24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nalar

Oka Rusmini by Oka Rusmini
January 21, 2019
in Esai
Nalar

KOPLAK menghisap rokok yang dipilinnya sendiri pelan-pelan. Dibiarkannya matanya terpejam, nafasnya diatur pelan-pelan, hidungnya kembang-kempis sambil menghirup bau kopi yang diseduhnya sendiri.

Asap rokok ikut sibuk mengusap wajahnya, Koplak teringat kata-kata  Kemitir — anak semata wayangnya, jika perasaan sedang dilanda gundah yang tidak jelas Koplak diwajibkan Kemitir menghidupkan dupa — konon segepok dupa yang diberikan Kemitir pada Koplak adalah dupa khusus, namanya dupa terapi.                                  

Terapi? Sesungguhnya Koplak tidak habis pikir dengan beragam gaya hidup masyarakat modern (baca: anak muda) di Bali saat ini. Dupa terapi? Apa dupa itu bisa mengobati beragam sakit yang diderita Koplak? Hanya dengan menghirup dalam-dalam dupa itu, beragam onak yang tumbuh di sulur-sulur otak Koplak akan menguap? Koplak merengut.

Sepanjang hidupnya Koplak justru merasa generasi yang disebut milenial dan generasi “cerdas” yang gegas menyantap beragam info itu justru sering sekali terlihat lemah. Buktinya? Banyak sekali anak-anak muda yang dihajar sedikit persoalan yang bagi Koplak “ringan” sudah mengambil jalan pintas. Contohnya, diputus pacar saja sudah bunuh diri!

Belum lagi budaya  beragam ilusi-ilusi yang ditawarkan dunia iklan yang masif menghajar seluruh lorong-lorong kehidupan generasi muda saat ini seolah hidup itu begitu mudah, ceria, dan gemilang. Media sosial telah menghajar logika-logika kedalaman hati yang dulu tumbuh di hati Koplak. Koplak tumbuh sebagai manusia laki-laki dari iklim dan hawa pedesaan. Lingkungan hidup di sekitar Koplak tumbuh adalah lingkungan yang segar. Koplak berdekatan dan bergaul dengan beragam pohon dan buah, juga beragam bunga-bunga.

Anak-anak sekarang bergaul dan berbicara dengan “alat” (baca: laptop dan handphone). Semua kehidupan saat ini sesungguhnya terasa membosankan.

“Kemitir sesekali pulanglah. Bape sudah lama tidak melihatmu?” Suatu hari Koplak berusaha menghubungi anak semata wayangnya, karena Koplak rindu dengan suara Kemitir, rindu dengan bola matanya yang ekpresif setiap bercerita tentang hal-hal ringan dan kadang berat juga. Nafas Kemitir yang naik turun, bau tubuhnya. Mimik bibirnya. Koplak rindu dengan kehadiran Kemitir.

“Bape, Bape kan sudah Kemitir ajarkan cara menggunakan video call.” Sahut suara dari seberang. Suara yang tanpa beban, suara yang bagi Koplak tidak meninggalkan jejak kerinduan. Suara yang terdengar begitu datar tanpa jejak yang bisa dideteksi.

Koplak merasa ada yang janggal dengan ritme hidup saat ini, bagaimana mereka mencurahkan rindu? Juga cinta. Bukankah terasa begitu menggetarkan ketika dua orang yang saling mencintai bertemu, dan saling bersentuhan. Atau saling berpandangan dengan malu-malu kondisi jantung, hati dan pikiran tidak karuan.

Koplak ingat ketika matanya bertemu dengan tubuh Ni Luh Wayan Langir — perempuan pertama yang dilihatnya yang bisa membuat tubuhnya tidak lagi memiliki tulang yang kuat untuk mendukung daging-daging agar tetap berdiri tegak. Langir — perempuan berusia 9 tahun itu telah meruntuhkan dan menghancurkan seluruh kekuatan yang dimiliki Koplak. Tulang-tulang dalam tubuhnya, raib!

Begitulah rasa cinta untuk pertama melaburi dinding-dinding hidup Koplak, menempel erat di lubang otaknya. Tidak mau pergi sedetikpun. Koplak pun diterjang amuk badai paling aneh. Badai rasa cinta, rindu, entah apa namanya yang paling tepat. Itulah periode paling kacau dan getir bagi Koplak.

Perasaan itulah yang membuat Koplak berpikir keras. Mungkin karena sering berdialog dengan “gawai” Kemitir sampai hari ini belum juga memiliki pacar? Minimal ada seorang lelaki atau beberapa lelaki-lelaki yang berusaha memikatnya. Apakah Kemitir lebih  mencintai seluruh gawainya? Koplak juga tidak habis pikir banyak sekali gawai yang dibawa Kemitir.

“Bagaimana caranya jika dua telponmu berdering, apakah kau sempat berpikir yang mana telpon yang akan kau angkat?” tanya Koplak sungguh-sungguh pandir. Koplak tidak habis pikir, bagaimana manusia bisa hidup tanpa bertemu dengan orang-orang?

 Setiap Koplak bertanya gaya hidup yang dilakoni Kemitir. Kemitir hanya tersenyum sambil mengenggam tangan Koplak.

Hidup jadi lebih praktis, Bape?” Jawab Kemitir tanpa beban.

Koplak tetap tidak bisa menerima beragam gaya hidup yang disebut Kemitir praktis dan memudahkan. Bagi Koplak gaya hidup saat ini mengerikan. Pernah Koplak seminggu di rumah Kemitir yang luas dan besar, dari pagi sampai sore Koplak tidak melihat Kemitir menerima tahu. Kemitir duduk dengan laptopnya — sambil berbicara sendiri dengan beragam gawai itu. Olah raga juga dengan gawai. Kemitir tinggal menyetel alatnya, maka beragam jenis olah raga ada di dalam gawai Kemitir. Kemitir Yoga juga dengan gawainya.

Nalar Koplak kembang-kempis. Tidak paham dan merasa ada rasa ganjil yang terus menerus menguap dari otaknya. Suatu hari Kemitir lupa membawa gawainya, untuk pertama kali Koplak merasa tidak lagi mengenal Kemitir. Kemitir embongkar seluruh kamar, mengaduk-aduk ruang tamu. Pokoknya seluruh isi rumah seperti baru saja diserang angin puting beliung.

Hampir setengah jam Kemitir terlihat linglung, bingung dan Koplak hanya bisa terdiam sambil mengikuti ke mana arah langkah Kemitir. Koplak juga tidak ingin bertanya, sampai akhirnya rasa penasaran koplak terjawab. Ternyata Kemitir mencari handphohenya. Setelah rumah besar itu dibuat babak belur. Kemitir pun duduk di kursi ruang tamu sambil sibuk dengan handphonenya. Koplak menarif nafas, hanya karena itu, Kemitir seperti mahluk yang tidak dikenal Koplak. Koplak menarik nafas dalam-dalam.

“Tanpa benda ini, semua hal tidak bisa Kemitir selesaikan dengan cepat, Bape.” Kemitir berkata tenang. Koplak masih melongo, tidak habis pikir. Cepat sekali emosi Kemitir ditaklukkan. Koplak menggaruk kepalanya lalu keluar, mencari udara segar sebelum nafasnya diikat pikirannya. Benar-benar kehidupan yang aneh, apakah tanpa gawai semua manusia seusia Kemitir akan mati? (T)

Tags: gaya hidupmedia sosialPan Koplak
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Filosofi-filosofi(an) Bunga

Next Post

Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

Byukukung, Ketika Padi Sedang Hamil Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co