2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 19, 2018
in Esai
Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Ilustrasi: Manik Sukadana

Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya…

Kini saya ingin menulis sesuatu yang serius dan ingin berlagak sok jadi pengamat yang serius, walaupun tak serius-serius amat.  Jikapun tulisan saya ini tak dilihat sebagai tulisan yang serius dan dianggap jadi tulisan yang gagal karena tidak serius, juga tak jadi masalah, karena memang saya bukan penulis yang serius, dan mungkin memang tak bisa jadi orang serius.

Ini sebuah pertanyaan yang tidak terlalu serius yang selalu ingin saya tanyakan dengan serius, tentang Bali utara dan selatan serta Bali bagian lainya.

Selama ini yang banyak jadi perbincangan adalah kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Sementara Bali bagian lainnya kalah pamor dengan keberadaan ‘mereka’ berdua. Saat mencoba mencari di google, yang paling banyak saya temukan, ya memang kesenjangan antara Bali utara dan selatan, dan sedikit tentang kesenjangan antara Bali selatan dengan Bali utara,timur, barat, maupun tengah.

Kenapa Bali utara dan selatan? Kenapa bukan Bali barat dan timur, Bali selatan dan timur, Bali barat dan selatan, Bali utara dan tengah, atau Bali yang lainnya?

Secara kasat mata, sekali lagi secara kasat mata, saya melihat bahwa saat ini prioritas pembangunan di Bali hanya untuk menghilangkan, mengurangi, atau mungkin menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Kata mereka Bali selatan sudah terlalu sesak dan pembangunannya terlampau jauh meninggalkan Bali utara. Bali selatan maju, sementara Bali utara tertinggal, begitu kata mereka.

Misalkan saja, pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja yang peruntukannya sudah pasti untuk mengurangi kesenjangan Bali utara dan selatan. Dikatakan bahwa dengan shortcut ini jarak tempuh Denpasar-Singaraja yang awalnya bisa memakan waktu 2,5 jam atau bahkan lebih karena harus melewati turunan dengan kelokan yang melelahkan, memabukkan, memusingkan, membuat ngantuk, bisa dipersingkat menjadi 1,5 jam saja.

Pemangkasan waktu yang luar biasa bukan? Yang awalnya dari Denpasar harus tergesa-gesa diperjalanan agar cepat sampai diSingaraja atau sebaliknya, kini jadi lebih santai, seperti di pantai sambil menikmati satai dan gulai. Yang awalnya tak bisa menikmati kopi di perjalanankarena takut telat, kini bisa minum kopi sambil guling-guling dan wik wik wikwik di dagang kopi. Dan saya rasa ini sebanding atau sama dengan waktu tempuh dari Denpasar ke kampung saya di Karangasem. Dan mungkin saya akan lebih seringke Singaraja ketimbang ke kampung jika shortcut ini rampung.

Kita lanjut ke masalah (mungkin bukan masalah) Bali utara dan selatan.

Tak hanya shortcut, juga rencana pembangunan bandara di Bali utara, pasti jawabannya ingin mengurangi atau menghapus kesenjangan pembangunan di Bali utara dan selatan selain jawaban lain, semisal karena Bandara Ngurah Rai sudah melebihi kapasitas atau jawaban lain yang mungkin kurang penting untuk dijadikan jawaban utama.

Tapi itu jika saya lihat secara kasat mata saat ini, dan mungkin jika ditelusuri lebih dalam, ke dalam, dan lebih mendalam, mungkin tidak seperti itu, atau mungkin memang yang jadi sasaran utama, ya menghilangankan kesenjangan antara Bali utara dengan selatan, sebelum menuju ke Bali bagian lainnya.

Terkait naik daunnya istilah kesenjangan Bali utara dengan selatan, saya mereka-reka beberapa alasan yang bisa saja benar, atau mungkin hanya fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ,ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Pertama mungkin karena Bali utara dan Bali selatan dibatasi oleh sebuah gunung. Karena gunung itulah, maka akses dari Bali selatan menuju Bali utara (Buleleng) sangat sulit, jarak tempuh yang jauh dan membuat Bali utara tertinggal ketimbang Bali selatan dalam berbagai hal termasuk pariwisata, juga pembangunan.  Sehingga perlu kiranya yang menjadi sorotan utama, ya Bali utara yang dibatasi gunung itu.

Seandainya saja yang dibatasi gunung itu adalah Bali barat dengan Bali timur, mungkin saja akan ada kesenjangan juga antara pembangunan Bali barat dan timur, sehingga yang jadi prioritas utama pasti Bali barat dan timur, dan istilah kesenjangan Bali utara dengan Bali selatan bisa saja kalah pamor juga dengan istilah Bali barat dan timur. Mungkin saja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak?.

Kedua, bisa saja karena yang satunya ibu kotaProvinsi Bali (Denpasar), dan yang lagi satunya ‘mantan’ ibu kota Provinsi Bali (Singaraja). Karena itulah maka ‘mereka’ berdua perlu dibuat sama, merata, seimbang, tanpa perbedaan, dan sama-sama maju, agar tidak cemburu. Setelah‘mereka’ berdua sama, baru merambah yang lain, sehingga duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan bukan guru kencing berdiri murid kencing di celana.

Ketiga, mungkin saja pikiran saya yang terlalu sempit mengartikan Bali utara dan selatan hanya sebatas Denpasar dan sekitarnya dengan Buleleng. Bisa saja utara dan selatan itu memiliki arti: di tengah pulau Bali dibuat garis melintang dari timur ke barat sebagaimana garis khatulistiwa yang membelah bumi bagian utara dan selatan sama rata dan adil. Sehingga yang dimaksud Bali utara adalah Bali yang ada di bagian utara garis, dan yang dikatakan Bali selatan yaitu Bali yang berada di selatan garis.

Sehingga menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan sama artinya dengan menghapus kesenjangan antara utara garis dengan selatan garis yang membagi Bali menjadi dua. Jika itu tercapai, pasti sama kata sama rasa, seirama, sejalan, segalak sagilik salunglung sebayantaka, tat twan asi, paras paros sarpanaya,asah asih asuh, dan bukan bersatu kita teguh bercerai kawin lagi.

Keempat, mungkin karena sejak orde pemilihan gubernur secara langsung, gubernur yang terpilih selalu berasal dari Buleleng. Pertama Mangku Pastika menjabat dua kali periode, dan kini Wayan Koster yang berasal dari Sembiran. Kalau soal ini, hanya dugaan belaka. Mungkin karena warga Bali utara “merasa memiliki” gubernur sehingga mereka ingin gubernurnya berjuang lebih serius untuk tanah kelahirannya, sehingga istilah “keseimbangan” jadi lebih sering muncul.  

Kelima, mungin karena jumlah penduduk di Buleleng terbanyak dan wilayahnya juga paling luas. Sehingga bagian utara ini harusnya juga mendapatkan jatah pembangunan sesuai dengan jumlah penduduknya. Apalagi, saat musim pilkada, jumlah besar penduduk Buleleng sering diduga sebagai faktor penting untuk memenangkan kepala daerah.  

Ya mungkin begitu, sehingga jikapun ada yang menganggap tulisan ini serius maka akan ditanggapinyalah dengan serius, begitu juga sebaliknya, jika tulisan ini dianggap bergurau pasti akan ditanggapinyalah dengan bergurau pula, dan begitu juga jika dianggap mengada-ada maka mereka tak akan mungkin mengadakannya. (T)

Tags: balibali utarabulelengdenpasarGianyarPembangunantabanan
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Next Post

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co