3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Rika Mahardika by Rika Mahardika
February 27, 2018
in Esai
Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Ilustrasi: Juli Sastrawan

MASA anak-anak adalah masa yang paling asyik. Selain belajar disekolah,  sehari-hari kita ya bermain. Bahkan dalam sehari rasanya waktu kita lebih banyak bermain daripada belajar.

Mari coba kita analisa secara ngawur saja. Kalau untuk belajar, mungkin waktu kita hanya habis selama 6 jam saja, yaitu saat berada di sekolah. Mulai belajar sekitar jam setengah delapan pagi, dan pulang sekolah sekitar jam setengah satu siang. Sampai di rumah kita makan siang, setelah itu cus, langsung bertemu teman untuk bermain.

Anak-anak dulu dan sekarang, porsi bermainnya mungkin tak jauh beda. Tapi, yang berbeda adalah jenis permaianannya. Mari bandingkan jenis permainan antara kids jaman old atau disebut generasi 80-90-an, dengan kids jaman now.

Anak-anak generasi 90-an, setelah makan siang sepulang sekolah, biasanya langsung kabur dari rumah. Tidak pernah ada yang namanya tidur siang. Kalau bermain, dulu, ya keluar. Ke tanah kosong, tanah lapang, kebun, sawah, atau jalanan. Jarang ada permainan di dalam rumah.

Jenis permainannya banyak, mulai dari main kelereng, main layangan, bermain adu kulit rokok, ada juga bermain petak umpet. Ada juga permainan tradisional seperti main benteng, bermain selodor,  bermain batu lima, bermain gemblung, main tembing dan masih banyak jenis permainan lainnya.

Yang menarik, ada permainan polisi-polisian dan penjahat (kalau di daerah saya di wilayah Paket Agung Singaraja) biasanya disebut main maling-malingan). Permainan ini seru. Sejumlah anak sok-sok jadi “polisi”, sejumlah anak lain cukup girang jadi “maling”.

Ada dua peran dalam permainan ini:maling dan polisi. Seperti namanya, tentu saja, yang berperan sebagai polisi harus berhasil menangkap sipemeran maling. Biasanya sih, di daerah saya, ini lebih asyik dimainkan pada malam hari.

Begitu kita sepakati peran masing-masing, permainan dimulai. Pemeran penjahat atau maling ini lebih dulu bergerak, berlari sekencang mungkin agar tidak ditangkap pemeran polisi. Begitu semua maling tertangkap, peran pun dimainkan bergantian. Artinya yang tadinya menjadi polisi, bertukar peran menjadi seorang penjahat atau maling.

Namanya juga permainan, jadi polisi atau jadi maling, ya, sama asyiknya. Bahkan saat berperan jadi maling, si maling biasa mengerjai si polisi.

Saya ingat ada ulah jahil dari sejumlah teman. Yang paling sering terjadi adalah, si maling ini, ngumpet (itu tidak dilarang dalam aturan mainnya), supaya tidak berhasil terciduk polisi. Cuma, ngumpetnya itu di rumah sendiri. Dan yang bikil kesel, dia tak nongol-nongol. Polisinya kan bingung mau cari di mana lagi. Semua sudut sudah ditelusuri. Eh, tak tahunya si maling sedang enak-enak makan di rumahnya.

Permainan pun bubar. Tapi besoknya, permainan yang sama bisa diulang lagi. Semua kejahilan yang terjadi kadang bikin kesal, namun itu menjadi kenangan yang sangat kaya.

Itulah makanya kenapa waktu anak jaman old itu lebih banyak bermain. Karena terkadang saking asyiknya bermain, kami generasi anak anak jaman 90-an sampai harus dicari-cari orang tua untuk mandi. Maklum saja,  terkadang kita bermain  hingga lupa waktu dan pulang terlalu sore. Bahkan malam pun kami bermain lagi.

Nah permainan maling-malingan yang kami lakoni sebagai kids jaman old sebenarnya penuh filosofi (bahasanya agak berat). Apa itu, ya tentu maling yang melakukan aksi kejahatan berupa pencurian ini harus ditangkap. Siapa yang menangkap? Tentu aparat hukum, yaitu polisi.

Dan Polisi pun dalam mengungkap kasus pencururian untuk menangkap maling, tentu akan melakukan banyak upaya. Semua tempat pasti akan dususuri. Semua sudut yang diduga sebagai tempat persembunyian pasti akan dijajagi. Barangkali saja bisa menangkap maling itu.

Lalu bagaimana dengan pemeran maling yang bersembunyi dirumahnya dan tidak berhasil ditangkap oleh seorang polisi? Bukankah itu curang namanya? Kalau pendapat saya sih itu namanya cerdik. Dan mungkin saja apa yang terjadi dalam permainan itu, terjadi pula di dunia nyata.

Bisa saja kan, ada seorang maling sungguhan, dengan kecerdikan yang dimiliki berhasil mengecoh polisi. Bersembunyi dari kejaran polisi sampai polisi pun penyerah untuk mengejar dan menangkap. Ujung-ujungnya, kasus ditutup, dan kasus pun selesai.

Di era tahun 90-an dulu, masa anak-anak juga sudah ada kok permainan yang modern. Misalkan saja, permainan nitendo dengan game favorit super Mario, atau permainan Sega, hingga PS1 juga sudah ada. Tapi tidak banyak orang yang betah berlama-lama dengan permainan itu. Karena lebih asyik bermain dengan lebih banyak orang. Dan yang pasti, semua permainan yang kita lakukan dijaman dulu, benar benar berinteraksi dengan teman.

Sekarang mari kita lihat jenis permainan yang dimainkan anak-anak jaman sekarang. Sepulang dari sekolah, mereka memang bermain. Jenis permainanya apa? Ada yang menuju warnet untuk bermain game online, ada yang menuju sebuah rental untuk main PS2, PS3, atau PS4, ada juga yang mencari warung, toko, atau warnet lagi yang menyediakan fasilitas Wifi untuk bermain game online melalui handphone jenis android atau smartphone miliknya. Disaat bermain, ya mereka focus pada permainan itu. Tidak ada interaksi, tidak ada rasanya kebahagiaan, tidak ada rasanya keceriaan. Hanya sesekali saja mereka saling berpandangan dan bertutur kata.

Tapi yang terpenting adalah, bagaimana sebuah permainan itu asyik dilakukan ketika ada sebuah interaksi, ada sebuah pergaulan, atau ada sebuah perdebatan jika dimungkinkan. Dan tolak ukur asyik itu kembali pada kita sebagai generasi anak-anak jaman old atau mereka anak-anak generasi jaman now, dalam menikmati sebuah permainan. (T)

Tags: anak-anakGenerasi Zaman Nowpermainan
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Wina Ranjau dan Apa Kabar Musik Bawah Tanah di Bali

Next Post

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Rika Mahardika

Rika Mahardika

Lahir dan tinggal di Singaraja. Sedang asyik-asyiknya jadi bapak sembari bekerja sebagai wartawan di koranbuleleng.com

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co