14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

I Wayan Suarsa Dharmana by I Wayan Suarsa Dharmana
January 22, 2019
in Esai
Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

Upacara byukukung di sawah

Suatu hari saya melihat orang tua yang sebagai guru dan sekaligus petani dengan sepetak lahan sawah sedang mempersiapkan sebuah penjor. 

Saya tanya, “Nak ngudiang Pak ?”

Sekedar basa basi mengingat kekurangpahaman saya tentang pertanian, Bapak kemudian menjawab singkat “mekukung biin mani ”. Mekukung, istilah dari dari Byukukung.

Apa itu Byukukung?  Byukukung merupakan salah satu acara sistem ritual dari budaya agraris di Bali, ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.  

Byukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakangan, pintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya.

Saya tertarik menuangkannya dalam sebuah tulisan mengingat masyarakat pertanian sudah terpinggirkan ditengah derasnya arus pembangunan, sehingga generasi mendatang mungkin hanya mendengar nama byukukung dari cerita generasi terdahulu yang pernah mengalaminya. Termasuk saya sendiri yang tidak tertarik menjadi petani namun, tidak pernah terpikirkan menjual sawah karena tidak pernah membeli.

Ritual Byukukung memiliki berbagai macam keunikan yang telah saya amati di Subak Sukabayu, Banjar Gagah, Desa Tegallalang, Gianyar. Keunikan tersebut tentunya akan berbeda dengan ritual byukukung di lokasi lain, mengingat adanya konsep desa kala patra.

Keunikan itu berupa penggunaan penjor, ketupat berbagai jenis, penggunaan cili, dan utik dari pelepah kelapa. Waktu pelaksanaan juga berbeda pada tiap-tiap subak sesuai dengan masa hamil padi Pelaku utama dari byukukung adalah petani pemilik atau penggarap sawah masing-masing.

Dari pengamatan, byukukung dalam pelaksanaannya dapat di bagi menjadi 2 tahap, yaitu (1) tahap persiapan, dan (2) tahap pelaksanaan.

Pada tahap persiapan dilakukan dengan mempersiapkan sesajen yang akan dipergunakan pada saat Byukukung. Bambu kecil melengkung, daun enau, tamas, ceper, tatakan segehan, janur, berbagai jenis buah, berbagai jajan, salah satu yang terisi adalah jaje dadalan belek dan satuh, beras, basan buat (campuran kayu manis, biji wijen, dan buah pala), kunyit, kapas, ngaad dan utik.

Bambu kecil melengkung dipergunakan untuk penjor byukukung, dihias dengan daun enau. Penjor Byukukung hanya dihias dengan daun enau tanpa berisi pala gantung, pala bungkah seperti layaknya penjor pada saat hari Raya Galungan. Kepe, tamas, ceper, taledan dan tatakan segehan dibuat dari dari daun kelapa yang sudah tua (selepan) dibentuk sedemikian rupa sebagai wadah dari suatu banten yang akan dibuat.

Janur diproses menjadi berbagai macam jejahitan seperti cenigan, cili lanang istri, canang, canang meraka, sampian byukukung, dan yang paling unik adalah berbagai jenis ketupat seperti ketupat nasi, ketupat sirikan, ketupat dampulan, ketupan sai, ketupat lepet, ketupat utu, ketupat kibul bebek, ketupat taluh, ketupat kukur sidayu, ketupat balang, ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan.

Pelepah kelapa yang sudah tua akan diproses menjadi utik, yaitu obor yang dibuat dari pelepah kelapa kering. Carang dadap dibuat untuk tegen-tegenan diisi dengan ketupat nasi, pala gantung, pala bungkah, dan jaje dadalan kering. Lidi 3 biji akan dililit dengan benang tridatu merah, hitam, putih, dan juga dililit dengan tanaman merambat bernama kesimbukan.

Setelah semua sarana siap, maka banten untuk ritual Byukukung akan disusun. Banten yang dibuat antara lain, dapetan tumpeng 5, gebogan,  sorohan, cenik, banten lingian, sesayut.  Mempersiapkan ulam banten yang disebut isin srawah yaitu kepiting, udang, ikan nyalian, belalang, dan capung.

Sarana upacara di atas tidak akan lengkap tanpa adanya unsur tirta, air suci sebagai pemuput dari upacara. Tirta yang dipergunakan untuk ritual Byukukung nunas dari Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari, dan Pura Masceti.  Semua sarana kemudian akan ditata dalam keben besar pada sehari sebelum Byukukung.

Tahap kedua dari ritual byukukung adalah pelaksanaan. Mengenai pelaksanaan di Subak Sukabayu berdasarkan perintah dari pekaseh dengan mempertimbangkan usia padi yang sudah akan hamil dan atau sudah hamil.

Beberapa hari sebelum pelaksanaannya, Saye atau juru arah dari Subak akan mendatangi masing-masing rumah dari anggota subak, pemilik sawah maupun penggarap sawah untuk memberitahu pelaksanaan Byukukung. Di sini yang melaksanakan Byukukung hanya pemilik sawah yang langsung menggarap sawahnya, dan atau penyakap sawah, sedangkan pemilik yang tidak langsung menggarap sawahnya tidak melaksanakan Byukukung.

Sehari sebelum Byukukung, anggota subak yang melaksanakan byukukung memasang penjor Byukukung di cakangan atau tempat masuknya air ke sawah masing-masing yang ditandai dengan sebuah tugu limas.

Byukukung di Subak Sukabayu dilaksanakan sebelum matahari terbit, dengan menjunjung banten dalam keben/sokasi besar sambil membawa utik, karena lokasi masing-masing sawah dari Subak Sukabayu sudah dapat dilalui sepeda motor namun utik sebagai obor tetap dibawa ke sawah.

Sampai di sawah, maka tanaman padi yang ditanam dekat tugu cakangan air yang disebut dengan istilah dewa akan dihias, dan digantungi dengan cili lanang istri, banten akan diturunkan satu persatu mulai dari keben.

(1) Menghaturkan bebersihan/pesucian di pelinggih tugu limas;

(2) Menghaturkan 1 banten ajuman, dan tipat sari ;

(3) banten lingian dan pengingsan ditaruh di cakangan air sawah, nasi takilan dan sorohan cenik ditaruh di pematang sawah dekat dengan cakangan;

(4) Menghaturkan banten Byukukung di depan tugu limas yang terdiri dari dapetan tumpeng 5, gebogan, dan berbagai jenis ketupat kecuali ketupat sari, ketupat balang, ketupat kukur sidayu;

(5) Menghaturkan banten di 4 penjuru pojok sawah yang berisi ajuman dan canang meraka;

(6) Tirta dari Pura Masceti, Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari kemudian diperciki pada masing-masing banten yang dihaturkan, dengan mantra sesontengan sesuai kemampuan sendiri dan belum melembaga yang intinya memohon keselamatan tanaman padi,  dilanjutkan dengan persembahyangan, metabuh arak berem, dan semua banten di lungsur;

(7) Proses dilanjutkan dengan menghaturkan banten di tugu limas berupa ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat belalang ;

(8) Berjalan berkeliling sebanyak 3 kali di petak sawah yang berisi dewa padi dengan membawa tegen-tegenan dan cambuk dari lidi sambil mencambuki padi (seperti ritual metegen-tegenan dalam perkawinan di Bali)

(9) Banten ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat balang tidak diambil, dibiarkan sebagai banten pengoak yang bisa diambil oleh orang lain (saya masih ingat waktu kecil sering menjadi goak dengan mengambil lungsuran yang ada di tugu limas, suatu kenangan yang sangat menyenangkan bagi saya). Sedangkan ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan akan digantung pada tugu limas.

Tags: balihindupertanianupacara
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Nalar

Next Post

Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

I Wayan Suarsa Dharmana

I Wayan Suarsa Dharmana

Pendidik di SMK Negeri 1 Tampaksiring, Lulusan Pendidikan Sejarah Undiksha Singaraja dapat dijumpai pada akun media sosial FB Suarsa Dharmana

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co