24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bentangan Lini Masa dari Bali hingga Papua — Catatan Dialog Seni Bali Gate#1

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
June 19, 2019
in Khas
Bentangan Lini Masa dari Bali hingga Papua — Catatan Dialog Seni Bali Gate#1

Ada pengetahuan baru yang tersaji dalam dialog seni dan sederet permasalah yang mencuat ke permukaan pada Bali Gate #1 di Bentara Budaya Bali, Minggu 16 Juni 2019. Sebagai inisiator event adalah Gurat Institute yang dimotori oleh I Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, Savitri Sastrawan, Purwita Sukahet, dan I Wayan Nuriarta.

Bali Gate dalam konteks kesenian dimaksudkan untuk membangun wacana jaringan kesenian juga kebudayaan di Indonesia Timur dimana Bali menjadi pintu masuknya sekaligus sebagai mediator ke wilayah Barat Indonesia. Sesi pertama menampilkan pembicara I Ngurah Suryawan seorang antropologi, Basri Amin seorang Sosiolog dan I Wayan Seriyoga Parta yang berprofesi sebagai kurator. Akan tetapi pada saat pelaksaannya Basri Amin nampaknya berhalangan hadir karena adanya sesuatu dan lainnya, sehingga pembicara hanya dua yaitu I Ngurah Suryawan bersama I Wayan Seriyoga Parta yang dimoderatori oleh Purwita Sukahet.

I Ngurah Suryawan menyampaikan materi tentang kebudayaan Papua dari kacamata antropologi. Topiknya adalah mengenai Mambesak sebagai gerakan seni budaya Papua. Mambesak sendiri memiliki arti burung Cendrawasih dalam terminologi lokal Papua, group ini dibentuk oleh Arnold Clemens Ap, Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Maethinny Sawaki. Ide dasarnya adalah mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu dan tarian rakyat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Papua.

Lambat laun, Mambesak menjadi kian populer dan membangkitkan semangat kesadaran masyarakat Papua tentang identitas budayanya, namun pada 26 April 1984, pimpinan Mambesak yaitu Arlod Ap ditembak di pantai Pasir Enam karena dianggap menyemai benih separatisme Papua. Dalam paper yang ditulis oleh Suryawan menyatakan bahwa aparat keamanan saati itu, Koppasandha (Kopassus) mencurigai gerakan kebudayaan Arnold Ap.

Suryawan memulai penelurusan melalui Mambesak yang kemudian memaparkan hasil risetnya di bumi Cendrawasih, dalam pemaparannya kita disodorkan ragam pengetahuan tentang Papua dan kebudayaannya. Dalam kritik perspektifnya ia juga menyatakan bahwa realitas yang ada kini adalah Papua telah terhubung atau tertautkan dengan dunia global seperti pembangunan, investasi, sampai pendatang. Kebudayan dalam pandangan kini juga memiliki konotasi sebagai sebuah “proyek” untuk kepentingan ekonomi politik yang nyatanya banyak merubah kebudayaan Papua selain pandangan romantisme ketika berbicara Papua pikiran kita hanya terfokus pada koteka.

Tidak hanya tentang kehidupan sosial budaya, Suryawan juga menemukan dan berinteraksi dengan seniman Papua yang selain membuat ornamen juga melukis. Dalam presentasinya, dapat dilihat lukisan yang bertemakan sosial dengan menampilkan potrait wajah-wajah masyarakat adat dan tema keagamaan yang unik. Bagaimana tidak, salah satu slide powerpoint Suryawan menampilkan lukisan interpretasi the last supper yang populer di tangan Leonardo da Vinci di buat di Papua. Dalam hal ini menunjukan bahwa perkembangan peradaban dipengaruhi oleh sejarah kontak dengan orang lain, agama (Zending, Misis, dan Islam).

I Wayan Seriyoga Parta memaparkan tentang program-program yang ia rancang selama ini baik di Gorontalo maupun di Bali. Dalam paparannya ia mengetengahkan topik “Bali Gate”, meneropong perkembangan medan seni rupa Indonesia Timur. Dalam pemaparannya ia juga menyatakan bahwa wacana ini penting untuk diungkapkan kembali karena menimbang ke-Indonesia-an dalam seni rupa selama ini hanya berpusaran dalam arus wilayah pulau Jawa dan Bali. Umumnya, masyarakat memandang seni rupa diluar konteks medan sosial seni rupa Bandung, Jakarta, Yogya, dan Bali sebagai “seni primitif” padahal dalam narasi-narasi kecil di luar wilayah tersebut memiliki potensi kuat untuk dikembangkan dalam wacana global art. Ia menyatakan bahwa potensi daerah dalam konteks seni rupa sangatlah beragam dan hal inilah yang belum tersentuh oleh pemikiran kreatif dalam hal pengembangannya.

Yoga Parta juga membahas melalui metode yang komparatif dalam event-event yang digaungkan sebagai program agar menyentuh persoalan tersebut. Sebagaimana event yang digagas oleh Galeri Nasional seperti Art-Chipelago, ArsTropika, Bumi Tadulako, (mo)dulanga Lipu, Tupalo, hingga seri Pameran Besar Seni Rupa Indonesia yang konsentrasi terhadap wacana kedaerahan.

Ia memaparkan beberapa kendala dan suka cita dalam menggerakkan event-event skala lokal-nasional sebagai perbandingan dalam mempertimbangkan kembali pentingnya kesadaran membangun wacana kedaerahan seperti event Makassar Biennale 2015, Celebes Art Link 2018, Makassar Art Initiative Movement 2019, dan yang teranyar adalah Connectedness di Santrian Gallery, dan Berawa Beach Art Festival 2019. Yoga Parta memaparkan tidak sedikit tantangan yang harus dihapadi dalam membangun sebuah event yang pada intinya membangun dan menggerakan jaringan seni rupa yang tertaut pada kewilayahan di Timur Indonesia.

Di dalam sesi diskusi, para peserta dialog seni ini menunjukan antusiasme, sekitar 30-an peserta diskusi yang hadir di Bentara Budaya Bali dari sore hari hingga malam. Seni ini membuka dua sesi diskusi yang dijatah tiga penanya atau penanggap di masing-masing sesi. Sesi pertama ada Iwan yang bergerak dalam bidang LSM yang konteks pertanyaannya mengenai strategi agar anak-anak muda dapat menyadari pentingnya kebudayaan sebagai sebuah ruh bagi pembangunan, selain itu dalam konteks Papua, adalah posisi adatnya yang dikomparasi dengan keadaan di Bali.

Di sisi lain ada Triakta Bagus Prasetya yang nampak risau dengan keterputusan informasi dari acara diskusi yang permasalahannya hanya selesai di ruang diskusi, terlebih dalam konteks wacana adalah bagaimana mengembangkan sayap informatif yang digaungkan dalam ruang diskusi agar mampu didengar oleh masyarakat luas. Kemudian disambung oleh Siswandewi yang menanyakan lebih dalam mengenai Mambesak Papua, dan cerminan psikologis seperti apa yang tersaji dalam aransemen musik maupun gerak-gerak tarian masyarakat Papua.
Sesi kedua dimulai oleh pertanyaa seorang perupa Gusti Wis perihal pentingnya identitas kelokalan di dalam membangun dan menggaungkan kedaerahan hingga sampai di dengar oleh masyarakat global. setelahnya adalah kawan dari Sumbawa bernama Golenk yang juga nampaknya sedikit gusar dengan kesejarahan Mambesak dalam membangun kesadaran kebudayaan lokal yang kemudian dianggap sparatis oleh pihak tertentu. Dan terakhir adalah Sudiani yang menanggapai betapa rumitnya permasalah yang dihadapi dalam pengembangan kebudayaan oleh daerah dalam konteks ini adalah Papua dan bagaimana relasi seniman muda dengan perupa senior di Papua.

Sesi diskusipun menjadi semakin hangat dengan tanggapan dan jawaban dari dua pembicara. Ada beberapa kata kunci yang muncul dalam dialog ini, seperti adanya “anomali” dalam pencarian identitas kelokalan dalam konteks Papua, seperti keinginan untuk mengangkat identitas komunal akan tetapi di sisi lain lebih mengasosiasikan diri dengan budaya luar sebagaimana musi rap yang sangat digemari di Bumi Cendrawasih. Kata kunci lainnya adalah “identitas x tourism”, “pentingnya pendidikan dan pengetahuan”, “survival dan pemetaan” dalam konteks kasus seni rupa Gorontalo dan Makassar yang memiliki potensi besar, “strategi” hingga “konvensi” yang harus dilakukan dalam wilayah akademik.

Bagaimanapun juga “after effect” atau “post-event” seringkali diabaikan, dua kata kunci ini menjadi penutup diskusi tentang bagaimana menyebarkan informasi kepada publik luas tentang apa yang telah terjadi pada momentum waktu juga peristiwa yang terjadi. Sebagaimana pemahaman baru tentang seni dan kebudayaan Papua yang telah disampaikan oleh I Ngurah Suryawan juga wacana “Bali Gate” yang digaungkan kembali oleh I Wayan Seriyoga Parta. Wacana akan menjadi besar ketika terjadi perbincangan juga perdebatan yang berkesinambungan sampai melahirkan wacana baru dan tercatat dalam lini masa, sebagaimana Bali Gate #1 menarik garis waktu dari Makassar-Gorontalo hingga Papua yang masuk dalam ranah dialog seni di Bali.

Pohmanis 2019

Share65TweetSendShareSend
Previous Post

Sampah Plastik & Puncak Kesadaran Ekologis

Next Post

Belajar dari Anak-Anak

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Anak-Anak

Belajar dari Anak-Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co