23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Savitri Sastrawan by Savitri Sastrawan
December 19, 2018
in Ulasan
Tentang Perupa Bali: Si Eksperimental Wayan Upadana

Wayan Upadana, The Moon, Yogyakarta

Sebenarnya baru sempat mengikuti kekaryaan Wayan Upadana dua tahun terakhir, dan beberapa bulan lalu mendapat kesempatan untuk menulis pamerannya di Yogyakarta. Kalau dilihat sekilas, terlihat kalau ia adalah perupa yang cukup berani mengolah berbagai media dalam membuat karya seni rupa.

Dengan pendidikannya Seni Rupa Murni Jurusan Patung di ISI Yogyakarta, terlihat darinya, bahkan diakuinya, bahwa ia suka mengeksplor dimensi-dimensi serta material-material yang selalu berbeda dalam kekaryaannya.

Ia pun berani memasukkan elemensi dua dimensi ke dalam tiga dimensi dan sebaliknya, seperti kombinasi patung dan lukisan. Namun, dari kekaryaannya yang beragam itu, tetap menciptakan karya yang memiliki elemen Bali (entah itu secara gamblang melalui motif khasnya atau secara konsep spiritualitas) yang direpresentasikan.

Sebut saja topeng Barong (mempertanyakan keberadaannya diperlakukan sebagai sebuah karya seni dan sebagai objek yang sakral), binatang babi (yang sering menjadi persembahan atau santapan), dan konsep melukat (pembersihan diri menggunakan air laut atau air suci).

Upadana tidak melihat karya seni itu tentang hasil akhirnya saja, tetapi karya seni memang berproses. Adanya interaksi dengan material yang digunakannya merupakan koneksi batin, pembuatan karya itu sendiri terjadi banyak imajinasi dan gagasan yang terus berkembang.

Beberapa tahun terakhir kekaryaan Upadana bergelut dengan media resin dengan bentuk-bentuk abstrak maupun realis, berdiri sendiri maupun dikombinasikan dengan media lain. Maka, kekaryaan Upadana termasuk yang inovatif di ranah seni rupa Bali. Yang menarik, karya-karya resin ini membicarakan tentang kepercayaan spiritualitas di Bali.

Pamerannya yang saya tulis, berjudul “The Moon”, merupakan bagian dari 6 pameran tunggal yang terjadi di satu event bernama “Peaceful Seeker #2” di Bale Banjar Sangkring, Yogyakarta, pada bulan November 2018. Event ini kelanjutan dari “Peaceful Seeker #1” pada bulan Mei 2018 di Tony Raka Art Gallery, Gianyar, Bali. Pameran “The Moon” fokus pada spiritualitas di Bali itu.

Wayan Upadana melihat satelit bumi ini, moon atau bulan, dan kebudayaan Bali memiliki hubungan yang sangat erat. Bulan dilihatnya sebagai bagian dari representasi kebudayaan yang masih berlangsung turun menurun di pulau ini.

Pameran “the Moon”, Wayan Upadana, Yogyakarta

Dalam pameran ini kembali menghadirkan cahaya biru imaji air yang tembus transparan terhadap tubuh-tubuh manusia yang transparan juga. Sebelumnya, Upadana sempat merepresentasikan ini menggunakan televisi yang memainkan rekaman video deburan ombak di Selatan pulau Bali, sehingga kita dapat merasakan adanya pergerakan terjadi di antara visual yang dihadirkan.

Karya ini sempat dipamerkan di ajang“Art Bali”, Oktober 2018 lalu, dibuka sebulan sebelum “The Moon” dibuka. Karya Upadana berjudul “Manusia Imaji Air dan Cahaya”, 2018, dikatakan di keterangan karyanya,

“…mengulas mitologi Negara Tirtayasa, sebuah negara dengan kekuatan maritimnya yang kuat, yang sekaligus menjadi identitas nusantara: ritme ombak Uluwatu Bali (Samudera Hindia) dilihat dari perspektif mata burung, patung-patung manusia yang berwarna bening sebagai imajinasi mengenal kehidupan pariwisata Bali yang berdampingan dengan nilai-nilai tradisi dan spiritual masyarakatnya secara harmonis.”

Elemen-elemen ini merepresentasikan bagaimana ritual masyarakat Hindu Bali tetap berjalan walaupun mereka sudah cukup urban, meng-kota dan kontemporer. Di “The Moon”dihadirkan juga elemen bulan yang tidak beranjak dari pengertian spiritualnya.

Karya Wayan Upadana, The Moon, Yogyakarta

Perputaran bulan menjadi hitungan waktu, mengitari bumi selama 29,5 hari, dan pada hari ke 29,5 itu ia terlihat penuh terang putih dari bumi. Saat itu dinamakan Purnama, bertanda titik merah di kalender Bali, menjadi hari yang biasanya dikatakan hari baik di Bali.

Salah satunya, hari dimana kita dapat “melahirkan diri kembali” dengan air suci. Kali ini cahaya biru imaji air yang tembus transparan melalui tubuh-tubuh manusia itu, dihadirkan diantara banyaknya representatif bulan, merefleksikan spiritualitas penyucian diri. Melahirkan diri kembali dalam ritual yang diyakini, dengan bulan sebagai pemegang waktu.

Lalu yang sangat menarik dan menyentuh dalam proses pembuatan karya-karya “The Moon” adalah bagaimana bulan-bulan yang dibuat dengan teknik bubur kertas, untuk Upadana adalah suatu yang baru dan sifatnya ringan.

Dengan keberanian Upadana bereksperimen, menggunakan materi bubur kertas proses pembuatannya cukup lama karena keringnya cukup lama, ternyata menjadi suatu proses meditatif atau spiritual tersendiri. Material kertas berbeda dengan material resin yang biasa ia pakai pada kekaryaannya seperti orang-orang transparan dan imaji air, yang sifatnya berat dengan pengolahannya yang menggunakan beberapa bahan kimia.

Wayan Upadana, Manusia Imaji Air dan Cahaya, Art Bali, 2018

Dengan pertemuan material ringan dan berat itu, imaji The Moon membawa ke suatu ketenangan dan kedamaian yang dapat dirasakan bersama. Dengan cerita itupun kita dapat juga merasakan adanya proses yang menarik dalam pembuatan sebuah karya.

Sebab, setiap perupa memiliki cara-cara yang berbeda dalam mengekspresikan dirinya dalam kekaryaannya, dan sifat eksperimental Upadana tidak berhenti pada dirinya saja, tetapi mengajak yang melihat karyanya merasakan proses itu juga. Bahkan seperti suatu kajian spiritual secara visual dan dapat diserap secara langsung maupun ditelaah lagi, bahwa kita sebagai penikmat boleh mendekonstruksi ulang apa yang telah disajikan Upadana.

Karya-karyanya bisa menenangkan maupun membuahkan banyak pertanyaan – ia mengajak kita untuk tidak takut bereksperimen juga. (T)

Tags: alambaliPameran Seni RupaSeni RupaYogyakarta
Share141TweetSendShareSend
Previous Post

Topik Nan Hot: Keseimbangan Bali Utara dan Selatan – Kok Bali yang Lain Kalah Wacana?

Next Post

Day After The Rain, Kerinduan Akan Berkarya

Savitri Sastrawan

Savitri Sastrawan

Suka menyebut dirinya seorang Bali nomaden dan pekerja lepas di seni dan bahasa. Ia meyakini seni dan bahasa merupakan metode dekonstruksi dan kolaborasi dalammengeksplor kemungkinan-kemungkinan antar disiplin. Intinya, ingin menjadi orang interdisipliner yang bisa mengapresiasi segala hal dalam berkebudayaan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Day After The Rain, Kerinduan Akan Berkarya

Day After The Rain, Kerinduan Akan Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co