3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembawa Senja

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
March 23, 2019
in Cerpen
Pembawa Senja

Lukisan Nyoman Wirata (croping)

Cerpen: Geg Ary Suharsani

.

Subuh berlalu,

sisakan anyir angin,

jantung tak berdetak,

ingatan mimpi buruk.

keringat dingin mengalir  –

Kekasihmu terbang,

bersama sebilah tombak.

Kau menjelma Gandari,

putri Subala.

Duniamu malam

terpekat yang pernah ada.

Kami  bukan Korawa

(bukan pula Pandawa).

Hanya kanak-kanak,

yang  dewasa bersama senja

; tempatmu sahaja membuka mata.

Untukmu,

kami kirimkan senja di serambi.

Terimalah.

***

Tangan wanita itu bergerak perlahan. Menelusuri  lekukan demi lekukan. Napasnya nyaris tertahan. Seolah menghayati setiap gerakan tangannya. Matahari yang meninggi sama sekali tidak membantu.

Meme mencoba menemukan piring yang diletakkan Me Tut, bibiku, di atas meja sedari tadi pagi. Tak ada lekuk meja yang dilewatkan oleh meme. Tapi piring tak juga ditemukan, padahal letaknya di atas meja. Meme masih mencoba. Tangannya bergerak lagi. Akhirnya piring dengan tumpukan nasi dan lauk pauk di atasnya ditemukan oleh tangan meme.

Meme meraba permukaan isi piring itu. Pertama meraba nasi, kemudian lauk pauknya. Sepertinya tidak dilengkapi oleh sambal, karena Me Tut pasti tidak ingin menambah masalah jika nantinya meme sakit perut.

Aku melihat sayur don tuwi, sepotong tempe, dan teri goreng di piring itu. Pelan-pelan tangan meme menyuapkan nasi ke mulutnya. Lalu mengunyah dalam diam.

Tiba-tiba di suapan berikutnya air mata meme mengalir. Bibirnya bergetar. Lalu terdengar suara dari bibirnya.

“Ini tuwi? Tuwi? Bapakmu suka tuwi. Suka tuwi!” meme bergetar makin hebat. Nasi berhamburan dari mulutnya. Liur menetes. Meme terbatuk.

Aku menyaksikan meme dari sudut ruangan. Air mata selalu membuatku tak mampu melupakan keringat dingin dini hari. Aku berusaha membuka mulut, menenangkan meme. Tapi barisan kalimat yang ada di otakku, hanya menjelma satu kata.

“Sanja…sanja…” Hanya itu. Kakiku bergerak gelisah. Tanganku menggapai-gapai tembok. Kemudian memukulinya, semampuku.

Meme tak juga tenang. Punggungnya masih terguncang. Air mata mengalir dari dua matanya. Satu-satunya wanita yang memahamiku ini mulai menutupi wajahnya. Aku makin gelisah. Aku selalu takut jika meme mulai menutupi wajah. Aku selalu takut jika tidak melihat wajah meme. Wajah meme adalah wajah yang membuatku mampu melalui hari-hari yang dipenuhi mimpi buruk masa lalu.

Aku tak mampu menghentikan kegelisahanku. Aku makin keras memukuli tembok.  Tanganku bergedebug-gedebug. Kakiku yang bergerak gelisah menimbulkan bunyi gaduh kayu dan gesekan tikar pandan.

“Ada apa ini? Dirga jangan memukul-mukul tembok, hentikan!” Me Tut masuk ke dalam ruangan. Pintu yang terbuka tiba-tiba, membawa serta sinar matahari ke dalam ruangan. Aku silau. Meme menghentikan tangisnya. Tapi air matanya masih mengalir. Suara Me Tut yang melengking memecah pergulatan kami akan pikiran masing-masing. Tapi siapa yang mampu menghentikan aliran air mata secara tiba-tiba?

“Apa yang ditangisi? Apa Mbok Yan? Yang dulu-dulu? Yang sudah lama berlalu?” Me Tut bertanya sambil memegang pundak meme.

“Sudahlah Mbok Yan. Tegar, Mbok. Tegar. Ingatlah dengan diri sendiri. Bukan hanya Mbok yang sedih karena peristiwa itu. Saya juga, Mbok. Saya juga. Bli Dibya juga kakak saya. Sakit hati saya kalau ingat peristiwa itu. Sakit, Mbok. Kenapa orang sepolos Bli Dibya harus mengalami kejadian seperti itu,” Me Tut mengurut-urut dadanya.

Me Tut, adik bapakku satu-satunya. Usianya sekarang mungkin sudah 50 tahun. Wanita ini memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya. Dialah harapanku dan meme. Jika tidak ada dia, tidak akan ada piring yang dipenuhi dengan lauk pauk di meja meme. Tidak akan ada yang memandiku setiap dua hari sekali. Ya, dua hari sekali. Itu sudah lebih dari cukup. Wanita yang mencari uang dengan menjadi tukang suun itulah tempat kami bergantung.  

Aku tak pernah menghitung usiaku. Aku tak pernah tahu hari dan tanggal. Aku terlalu kecil saat lupa akan angka-angka. Tapi aku selalu berhasil mencuri dengar tiap orang-orang berbaju rapi, yang entah  dari mana, datang melihatku sambil menyebutkan dua angka untukku.

Dua puluh lima. Ya, 25. Mungkin maksudnya adalah umurku 25. Apa arti 25, dan apa yang dilakukan orang-orang saat berumur 25? Entahlah. Tak pernah terpikirkan olehku, yang hanya tahu tembok dan tikar pandan. Dua kawanku, yang setia menemaniku dan juga meme.

Belakangan ini, tembok mulai senang berbincang denganku. Dia yang selama ini pendiam dan hanya menyaksikan kegelisahanku, kini mulai menghiburku. Dia biarkan tanganku memukulinya tiap kali aku tak mampu menjaga emosiku.

Hanya dia yang mengerti, mengapa hanya kata sanja yang meluncur dari bibirku. Mungkin dalam diam dan dekatnya dia denganku, dia makin memahami keinginanku.

“Sttt….Dirga” bisik tembok ketika pertama kali mulai membuka pembicaraan denganku. Waktu itu aku bingung, siapa yang memanggilku. Itu pasti bukan meme. Meme memanggilku dengan panggil Yan De.

“Hei! Dirga! Hei! Ini aku….Aku di sebelahmu!” aku bingung waktu itu. Di sebelahku hanyalah tembok batako, tanpa plester, tanpa cat, rapuh berdebu.

Aku mendekatkan kepalaku ke tembok. Sepertinya suara itu berasal dari sana.

“Nah, ya betul begitu. Ayo tempelkan telingamu ke aku. Ayo, cepat!” suara itu memerintahku seperti tidak sabaran. Aku beringsut, menggeser pinggangku yang kaku kurang bergerak, hingga telingaku mampu menempel di tembok.

“Ya, betul. Makin jelas suaraku ‘kan?” Memang benar, suara yang aku dengar berasal dari tembok itu.

Sejak itulah, selain meme, tembok menjadi temanku satu-satunya. Dari tembok, aku tahu dunia yang ada di bagian luar tempatku berbaring selama bertahun-tahun.

“Dirga, jika di sisiku yang dekat denganmu terasa dingin, maka di sisiku yang sebaliknya justru terasa panas dan hangat,” tembok menceritakan tentang dirinya kepadaku pada suatu siang.

“Hangat senja ini begitu dirindukan oleh banyak orang. Membuang jauh gelap dan dingin.” Kalimat tembok membuat sesuatu di pikiranku berpendar kemudian menjalar, memercikkan tanya di kepalaku.

Aku dan meme benci pada gelap dan dingin pagi hari. Benci yang memunculkan dunia yang berbeda didalam diriku dan menggelapkan pandangan meme. Sejak dulu,  sejak peristiwa yang selalu membuat meme menangis sejadi-jadinya.

“Apakah semua orang suka senja?” tanyaku pada tembok.

“Hmmm, aku rasa begitu,” jawab tembok, dengan nada santai. Seolah tidak mau menyombongkan pengetahuannya. Dia pastinya tahu lebih banyak hal dibandingkan aku.

“Jika mereka tidak suka, kenapa tiap sore tiba banyak anak-anak yang bermain bola di sisi itu. Ibu-ibu berbincang sambil menyapu halaman, laki-laki muda berkumpul sambil menggoda wanita yang mereka taksir. Mereka tertawa-tawa sambil bermandikan sinar berwarna oranye.” Tembok berusaha menjelaskan kepadaku.

“Apakah senja bisa menghangatkan hati seseorang? Meski dia hanya bisa merasakan?” Aku mencoba berdiskusi.

“Iya. Senja itu untuk siapa saja. Untuk seorang yang hanya bisa melihat, atau hanya bisa mendengar.” Tembok sepertinya sudah tahu arah pertanyaanku.

Kami terdiam sejenak. Aku biarkan pikiranku berimajinasi. Aku bayangkan meme akan tersenyum, dan tidak menangis lagi. Aku ingin meme merasakan apa yang orang rasakan. Hati meme sudah terlalu lama dihantui dingin dini hari.

“Tembok, kamu sudah tahu apa yang ingin aku lakukan?”Akhirnya aku bertanya pada tembok.

“Ya, aku tahu Dirga, lakukanlah. Tak mengapa. Sungguh,” sahabatku berujar tulus.

Akupun menempelkan pipiku pada tembok.  “Terimakasih, Saudaraku,” bisikku lirih.

Keesokan harinya, aku mulai menjalankan rencanaku. Pertama-tama aku memperhatikan seluruh bagian tembok yang masih bisa terjangkau oleh tanganku. Dengan badan yang jarang bergerak dan kaki yang kaku, ternyata areal tembok yang bisa aku jangkau tidak begitu luas.

Setelah beberapa saat, akhirnya aku temukan bagian untuk menjalankan rencanaku. Posisinya tidak jauh dari posisi kepalaku jika aku berbaring. Tanganku mulai meraba dan mencongkel tembok, sahabat terbaikku.

Baru beberapa menit, tiba-tiba aku terbawa pada kenangan buruk masa lalu. Inilah yang justru paling aku takuti. Aku selalu tak mampu mengendalikan emosiku jika teringat pada masa gelap itu.

Dini hari yang dingin. Bertahun-tahun yang lalu. Meme berteriak-teriak menghentikan orang-orang bertopeng yang menarik paksa bapa. Bapa tak kuasa menolak. Jumlah mereka cukup banyak. Tidak ada yang berani.

Aku yang masih kecil menangis di kaki meme. Takut karena melihat meme yang menangis histeris, dan takut karena bapa yang ditarik paksa oleh orang-orang. Kekuatan meme tak berarti apa. Bapa dibawa pergi.

Meme berhasil mengetahui tempat di mana bapa dibawa pergi. Sambil menggendongku, meme berlari di antara kegelapan malam, menyusul bapa. Meme berlari sambil menangis. Dia bahkan tak peduli badannya dan badanku yang kadang membentur ranting dan dahan pohon. Anjing-anjing menggonggong, dini hari yang dingin makin mencekam.

Akhirnya tibalah kami disuatu tempat. Seingatku seperti lapangan. Atau malah kuburan? Entahlah. Meme mengajakku merunduk di balik semak. Disana bapa dikumpulkan dengan beberapa orang.

Aku mendengar salah satu diantara orang yang menangkap bapa membentak bapa. “Saya bukan pengikutnya!”  Bapa berteriak sambil menggelengkan kepalanya dengan keras. Tetapi tiba-tiba saja…tiba-tiba saja…sebilah tombak menghujam dada bapa. Bapa tersungkur seketika!

Meme berteriak sangat keras. Teriakan terkeras yang pernah aku dengar. Meme berlari ke arah orang-orang itu. Aku terlempar ke tanah yang basah dan dingin. Salah seorang dari mereka memukul kepala meme. Meme tersungkur, tak bergerak.

Di sinilah aku kini. Hidup tergantung, berteman tembok. Meme tak boleh menjauh dariku. Aku takut meme akan ada yang memukuli lagi. Tersungkur dan akhirnya tak mampu melihat hingga kini. Gelap.

Aku tak bisa menjauh dari meme. Kaki terpasung bertahun-tahun oleh sepasang kayu bergembok. Jika aku berkeliaran, maka aku akan mengejar setiap orang yang membawa benda serupa tombak. Benda yang menembus dada bapa. Aku akan memukuli orang itu semampuku atau melemparinya dengan batu atau mencakarnya. Apapun!

Emosiku makin menjadi dan tidak mampu aku kendalikan. Tanganku yang sedari tadi hanya mencongkel tubuh tembok, kini mulai memukulinya, makin kencang. Suara benturan menggema.

“Yan De? Yan De..hentikan!” Meme mencoba mengingatkanku.

Tapi tanganku malah bergerak makin tak beraturan. Ritmenya makin cepat dan menghipnotis otakku. Aku harus mengakhiri gelap ini.

“Yan De, tanganmu pasti sakit.” Meme mulai bangun dari tempat duduk. Sambil meraba-raba, meme bergerak kearahku. Aku tetap memukul tembok sekuat tenaga.

Meme berhasil mendekat lalu mendekapku. Aku tahu meme ingin menenangkanku. Tapi tekadku sudah kuat. Aku benci masa gelap ini. Aku  inginkan hangat cahaya senja. Bukan cahaya pagi yang masih berteman dini hari yang dingin.

Meme menggapai tanganku, ingin menghentikan gerakan tanganku. Aku mengayun sekuat tenaga. Dan…brak!

Terdengar bunyi retak yang bercampur debu. Sahabat terbaikku, terluka tubuhnya oleh tanganku sendiri. Bersama dengan debu yang berhamburan, secercah cahaya sore menyelinap masuk. Aku bersorak, “Sanja..! Sanja…! Sanja Me!” suaraku seperti tercekik karena gembiranya. Tanganku terangkat naik, sedangkan kaki kurusku yang terpasung bergerak tertatih.

Aku memandang meme yang memelukku kuat. Cahaya senja menyentuh pelupuk matanya, lalu seluruh wajahnya. Meme berkilau jingga tembaga. Kulihat setetes air mata menggantung diujung matanya.

Aku yakin itu air mata bahagia.

***

Akulah pengendara kereta kencana,

yang rodanya terbenam

lumpur jahanam.

Sore ini,

kuantarkan senja

dari sang putra.

Tersenyumlah,

wahai putri Subala.

***

Catatan:

Meme = ibu

Bapa = Bapak

Me Tut = Bibi Ketut

Mbok Yan = Kakak Wayan

Don tuwi = daun turi

Sanja = senja

Tags: Cerpen
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Skripsi dan Si Mahasiswa “Bodo Amat” yang Duluan Tamat

Next Post

Puisi-puisi Faris Al Faisal # Mawar Rekah di Bibirmu

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Faris Al Faisal # Mawar Rekah di Bibirmu

Puisi-puisi Faris Al Faisal # Mawar Rekah di Bibirmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co