3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rambut dan Rezim Ketakutan Dalam Sejarah Indonesia

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
April 15, 2019
in Esai
Rambut dan Rezim Ketakutan Dalam Sejarah Indonesia

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Rehat sejenak dari hiruk pikuk politik. Kali ini saya ingin membahas rambut. Ya, rambut yang tampak remeh dan sering dianggap sebatas mahkota kepala, ternyata jika dicermati, sarat makna dan mengandung cerita yang panjang di masa lalu.

Tulisan ini hendak mendedah rambut yang mesti diatur, dikuasai dan dinormalkan dalam diskursus sejarah Indonesia. Tulisan ini juga respon akademik saya terhadap pernyataan Pak Made Metera, senior sekaligus guru saya (sekarang Rektor Unipas), yang dalam beberapa kesempatan diskusi di Rumah Tatkala/Rumah Belajar Komunitas Mahima menyatakan bahwa “kita tidak hidup di masa lalu”.

Pernyataannya itu mirip dengan kritik para tokoh posmodern terhadap keabsahan sejarah sebagai bidang ilmu. Di dalam metodologi sejarah mutakhir, kritik itu sudah dijawab melalui penautan peristiwa masa kini yang ditarik ke masa lalu sehingga tampak memiliki kaitan. Dengan begitu, sejarah yang bagi tokoh-tokoh posmodern seperti “mayat hidup” tanpa jiwa akan selalu aktual untuk dbicarakan dan dinegosiasikan di masa kini dan masa depan.

Mengapa laki-laki berambut pendek, sedangkan perempuan berambut panjang? Sejak kapan asesoris kepala yang satu ini dikelaminkan?. Lalu, apakah cara-cara pengaturan rambut itu telah menjadi kodrat yang dibawa sejak lahir? Atau jangan-jangan hanya bentukan sosial yang berproses sesuai dengan jiwa kebudayaannya (rerum gestarum).

Jika anggapan itu adalah mindset tunggal yang mendominasi cara berpikir masyarakat hari ini, bisa dipastikan akan ada banyak orang yang dianggap terlahir di tubuh yang salah hanya karena berpenampilan berbeda dari anggapan umum, termasuk juga Tuan Rumah Tatkala (Pak Ole) yang pada kesempatan hari ini memang memelihara rambut panjangnya.

Di masa kuno, sebagaimana diungkapkan seorang indonesianis wahid, Anthony Reid, rambut bagi masyarakat Asia Tenggara dan penduduk Nusantara khususnya merupakan petunjuk diri yang sangat menentukan. Hubungan yang tidak terpisahkan antara rambut dengan kekuatan dan kewibawaan menyebabkannya harus diberi perawatan terbaik agar tetap hitam dan harum.

Dengan begitu, menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin adalah citra kekuatan, kekuasaan dan kewibawaan seseorang.  Penghormatan yang besar terhadap rambut sampai memunculkan adagium “mencintai rambut berarti mencintai kepala”. Akibatnya, memotong rambut dimaknai simbol pengorbanan diri ketimbang pembeda jenis kelamin. Oleh sebab itu, memotong rambut tidak bisa dilakukan sembarangan dan memerlukan ritual khusus.

Disamping keengganan memotong rambut, praktik sebaliknya dilakukan karena motif agama atau salam perpisahan kepada keduniawian. Bisa juga karena membayar nazar atas kesuksesan yang diraih. Aru Palaka misalnya yang menjadi bulan-bulanan historiografi Indonesia sentris karena dianggap memihak Belanda dalam perang melawan Sultan Hasanuddin, memotong rambutnya untuk membayar nazar atas kemenangan terhadap Makassar pada tahun 1672.

Makna rambut bergeser dan mendapatkan definisi baru ketika peradaban Islam dan Barat menginfiltrasi. Rambut mulai diatur dan dinormalkan tidak lagi sebagai penanda kedewasaan dan spiritualitas, melainkan seksualitas yang menekankan pengekangan hawa nafsu dan pembeda laki-laki dengan perempuan.

Pangeran Diponegoro di masa Perang Jawa 1825-1830 menyerukan kepada para pengikutnya memotong rambut untuk membedakan mereka dengan kelompok orang Jawa lain yang dianggap murtad karena membantu Belanda. Soekarno di sisi lain yang mewakili generasi era pergerakan nasional, mempopulerkan peci di tengah arus nasionalisme dan modenisasi yang datang bersamaan. Bak gayung bersambut, necisme gaya baru mendobrak kemapanan kolonial itu disrespon masyarakat bawah yang mayoritas Islam dengan potongan rambut pendek. Tagline nasionalisme sekuler sekaligus Islam pun mendapatkan momentum dan panggung politik saat itu.

Pada tahun 1942, ketika Jepang berjaya di Asia Pasifik, modernitas Belanda direduksi, termasuk cara berpakaian dan gaya rambut. Necisme dan dandisme Barat diganti gaya militeristik Fasisme Jepang seiring pembentukan badan-badan kemiliteran yang dilakukan Jepang terhadap kaum muda Indonesia. Kekalahan Jepang pasca bom Hiroshima dan Nagasaki yang dilanjutkan dengan masuknya Sekutu, membuat Belanda terheran-heran dengan perubahan drastis 3,5 tahun pendudukan Jepang terhadap masyarakat Indoensia. Mereka melihat simbol modernitas Barat yang penuh sopan santun terdistorsi. Di jalan-jalan ditemukan segerombolan anak muda yang berpakaian ala militer dengan rambut gondrong serta bersikap liar. Orang Belanda menyebut fenomena itu “bangsa salah asuhan produk Jepang yang gagal”.

Anthony Reid menyebut fenomena itu sebagai peralihan ke jaman heroisme, yakni suatu pemerintahan revolusioner untuk menggusur rezim kolonial. Sementara dekolonisasi baru yang telah lahir 17 Agustus 1945 tidak mampu menggantikannya secara utuh, maka jalan fisik diperlukan. Di dalam historiografi Indonesia, fenomena yang tengah menggejala itu melahirkan satu periode yang disebut Revolusi Fisik.

Gerakan ini mendapatkan panggung tatkala pemimpin-pemimpin yang lahir sebelumnya dan relatif berpendidikan tinggi dianggap tidak cocok dengan pekerjaan penuh resiko ini. Pemimpin-pemimpin baru yang lahir muncul dengan gaya berbeda berupa rambut panjang terurai, berpakaian militer dan sebuah pistol tersemat di pinggang. fenomena itu menjadi gaya sehari-hari pemuda di Kota Bandung sebelum Peristiwa Bandung Lautan Api dan Yogyakarta ketika menjadi ibu kota negara akibat Agresi Militer Belanda I. Bahkan seorang Pamong Praja, hanya karena keinginan mempertahankan status quo ketika negara kolonial mengalami kebangkrutan, melepaskan jabatannya dan ikut bergabung bersama kelompok-kelompok laskar.

Di era Demokrasi Terpimpin Soekarno, gaya rambut panjang ala The Beattles yang tengah naik daun itu justru dicap kontra-revolusi karena dianggap mendukung neo kolonialisme dan imperialisme. Pengaturan terhadap rambut didasarkan pada pemikiran marhaen yang menempatkan diri sebagai  antitesis kapitalisme. Marhaen sebagai “isme” mengalami ideologisasi sinkretik, bukan mendaku komunis Marxis ala Lenin di Eropa Timur, bukan pula Komunisme Cina. Ia lantas menautkan diri pada kapitalisasi terhadap kemiskinan petani lokal.

Tahun 1966, jaman berganti dan Orde Baru berkuasa melalui usaha kritik semi inkonstitusional Supersemar. Usaha-usaha desoekarnoisasi segera dilakukan, salah satunya dengan menjadikan ekonomi sebagai panglima. Oleh sebab itu gaya berpakaian juga harus mencirikan semangat pembangunanisme Orde Baru. Namun demikian, rambut gondrong yang yang menjadi tren sejak tahun 1970 mulai dirazia. Gaya rambut itu tidak lain karena pengaruh Koes Plus, di era Orde Lama pernah ditahan, namun di Era Orde Baru dianggap memberi pengaruh yang kurang baik kepada kaum muda. Rambut gondrong dianggap simbol ketidakacuhan generasi muda terhadap ideologi pembangunan pemerintah.

Usaha-usaha represif dilakukan untuk mendukung program pemerintah dan stabilitas nasional Orde Baru, dimulai dari penolakan pembuatan SIM, KTP dan Surat Bebas G 30 S bagi pemuda gondrong hingga menggunakan Undang-Undang subversif. Akibatnya, hak mereka sebagai warga negara dibatasi. Di sisi yang lain, usaha opresif melalui razia rambut gondrong ke kampus menyebabkan kemitraan militer dengan mahasiswa merenggang.

Kendali rezim terhadap media turut mengupayakan framing negatif terhadap rambut gondrong. Mereka dicitrakan dengan diksi-diksi menakutkan dan kriminal seperti pemerasan, pencopetan, perampasan, bahkan pemerkosaan. Mereka juga digambarkan sebagai pribadi urakan, kumal yang tidak memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di masa depan.

Bahkan, fokus masalah rambut gondrong menjadi persoalan serius saat itu di samping penyelesaian G 30 S. Bisa dibayangkan betapa menakutkankannya rambut gondrong bagi rezim Orde Baru sehingga disejajarkan dengan G 30 S yang tergolong subversi berat. Tindakan rezim terhadap rambut godrong ini mirip dengan legitimasi sosial yang dibangun melalui media terhadap tatto sebagai kriminal, sehingga Petrus terhadapnya dianggap legal.

Gondrong, seperti halnya necis menjadi gaya hidup sekaligus gerakan protes terhadap kemapanan dan ketimpangan ekonomi, sosial, politik dan hukum yang terjadi. Visi Tri Logi Pembangunan Orde Baru yang diaktualisasikan melalui PELITA dianggap belum mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gelombang protes terhadap tindakan represif dan opresif Orde Baru hampir saja pecah. Hingga akhirnya Soemitro, Kepala Pangkopkamtib turun tangan meredakan ketegangan-ketegangan yang terjadi. Setelahnya, polemik rambut gondrong memang reda. Akan tetapi ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah tetap berlangsung dan mencapai kulminasi  pada 15 Januari 1974 yang dikenal dengan Peristiwa Malari.

Rambut memiliki makna sosial dan sejarah yang panjang. Rambut bisa menjadi simbol kekuatan sekaligus kewibawaan seseorang, atau juga identitas diri suatu generasi. Namun yang pasti rambut adalah bagian tubuh yang harus diatur, dikuasai dan dinormalkan sesuai dengan jiwa jamannya. Pada titik inilah adagium  “rambut sebagai mahkota diri” menemukan kebenarannya. [T] 

Tags: Orde BaruOrde LamaReformasisejarahzaman
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Dokter, Profesi Paling Lucu

Next Post

Jangan Pilih-Pilih Penjual saat Beli Nasi Kuning, Toh Rasanya Tak Jauh Beda

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Pilih-Pilih Penjual saat Beli Nasi Kuning, Toh Rasanya Tak Jauh Beda

Jangan Pilih-Pilih Penjual saat Beli Nasi Kuning, Toh Rasanya Tak Jauh Beda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co