14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Ajar dan Keprihatinan tentang Semangat Membaca

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
October 18, 2018
in Ulasan
Buku Ajar dan Keprihatinan tentang Semangat Membaca
  • Judul: Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggu Umum
  • Penulis: Drs. Fadloli, M.Pd.I., Dra. Sri Nurkudri, M.Ag.,& Abdul Chalim, S.Ag., M.Pd.I
  • Penerbit: Aditya Media Publishing
  • Tahun Terbit: Cetakan ke-6, Agustus 2016
  • Tebal: xiv + 240 Halaman 15,5 x 23 cm
  • ISBN: 978-979-3984-67-4

Bila anda-anda sekalian tidak mengingkari hati nurani, mungkin akan banyak yang setuju bila ada orang yang mengatakan bahwa membaca buku pelajaran itu sangat membosankan. Bukan bermaksud untuk mendramatisir tingkat semangat membaca di negara ini, tapi memang seperti inilah kenyataan yang harus kita telan.

Membaca buku pelajaran hanya akan dilakukan untuk persiapan ujian atau bila ada tugas di sekolah. Ya, tujuan yang bisa dibilang sangat pragmatis. Toh walau itu tidak sepenuhnya salah, tapi mendengarnya akan menimbulkan rasa prihatin.

Buku dapat diumpamakan dengan nasi. Bedanya buku untuk konsumsi otak dan nasi untuk konsumsi perut. Sama-sama untuk konsumsi. Orang akan makan nasi bila dia merasa lapar. Begitu juga dengan buku. Orang akan membaca bila dia merasa masih kekurangan informasi dan pengetahuan.

Namun yang terjadi adalah kita lebih sering mengisi perut yang kosong daripada mengurus otak yang kosong. Alih-alih mengurus otak, kita malah mengurasnya dengan cara memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak teramat penting. Ada dua kemungkinan yang terjadi di balik ini. Bisa jadi kita tidak pernah merasa otak ini lapar karena memang isi otak sudah penuh alias sudah cerdas, atau bisa jadi kita tidak pernah menggunakan otak dengan maksimal sehingga kita lupa kapan otak ini lapar sehingga harus diisi kembali.

Kembali ke persoalan pada paragraf utama bahwa buku pelajaran itu membosankan. Ini akan berlaku bagi para siswa. Lantas bagaimana dengan mahasiswa? Maka konteksnya diubah menjadi buku mata kuliah. Mungkin tidak akan jauh berbeda, bahwa buku kuliah juga sama membosankannya seperti buku pelajaran dan hanya akan dibaca ketika ada tugas.

Apakah ini karena para mahasiswa yang malas atau memang buku-buku seperti itu pada dasarnya sudah membosankan? Tidak ada yang patut untuk lebih dicurigai, semua sama saja. Selain malas, bukunya juga yang memang membosankan. Pada akhirnya akan membentuk lingkaran setan. Solusinya? Sederhana saja. Sadar diri bahwa manusia juga perlu membaca dan periksa kembali apa memang buku-buku kuliah itu sudah memenuhi standar atau belum.

Terlepas dari faktor malas pada diri manusia itu, yang saya temukan dalam buku berjudul Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum ini malah yang berkaitan dengan faktor buku, lebih pasnya faktor kenapa lantas buku kuliah itu membosankan. Bukan dari isi pembahasannya yang memang menerangkan seperti itu, namun lebih kepada wujud bukunya. Apa saja itu? Mari lanjut membaca.

Buku ini diterbitkan sebagai salah satu acuan buku ajar keagamaan untuk instansi perguruan tinggi umum. Isi bukunya juga mengalami penyesuaian dengan berbagai topik tertentu. Sekilas, buku ini lebih menyerupai kumpulan makalah. Ya, kumpulan makalah yang temanya sudah diatur agar menjadi urut dan berbab-bab.

Karena wujudnya yang seperti kumpulan makalah ini maka membacanya juga akan mirip dengan kita sedang membaca tugas makalah. Bisa dibayangkan sendiri membaca makalah itu seperti apa. Yang juga harus diperhatikan dalam buku ini adalah isi sub bab kesimpulan dalam setiap tema masih terlalu singkat dan sederhana. Pendahuluan dalam beberapa pembahasan tema terkesan terlalu muluk-muluk dan berputar-putar sehingga kurang memberi gambaran secara jelas pentingnya pembahasan dari sebuah tema.

Hal yang membuat miris lagi adalah banyak kesalahan ketik dalam buku ini. Entah, walau memang kesalahan ketik tidak lantas harus membuat kita malas membaca tapi ini menjadi fital. Banyak halaman buku yang terdapat kesalahan ketik. Bukan hanya satu dua kata, bahkan lebih. Membacanya akan membuat orang risih.

Yang paling parah adalah akan munculnya pikiran pada pembaca bahwa buku ini diterbitkan asal jadi saja tanpa adanya proses editing, koreksi, dan lain-lain dalam dunia penerbitan. Ini akan menjadi sangat fital dalam sebuah buku dan dapat mengganggu proses memahami isi materinya. Alih-alih memahami isi, kita malah akan lebih disibukkan mengoreksi aksara-aksara yang salah ketik. Bingung menerka-nerka seperti apa seharusnya wujud kata itu jika tidak salah ketik. Bila sudah begini, maka tentu pemakaian tanda baca dan EYD dalam buku ini kurang teratur.

Tidak perlu berpanjang lebar melanjutkan pembahasan pengaruh salah ketik, yang perlu kita pertanyakan adalah kenapa lantas kesalahan ketik yang begitu fatal ini bisa terjadi pada sebuah buku yang diterbitkan? Bila tidak diterbitkan mungkin akan menjadi sesuatu yang wajar sebab itu hanya sebuah naskah mentah atau belum jadi. Tapi akan menjadi aneh bila ada pada buku yang itu diterbitkan dan sudah mendapat nomer seri ISBN dari Perpusnas. Bahkan buku ini sudah mencapai cetakan yang ke enam dan kesalahan ketik masih tetap banyak.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun yang pasti ada dua kemungkinan. Pertama, bahwa pihak penyusun buku tidak pernah mengoreksi ataupun memberi perubahan pada isi buku ini setelah atau bahkan sebelum terbit. Kedua adalah bahwa kurang ada orang atau mahasiswa yang minat membaca buku ini. Sebab bila memang ada yang membaca maka barang pasti akan ada setidaknya laporan-laporan perihal kekurangan buku pada pihak penyusun dan penerbit.

Namun bila kita bisa sedikit mengesampingkan sikap kritis ketika membaca buku ini maka anda-anda akan menemukan banyak tema pembahasan yang terkait dengan keislaman dan realita zaman yang sedang terjadi sekarang. Banyak dipaparkan solusi-solusi dan gagasan agar sekiranya pemahaman terhadap Islam bisa terus berkembang.

Selain itu, penulisan model makalah ini bisa semakin mempermudah pembaca untuk memilah-milah tema dan pembahasan apa yang akan dibaca. Jadi tidak perlu sampai tuntas membaca semua halaman buku, kita juga bisa dengan cara memilih materi tergantung tema yang sudah disediakan dalam buku ini. Cukup membantu bagi orang yang malas membaca buku agar tetap bisa memperoleh informasi dan pengetahuan.

Pada akhirnya, untuk menumbuhkan minat membaca tidak bisa kita hanya mengandalkan hasrat perorangan. Upaya, inovasi, dan bahkan koreksi pada buku-buku yang akan dipublikasikan pun juga menjadi faktor yang sangat penting agar buku-buku tidak memunculkan kesan membosankan ketika dibaca. Tentunya juga harus melihat pada siapa yang akan membaca buku apa. Bila buku kuliah didesain seperti buku anak dengan dalih inovasi baru maka ini kurang tepat. Begitu pula sebaliknya dengan anak-anak.

Selebihnya, mari terus mengkampanyekan gemar membaca kepada para penduduk Indonesia. (T)

Tags: agamaBukuIslamPendidikanPerguruan Tinggi
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Bali: Utara dan Selatan #Kolom Made Metera

Next Post

Pemilihan Ketua DPC Patria Buleleng: Yang Dipilih “Enjoy”, Yang Memilih Senang

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pemilihan Ketua DPC Patria Buleleng: Yang Dipilih “Enjoy”, Yang Memilih Senang

Pemilihan Ketua DPC Patria Buleleng: Yang Dipilih “Enjoy”, Yang Memilih Senang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co