bahwa “moron” merupakan akronim untuk “mayoritas orang korban sinetron”. Sedangkan +62 maksudnya kode negara yang digunakan oleh Indonesia. Penggunaan +62 berfungsi menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional. Bisa disimpulkan moron +62  bermakna sekumpulan orang goblok yang bermukim di Indonesia.

Menurut saya, warganet yang tersindir dengan status itu rada stres, kurang gaul, pikniknya kurang jauh. Mengaku modern tetapi primitif dan barbar. Polanya selalu sama, setiap unggahan status yang berkaitan dengan dimensi agama, politik, suku dan golongan selalu menghasilkan keriuhan sosial. Berbeda jika yang diunggah itu konten positif. Bisa dipastikan sepi “like” dan minim komentar layaknya kuburan di perempatan jalan, alih-alih apresiasi.

Meski istilah ini cenderung kontemporer, tetapi sesekali dalam tatap muka di perkuliahan, saya selalu menyelipkannya untuk menyebut tiga tipe mahasiswa. Pertama, mahasiswa maye–maye (ngenah ilang), yakni jenis mahasiswa yang hanya kelihatan di pertemuan pertama dan terakhir. Beberapa informasi yang saya dapat menyebutkan bahwa yang bersangkutan tidak sakit, tidak juga berkabung. Sebalinya dalam kondisi sehat. Hal itu dibuktikan dengan unggahan story WA yang memperlihatkan aktivitas normal.

Moron tipe ini pernah saya temui di acara Tatkala.co di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja. Saat itu, saya menjadi pembedah buku “Bali yang Berubah” karya Ngurah Suryawan. Dengan raut muka lesu, yang bersangkutan datang menghampiri, diselingi salim sambil tertunduk malu. Ketika saya tanya, “kok kamu jarang kelihatan di kuliah saya?”, dengan jurus ngeles dijawab,   “Iya pak, saya sedang berjuang melawan kemalasan. 

Hal yang membuat saya kurang simpatik adalah pengakuan kuliah moron tipe ini ke orang tua di rumah. Saya pikir ia juga salah masuk jurusan, salah kandang dan salah habitat. Sepertinya lebih cocok masuk jurusan sastra. Alasannya, gaulnya lebih banyak dengan anak-anak Tatkala. Baca novel A sampai Z. tetapi buku-buku kuliahnya terbengkalai, lapuk bahkan lumutan.

Hal itu terbukti ketika yang bersangkutan tiba-tiba ikut acara KKL prodi pendidikan sejarah ke Jawa. Rasa jengkel semakin memuncak saat rombongan Prodi Sejarah tiba di Museum Gajah Jakarta. Sebuah arca raksasa setinggi kira-kira 3 meter yang beratribut Tantra Bairawa dan merupakan representasi Prabu Kertanegara sukses menjadi daya tarik hampir sebagian besar mahasiswa. Kebetulan, saya memiliki sedikit informasi perilaku tantrik raja ini berdasarkan isi prasasti. Setelah penjelasan usai, mahasiswa yang berkerumun di sekitaran arca membubarkan diri, berjalan-jalan melihat-lihat koleksi lainya. Saya sendiri masih betah berada di dekat arca sambil sesekali mengabadikan foto. Tiba-tiba, dari arah belakang, moron tipe ini menghampiri. “Pak, ini arca apa, dan siapa yang diarcakan?”

Saya jawab, “Owh, iya dik, ini arca Prabu Kertanegara dalam wujud tantra bhairawa. Kamu tahu siapa Prabu Kertanegara?”. Pertanyaan saya dijawab gelengan kepala dan dengan polos dijawab, “Tidak, Pak, saya baru pertama kali dengar”. Seketika saya mati rasa, jawaban itu seperti muntahan peluru yang menghujam jantung.

Di Prodi Pendidikan Sejarah, pengetahuan tentang raja-raja era klasik adalah kredo yang seharusnya telah khatam di semester 2. Gagap sosial yang dipertontonkan mahasiswa di atas adalah preseden buruk yang tidak saja mencoreng kehadiran kami, khususnya saya selaku salah satu staf pengajar, dan lebih parah dari itu telah melahirkan stigma ketidakbecusan kami dalam mentransformasikan pengetahuan sejarah kepada peserta didik.

Saya pribadi tidak pernah melarang mahasiswa membaca sastra, novel khususnya. Malahan, dalam beberapa momen perkuliahan sejarah intelektual di tahun 2017 lalu, saya membebankan mereka mereview Tetralogi Pulau Buru Pram yang termasyur itu. Di samping karya-karya Pram yang lumayan banyak, dan saya sendiripun belum khatam semua,  saya lebih suka mengarahkan mahasiswa pada sastra angkatan Balai Pustaka hingga angkatan ‘66. Alasannya, setelah peristiwa ’65, tidak saya temukan kegairahan intelektual akibat genosida akademik  Orde Baru selama 32 tahun. Hasilnya, sastra absurd dan ambivalen yang terlahir dari rahim represif rezim Orde Baru selalu phobia dengan bahaya laten komunisme. Meski dua dekade reformasi telah memperlihatkan perkembangan positif pada sastra Indonesia kontemporer, tetap saja belum mampu memuaskan dahaga primitif saya sebagaimana yang ditawarkan sastra Indonesia modern sejak 1920-an.

Dalam usaha pemutakhiran metodologi sejarah, monumen ingatan 65 di era reformasi mampu dikemas dengan apik oleh sastrawan, namun justru melahirkan dendam sejarah melingkar. Gen Z yang lahir belakangan disuguhi racun masa lalu antara siapa pelaku dan siapa korban. Kesimpulanya, historiografi ‘65 era reformasi tidak berbeda jauh dengan historiografi Orde Baru dan Orde Lama. Baik pelaku dan korban tidak berani mengungkap kesalahan yang telah dilakukan terhadap lawan politiknya. Pelaku hanya mengingat apa yang korban 65 lakukan sebelum 65, begitu sebaliknya, korban 65 mengedepankan nestapa pasca 65. Akibatnya historigrafi yang lahir mandul, non emansipatoris dan menghalangi rekonsiliasi di masa depan. 

Meski saya mendukung mahasiswa membaca sastra, mereka perlu diberikan batasan-batasan, bahwa meskipun yang ditulis Pram adalah sastra sejarah, karyanya tidak bisa dijadikan sumber primer. Secara ideal, sejarah dan sastra  harus berjarak. Sastrawan adalah Tuhan dalam alur cerita yang dibuatnya, bebas sekehendak hati mengatur subjek dan objek. Sejarawan sebaliknya tidak memiliki ruang gerak sebebas sastrawan. Sejarawan dituntut menunjukkan bukti dari sumber-sumber kredibel. Baik sejarawan dan sastrawan bertemu pada satu titik, yakni imajinasi. Tetapi, saya lebih menyukai istilah “fiksi”. Kata ini sempat diviralkan dalam acara ILC oleh Rocky Gerung untuk merujuk kitab suci semua agama yang dimaknai energi mengaktifkan. Sejarah yang dibuat tanpa imajinasi akan kering, bisu, tuli bahkan angkuh, karena hanya menyajikan fakta keras. Dengan meminjam keterampilan berimajinasi ala sastrawan, narasi masa lalu itu bisa dikunyah dalam rasa yang lebih populis. Dengan saling pinjam metode masing-masing, sejarawan sebenarnya adalah sastrawan yang sedang nyambi          

Kedua, mahasiswa sok marxis, saya menyebutnya marxis kimcil. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berorganisasi. Ruang HMJ, sekarang HMPS menjadi base camp utuk sekedar kongkow, menyelesaikan tugas kuliah hingga merumuskan kegiatan. Dedikasi yang tinggi dan kadang berlebihan terhadap kegiatan kampus ditambah buruknya manajemen waktu, bahkan sampai mengorbankan perkuliahan. Akibatnya, tugas-tugas menumpuk dan terbengkalai, materi perkuliahan keteteran. Jalan satu-satunya adalah SKS, “sistem kebut semalam”. Jurus pamungkas yang sangat populer di kalangan mahasiswa sejak era bahula. Jika beruntung, tugas bisa selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Jika kurang mujur, ketidakjujuran dalam wujud plagiasi dan copy paste tanpa etika menghasilkan tugas asal-asalan.  

Moron jenis ini rata-rata memiliki cara pandang idealis. Bagi mereka, ada batas yang jelas dengan warna dunia yang hitam dan putih. Dalam momen tertentu, sikap kritis terhadap penyimpangan dualitas itu justru terperosok pada involusi, stagnasi berpikir ; yang sederhana terkesan ruwet, yang ruwet disederhanakan. Merekalah, yang dalam rapat-rapat jelang kegiatan kemahasiswaan menciptakan kondisi horor dan kaku. Rapat tidak akan usai jika alurnyanya tidak sesuai dengan apa yang moron jenis ini bayangkan.

Beberapa di antaranya saya lihat memiliki kemampuan akademik yang lumayan. Hal itu ditopang juga dengan budaya membaca yang bagus. Kebanyakan tertarik dengan buku-buku bertemakan gerakan dan protes sosial yang menjadikan kemiskinan, kebodohan, keterasingan, gender, kebudayaan, lingkungan dan bahkan politik sebagai trade mark. Di setiap tatap muka, merekalah yang menjadi pioner kognitif kelas. Meski begitu, kadang saya menemukan kepongahan intelektual. Mereka menjelma menjadi marxis kimcil, metafora sosial bagi yang belajar teori gerakan sosial ala marxisme, tetapi setengah-setengah. Mereka hanya melahap buku bacaan gerakan dan protes sosial tanpa mentoring. Sekedar tahu, bukan paham.

Di prodi kami, penjelasan tentang teori agaknya terbatas. Materi perkuliahan lebih didominasi aspek pedagogik normatif. Teori sosial khususnya, hanya bisa didapatkan pada mata kuliah tertentu. Alasanya, background keilmuan prodi adalah pendidikan.

Pada sisi yang lain, sikap dan sifat konvensional ilmu sejarah termutakhir yang tidak menganggap teori sebagai ultima menyebabkan skripsi sebagai tugas akhir mahasiswa tidak terlalu banyak menggunakan teori. Alasannya, akan terperangkap pengkultusan dan etalase teori. Saya rasa sense of time dipadu metode the power chronolgy sudah lebih dari cukup memberikan penjelasan yang komprehensif tentang fenomena sosial di masa lalu.

Salah satu teori sosial yang paling sering didiskusikan di mimbar akademik kampus adalah marxisme.  Ketiadaan mentor dalam memahami teori sosial sekelas marxisme membuat jiwa-jiwa idealis aktivis mahasiswa ini mudah terprovokasi, khususnya melalui hoaks yang didesimnasikan melalui jejaring media sosial. Marx sebagai “isme” memiliki banyak sekali kelemahan organisatoris sehingga negara-egara penganut ideologi ini justru tergelincir pada diktatorisme, jauh dari visi egalitarianisme yang diangankan Marx. Marx dalam hal ini juga keliru, karena tidak memberikan penjelasan lanjut dalam berjilid-jilid karyanya yang berjudul “das capital” itu tentang apa yang terjadi setelah Fanguard Party didirikan utuk melakukan revolusi sosial mewakili kaum proletar mengambil alih kekuasaan borjuis. Dalam sejarah sosial bangsa-bangsa di dunia, Fanguard Party menjelma menjadi penguasa tiran. Eric Wolf menyebut golongan ini bermental petani atau peasant syndrome. Robert K Merton menyebutnya telah mengalami keguncangan budaya atau cultural shock.

Ketiga, mahasiswa melow. Moron jenis ini kebanyakan mahasiswi. Bisa juga mahasiswa sebagai pengecualian. Bagi mereka, kuliah ke kampus adalah ajang tampil fashionable, kekinian berbalut bedak tebal dan kutek cetar. Mereka adalah pribadi yang selalu update sekaligus upgrade teknologi informasi. Fesyen itu menjadikanya golongan yang mudah terpapar produk-produk kapitalis mulai dari parfum, peralatan make up, pakaian branded, musik, dan film. Mereka cukup antusias belajar di kelas jika dosen mampu menautkan tema pembelajaran dengan kehidupan asmara sehari-hari misalnya, atau mengkemas materi dengan banyolan-banyolan absurd mengocok perut. Sebaliknya, mereka akan mudah menguap dan membayang berada di “pulau kapuk” secepat mungkin meski perkuliahan baru berjalan beberapa menit jika dosen mengajar dengan cara-cara konvensional.

Sebelum menyampaikan kegaduhan sosial yang kerap terjadi pada setiap angkatan di prodi kami yang populasinya menjelang punah ini, makna sosial kontemporer moron saya kuliti. Lalu, dengan menarik benang merah ke masa lalu, akan mudah dicarikan padanan sekaligus genealogi ilmiahnya. Melalui cara kerja seperti itu, didapat gambaran bahwa moron tidak lain dan tidak bukan dekolonialisasi Barat yang tidak kunjung usai. Dengan sedikit sentuhan historis, jadilah istilah moron yang terkesan remeh mendapatkan panggung akademik dengan penjelasan yang lebih ilmiah.

Saya menyebut gaya ajar di atas sebagai ekspresi posmo, antitesis gaya konvensional yang text dan teacher sentris. Posmo berarti beyond modernity yang terispirasi dari teks-teks renaisance Eropa. Meski sudah muncul sejak dekade pertama abad XX, baru sejak tahun 80-an menjadi fesyen berpikir intelektual di Indonesia. Dalam mimbar akademik, kritik posmo kepada sejarah sebagai ilmu ditujukan pada kemiskinan epistemologis sejarawan dalam menautkan prosesualisasi masa lalu, kini dan masa depan. Di sisi yang lain, sejarawan pendidik yang berorientasi pada fesyen berpikir posmo harus mampu menjembatani konflik ideologis sejarah sebagai ilmu dan sejarah sebagai normativitas pendidikan. Keduanya, baik sejarawan ilmu dan sejarawan pendidik berhadapan musuh yang sama, yakni dekadensi kemapanan yang diakibatkan modernitas yang mendewakan masa depan, tanpa pernah menoleh ke masa lalu. Akibatnya, praktik-praktik pencecapan terhadap masa lalu dianggap “haram”, lalu muncul pertanyaan, untuk apa belajar sejarah?, gagal move on ya ?.

Hal semacam itu sering saya lakukan di perkuliahan, mengingat sebagian besar mahasiswa di prodi ini adalah “residu” dari calon mahasiswa yang gagal diterima di jurusan atau fakultas lain yang lebih populer. Masalahnya tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa prodi sejarah harus berhadapan dengan stigma penampilan dan kesan kudet teknologi. Orang di luaran sana akan dengan mudah menuduh atau minimal memparodikan kami dengan  satir-satir “kampungan”. Misalkan menyuguhkan gestur manusia purba yang tinggal di gua-gua, barbar sekaligus primitif.

Harapan saya, output mahasiswa di prodi ini meningkat, meski tidak ditunjukkan dengan raihan prestasi akademik, alih-alih non akademik, minimal muncul kegairahan belajar dan terpenting kebanggaan. Saya menyebutnya dengan “membangun militansi calon penyintas waktu di masa depan”.

By the way, saya sampai lupa menjelaskan makna moron sebagai dekolonialisasi Barat yang tidak kunjung usai. Jika dekolonisasi Barat diaktualisasikan dengan lahirnya sebuah negara baru secara de facto sejak 17 Agustus 1945, maka dekolonialisasi Barat berhubungan dengan revolusi mental keindonesiaan. Dengan memakai kacamata Ben Anderson, keindonesiaan itu hanya fatamorgana, khayalan dan tidak sungguh-sungguh ada, bahkan cenderung absurd. Sebab, ia tidak lain adalah kebudayaan Barat itu sendiri yang bermimikri, diimitasi, diadopsi, lalu diberikan sentuhan lokal dan digunakan sebagai alat memerdekakan diri bangsa-bangsa terjajah. Thus, mimikri produk mental Barat itu menubuh (embodied) dalam alam pikiran bahkan perilaku kita. Beberapa sikap itu misalnya rasis, diskriminatif, mental penerabas hingga perilaku koruptif permisif.

Akhir-akhir ini, kata moron +62 itu tengah viral di prodi kami, khususnya di semester 4. Bukan saja stigma karena kandungan makna kontemporernya semata yang dikunyah remah ditelan mentah, namun juga makna akademisnya yang telah membatin. Dengan sangat mudah, orang-orang yang terkategorisasikan seperti ciri di atas dituduh moron, lebih sadis lagi “moron kimcil”.

Yang terbaru adalah ketika salah satu lagu pop Indonesia yang dinyanyikan Admesh Kamaleng, penyanyi asal Pulau Alor NTT, sekaligus juara ajang Pencarian Bakat The Raising Star Indonesia Season II berjudul “Cinta Luar Biasa” diperdengarkan hampir setiap malam di bus yang kami tumpangi pada acara KKL bulan April kemarin. Beberapa lirik yang digarisbawahi “aku tak punya bunga”, aku tak punya harta, yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu. Beberapa mahasiswa nyeletuk, “nikah makan cinta?”…”dasar ababil”, “wah lagu moron garis keras”, “moron radikal nih”. Sayapun tersenyum kecut mendengar ocehan malam genting itu.

Saat Study Tour usai, saya terkejut karena mendapati bahwa lagu yag dicap moron itu tersimpan di hp. Well, kesimpulannya, saya pun kadang dalam beberapa momen bisa menjadi moron, sederhananya “moron teriak moron”. [T]

Tags: kemanusiaanPendidikanPengetahuansastrasejarah
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Rabies Yang Terus Menyalak

Next Post

Dalang Banyuning # Melacak Jejak Sejarah Seni Rupa dari Museum Buleleng [1]

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post

Dalang Banyuning # Melacak Jejak Sejarah Seni Rupa dari Museum Buleleng [1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co