12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 19, 2018
in Esai
Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Ilustrasi: Manik Sukadana

Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya…

Kini saya ingin menulis sesuatu yang serius dan ingin berlagak sok jadi pengamat yang serius, walaupun tak serius-serius amat.  Jikapun tulisan saya ini tak dilihat sebagai tulisan yang serius dan dianggap jadi tulisan yang gagal karena tidak serius, juga tak jadi masalah, karena memang saya bukan penulis yang serius, dan mungkin memang tak bisa jadi orang serius.

Ini sebuah pertanyaan yang tidak terlalu serius yang selalu ingin saya tanyakan dengan serius, tentang Bali utara dan selatan serta Bali bagian lainya.

Selama ini yang banyak jadi perbincangan adalah kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Sementara Bali bagian lainnya kalah pamor dengan keberadaan ‘mereka’ berdua. Saat mencoba mencari di google, yang paling banyak saya temukan, ya memang kesenjangan antara Bali utara dan selatan, dan sedikit tentang kesenjangan antara Bali selatan dengan Bali utara,timur, barat, maupun tengah.

Kenapa Bali utara dan selatan? Kenapa bukan Bali barat dan timur, Bali selatan dan timur, Bali barat dan selatan, Bali utara dan tengah, atau Bali yang lainnya?

Secara kasat mata, sekali lagi secara kasat mata, saya melihat bahwa saat ini prioritas pembangunan di Bali hanya untuk menghilangkan, mengurangi, atau mungkin menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Kata mereka Bali selatan sudah terlalu sesak dan pembangunannya terlampau jauh meninggalkan Bali utara. Bali selatan maju, sementara Bali utara tertinggal, begitu kata mereka.

Misalkan saja, pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja yang peruntukannya sudah pasti untuk mengurangi kesenjangan Bali utara dan selatan. Dikatakan bahwa dengan shortcut ini jarak tempuh Denpasar-Singaraja yang awalnya bisa memakan waktu 2,5 jam atau bahkan lebih karena harus melewati turunan dengan kelokan yang melelahkan, memabukkan, memusingkan, membuat ngantuk, bisa dipersingkat menjadi 1,5 jam saja.

Pemangkasan waktu yang luar biasa bukan? Yang awalnya dari Denpasar harus tergesa-gesa diperjalanan agar cepat sampai diSingaraja atau sebaliknya, kini jadi lebih santai, seperti di pantai sambil menikmati satai dan gulai. Yang awalnya tak bisa menikmati kopi di perjalanankarena takut telat, kini bisa minum kopi sambil guling-guling dan wik wik wikwik di dagang kopi. Dan saya rasa ini sebanding atau sama dengan waktu tempuh dari Denpasar ke kampung saya di Karangasem. Dan mungkin saya akan lebih seringke Singaraja ketimbang ke kampung jika shortcut ini rampung.

Kita lanjut ke masalah (mungkin bukan masalah) Bali utara dan selatan.

Tak hanya shortcut, juga rencana pembangunan bandara di Bali utara, pasti jawabannya ingin mengurangi atau menghapus kesenjangan pembangunan di Bali utara dan selatan selain jawaban lain, semisal karena Bandara Ngurah Rai sudah melebihi kapasitas atau jawaban lain yang mungkin kurang penting untuk dijadikan jawaban utama.

Tapi itu jika saya lihat secara kasat mata saat ini, dan mungkin jika ditelusuri lebih dalam, ke dalam, dan lebih mendalam, mungkin tidak seperti itu, atau mungkin memang yang jadi sasaran utama, ya menghilangankan kesenjangan antara Bali utara dengan selatan, sebelum menuju ke Bali bagian lainnya.

Terkait naik daunnya istilah kesenjangan Bali utara dengan selatan, saya mereka-reka beberapa alasan yang bisa saja benar, atau mungkin hanya fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ,ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Pertama mungkin karena Bali utara dan Bali selatan dibatasi oleh sebuah gunung. Karena gunung itulah, maka akses dari Bali selatan menuju Bali utara (Buleleng) sangat sulit, jarak tempuh yang jauh dan membuat Bali utara tertinggal ketimbang Bali selatan dalam berbagai hal termasuk pariwisata, juga pembangunan.  Sehingga perlu kiranya yang menjadi sorotan utama, ya Bali utara yang dibatasi gunung itu.

Seandainya saja yang dibatasi gunung itu adalah Bali barat dengan Bali timur, mungkin saja akan ada kesenjangan juga antara pembangunan Bali barat dan timur, sehingga yang jadi prioritas utama pasti Bali barat dan timur, dan istilah kesenjangan Bali utara dengan Bali selatan bisa saja kalah pamor juga dengan istilah Bali barat dan timur. Mungkin saja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak?.

Kedua, bisa saja karena yang satunya ibu kotaProvinsi Bali (Denpasar), dan yang lagi satunya ‘mantan’ ibu kota Provinsi Bali (Singaraja). Karena itulah maka ‘mereka’ berdua perlu dibuat sama, merata, seimbang, tanpa perbedaan, dan sama-sama maju, agar tidak cemburu. Setelah‘mereka’ berdua sama, baru merambah yang lain, sehingga duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan bukan guru kencing berdiri murid kencing di celana.

Ketiga, mungkin saja pikiran saya yang terlalu sempit mengartikan Bali utara dan selatan hanya sebatas Denpasar dan sekitarnya dengan Buleleng. Bisa saja utara dan selatan itu memiliki arti: di tengah pulau Bali dibuat garis melintang dari timur ke barat sebagaimana garis khatulistiwa yang membelah bumi bagian utara dan selatan sama rata dan adil. Sehingga yang dimaksud Bali utara adalah Bali yang ada di bagian utara garis, dan yang dikatakan Bali selatan yaitu Bali yang berada di selatan garis.

Sehingga menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan sama artinya dengan menghapus kesenjangan antara utara garis dengan selatan garis yang membagi Bali menjadi dua. Jika itu tercapai, pasti sama kata sama rasa, seirama, sejalan, segalak sagilik salunglung sebayantaka, tat twan asi, paras paros sarpanaya,asah asih asuh, dan bukan bersatu kita teguh bercerai kawin lagi.

Keempat, mungkin karena sejak orde pemilihan gubernur secara langsung, gubernur yang terpilih selalu berasal dari Buleleng. Pertama Mangku Pastika menjabat dua kali periode, dan kini Wayan Koster yang berasal dari Sembiran. Kalau soal ini, hanya dugaan belaka. Mungkin karena warga Bali utara “merasa memiliki” gubernur sehingga mereka ingin gubernurnya berjuang lebih serius untuk tanah kelahirannya, sehingga istilah “keseimbangan” jadi lebih sering muncul.  

Kelima, mungin karena jumlah penduduk di Buleleng terbanyak dan wilayahnya juga paling luas. Sehingga bagian utara ini harusnya juga mendapatkan jatah pembangunan sesuai dengan jumlah penduduknya. Apalagi, saat musim pilkada, jumlah besar penduduk Buleleng sering diduga sebagai faktor penting untuk memenangkan kepala daerah.  

Ya mungkin begitu, sehingga jikapun ada yang menganggap tulisan ini serius maka akan ditanggapinyalah dengan serius, begitu juga sebaliknya, jika tulisan ini dianggap bergurau pasti akan ditanggapinyalah dengan bergurau pula, dan begitu juga jika dianggap mengada-ada maka mereka tak akan mungkin mengadakannya. (T)

Tags: balibali utarabulelengdenpasarGianyarPembangunantabanan
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Next Post

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co