23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskusi Mahasiswa Kok Kayak Debat Politik? – Ini 3 Resep Agar Tak Kayak Gitu

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 20, 2019
in Kuliner
Diskusi Mahasiswa Kok Kayak Debat Politik? – Ini 3 Resep Agar Tak Kayak Gitu

Kadang-kadang diskusi itu membuat aku bahagia dan merasa bangga menjadi mahasiswa. Tapi kenapa yaa? Kok sekarang ini aku merasakan diskusi mahasiswa di sekitarku malah kayak debat politik begitu jadinya… Kenapa sih? Apa gara-gara musim politik kalik yaa?

Mahasiswa memang sudah identik dengan diskusi. Aku rasa tidak ada satu mahasiswa pun yang tidak pernah berdiskusi. Entah itu berdiskusi tentang politik panas seperti politik tempur saat sekarang, entah itu berdiskusi tentang materi kuliah yang maha-berat dan diajarkan oleh dosen yang maha-kaku, atau bisa juga berdiskusi tentang seberapa banyaknya sabun mandi dihabiskan untuk “nganu-nganu” selama musim horny. (Nah, hayoo… siapa yang keseringan hornyy???).

Begitulah kira-kira pemahaman sementara dari aku, seorang mahasiswa yang sedang berpura-pura candu diskusi dengan tema berat-berat, padahal kalau dalam bahasa Ingrisnya: ora ngerti opo-opo… AH, SIAALAN!

Begini sajalah rekan-rekanku sekalian: aku kira diskusi di kalangan mahasiswa itu sudah lama menjadi gaya hidup untuk eksis di antara mahasiswa-mahasiswi yang lainnya. TERUSS??? Artinya begini, gaya hidup seperti itu efektif untuk meningkatkan kualitas otak dan mental mahasiswa, apalagi diskusinya sambilan ngopi dan ngerokok kretek yang ada cengkihnya gitu. Aduuh… 100% dijamin mantap di mata yang punya warung kopi.

Sebuah analogi terbaruku mengatakan begini: kalau mahasiswa tanpa diskusi itu sama dengan nasi bungkus tanpa pelanggan, lama-kelamaan nasi bungkus itu bisa basi. Begitu pun mahasiswa, kalau tidak ada diskusinya, lama-kelamaan bisa kayak nasi basi itu. Hehehee… Artinya gimana tuh? Ya, cari tahu sajalah sendiri yaa…

Aku sendiri orangnya tidak tahan berlama-lama di suatu tempat kalau tidak ada kegiatan diskusinya. Misalnya begini, yang lumayan sering kualami, aku sedang kumpul-kumpul sama teman-teman seperkuliahan, dan teman-temanku itu malah sibuk sendiri dengan hape mereka masing-masing, aku ajak untuk berdiskusi tapi mereka malah balas, “Ooh,” “Yaa,” “Hmm,” “Tunggu dulu,” kalau begitu-begitu aku hanya bisa langsung berdiri, ambil kunci motor, cuzz, langsung pergi tanpa basa-basi. Dalam hati ini berkata,

“Makan tuh hape sekalian!”

Setelah lama-kelamaan bergaul serta membiasakan diri, aku kemudian bisa untuk mengamati teman-teman mahasiswa saat berdiskusi, TERNYATA OH TERNYATA, diskusi mahasiswa itu tak seindah apa yang selama ini aku pikirkan. Perlahan-lahan aku mulai mengerti tentang model-model berdiskusi. Ada yang berdiskusi dengan baik dan benar sehingga aku dibikinnya tersipu malu-malu. Ada juga yang berdiskusi secara tidak benar sehingga… Ya, mirip-mirip gitulah kayak debat-debat politik di Indonesia sekarang.

Memang sih ada mahasiswa yang berdiskusi dengan santai dan pembicaraannya juga berisi. Tapi, yang menjadi masalah bagiku saat sekarang ini bukanlah itu melainkan mahasiswa yang diskusinya seperti orang dikejar-kejar kuntilanak berkepala kambing.

Ciri-cirinya gimana tuh?

Yang itu lho, yang berdiskusi dengan suhu emosi tingkat tinggi serta urat lehernya tidak terkendali gitu, yang apabila temannya berpendapat, dia katain salah terus, yang apabila ada temannya berteori, dia bilang keliru keliru keliru. Tapi, apabila sampeyan yang ngatain dia salah, waduuh, seminggu lebih dia kagak bakalan nyapa-nyapa sampeyan. Seriuus! Ngesalin banget, kan?

Maka dari itu, sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja tapi sangat baik hati, aku telah merangkum 3 konsep dari Paulo Freire untuk menjadikan kamu mahasiswa yang akan sukses ketika berdiskusi. Entah itu berdiskusi di kelas, di kedai-kedai kopi, ataupun berdiskusi di forum-forum tidak resmi. Berikut ini adalah 3 konsep untuk kamu, wahai mahasiswa-mahasiwi yang katanya mencintai budaya berdiskusi:

  • Menjadi Mahasiswa Cinta

Ketika sedang berdiskusi, hendaknya mahasiswa bisa menghadirkan cinta ke dalam dirinya. Kehadiran cinta itu akan membuat diri kita merasa damai dan tidak mudah benci kepada lawan bicara. Aku sendiri sering membayangkan begini: kalau berdiskusi tidak adanya perasaan cinta, bisa-bisa semua perkataan orang adalah kutukan yang harus disalahkan. Bayangkan, kutukan lho Mas…

Untuk itu, demi kebaikan bersama, antara sampeyan dan lawan bicara sampeyan, maka cinta itu perlu untuk di hadirkan sehingga rasa benci tidak mudah datang ke hati. Kalau rasa benci sudah datang ke hati, wah, ujung-ujungnya diskusi bisa berganti menjadi forum caci maki.

Sebenarnya, kehadiran cinta ketika berdiskusi itu bisa membangun keharmonisan, ini teruntuk kita lho wahai para mahasiswa. Dengan begitu, apabila ada orang lain yang berpendapat maka kita akan merespon pendapat itu dengan penuh kasih dan penuh sayang, sehingga diskusi kita bisa berlangsung secara demokrasi yang sangat baik. Sekali lagi, tidak kayak debat-debat politik yang itu lho, aduuuh… susah kali aku jelasinnya!

Pokoknya diskusi dengan rasa cinta itu banyak kelebihan positifnya. Salah satunya adalah tidak pilih kasih, termasuk para jomlo sekalipun jangan sungkan-sungkan, karena dalam konsep mahasiswa cinta itu tidak ada aturan yang mengatakan kalau jomlo-jomlo tidak boleh ikut serta dalam bercinta. Percayalah~

  • Menjadi Mahasiswa Rendah Hati

Selain disarankan untuk menjadi mahasiswa cinta, di dalam diskusi yang ramah lingkungan dianjurkan pula untuk bersikap redah hati. Kalau ada mahasiswa lain atau siapapun yang mengekpresikan pendapatnya, maka jangan dulu keburu-buru mematahkan pendapat itu. Dengarkan saja baik-baik, siapa tahu pendapat itu lebih penting dan lebih bijak ketimbang pendapat sampeyan sendiri. Biarkan saja dulu, setelah lawan bicara sampeyan itu selesai menyampaikan pendapatnya, barulah saatnya di-skak-mat, eh maaf maaf, maksudnya diladenin dengan pendapat sampeyan yang baik dan tidak menyakitkan hatinya.

Menjadi mahasiswa yang rendah hati bisa dilakukan dengan cara menurunkan perasaan sombong, karena perasaan sombong akan membuat manusia tidak suka terkesan lebih rendah daripada manusia lain di muka bumi ini. Kalau perasaan sombong sudah menguasai diri, ketika berdiskusi ujung-ujungnya akan sering menyalahkan orang lain, merendahkan orang lain, sekan-akan tidak ada yang boleh lebih tinggi daripada orang sombong seperti sampeyan ini. Hehehee.. maaf maaf yaa, aku becanda kok. Begini sajalah, diskusi itu bukanlah ajang untuk menjatuhkan, maka merendahkan hati sejenak sangatlah penting supaya tidak ada yang terjatuh karena terjatuh itu rasanya sakit sekali.

  • Menjadi Mahasiswa Punya Harapan

Terakhir adalah menjadi mahasiswa yang punya harapan. Artinya, dalam setiap kegiatan diskusi mesti ada harapan untuk mendapatkan sesuatu sehingga diskusi tidak hanya menjadi omong-kosong-melompong saja. Kalau sudah ada harapan yang dicari, diskusi akan memiliki artinya tersendiri, dan semangatpun tidak akan cepat mati.

 Maka dari itu, aku selalu membayangkan tentang keharmonisan mahasiswa yang selalu menyelipkan rasa cinta, rendah hati, dan harapan ke dalam hatinya. Aku membayangkan betapa indahnya kehidupan mahasiswa itu. Kalau bertemu di jalan, aku pasti bertanya,

“Sampeyan mau kemana, Mas? ”

Kemudian kami akan berdiskusi tentang diriku yang belum paripurna untuk menjadi seorang mahasiswa. [T]

Tags: debat capresdebat pilkadadiskusimahasiswa
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Next Post

Guru Bahasa Indonesia Itu Bernama Jerinx Superman Is Dead

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Guru Bahasa Indonesia Itu Bernama Jerinx Superman Is Dead

Guru Bahasa Indonesia Itu Bernama Jerinx Superman Is Dead

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co