3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Chat Vs Surat” – Tentang Kesulitan Siswa Belajar Menulis

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 2, 2018
in Esai

Google

 

PADA sore yang cerah, ruang kelas tempat saya mengajar semakin gerah. Jumlah siswa yang lebih dari tiga puluh orang membuat ruangan semakin terasa tak nyaman. Apalagi ruangan tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Saat itu sedang berlangsung pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu menulis teks opini. Muka-muka siswa saya tampak kebingungan, ada yang menatap dengan tatapan kosong, tidak jarang ada yang menguap. Saya tentu maklum, siswa sudah kelelahan sebab harus berada di kelas hingga jam empat sore. Full day school istilah kerennya. Siswa saya bertambah gelisah sebab keringat mereka semakin deras mengucur. Entah karena gerah, entah karena sekarang mesti menulis teks.

Menulis memang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa saya. Kata mereka menulis itu sulit. Saya mengiyakan, namun saya melihat mereka mampu melakukannya. Alasan saya, mereka aktif di media sosial dan sering menulis kicauan yang panjang mengenai hal-hal yang mereka lakukan. Tentu saja mereka tidak mengalami kesulitan dalam menulis, bukan?

Saya lalu bertanya perihal penyebab siswa kesulitan dalam menulis, khususnya jika menulis saat pelajaran di kelas. Menulis memang sulit tapi bukan mustahil untuk dipelajari kata saya di depan kelas dengan sok tahu. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, beberapa siswa buka mulut. Dari jawaban mereka,  setidaknya ada empat hal yang menghambat siswa dalam menulis, yaitu kebuntuan ide, kesulitan menyusun kalimat, takut salah ejaan, dan malas. Bagi penulis, ini adalah jawaban jujur.

Lalu saya kembali bertanya, lalu apa bedanya dengan menulis di facebook? Seorang siswa nyeletuk, kan tulisannya tidak dinilai, Pak. Saya menjawab dengan oooo yang panjang. Mengapa tidak lakukan hal yang sama, kata saya. Mereka pun saling menatap kebingungan.

Saya pun mulai mendongeng. Bagi saya mendongeng cukup baik digunakan daripada power poin. Saya memulai dongeng saya dari fenomena semakin jarangnya surat digunakan sebagai media komunikasi. Begini dongeng saya ketika itu.

Zaman secanggih sekarang, surat menyurat makin ditinggalkan. Terutama surat yang ditulis tangan dalam secarik kertas lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop. Pada bagian luar tertulis alamat tujuan surat dan siap untuk dikirim pak pos atau diselipkan di kolong meja orang yang menjadi tujuan. Sejak beberapa tahun lalu surat sudah berpindah ke bentuk elektronik, dengan bentuk dan nama yang lebih keren. Namanya surat elektronik dan tak perlu kertas apalagi bolpoin untuk menulisnya.

Siswa-siswa saya mendengarkan dengan khusyuk. Tumben mereka mendengar dengan begitu antusias. Mumpung situasinya mendukung, dongen saya lanjutkan.

Segala yang berbentuk elektronik telah menjadi hal yang keren, mulai dari KTP elektronik hingga uang elektronik. Memang, orang-orang zaman sekarang sangat suka hal yang praktis. Mau kemana tinggal sewa kendaraan via aplikasi. Pesan makanan tinggal pakai aplikasi. Begitu pula menyampaikan cinta dengan aplikasi.

Hanya pegawai kantor pemerintahan dan pegawai tata usaha di sekolah-sekolah yang saya lihat menggunakan surat untuk berkomunikasi. Itupun surat tak lagi ditulis tangan, sudah semua diketik.

Mendengar bagian ini, siswa-siswa saya mulai gaduh. Ada yang melempar cieeeeeeeee dengan panjang. Mereka saling tunjuk dan bercertia tak beraturan sebab semua berbicara tanpa arah jelas. Saya memberi intruksi bahwa cerita belum selesai. Perlahan suasana tenang kembali dan mereka mendengar lagi.

Menyatakan perasaan ke lawan jenis pun saat ini tidak menggunakan surat, saya melanjutkan.

Siswa saya menjawab dengan anggukan. Ada sebagian yang tersenyum seakan mengiyakan dan mengatakan bahwa dia juga melakukannya.

Cukup dengan membuka aplikasi obrolan lalu isi hati ditulis melalui chat. Tentu saja chat lebih simple. Lebih praktis daripada harus menulis surat cinta, bukan? Zaman sekarang mungkin menulis surat cinta hanya dilakukan ketika ospek di kampus atau di sekolah-sekolah. Kalo ospek dihapuskan, tampaknya aktivitas menulis surat cinta tak akan ada lagi.

Jika menyatakan cinta dengan surat apalagi bertemu langsung, tentu saja dibutuhkan nyali yang besar. Dengan chat, seseorang tak perlu berpikir keras untuk buat surat atau keberanian bertatap muka langsung dengan calon pacar. Ya, calon pacar, kan belum tentu diterima. Dengan bantuan chat, seseorang akan lebih santai dan dapat menyembunyikan kesedihannya jika ditolak.

Mungkin hal ini juga menjadi alasan seseorang memutuskan hubungan pacaran dilakukan melalui chat. Selain lebih hemat, melalui chat jelas membuat seseorang bisa berpikir dahulu. Tidak menyatakan langsung yang mengharuskan kesiapan mental dan berbahasa yang cukup.

Dongeng saya belum selesai, jam pelajaran malah sudah selesai. Sebagian siswa saya bersorak, sebagian masih penasaran dengan maksud cerita saya dan seakan tidak mau beranjak. Memang hari itu saya tidak menyajikan materi apa pun. Siswa juga belum memulai apapun. Setengah esai saya ini tak memberikan solusi apapun.

Seperti layaknya seorang guru, saya menugaskan kepada siswa-siswa saya untuk menulis opini tentang apapun pada buku latihan mereka. Dengan sedikit ancaman bahwa opini tersebut akan didiskusikan pada pertemuan berikutnya. Harapannya semoga mereka mau berusaha.

Pelajaran bahasa Indonesia begitu kompleks. Banyak materi yang bisa masuk dalam pelajaran ini. Banyak jalan menuju Roma katanya, begitu pula banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyajikan sebuah materi pelajaran bahasa Indonesia. Setidaknya itu bagi saya.

Pembelajaran bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang cukup kompleks adalah menulis.

Keterampilan menulis dikatakan kompleks karena penggunaan aspek kebahasaan seperti bentukan kata, diksi, dan struktur kalimat perlu disusun secara efektif. Penerapan ejaan dan tanda baca perlu dilakukan secara tepat dan fungsional. Keterampilan menulis diajarkan dengan tujuan agar siswa mempunyai kemampuan dalam menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pendapat dengan benar.

Saya menyadari, ketika siswa diajak untuk mengungkapkan gagasan dalam bentuk tulisan seketika akan muncul kebingungan di wajah-wajah mereka. Ini berkali-kali terjadi sepanjang saya mengajar materi menulis. Bahkan ada yang sampai mengerut-ngerutkan dahi berpikir tentang hal yang akan ditulis. Namun, ini hanyalah respon awal. Setelah didampingi, pelan-pelan para siswa dapat mengungkapkan gagasan mereka dalam bentuk teks.

Saya memberikan teori sederhana yang entah saya baca dimana. Anak-anak, tulislah hal-hal yang kalian ketahui, kata saya berteori. Untuk mengawali belajar menulis, hendaknya memang dimulai dari mencoba, lanjut saya. Ambil pena dan kertas, langsung praktik dan singkirkan segala teori menulis yang hanya buat takut. Itulah kalimat-kalimat pemungkas saya untuk membangkitkan keberanian siswa dalam menulis.

Jika diuraikan lebih detail kesulitan tersebut meliputi:

a) Ketidakmampuan menguraikan gagasan.

b) Tidak mampu menentukan judul karangan.

c) Ketidakmampuan menjabarkan ide ke dalam bentuk kalimat dan paragraf.

d) Ketidakmampuan merangkai paragraf-paragraf menjadi satu kesatuan yang utuh.

e) Ketidakmampuan dalam memilih kata.

f) Ketidakmampuan dalam menggunakan huruf besar.

g) Ketidakmampuan dalam menggunakan tanda baca.

Data itu didapat dari hasil riset kecil-kecilan dari siswa-siswa yang saya ajar.

Mengamati lebih jauh kesulitan siswa dalam proses menulis memang sangat kompleks. Terkait kebuntuan ide misalnya, sebab siswa jarang membaca. Padahal membaca adalah bahan bakar utama dalam menulis. Solusinya untuk mengawali proses menulis adalah dengan menulis hal-hal yang diketahui. Sehingga proses menulis akan lebih lancar.

Ide sesungguhnya ada di mana saja. Kebuntuan ide harusnya tidak ada jika siswa peka dengan sekitar. Sebab ide bisa ditemukan di mana-mana. Ide jangan ditunggu, ide haruslah ditemukan.

Terkadang siswa memerlukan media agar dapat mengeluarkan gagasannya. Hal ini dilakukan sebagai pemantik agar siswa lancar mengeluarkan ide-ide menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi berhadapan dengan siswa-siswa yang kurang lancar menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi.

Pengakuan salah satu siswa terkait kesulitan kesalahan ejaan, sebab siswa tidak dibiasakan untuk menulis sesuai dengan ejaan yang berlaku oleh guru yang mengajar. Seharusnya, ini tidak hanya menjadi tugas guru bahasa Indonesia saja. Semua guru hendaknya memilik fokus yang sama terhadap ketaatan menggunakan ejaan umum bahasa Indonesia.

Namun kenyataannya di lapangan, banyak guru bahkan yang mengajar mapel bahasa Indonesia tidak taat dengan ejaan umum bahasa Indonesia. Jika mau dicari sebabnya tentu saja begitu kompleks.

Esai ini mencoba mengurai kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis. Harapannya para guru dapat menemukan solusi atau cara-cara untuk membantu siswa dalam menulis. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling rumit.

Suatu tulisan pada dasarnya terdiri atas dua hal. Pertama, isi tulisan menyampaikan sesuatu yang ingin diungkapkan penulisnya. Kedua, bentuk yang merupakan unsur mekanik karangan seperti ejaan, kata, kalimat, dan paragraf. Kedua hal tersebut harus bisa diatasi agar kesulitan menulis tidak terjadi.

Mengenai cara guru mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis, meliputi:

a) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalamannya dengan singkat.

b) Membantu siswa memilih salah satu topik yang akan dikembangkan menjadi karangan,

c) Memberikan contoh topik karangan dan mengajak siswa melengkapi topik tersebut dengan gagasan-gagasan yang relevan.

d) Mampu berperan sebagai model agar siswa mendapat gambaran bagaimana proses menulis.

e) Mengajak siswa berdiskusi mengenai ejaan, kalimat dan paragraph.

f) Membimbing siswa yang memerlukan bantuan saat mengembangkan kerangka karangan.

g) Berusaha tidak menginterupsi siswa tentang ejaan dan aturan-aturan penulisan agar siswa tidak ketakutan dan terhambat.

Semoga lebih banyak siswa yang bisa terlepas dari kesulitan menulis. Menulis adalah sebuah kreativitas yang harus dikuasai. Walaupun untuk mencapai itu harus melalui proses yang cukup panjang. Tidak sekali jadi. Harapannya, semoga esai ini ada gunanya. (T)

Tags: media sosialmenulisPendidikansiswa
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Dilarang “Onani” di Teater Kalangan

Next Post

Harapan 2018: Kuajak Ibu ke Bali, Lihat Kos dan Kampusku, Tapi Tuhan Mengambilnya…

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Harapan 2018: Kuajak Ibu ke Bali, Lihat Kos dan Kampusku, Tapi Tuhan Mengambilnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co