5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

I Wayan Suarsa Dharmana by I Wayan Suarsa Dharmana
January 22, 2019
in Esai
Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

Upacara byukukung di sawah

Suatu hari saya melihat orang tua yang sebagai guru dan sekaligus petani dengan sepetak lahan sawah sedang mempersiapkan sebuah penjor. 

Saya tanya, “Nak ngudiang Pak ?”

Sekedar basa basi mengingat kekurangpahaman saya tentang pertanian, Bapak kemudian menjawab singkat “mekukung biin mani ”. Mekukung, istilah dari dari Byukukung.

Apa itu Byukukung?  Byukukung merupakan salah satu acara sistem ritual dari budaya agraris di Bali, ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.  

Byukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakangan, pintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya.

Saya tertarik menuangkannya dalam sebuah tulisan mengingat masyarakat pertanian sudah terpinggirkan ditengah derasnya arus pembangunan, sehingga generasi mendatang mungkin hanya mendengar nama byukukung dari cerita generasi terdahulu yang pernah mengalaminya. Termasuk saya sendiri yang tidak tertarik menjadi petani namun, tidak pernah terpikirkan menjual sawah karena tidak pernah membeli.

Ritual Byukukung memiliki berbagai macam keunikan yang telah saya amati di Subak Sukabayu, Banjar Gagah, Desa Tegallalang, Gianyar. Keunikan tersebut tentunya akan berbeda dengan ritual byukukung di lokasi lain, mengingat adanya konsep desa kala patra.

Keunikan itu berupa penggunaan penjor, ketupat berbagai jenis, penggunaan cili, dan utik dari pelepah kelapa. Waktu pelaksanaan juga berbeda pada tiap-tiap subak sesuai dengan masa hamil padi Pelaku utama dari byukukung adalah petani pemilik atau penggarap sawah masing-masing.

Dari pengamatan, byukukung dalam pelaksanaannya dapat di bagi menjadi 2 tahap, yaitu (1) tahap persiapan, dan (2) tahap pelaksanaan.

Pada tahap persiapan dilakukan dengan mempersiapkan sesajen yang akan dipergunakan pada saat Byukukung. Bambu kecil melengkung, daun enau, tamas, ceper, tatakan segehan, janur, berbagai jenis buah, berbagai jajan, salah satu yang terisi adalah jaje dadalan belek dan satuh, beras, basan buat (campuran kayu manis, biji wijen, dan buah pala), kunyit, kapas, ngaad dan utik.

Bambu kecil melengkung dipergunakan untuk penjor byukukung, dihias dengan daun enau. Penjor Byukukung hanya dihias dengan daun enau tanpa berisi pala gantung, pala bungkah seperti layaknya penjor pada saat hari Raya Galungan. Kepe, tamas, ceper, taledan dan tatakan segehan dibuat dari dari daun kelapa yang sudah tua (selepan) dibentuk sedemikian rupa sebagai wadah dari suatu banten yang akan dibuat.

Janur diproses menjadi berbagai macam jejahitan seperti cenigan, cili lanang istri, canang, canang meraka, sampian byukukung, dan yang paling unik adalah berbagai jenis ketupat seperti ketupat nasi, ketupat sirikan, ketupat dampulan, ketupan sai, ketupat lepet, ketupat utu, ketupat kibul bebek, ketupat taluh, ketupat kukur sidayu, ketupat balang, ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan.

Pelepah kelapa yang sudah tua akan diproses menjadi utik, yaitu obor yang dibuat dari pelepah kelapa kering. Carang dadap dibuat untuk tegen-tegenan diisi dengan ketupat nasi, pala gantung, pala bungkah, dan jaje dadalan kering. Lidi 3 biji akan dililit dengan benang tridatu merah, hitam, putih, dan juga dililit dengan tanaman merambat bernama kesimbukan.

Setelah semua sarana siap, maka banten untuk ritual Byukukung akan disusun. Banten yang dibuat antara lain, dapetan tumpeng 5, gebogan,  sorohan, cenik, banten lingian, sesayut.  Mempersiapkan ulam banten yang disebut isin srawah yaitu kepiting, udang, ikan nyalian, belalang, dan capung.

Sarana upacara di atas tidak akan lengkap tanpa adanya unsur tirta, air suci sebagai pemuput dari upacara. Tirta yang dipergunakan untuk ritual Byukukung nunas dari Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari, dan Pura Masceti.  Semua sarana kemudian akan ditata dalam keben besar pada sehari sebelum Byukukung.

Tahap kedua dari ritual byukukung adalah pelaksanaan. Mengenai pelaksanaan di Subak Sukabayu berdasarkan perintah dari pekaseh dengan mempertimbangkan usia padi yang sudah akan hamil dan atau sudah hamil.

Beberapa hari sebelum pelaksanaannya, Saye atau juru arah dari Subak akan mendatangi masing-masing rumah dari anggota subak, pemilik sawah maupun penggarap sawah untuk memberitahu pelaksanaan Byukukung. Di sini yang melaksanakan Byukukung hanya pemilik sawah yang langsung menggarap sawahnya, dan atau penyakap sawah, sedangkan pemilik yang tidak langsung menggarap sawahnya tidak melaksanakan Byukukung.

Sehari sebelum Byukukung, anggota subak yang melaksanakan byukukung memasang penjor Byukukung di cakangan atau tempat masuknya air ke sawah masing-masing yang ditandai dengan sebuah tugu limas.

Byukukung di Subak Sukabayu dilaksanakan sebelum matahari terbit, dengan menjunjung banten dalam keben/sokasi besar sambil membawa utik, karena lokasi masing-masing sawah dari Subak Sukabayu sudah dapat dilalui sepeda motor namun utik sebagai obor tetap dibawa ke sawah.

Sampai di sawah, maka tanaman padi yang ditanam dekat tugu cakangan air yang disebut dengan istilah dewa akan dihias, dan digantungi dengan cili lanang istri, banten akan diturunkan satu persatu mulai dari keben.

(1) Menghaturkan bebersihan/pesucian di pelinggih tugu limas;

(2) Menghaturkan 1 banten ajuman, dan tipat sari ;

(3) banten lingian dan pengingsan ditaruh di cakangan air sawah, nasi takilan dan sorohan cenik ditaruh di pematang sawah dekat dengan cakangan;

(4) Menghaturkan banten Byukukung di depan tugu limas yang terdiri dari dapetan tumpeng 5, gebogan, dan berbagai jenis ketupat kecuali ketupat sari, ketupat balang, ketupat kukur sidayu;

(5) Menghaturkan banten di 4 penjuru pojok sawah yang berisi ajuman dan canang meraka;

(6) Tirta dari Pura Masceti, Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari kemudian diperciki pada masing-masing banten yang dihaturkan, dengan mantra sesontengan sesuai kemampuan sendiri dan belum melembaga yang intinya memohon keselamatan tanaman padi,  dilanjutkan dengan persembahyangan, metabuh arak berem, dan semua banten di lungsur;

(7) Proses dilanjutkan dengan menghaturkan banten di tugu limas berupa ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat belalang ;

(8) Berjalan berkeliling sebanyak 3 kali di petak sawah yang berisi dewa padi dengan membawa tegen-tegenan dan cambuk dari lidi sambil mencambuki padi (seperti ritual metegen-tegenan dalam perkawinan di Bali)

(9) Banten ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat balang tidak diambil, dibiarkan sebagai banten pengoak yang bisa diambil oleh orang lain (saya masih ingat waktu kecil sering menjadi goak dengan mengambil lungsuran yang ada di tugu limas, suatu kenangan yang sangat menyenangkan bagi saya). Sedangkan ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan akan digantung pada tugu limas.

Tags: balihindupertanianupacara
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Nalar

Next Post

Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

I Wayan Suarsa Dharmana

I Wayan Suarsa Dharmana

Pendidik di SMK Negeri 1 Tampaksiring, Lulusan Pendidikan Sejarah Undiksha Singaraja dapat dijumpai pada akun media sosial FB Suarsa Dharmana

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co