3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 19, 2018
in Esai
Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Ilustrasi: Manik Sukadana

Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya…

Kini saya ingin menulis sesuatu yang serius dan ingin berlagak sok jadi pengamat yang serius, walaupun tak serius-serius amat.  Jikapun tulisan saya ini tak dilihat sebagai tulisan yang serius dan dianggap jadi tulisan yang gagal karena tidak serius, juga tak jadi masalah, karena memang saya bukan penulis yang serius, dan mungkin memang tak bisa jadi orang serius.

Ini sebuah pertanyaan yang tidak terlalu serius yang selalu ingin saya tanyakan dengan serius, tentang Bali utara dan selatan serta Bali bagian lainya.

Selama ini yang banyak jadi perbincangan adalah kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Sementara Bali bagian lainnya kalah pamor dengan keberadaan ‘mereka’ berdua. Saat mencoba mencari di google, yang paling banyak saya temukan, ya memang kesenjangan antara Bali utara dan selatan, dan sedikit tentang kesenjangan antara Bali selatan dengan Bali utara,timur, barat, maupun tengah.

Kenapa Bali utara dan selatan? Kenapa bukan Bali barat dan timur, Bali selatan dan timur, Bali barat dan selatan, Bali utara dan tengah, atau Bali yang lainnya?

Secara kasat mata, sekali lagi secara kasat mata, saya melihat bahwa saat ini prioritas pembangunan di Bali hanya untuk menghilangkan, mengurangi, atau mungkin menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan. Kata mereka Bali selatan sudah terlalu sesak dan pembangunannya terlampau jauh meninggalkan Bali utara. Bali selatan maju, sementara Bali utara tertinggal, begitu kata mereka.

Misalkan saja, pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja yang peruntukannya sudah pasti untuk mengurangi kesenjangan Bali utara dan selatan. Dikatakan bahwa dengan shortcut ini jarak tempuh Denpasar-Singaraja yang awalnya bisa memakan waktu 2,5 jam atau bahkan lebih karena harus melewati turunan dengan kelokan yang melelahkan, memabukkan, memusingkan, membuat ngantuk, bisa dipersingkat menjadi 1,5 jam saja.

Pemangkasan waktu yang luar biasa bukan? Yang awalnya dari Denpasar harus tergesa-gesa diperjalanan agar cepat sampai diSingaraja atau sebaliknya, kini jadi lebih santai, seperti di pantai sambil menikmati satai dan gulai. Yang awalnya tak bisa menikmati kopi di perjalanankarena takut telat, kini bisa minum kopi sambil guling-guling dan wik wik wikwik di dagang kopi. Dan saya rasa ini sebanding atau sama dengan waktu tempuh dari Denpasar ke kampung saya di Karangasem. Dan mungkin saya akan lebih seringke Singaraja ketimbang ke kampung jika shortcut ini rampung.

Kita lanjut ke masalah (mungkin bukan masalah) Bali utara dan selatan.

Tak hanya shortcut, juga rencana pembangunan bandara di Bali utara, pasti jawabannya ingin mengurangi atau menghapus kesenjangan pembangunan di Bali utara dan selatan selain jawaban lain, semisal karena Bandara Ngurah Rai sudah melebihi kapasitas atau jawaban lain yang mungkin kurang penting untuk dijadikan jawaban utama.

Tapi itu jika saya lihat secara kasat mata saat ini, dan mungkin jika ditelusuri lebih dalam, ke dalam, dan lebih mendalam, mungkin tidak seperti itu, atau mungkin memang yang jadi sasaran utama, ya menghilangankan kesenjangan antara Bali utara dengan selatan, sebelum menuju ke Bali bagian lainnya.

Terkait naik daunnya istilah kesenjangan Bali utara dengan selatan, saya mereka-reka beberapa alasan yang bisa saja benar, atau mungkin hanya fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ,ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Pertama mungkin karena Bali utara dan Bali selatan dibatasi oleh sebuah gunung. Karena gunung itulah, maka akses dari Bali selatan menuju Bali utara (Buleleng) sangat sulit, jarak tempuh yang jauh dan membuat Bali utara tertinggal ketimbang Bali selatan dalam berbagai hal termasuk pariwisata, juga pembangunan.  Sehingga perlu kiranya yang menjadi sorotan utama, ya Bali utara yang dibatasi gunung itu.

Seandainya saja yang dibatasi gunung itu adalah Bali barat dengan Bali timur, mungkin saja akan ada kesenjangan juga antara pembangunan Bali barat dan timur, sehingga yang jadi prioritas utama pasti Bali barat dan timur, dan istilah kesenjangan Bali utara dengan Bali selatan bisa saja kalah pamor juga dengan istilah Bali barat dan timur. Mungkin saja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak?.

Kedua, bisa saja karena yang satunya ibu kotaProvinsi Bali (Denpasar), dan yang lagi satunya ‘mantan’ ibu kota Provinsi Bali (Singaraja). Karena itulah maka ‘mereka’ berdua perlu dibuat sama, merata, seimbang, tanpa perbedaan, dan sama-sama maju, agar tidak cemburu. Setelah‘mereka’ berdua sama, baru merambah yang lain, sehingga duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan bukan guru kencing berdiri murid kencing di celana.

Ketiga, mungkin saja pikiran saya yang terlalu sempit mengartikan Bali utara dan selatan hanya sebatas Denpasar dan sekitarnya dengan Buleleng. Bisa saja utara dan selatan itu memiliki arti: di tengah pulau Bali dibuat garis melintang dari timur ke barat sebagaimana garis khatulistiwa yang membelah bumi bagian utara dan selatan sama rata dan adil. Sehingga yang dimaksud Bali utara adalah Bali yang ada di bagian utara garis, dan yang dikatakan Bali selatan yaitu Bali yang berada di selatan garis.

Sehingga menghapus kesenjangan antara Bali utara dan selatan sama artinya dengan menghapus kesenjangan antara utara garis dengan selatan garis yang membagi Bali menjadi dua. Jika itu tercapai, pasti sama kata sama rasa, seirama, sejalan, segalak sagilik salunglung sebayantaka, tat twan asi, paras paros sarpanaya,asah asih asuh, dan bukan bersatu kita teguh bercerai kawin lagi.

Keempat, mungkin karena sejak orde pemilihan gubernur secara langsung, gubernur yang terpilih selalu berasal dari Buleleng. Pertama Mangku Pastika menjabat dua kali periode, dan kini Wayan Koster yang berasal dari Sembiran. Kalau soal ini, hanya dugaan belaka. Mungkin karena warga Bali utara “merasa memiliki” gubernur sehingga mereka ingin gubernurnya berjuang lebih serius untuk tanah kelahirannya, sehingga istilah “keseimbangan” jadi lebih sering muncul.  

Kelima, mungin karena jumlah penduduk di Buleleng terbanyak dan wilayahnya juga paling luas. Sehingga bagian utara ini harusnya juga mendapatkan jatah pembangunan sesuai dengan jumlah penduduknya. Apalagi, saat musim pilkada, jumlah besar penduduk Buleleng sering diduga sebagai faktor penting untuk memenangkan kepala daerah.  

Ya mungkin begitu, sehingga jikapun ada yang menganggap tulisan ini serius maka akan ditanggapinyalah dengan serius, begitu juga sebaliknya, jika tulisan ini dianggap bergurau pasti akan ditanggapinyalah dengan bergurau pula, dan begitu juga jika dianggap mengada-ada maka mereka tak akan mungkin mengadakannya. (T)

Tags: balibali utarabulelengdenpasarGianyarPembangunantabanan
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Next Post

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co