3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Rika Mahardika by Rika Mahardika
February 27, 2018
in Esai
Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Ilustrasi: Juli Sastrawan

MASA anak-anak adalah masa yang paling asyik. Selain belajar disekolah,  sehari-hari kita ya bermain. Bahkan dalam sehari rasanya waktu kita lebih banyak bermain daripada belajar.

Mari coba kita analisa secara ngawur saja. Kalau untuk belajar, mungkin waktu kita hanya habis selama 6 jam saja, yaitu saat berada di sekolah. Mulai belajar sekitar jam setengah delapan pagi, dan pulang sekolah sekitar jam setengah satu siang. Sampai di rumah kita makan siang, setelah itu cus, langsung bertemu teman untuk bermain.

Anak-anak dulu dan sekarang, porsi bermainnya mungkin tak jauh beda. Tapi, yang berbeda adalah jenis permaianannya. Mari bandingkan jenis permainan antara kids jaman old atau disebut generasi 80-90-an, dengan kids jaman now.

Anak-anak generasi 90-an, setelah makan siang sepulang sekolah, biasanya langsung kabur dari rumah. Tidak pernah ada yang namanya tidur siang. Kalau bermain, dulu, ya keluar. Ke tanah kosong, tanah lapang, kebun, sawah, atau jalanan. Jarang ada permainan di dalam rumah.

Jenis permainannya banyak, mulai dari main kelereng, main layangan, bermain adu kulit rokok, ada juga bermain petak umpet. Ada juga permainan tradisional seperti main benteng, bermain selodor,  bermain batu lima, bermain gemblung, main tembing dan masih banyak jenis permainan lainnya.

Yang menarik, ada permainan polisi-polisian dan penjahat (kalau di daerah saya di wilayah Paket Agung Singaraja) biasanya disebut main maling-malingan). Permainan ini seru. Sejumlah anak sok-sok jadi “polisi”, sejumlah anak lain cukup girang jadi “maling”.

Ada dua peran dalam permainan ini:maling dan polisi. Seperti namanya, tentu saja, yang berperan sebagai polisi harus berhasil menangkap sipemeran maling. Biasanya sih, di daerah saya, ini lebih asyik dimainkan pada malam hari.

Begitu kita sepakati peran masing-masing, permainan dimulai. Pemeran penjahat atau maling ini lebih dulu bergerak, berlari sekencang mungkin agar tidak ditangkap pemeran polisi. Begitu semua maling tertangkap, peran pun dimainkan bergantian. Artinya yang tadinya menjadi polisi, bertukar peran menjadi seorang penjahat atau maling.

Namanya juga permainan, jadi polisi atau jadi maling, ya, sama asyiknya. Bahkan saat berperan jadi maling, si maling biasa mengerjai si polisi.

Saya ingat ada ulah jahil dari sejumlah teman. Yang paling sering terjadi adalah, si maling ini, ngumpet (itu tidak dilarang dalam aturan mainnya), supaya tidak berhasil terciduk polisi. Cuma, ngumpetnya itu di rumah sendiri. Dan yang bikil kesel, dia tak nongol-nongol. Polisinya kan bingung mau cari di mana lagi. Semua sudut sudah ditelusuri. Eh, tak tahunya si maling sedang enak-enak makan di rumahnya.

Permainan pun bubar. Tapi besoknya, permainan yang sama bisa diulang lagi. Semua kejahilan yang terjadi kadang bikin kesal, namun itu menjadi kenangan yang sangat kaya.

Itulah makanya kenapa waktu anak jaman old itu lebih banyak bermain. Karena terkadang saking asyiknya bermain, kami generasi anak anak jaman 90-an sampai harus dicari-cari orang tua untuk mandi. Maklum saja,  terkadang kita bermain  hingga lupa waktu dan pulang terlalu sore. Bahkan malam pun kami bermain lagi.

Nah permainan maling-malingan yang kami lakoni sebagai kids jaman old sebenarnya penuh filosofi (bahasanya agak berat). Apa itu, ya tentu maling yang melakukan aksi kejahatan berupa pencurian ini harus ditangkap. Siapa yang menangkap? Tentu aparat hukum, yaitu polisi.

Dan Polisi pun dalam mengungkap kasus pencururian untuk menangkap maling, tentu akan melakukan banyak upaya. Semua tempat pasti akan dususuri. Semua sudut yang diduga sebagai tempat persembunyian pasti akan dijajagi. Barangkali saja bisa menangkap maling itu.

Lalu bagaimana dengan pemeran maling yang bersembunyi dirumahnya dan tidak berhasil ditangkap oleh seorang polisi? Bukankah itu curang namanya? Kalau pendapat saya sih itu namanya cerdik. Dan mungkin saja apa yang terjadi dalam permainan itu, terjadi pula di dunia nyata.

Bisa saja kan, ada seorang maling sungguhan, dengan kecerdikan yang dimiliki berhasil mengecoh polisi. Bersembunyi dari kejaran polisi sampai polisi pun penyerah untuk mengejar dan menangkap. Ujung-ujungnya, kasus ditutup, dan kasus pun selesai.

Di era tahun 90-an dulu, masa anak-anak juga sudah ada kok permainan yang modern. Misalkan saja, permainan nitendo dengan game favorit super Mario, atau permainan Sega, hingga PS1 juga sudah ada. Tapi tidak banyak orang yang betah berlama-lama dengan permainan itu. Karena lebih asyik bermain dengan lebih banyak orang. Dan yang pasti, semua permainan yang kita lakukan dijaman dulu, benar benar berinteraksi dengan teman.

Sekarang mari kita lihat jenis permainan yang dimainkan anak-anak jaman sekarang. Sepulang dari sekolah, mereka memang bermain. Jenis permainanya apa? Ada yang menuju warnet untuk bermain game online, ada yang menuju sebuah rental untuk main PS2, PS3, atau PS4, ada juga yang mencari warung, toko, atau warnet lagi yang menyediakan fasilitas Wifi untuk bermain game online melalui handphone jenis android atau smartphone miliknya. Disaat bermain, ya mereka focus pada permainan itu. Tidak ada interaksi, tidak ada rasanya kebahagiaan, tidak ada rasanya keceriaan. Hanya sesekali saja mereka saling berpandangan dan bertutur kata.

Tapi yang terpenting adalah, bagaimana sebuah permainan itu asyik dilakukan ketika ada sebuah interaksi, ada sebuah pergaulan, atau ada sebuah perdebatan jika dimungkinkan. Dan tolak ukur asyik itu kembali pada kita sebagai generasi anak-anak jaman old atau mereka anak-anak generasi jaman now, dalam menikmati sebuah permainan. (T)

Tags: anak-anakGenerasi Zaman Nowpermainan
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Wina Ranjau dan Apa Kabar Musik Bawah Tanah di Bali

Next Post

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Rika Mahardika

Rika Mahardika

Lahir dan tinggal di Singaraja. Sedang asyik-asyiknya jadi bapak sembari bekerja sebagai wartawan di koranbuleleng.com

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co