14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilarang “Onani” di Teater Kalangan

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Esai

 

PERTAMA saya benar-benar ingin mengucapkan selamat pada Teater Kalangan. Tidak saja sekadar ucapan Tahun Baru, Hari Ibu, Natal, atau keberhasilan pementasan yang telah terselenggara selama tahun 2017. Selama satu tahun kemarin saya pikir adalah perjuangan terhebat bagi Teater Kalangan untuk melakukan kerja agar rumah (kelompok) tidak saja jadi tempat nongkrong “sesama jenis”.

Akan tetapi, sekali lagi selamat karena telah menjadikan Kalangan sebagai tempat yang tidak eksklusif di dunia yang sudah serba kotak-kotak, bulat, kubus, balok, dan bentuk lainnya yang tak berpintu.

Ucapan selamat pada Teater Kalangan juga sekaligus adalah rasa terima kasih saya. Terima kasih sudah membuat saya berani mengakui bahwa selama ini saya terlalau asik “onani”. Saya pikir selama ini  kurangnya refleksi pada diri saya dalam menyikapi banyak hal, termasuk lingkungan telah membuat diri cukup sesat memaknai hidup. Sampai kemudian saya tiba pada titik penuh ketidakberteriman dan segala macam pertanyaan lengkap dengan sesalnya.

Mungkin patut kita renungkan bersama juga, bahwa tanpa kita sadari segala bentuk ketidakberterimaan yang kita alami ini karena kita membuat jarak yang terlalu jauh, hingga kita menjadi orang-orang yang sangat individualis dan fanatik pada selera. Yang terjadi kemudian adalah kecenderungan memisahkan diri dari yang kita angap berbeda pilihan, selera, dan cara pandang. Walhasil, karena tidak suka kita tidak berteman, karena tidak sejalan kita mencemooh, menghujat, dan menghakimi. Padahal untuk berkenalan saja kita belum pernah mencobanya.

Itu yang saya temukan kemudian dalam diri dan baru mampu saya sadari tiga bulan sejak Teater Kalangan mengucapkan selamat datang ke rumahnya pada saya. Rumah itu dihuni berbagai macam orang dari berbagai kalangan. Tidak saja orang-orang seni, tetapi juga pekerja, siswa, mahasiswa, pedagang, aktivis, bahkan pengangguran sekalipun. Mereka duduk bersama, bicara dari satu topik ke topik lain, dengan sungguh-sungguh atau sekedar candaan.

Ucapan selamat datang adalah ruang pengasingan bagi saya sebagai pengunjung baru. Undangan pertemuan terus berjalan dan pengasingan terus saya rasakan tanpa penyelesaian. Setiap kalimat dalam percakapan dari setiap orang adalah jarak yang panjang untuk ditempuh, untuk mampu masuk dalam percakapan. Itu melelahkan, meresahkan, menyedihkan, dan menyakitkan. Tapi satu hal penting yang kemudian saya pelajari dari kejadian itu, bahwa belajar adalah membawa diri ke dalam kekosongan yang perlu diisi. Ada kerendahan diri dan hati yang perlu dibina. Yang saya tahu kemudian bahwa kedatangan saya  bukanlah sebagai “aktris teater” yang diundang untuk mengisi acara bersama Teater Kalangan.

Kepulangan jadi tanda-tanda tanya, kedatangan jadi keyakinan

Perlu waktu cukup lama untuk menyadari ini. Saya atau kita semua selama ini mungkin terlalu mabuk pada segala pujian dan tepuk tangan dari rumah kita sendiri-sendiri. Ini tentu tidak hanya terjadi di kelompok teater, tetapi juga di kelompok-kelompok lainnya, seperti halnya kelompok seni, seperti musik, seni gambar, vocal, dan tari. Begitu pula dengan lingkungan akademik yang masing-masing punya penjurusannya.

Saya rasa ruang-ruang itu yang selama ini sering kita jadikan batasan pertemanan atau pergaulan untuk membangun diri. Oleh karena itu, tidak salah kemudian apabila saya sebut diri saya atau kita semua yang masih melakukan hal demikian sebagai kalangan yang suka “onani”. Apa bedanya kemudian kecenderungan sikap kita selama ini dengan onanai yang sesungguhnya? Kepuasan, kebenaran, kesalahan, kita kungkung jadi milik sendiri, nikmat-nikmat sendiri, tanpa refleksi, tanpa diskusi, atau mencoba melihat dari sudut pandang lain di luar kelompok.

Hal itu kemudian saya kira disadari benar oleh Teater Kalangan dalam membina kelompoknya. Menghilangkan batasan-batasan pergaulan, dengan memasuki dan mengenal berbagai skena dalam pergaulan atau kehidupan. Ini adalah kunci membangun kehidupan kelompok yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kemudian jika dalam berbagai produksi Kalangan selalau muncul wajah-wajah baru yang ikut jadi bagian di atas panggung mereka.

Kehadiran Nindya misalnya, seorang Mahasiswa Kedokteran yang mencintai musik serta Putu Deoris Mahasiswa Desain yang gila baca di TBK. Kawan-kawan yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam teater ini tiba-tiba saja ada di Teater Kalangan, terlibat sebagai pemain atau tim pementasan. Ini adalah hal yang aneh bagi saya, yang terbiasa selalu bersama-sama dengan yang sealiran selera dan pilihan.

Prihal “onani” itu, bagi Teater Kalangan tentu saja tidak berhenti pada persoalan pergaulan dan anggota kelompok. Berikutnya saya sadari juga perihal membina orang-orang yang masuk ke dalamnya untuk tidak onani pada nyamannya mereka sendiri-sendiri. Maksudnya, yang bisa desain ya tidak selalu tugasnya harus desain, tapi bisa juga ambil belajar ambil kerjaan lainnya.

Dalam hal kedudukan di sebuah kelompok biasanya selalau diisi dengan jabatan-jabatan tertentu bukan? Di Teater Kalangan juga ada. Tapi ada perbedaan yang membelajarkan saya kemudian ketika ada di tengah-tengah mereka. Bahwa tidak ada aturan yang membatasi kalau sutradara adalah orang yang memimpin tetek bengak kegiatan latihan. Misalkan ya seperti saat latihan pemanasan. Siapa saja boleh memimpin. Sekali lagi, ini untuk menghindari kecenderungan kebiasaan “onani” yang saya maksudkan.

Ada yang terbesit kemudian dalam diri saya, bahwa kebiasaan kita menyikapi kedudukan sangatlah kaku dan patriarki. Mirip seperti kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya. Saya seorang guru, fenomena yang terjadi di Teater Kalangan sangat dekat dengan apa yang terjadi di lingkungan saya ketika berposisi sebagai guru di sekolah. Saya ingin mengajukan pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan bila diposisikan sebagai siswa dalam sebuah ruang kelas, kalau seorang guru datang dan mengatakan, “Baik, hari ini kita jadikan ruang kelas sebagai taman kota. Pilih saja taman dalam kota seperti yang kalian inginkan. Semua boleh memilih tempat dan gayanya sendiri untuk selama dua jam pelajaran. Lakukanlah hal selayaknya di taman kota.”

Tindakan seperti apa yang anda pilih? Saya yakin benar jawabannya sangat bervariasi dan nampak sepakat dengan tawaran yang diberikan bukan? Dalam hal ini, karena saya ajukan kepada pembaca, jawabannya dapat saya duga seperti apa.

“Wah asik! Itu baru guru luar biasa.”

“Bah, kalau aku seneng banget!”

“Kalau aku mau main bola aja.”

“Aku pacaranlah! Di taman kota kan banyak yang pacaran.”

Lalu bagaimana jika anda yang sedang membaca tulisan ini bukan hanya sebagai pembaca, tetapi benar-benar sebagai siswa di dalam kelas? Semua jawaban di atas tentu tidak akan terjadi. Yang paling memungkinkan adalah, adanya pertanyaan, “Apa men ya yang dilakukan?”. Sebuah hal yang membingungkan bukan? Realitanya, ketika siswa diajak belajar selayaknya pembelajaran, yang terjadi antara guru dan siswa di dalam kelas sering dianggap tidak menyenangkan, kaku, membosankan, dan berbuah hasil tidak mengesankan. Ketika diberikan tawaran berlaku semaunya pun membuat semuanya kebingungan.

Lagi-lagi hal itu saya temukan kemudian di Teater Kalagan. Dalam proses latihan yang saya ikuti di Teater Kalangan, kecenderungan sikap menggurui karena kedudukan itu tidak pernah saya rasakan. Setiap anggota memiliki porsi yang sama dalam berpendapat atau berlaku. Hal itu ternyata menyangkut harapan dari Teater Kalangan untuk mencoba menjadikan siapa saja dalam kelompoknya dapat berperan menjadi apa saja. Entah itu sutadara, musik, desain, atau yang lainnya.

Hal itu dirintis pembinaannya dari kegiatan berlatih, atau model latihan yang dipilih. Pernah mencoba permen nano-nano? Nah, kurang lebih sensasinya seperti itu. Satu benda dihisap, dua-tiga rasa terlampaui. Ketika latihan misalnya, saya bisa merasakan sedang melakukan berbagai kegiatan yang membahagiakan. Tidak beban. Tidak tertekan.

Kurang lebih begitu, kenapa dilarang “onani” di Teater Kalangan. Kalau benar sama seperti yang saya pikirkan, harapan Teater ini selain membesarkan dirinya juga sedang membangun harapan untuk membesarkan setiap orang yang datang berkunjung dan berproses bersamanya untuk menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih saat keluar dari pintu rumah mereka.

Ya, sekurang-kurangnya mungkin seperti yang saya rasakan, pikirkan, dan lakukan. Bahwasanya, sesekali kita butuh ruang pengasingan sebagai refleksi untuk tetap belajar merendahkan diri dan hati. Menyadari, bahwa dunia ini lebih indah dari sekedar “onani” kalau kita mau jalan-jalan ke luar pagar rumah sendiri. (T)

Tags: KreativitasTeaterTeater Kalangan
Share37TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Next Post

“Chat Vs Surat” – Tentang Kesulitan Siswa Belajar Menulis

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post

“Chat Vs Surat” – Tentang Kesulitan Siswa Belajar Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co