12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rabies Yang Terus Menyalak

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 24, 2019
in Esai

Sampai beberapa hari, bahkan seminggu setelahnya, saya masih merasakan nyeri bekas suntikan di lengan atas ini. Saya harus menerima, total empat botol suntikan VAR (vaksin anti rabies), dalam tiga kali penyuntikan berselang sepekan. Ini lantaran saya sempat kontak dengan pasien terduga rabies.

Awalnya pasien itu masuk ke bagian penyakit dalam dengan keluhan demam dan penurunan nafsu makan. Namun saat saya evaluasi di ruang perawatan, saya temukan pasien demam dengan gejala gelisah yang sangat menonjol. Saya curiga, wanita lansia itu telah mengalami radang otak (ensefalitis). Lalu saya membuat konsultasi yang ditujukan kepada sejawat ahli saraf (neurolog).

Belum berselang satu jam, siang itu ia langsung menelpon saya, dalam nada bicaranya yang saya dapat rasakan penuh kecemasan, ia menyimpulkan pasien itu suspek rabies. Sekitar tiga bulan sebelumnya, ia digigit anjing piaraannya sendiri. Seekor anjing muda yang sangat lucu.

Kami terkejut. Saya berusaha mengembalikan semua ingatan saat memeriksa pasien itu, adakah kemungkinan darinya saya telah terkontaminasi cairan tubuh terutama liurnya? Rasanya tidak. Terbayang dalam ingatan saya, ia hanya begitu gelisah, mulutnya mengecap-kecap, tatapan matanya yang tak terkoordinasi sebagaimana mestinya.

Melompat pula ingatan saya, sekitar sepuluh tahun lalu, saat merawat pasien rabies di ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar. Laki-laki paruh baya itu betul-betul menunjukkan gejala yang begitu mngerikan, ia meraung-raung layaknya seperti seekor anjing marah dan sekarat. Virus rabies telah menghancurkan sistem saraf pusatnya. Saya berusaha tenang, kembali kepada pasien yang beberapa jam lalu saya periksa. Tak ada raungan dari mulut ibu itu, tak ada gejala agitasi yang terlihat horor.

Namun, malam sekitar jam 11, ibu malang itu dilaporkan tewas. Maka saya, sejawat ahli saraf, semua paramedis dan petugas serta keluarga pasien itu harus menerima suntikan VAR. Tragedi ini datang dari seekor anjing piaraan yang sangat lucu, yang telah terinfeksi entah di mana, lalu membawa teror rabies kepada pemiliknya.

Pandangan orang-orang bijak, yang mengemukakan bahwa, sesungguhnya kebaikan berjarak sedemikian dekat dengan keburukan, agaknya benar. Mungkin saja mereka berada pada satu titik, namun saling membelakangi atau menampik. Mereka, bagai siang dan malam atau hitam dan putih.

Meski kita ingin meniadakan eksistensi keburukan, toh ia bergeming. Masyarakat Bali menyebutnya dengan istilah Rwa Bhineda. Kebaikan dan keburukan adalah sepasang keniscayaan. Tanpa salah satu darinya, mungkin saja takkan ada alam semesta ini. Bukankah bumi kita dikawal oleh medan magnet positif dan negatif yang berlawanan dari kutubnya masing-masing?

Itulah mungkin, kenapa virus rabies hingga kini tak juga hengkang dari kehidupan damai kita. Ia, satu eksistensi keburukan yang harus tetap ada. Secara biologis, sejak lama telah diketahui setiap organisme punya insting untuk bertahan hidup, tak terkecuali virus Rabies. Seakan terdorong untuk melestarikan kerajaan keburukan, yang mungkin saja sebuah misteri berkabut, fenomena penjaga keseimbangan alam semesta.

Melihat dalam perspektif seperti ini telah membawa rasa ngeri yang masuk ke dalam setiap tarikan nafas dan denyut nadi kita. Karena ia mengantarkan kita untuk melihat ke masa depan, saat juga misalnya virus HIV yang tak usai membunuh manusia, atau segala bencana alam yang merenggutkan jiwa-jiwa manusia. Keburukan dan kengerian selalu berbaur di sekitar kehidupan damai kita.

Kata rabies berasal dari bahasa Sanskerta kuno, rabhas, yang artinya melakukan kekerasan atau kejahatan. Ilmuwan Yunani kuno, Aristotle (400 SM) dalam Natural of Animals, menulis “…anjing itu menjadi gila. Hal ini menyebabkan mereka menjadi agresif dan semua binatang yang digigitnya juga akan mengalami sakit yang sama”.

Lalu, horor itu pun kemudian meneror umat manusia. Seseorang yang tergigit anjing pengidap rabies, tanpa penanganan yang tepat dipastikan akan tewas. Gejala rabies pada manusia yang terinfeksi akan muncul sekitar 30 atau lebih sejak menerima gigitan. Gejala awal tidaklah spesifik, mirip seperti demam akibat infeksi virus pada umumnya. Lalu ia masuk pada gejala yang lebih khas yaitu berliur berlebihan.

Kemudian diikuti oleh gejala yang lebih berat karena virus rabies telah merusak bagian otak yang mengendalikan pusat pernafasan dan menelan. Gelisah, mudah kaget, bahkan kejang-kejang saat ada rangsangan dari luar. Itulah kenapa ia fobia pada cahaya dan juga air, karena ada rasa nyeri saat menelan. Pada akhirnya penderita akan tewas akibat kelumpuhan tubuh yang progresif.

Kematian telah mengintai di sekitar kita. Virus rabies yang menolak punah demi kelestariannya secara sporadis telah bermigrasi dari satu anjing ke anjing yang lain. Sesekali singgah pada tubuh manusia yang akan membawanya pada maut. Dokter dan petugas kesehatan tak dapat diharapkan menuntaskan sendiri persoalan yang seakan sederhana namun begitu rumit ini.

Setiap orang punya tanggung jawab penuh untuk memastikan anjing piaraannya tetap sehat dan tak berkeliaran saat sakit untuk mencegah penularan rabies yang fatal. Anjing seharusnya tetap binatang piaraan yang lucu bukan monster. [T] 

Tags: anjing peliharaanfaunakesehatanpenyakitrabies
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Sidang MK: Sengketa Pikiran, Panggung Pikiran Tentang Bagaimana Pengetahuan Dipentaskan

Next Post

Moron +62 dan Tugas Berat Penyintas Waktu di Masa Depan: Catatan Menjelang UAS

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post

Moron +62 dan Tugas Berat Penyintas Waktu di Masa Depan: Catatan Menjelang UAS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co