23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 19, 2018
in Esai
Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Ilustrasi: Manik Sukadana

Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya…

Kini saya ingin menulis sesuatu yang serius dan ingin berlagak sok jadi pengamat yang serius, walaupun tak serius-serius amat.  Jikapun tulisan saya ini tak dilihat sebagai tulisan yang serius dan dianggap jadi tulisan yang gagal karena tidak serius, juga tak jadi masalah, karena memang saya bukan penulis yang serius, dan mungkin memang tak bisa jadi orang serius.

Ini sebuah pertanyaan yang tidak terlalu serius yang selalu ingin saya tanyakan dengan serius, tentang Bali utara dan selatan serta Bali bagian lainya.

Selama ini yang banyak jadi perbincangan adalah kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Sementara Bali bagian lainnya kalah pamor dengan keberadaan ‘mereka’ berdua. Saat mencoba mencari di google, yang paling banyak saya temukan, ya memang kesenjangan antara Bali utara dan selatan, dan sedikit tentang kesenjangan antara Bali selatan dengan Bali utara,timur, barat, maupun tengah.

Kenapa Bali utara dan selatan? Kenapa bukan Bali barat dan timur, Bali selatan dan timur, Bali barat dan selatan, Bali utara dan tengah, atau Bali yang lainnya?

Secara kasat mata, sekali lagi secara kasat mata, saya melihat bahwa saat ini prioritas pembangunan di Bali hanya untuk menghilangkan, mengurangi, atau mungkin menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Kata mereka Bali selatan sudah terlalu sesak dan pembangunannya terlampau jauh meninggalkan Bali utara. Bali selatan maju, sementara Bali utara tertinggal, begitu kata mereka.

Misalkan saja, pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja yang peruntukannya sudah pasti untuk mengurangi kesenjangan Bali utara dan selatan. Dikatakan bahwa dengan shortcut ini jarak tempuh Denpasar-Singaraja yang awalnya bisa memakan waktu 2,5 jam atau bahkan lebih karena harus melewati turunan dengan kelokan yang melelahkan, memabukkan, memusingkan, membuat ngantuk, bisa dipersingkat menjadi 1,5 jam saja.

Pemangkasan waktu yang luar biasa bukan? Yang awalnya dari Denpasar harus tergesa-gesa diperjalanan agar cepat sampai diSingaraja atau sebaliknya, kini jadi lebih santai, seperti di pantai sambil menikmati satai dan gulai. Yang awalnya tak bisa menikmati kopi di perjalanankarena takut telat, kini bisa minum kopi sambil guling-guling dan wik wik wikwik di dagang kopi. Dan saya rasa ini sebanding atau sama dengan waktu tempuh dari Denpasar ke kampung saya di Karangasem. Dan mungkin saya akan lebih seringke Singaraja ketimbang ke kampung jika shortcut ini rampung.

Kita lanjut ke masalah (mungkin bukan masalah) Bali utara dan selatan.

Tak hanya shortcut, juga rencana pembangunan bandara di Bali utara, pasti jawabannya ingin mengurangi atau menghapus kesenjangan pembangunan di Bali utara dan selatan selain jawaban lain, semisal karena Bandara Ngurah Rai sudah melebihi kapasitas atau jawaban lain yang mungkin kurang penting untuk dijadikan jawaban utama.

Tapi itu jika saya lihat secara kasat mata saat ini, dan mungkin jika ditelusuri lebih dalam, ke dalam, dan lebih mendalam, mungkin tidak seperti itu, atau mungkin memang yang jadi sasaran utama, ya menghilangankan kesenjangan antara Bali utara dengan selatan, sebelum menuju ke Bali bagian lainnya.

Terkait naik daunnya istilah kesenjangan Bali utara dengan selatan, saya mereka-reka beberapa alasan yang bisa saja benar, atau mungkin hanya fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ,ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Pertama mungkin karena Bali utara dan Bali selatan dibatasi oleh sebuah gunung. Karena gunung itulah, maka akses dari Bali selatan menuju Bali utara (Buleleng) sangat sulit, jarak tempuh yang jauh dan membuat Bali utara tertinggal ketimbang Bali selatan dalam berbagai hal termasuk pariwisata, juga pembangunan.  Sehingga perlu kiranya yang menjadi sorotan utama, ya Bali utara yang dibatasi gunung itu.

Seandainya saja yang dibatasi gunung itu adalah Bali barat dengan Bali timur, mungkin saja akan ada kesenjangan juga antara pembangunan Bali barat dan timur, sehingga yang jadi prioritas utama pasti Bali barat dan timur, dan istilah kesenjangan Bali utara dengan Bali selatan bisa saja kalah pamor juga dengan istilah Bali barat dan timur. Mungkin saja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak?.

Kedua, bisa saja karena yang satunya ibu kotaProvinsi Bali (Denpasar), dan yang lagi satunya ‘mantan’ ibu kota Provinsi Bali (Singaraja). Karena itulah maka ‘mereka’ berdua perlu dibuat sama, merata, seimbang, tanpa perbedaan, dan sama-sama maju, agar tidak cemburu. Setelah‘mereka’ berdua sama, baru merambah yang lain, sehingga duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan bukan guru kencing berdiri murid kencing di celana.

Ketiga, mungkin saja pikiran saya yang terlalu sempit mengartikan Bali utara dan selatan hanya sebatas Denpasar dan sekitarnya dengan Buleleng. Bisa saja utara dan selatan itu memiliki arti: di tengah pulau Bali dibuat garis melintang dari timur ke barat sebagaimana garis khatulistiwa yang membelah bumi bagian utara dan selatan sama rata dan adil. Sehingga yang dimaksud Bali utara adalah Bali yang ada di bagian utara garis, dan yang dikatakan Bali selatan yaitu Bali yang berada di selatan garis.

Sehingga menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan sama artinya dengan menghapus kesenjangan antara utara garis dengan selatan garis yang membagi Bali menjadi dua. Jika itu tercapai, pasti sama kata sama rasa, seirama, sejalan, segalak sagilik salunglung sebayantaka, tat twan asi, paras paros sarpanaya,asah asih asuh, dan bukan bersatu kita teguh bercerai kawin lagi.

Keempat, mungkin karena sejak orde pemilihan gubernur secara langsung, gubernur yang terpilih selalu berasal dari Buleleng. Pertama Mangku Pastika menjabat dua kali periode, dan kini Wayan Koster yang berasal dari Sembiran. Kalau soal ini, hanya dugaan belaka. Mungkin karena warga Bali utara “merasa memiliki” gubernur sehingga mereka ingin gubernurnya berjuang lebih serius untuk tanah kelahirannya, sehingga istilah “keseimbangan” jadi lebih sering muncul.  

Kelima, mungin karena jumlah penduduk di Buleleng terbanyak dan wilayahnya juga paling luas. Sehingga bagian utara ini harusnya juga mendapatkan jatah pembangunan sesuai dengan jumlah penduduknya. Apalagi, saat musim pilkada, jumlah besar penduduk Buleleng sering diduga sebagai faktor penting untuk memenangkan kepala daerah.  

Ya mungkin begitu, sehingga jikapun ada yang menganggap tulisan ini serius maka akan ditanggapinyalah dengan serius, begitu juga sebaliknya, jika tulisan ini dianggap bergurau pasti akan ditanggapinyalah dengan bergurau pula, dan begitu juga jika dianggap mengada-ada maka mereka tak akan mungkin mengadakannya. (T)

Tags: balibali utarabulelengdenpasarGianyarPembangunantabanan
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Next Post

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co