4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 19, 2018
in Esai
Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Ilustrasi: Manik Sukadana

Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya…

Kini saya ingin menulis sesuatu yang serius dan ingin berlagak sok jadi pengamat yang serius, walaupun tak serius-serius amat.  Jikapun tulisan saya ini tak dilihat sebagai tulisan yang serius dan dianggap jadi tulisan yang gagal karena tidak serius, juga tak jadi masalah, karena memang saya bukan penulis yang serius, dan mungkin memang tak bisa jadi orang serius.

Ini sebuah pertanyaan yang tidak terlalu serius yang selalu ingin saya tanyakan dengan serius, tentang Bali utara dan selatan serta Bali bagian lainya.

Selama ini yang banyak jadi perbincangan adalah kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Sementara Bali bagian lainnya kalah pamor dengan keberadaan ‘mereka’ berdua. Saat mencoba mencari di google, yang paling banyak saya temukan, ya memang kesenjangan antara Bali utara dan selatan, dan sedikit tentang kesenjangan antara Bali selatan dengan Bali utara,timur, barat, maupun tengah.

Kenapa Bali utara dan selatan? Kenapa bukan Bali barat dan timur, Bali selatan dan timur, Bali barat dan selatan, Bali utara dan tengah, atau Bali yang lainnya?

Secara kasat mata, sekali lagi secara kasat mata, saya melihat bahwa saat ini prioritas pembangunan di Bali hanya untuk menghilangkan, mengurangi, atau mungkin menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Kata mereka Bali selatan sudah terlalu sesak dan pembangunannya terlampau jauh meninggalkan Bali utara. Bali selatan maju, sementara Bali utara tertinggal, begitu kata mereka.

Misalkan saja, pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja yang peruntukannya sudah pasti untuk mengurangi kesenjangan Bali utara dan selatan. Dikatakan bahwa dengan shortcut ini jarak tempuh Denpasar-Singaraja yang awalnya bisa memakan waktu 2,5 jam atau bahkan lebih karena harus melewati turunan dengan kelokan yang melelahkan, memabukkan, memusingkan, membuat ngantuk, bisa dipersingkat menjadi 1,5 jam saja.

Pemangkasan waktu yang luar biasa bukan? Yang awalnya dari Denpasar harus tergesa-gesa diperjalanan agar cepat sampai diSingaraja atau sebaliknya, kini jadi lebih santai, seperti di pantai sambil menikmati satai dan gulai. Yang awalnya tak bisa menikmati kopi di perjalanankarena takut telat, kini bisa minum kopi sambil guling-guling dan wik wik wikwik di dagang kopi. Dan saya rasa ini sebanding atau sama dengan waktu tempuh dari Denpasar ke kampung saya di Karangasem. Dan mungkin saya akan lebih seringke Singaraja ketimbang ke kampung jika shortcut ini rampung.

Kita lanjut ke masalah (mungkin bukan masalah) Bali utara dan selatan.

Tak hanya shortcut, juga rencana pembangunan bandara di Bali utara, pasti jawabannya ingin mengurangi atau menghapus kesenjangan pembangunan di Bali utara dan selatan selain jawaban lain, semisal karena Bandara Ngurah Rai sudah melebihi kapasitas atau jawaban lain yang mungkin kurang penting untuk dijadikan jawaban utama.

Tapi itu jika saya lihat secara kasat mata saat ini, dan mungkin jika ditelusuri lebih dalam, ke dalam, dan lebih mendalam, mungkin tidak seperti itu, atau mungkin memang yang jadi sasaran utama, ya menghilangankan kesenjangan antara Bali utara dengan selatan, sebelum menuju ke Bali bagian lainnya.

Terkait naik daunnya istilah kesenjangan Bali utara dengan selatan, saya mereka-reka beberapa alasan yang bisa saja benar, atau mungkin hanya fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ,ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Pertama mungkin karena Bali utara dan Bali selatan dibatasi oleh sebuah gunung. Karena gunung itulah, maka akses dari Bali selatan menuju Bali utara (Buleleng) sangat sulit, jarak tempuh yang jauh dan membuat Bali utara tertinggal ketimbang Bali selatan dalam berbagai hal termasuk pariwisata, juga pembangunan.  Sehingga perlu kiranya yang menjadi sorotan utama, ya Bali utara yang dibatasi gunung itu.

Seandainya saja yang dibatasi gunung itu adalah Bali barat dengan Bali timur, mungkin saja akan ada kesenjangan juga antara pembangunan Bali barat dan timur, sehingga yang jadi prioritas utama pasti Bali barat dan timur, dan istilah kesenjangan Bali utara dengan Bali selatan bisa saja kalah pamor juga dengan istilah Bali barat dan timur. Mungkin saja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak?.

Kedua, bisa saja karena yang satunya ibu kotaProvinsi Bali (Denpasar), dan yang lagi satunya ‘mantan’ ibu kota Provinsi Bali (Singaraja). Karena itulah maka ‘mereka’ berdua perlu dibuat sama, merata, seimbang, tanpa perbedaan, dan sama-sama maju, agar tidak cemburu. Setelah‘mereka’ berdua sama, baru merambah yang lain, sehingga duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan bukan guru kencing berdiri murid kencing di celana.

Ketiga, mungkin saja pikiran saya yang terlalu sempit mengartikan Bali utara dan selatan hanya sebatas Denpasar dan sekitarnya dengan Buleleng. Bisa saja utara dan selatan itu memiliki arti: di tengah pulau Bali dibuat garis melintang dari timur ke barat sebagaimana garis khatulistiwa yang membelah bumi bagian utara dan selatan sama rata dan adil. Sehingga yang dimaksud Bali utara adalah Bali yang ada di bagian utara garis, dan yang dikatakan Bali selatan yaitu Bali yang berada di selatan garis.

Sehingga menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan sama artinya dengan menghapus kesenjangan antara utara garis dengan selatan garis yang membagi Bali menjadi dua. Jika itu tercapai, pasti sama kata sama rasa, seirama, sejalan, segalak sagilik salunglung sebayantaka, tat twan asi, paras paros sarpanaya,asah asih asuh, dan bukan bersatu kita teguh bercerai kawin lagi.

Keempat, mungkin karena sejak orde pemilihan gubernur secara langsung, gubernur yang terpilih selalu berasal dari Buleleng. Pertama Mangku Pastika menjabat dua kali periode, dan kini Wayan Koster yang berasal dari Sembiran. Kalau soal ini, hanya dugaan belaka. Mungkin karena warga Bali utara “merasa memiliki” gubernur sehingga mereka ingin gubernurnya berjuang lebih serius untuk tanah kelahirannya, sehingga istilah “keseimbangan” jadi lebih sering muncul.  

Kelima, mungin karena jumlah penduduk di Buleleng terbanyak dan wilayahnya juga paling luas. Sehingga bagian utara ini harusnya juga mendapatkan jatah pembangunan sesuai dengan jumlah penduduknya. Apalagi, saat musim pilkada, jumlah besar penduduk Buleleng sering diduga sebagai faktor penting untuk memenangkan kepala daerah.  

Ya mungkin begitu, sehingga jikapun ada yang menganggap tulisan ini serius maka akan ditanggapinyalah dengan serius, begitu juga sebaliknya, jika tulisan ini dianggap bergurau pasti akan ditanggapinyalah dengan bergurau pula, dan begitu juga jika dianggap mengada-ada maka mereka tak akan mungkin mengadakannya. (T)

Tags: balibali utarabulelengdenpasarGianyarPembangunantabanan
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Next Post

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co