24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cosmic Turn: Kontemplasi Visual Dona Arissuta

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
December 17, 2018
in Ulasan
Cosmic Turn: Kontemplasi Visual Dona Arissuta

Seniman Dona Arissuta menampilkan karya-karya dengan medium lukisan, terakota dan porselin yang dibingkai dengan tema Cosmic Turn.

Judul tersebut di sisi satu sisi merefleksikan hadirnya kosmologi yang telah hilang lewat karya-karyanya, dan di sisi lain kosmologi itu diasumsikan masih ada namun tidak lengkap atau telah jauh dari realitas sosial sehingga perlu diundang agar manifes kembali. Dalam pengertian pertama, Dona menampilkan karya-karyanya layaknya sesaji untuk mengundang sebuah wawasan yang telah lenyap, sedang dalam pengertian kedua ia sedang menyatakan kembali—secara lebih gamblang dan baru—sebuah wawasan yang telah semakin abstrak atau hampir punah.

Jika melihat kosa kata visual dan judul karya-karyanya, Dona tengah merasa berada dalam tatanan sejarah yang tidak ia inginkan namun harus dialami. Ia merasa terasing dan tidak nyaman di tengah realitas di mana ia berada, dengan segala sesuatu ditata dalam format yang kurang sesuai dengan struktur mental dan nalarnya. Karena itu ia merasa perlu menghadirkan tradisi dan kosmologi yang dianggap selaras dengan cara mengingat kembali—sebagaimana sosok Ganesha, dan bersama dengan itu muncul sosok Semar sebagai pusat mandala dari tata kosmologi Jawa—latar belakang kultural Dona.


Dengan mengingat itulah, bagi Dona yang mengajar seni rupa UNS Surakarta dan kandidat doktor di ISI Jogja ini, ia akan mampu bertahan menjalani hidup dalam realitas yang ditata tidak sebagaimana latar belakang kulturalnya. Dalam ingatan Ganesha itulah, bagi Dona, warisan lama itu dipelihara—dengan sosok Semar sebagai bentuk “superkonduktor” yang merangkum bentang kosmologi tersebut. Setelah mengingat, Donna lantas mengejawentahkan ingatan tersebut dengan menampilkan Ganesha dan Semar di tengah figur-figur dari peradaban yang berbeda. Dan sebuah kosmologi yang perlahan hilang atau menguap, sebuah tradisiyang kian terasing, dapat hadir kembali dalam realitas kontemporer.

Hal yang menarik dari pameran Cosmic Turn Dona ini adalah adanya ambiguitas atau bahkan friksi antara Ganesha dan Semardi satu sisi dan figur-figur dari peradaban lain serta konteks kehadirannya dalam ruang seni rupa kontemprer. Hal tersebut di satu sisi menunjukkan adanya dialog antar entitas dari peradaban dengan kosmologi yang berbeda, namun disisi lain bisa berarti alienasi dan bahkan “pertengkaran” antara—dalamkategorilebih umum dan sederhana—tradisi dan modernitas. Apapun yang sesungguhnya terjadi atau dialami oleh Dona, hal tersebut merefleksikan bahwa ia hidup dalam tarik-menarik antar kosmologi, peradaban dan tradisi yang berbeda, tidak hanya secara sosial namun juga secara mental dan intelektual.

Sebagaiorang Jawa Dona hidup dalam kosmologi tradisionalnya, sebagai seniman modern ia hidup dengan materialitas, konseptualisasi dan mekanisme kerja yang berbedadari tradisinya. Bahkan lebih jauh lagi, modernitas dunia seni rupa Dona hanya bagian kecil dari tatanan modernitas yang lebih besar, dengan makna dan orientasi yang sama sekali berbeda dari tradisinya. Dalam konteks ini, sosok Dona adalah metafor dari banyak orang Indonesia lainnya yang hidup dalam dua atau tiga kosmologi yang berbeda. Di satu sisi ia adalah orang Jawa, dan di sisi lain ia hidup dalam tata nilai, benda-benda dan cita rasa modernitas yang bukan dari dan belum tentu selaras dengan latar kulturalnya. Namun begitu, berbagai kosmologi sama-sama tak bisa ditolak, sehingga alih-alih bertarung dalam benak lebih baik dilebur dalam dan menjadi karya-karya yang akan dipamerkan di Miracle Print, Suryodiningratan, Jogja, mulai 21 Desember 2018 – 18 Januari 2019.

Dengan keterampilannya, Dona membuat figur-figur dari dua kosmologi tersebut dari keramik—buah inovasi klasik manusia yang bertahan hingga kini. Tokoh wayang dan gunungan bersanding dengan patung-patung fauna berlatar lukisan floral, juga manusia-manusia dalam gaya naif sebagai hasil deformasi realisme modern dengan pipa sebagai ungkapan empati pada nasib para petani tembakau. Dan bersamaan dengan karya-karya yang “bermakna”, juga muncul karya-karya yang “berfungsi”dalam rupa cangkir dan lodong. Dengan kemasan penuh warna-warna riang, bentuk-bentuk naif dan judul-judul yang hangat, pameran Dona tak ubahnya sebuah festival yang mendamaikan ketegangan dari persinggungan berbagai kosmologi yang berbeda—baik tatanan, cara kerja dan orientasinya. 

Transformasi Kosmologi

Barangkalitidak ada fase dan jenis peradaban dengan volume benda-benda sebanyak peradaban saat ini. Populasi manusia yang terus meningkat membentuk daftar permintaan konsumsi yang tinggi, sehingga memaksa inovasi demi percepatan produksi dan distribusi menuju kantong-kantong hunian manusia. Bersamaan dengan itu, ekonomi pertumbuhan telah membentuk stratifikasi sosial dengan kebutuhan spesifik masing-masing, sehingga inovasi tidak semata pada aspek produk dan produksi, tetapi juga terkait pembentukan tata nilai demi rasionalisasi harga komoditas yang digulirkan kepada konsumen.

Dengan cara itulah, aneka ragam benda yang memenuhi perdaban ini hadir dalam persepsi kita sebagai sebuah struktur yang tertata dalam berbagai jenis, level dan segmen, terorganisir dengan baik sebagai sebuah sistem pengetahuan,sehingga peradaban kepitalisme ini menjadi masuk akal bagi sekitar tujuh miliar manusia. Seandainya benda-benda tersebut hadir sebagai kumpulan barang yang tidak tertata dan teratur, niscaya kapitalisme sebagai mesin penggerak peradaban ini sudah ditinggalkan dan diganti model-model yang lain, dan barang-barang produksinya tak ubahnya rongsokan yang memenuhi bumi layaknya penampungan sampah raksasa.

Kecanggihan kapitalisme, dengan demikian, bukan hanya sebagai konsep ekonomi namun juga konsep kultural. Itulah yang membuat ia bisa menjadi tahapan lebih lanjut dari migrasi manusia setelah menghuni peradaban-peradaban lain dan dari fase sebelumnya karena keduanya memiliki karakteristik sebagai sebuah tatanan yang teratur dalam pikiran manusia—sebagaimana tampak pada peradaban berbasis etnis dan agama atau gabungan dari keduanya. Bedanya adalah, dalam peradaban kapitalismevolume produksi barang lebih cepat dan massif dibanding produksi maknanya, sehingga manusia sendiri kemudian menjadi objek dan bukan subjek di dalamnya.

Sedang peradaban non-kapitalis, jumlah produksi barangnya tidak terlalu massif mengingat basis produksinya yang masih sederhana, biasanya berupa pertanian danmanufaktur kecil dengan teknologi secukupnya. Namun begitu, produksikulturalnya bisa tumbuh luar biasa, sehingga sejenis makanan atau kain tenun sederhana bisa mengandung pengetahuan satu buku tersendiri. Dengan kata lain, peradaban tradisional defisit secara material sehingga membentuk ikatan soliddalam keterbatasan barangnya lewat deskripsi kultural yang tebal, sedang peradaban kapitalisme mengalami cukup miskin secara kultural sehingga tidak sedikit orang yang memiliki kelimpahan harta benda namun tidak mengetahuidengan baik manfaat dan fungsinya.

Namun, apa yang membuat manusia dapat hidup dalam dua model peradaban tersebut adalahpersamaan bahwa keduanya merupakan sebuah tatanan pengetahuan yang teratur sehingga dapat dipahami, dihuni, dan kemudian dikembangkan. Horison realitas dalam berbagai peradaban sebagai sistem pengetahuan yang teratur itulah, dengan karakteristik dan persoalannya masing-masing, membuat setiap peradaban disebut sebagai sebuah kosmologi, kendati basis ontologis dan kosmogoniknya berbeda-beda atau bahkan bertentangan.

Peradaban kapitalisme yang berjubel benda-benda berakar jauh pada era Pencerahan yang sekuler, di mana keberadaan manusia dan realitas merupakan sebuah lanskap yang terbentang tanpa campur tangan Ilahi. Sebaliknya, peradaban-peradaban tradisonal membentang realitas sebagai pancaran dari wawasan Ilahi yang bersifat suci. Dalam peradaban kapitalisme, sejarah bergerak tanpa kekuatan metafisis—katakanlah sebuah “narasi besar”—yang mengendalikan gerak danorientasinya, sedang dalam peradaban-peradaban tradisional sejarah bergerak sebagai manifestasi dari kehendak Yang Maha Suci, sesuai siklus ekonomi alami—pertanian dan lautan—serta siklus hidup dan kalender politis dari pararaja dan sultan keturunan Dewa.

Mendamaikan Pertentangan

Di bagian belakang rumah Dona berbagai kreasi keramik berjajar dan bertumpuk memenuhi meja, rak dan dinding. Beberapa dari mereka berupa manusia, beberapa yang lain binatang, dan sebagian lagi berupa wadah-wadah. Seluruh entitas ituadalah sebuah dunia yang sengaja diciptakan, hampir sebagai keharusan, agar Dona memiliki tradisi dalam kosmologi peradaban modern. Hanya dengan mencipta para sahabat itulah, baik dari kosmologi Jawa atau modernitasnya, ia akan mampu menjalani sejarah dan takdirnya secara lebih bermakna, selaras dan nyata. Semacam kontemplasi praktikal yang dilakukan bukan untuk mendapatkan ndaru atau pulung, tapi sebagai peleburan berbagai tatanan dalam dirinya, agar batinnya tenang.

Praktik semacam itu, selain sebagai jalan keluar dari ketegangan kultural atau kosmologis, juga merupakan manifestasi lebih lanjut dari kodrat Dona sebagai seorang perempuan yang dikaruniai keceradasan lebih dalam mengelola benda-bendadari ukuran paling mikro seperti aneka bumbu hingga yang besar berupa rumah—wadah manusia, jelmaan artsitektural dari kosmos agung itu. Ia mengatur letak segala sesuatu, menempatkan mereka di sana, merawat dan menjaganya, sehingga semua benda berada dalam tatanan (kosmos) yang telah ditetapkan. Di tengah semua itu, Dona sendiri layaknya seorang ratu, pusat dunia dari kosmologi benda-benda ciptaanya.


Praktik semacam itu mungkin akan berbeda jika dilakukan oleh seorang laki-laki yang kerap kurang cermat dan sabar mengelola mulai bumbu dapur, suara ketel,gorden rumah sampai tagihan listrik sehingga, karena tak kuasa menjadi penguasadi rumah, banyak dari para lelaki pergi keluar dan tampil layaknya penguasa atau sejenis “orang penting” di hadapan dunia. Dengan kata lain, kodrat Dona sebagai seorang perempuan yang dikaruniai kecerdasan dalam mengelola alam bendamemungkinkan dia mampu mendamaikan perbedaan atau bahkan pertikaian kosmologisdi ruang publik cukup di dalam ruang laboratorium domistiknya dengan cara ditransformasikan dan diejawentahkan ke dalam benda-benda yang merupa tokoh-tokoh rekaannya.

Dalam salah satu karyanya, Hard Worker, sikoboi dan mas raden merokok bersama, pula dalam Best Friend di mana boneka kelinci dan lelaki berkumis jalan berpelukan sambil menikmati pipa dari berbagai jenis dan cita rasa tembakau dalam Blended by Taste. Tak jauh dari sana, sosok berkuping panjang serupa kelinci itu menaiki para binatang padaberbagai talenan dalam karya Pilgrim, dan hadirlah tokoh wayang dan prajurit tardisional di antara bunga dan pohonan dalam Cosmic Turn, hingga dalam The Lovely of Few Thing Kakek Semar sipusat kosmologi dan Ganesha si perawat pengetahuan tampil di antara gunungan, flora dan fauna. Pada Sea Eyes Priceses, para ratu memandang dengan mata membelalak, muncul perlahan-lahan dari ceruk sebuah kapal, bersiap memasuki dunia baru—manakala kita membuka sejarah untukmereka—kreasi menakjubkan dari Dona Arissuta, siap memasuki dunia kita. (T)

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

“Memanen Hujan”, Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

Next Post

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co