2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelemahan Klasik yang Tetap Terasa – Catatan Pentas 3 Monolog di Kampus FBS Undiksha

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
February 2, 2018
in Ulasan

Hidayat dari Komunitas Kontur mementaskan naskah monolog Buku karya Putu Wijaya

 

MINGGU malam, 12 November 2017, dilangsungkan pementasan ke 62, 63, 64 dari Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya. Tempatnya di Kampus FBS Undiksha Singaraja.

Naskah “Buku” dipentaskan oleh Komunitas Puntung Rokok (Kontur) dengan aktor Hidayat. Naskah “XX” dan “Harmoni” dipentaskan oleh Teater Kampus Seribu Jendela. “XX” dimainkan aktor Putra Pradnyana dan “Harmoni” dimainkan oleh Fitra.

Basement dan sekitaran wantilan Fakultas Bahasa dan Seni menjadi pilihan tempat mempersembahkan ketiga naskah ini. Dengan hujan yang tidak begitu deras dan suasana kampus yang tidak begitu ramai mendukung mereka.

Memasuki pementasan ke 60-an rasa-rasanya, mungkin segala kritik dan saran sudah habis dilontarkan untuk pementasan-pementasan sebelumnya dan rasa-rasanya kritik dan saran yang akan diberikanpun tidak akan jauh-jauh dari ekspresi, vokal, intonasi dan lain-lain.

Perlu diakui jika menilik dari beberapa pementasan sebelumnya, permasalahan-permasalahan diatas seolah tidak ada habisnya. Entah sudah berapa kali muncul saran soal bagaimana membuat ekspresi menjadi menarik, membuat suara jelas terdengar tapi tetap saja permasalahan klasik tersebut selalu ada. Kurang lebih hal-hal diatas bisa dikatakan dialami oleh salah satu pementasan kemarin.

Tapi tentu saja ketiga pementasan di Kampus FBS Undiksha itu berjalan lancar. Terlepas dari permasalahan klasik yang tadi disebutkan. Beberapa hal menarik yang bisa ditemukan pada pementasan kemarin adalah soal tata panggung yang benar-benar menginterpretasikan bagaimana basis dari kelompok tersebut.

Komunitas Puntung Rokok memilih area basement yang didesain sedemikian rupa. Area basement yang cukup besar mereka sulap menjadi lebih kecil dengan membentuk sebuah ruangan baru dengan memanfaatkan kain hitam yang dilapisi koran dari berbagai media.

Sangat rapi. Tidak lupa beberapa properti seperti meja dan kursi juga dilapisi Koran, beberapa buku dibuat menggunung, dan beberapa tokoh existensial juga dilapisi koran. Tentu membuat hal-hal di atas menjadi sangat rapi bukan perkara mudah, apalagi melapisi beberapa tokoh dengan koran.

Diperlukan sebuah keahlian lebih untuk mendesain panggung tersebut.  Seperti yang beberapa orang ketahui, anggota komunitas puntung rokok banyak yang berasal dari Jurusan Seni Rupa dan tentu saja keahlian mereka benar-benar terpancar lewat tata panggung mereka. Dan jika boleh dikatakan, mantap.

Fitra mementaskan monolog Harmoni

Beralih ke desain panggung Teater Kampus Seribu Jendela. Jika tidak salah, tempat pemilihan panggung mereka sama dengan pemilihan panggung mereka saat mementaskan naskah “Pidato Gila” dan “Sepi”.

Kurang lebih desain panggungnya juga tidak berbeda jauh. Hanya saja lebih sederhana dari pementasan sebelumnya. Memanfaatkan tiga buah lampu yang dipasang di sisi kanan, tengah, dan kiri serta memanfaatkan sebuah tempat di depan ruang BEM FBS, maka tata panggung selesai. Satu kata, sederhana.

Mereka tidak menutup celah lorong dengan kain hitam, sehingga beberapa penonton bisa menikmati pementasan lewat lorong. Barangkali keputusan tersebut diambil karena mereka tidak mau ambil pusing soal memasang kain yang mungkin agak ribet bagi mereka.

Barangkali juga mereka sudah dibikin ribet soal drama berjudul “hidup anak kuliahan”. Dan bukan tidak mungkin ketika mereka berlatih, beberapa dari mereka sedang membuat tugas atu juga sedang mempersiapkan diri karena esoknya presentasi untuk urusan tugas kuliah. Secara tak kasat, itulah yang terpancar dari pementasan mereka.

Hal menarik atau lucu lainnya adalah penonton. Banyak penonton sebenarnya bukan penonton. Dalam artian mereka hanya sekedar lewat dan kebetulan melihat pementasan lalu memilih duduk diam menikmati pementasan sampai akhir.

Hal yang sebenarnya tidak unik, namun menjadi unik ketika sepertinya mereka lewat untuk mengerjakan hal lain tapi malah jadi nonton pementasan. Hal ini terlihat dari mereka yang membawa obeng, palu, gergaji bahkan tapel barong. Mereka patut diapresiasi. Melangkah ke sesi diskusi, tampaknya penonton memang lebih suka datang untuk menonton dan menjadi penonton murni.

Mereka tampak tidak ingin memberikan komentar ataupun masukan. Sederhananya, mereka sudah puas asal sudah terhibur. Itu pula yang menyebabkan sesi diskusi telihat ‘memaksa’ penonton agar berkomentar dan memberi pertanyaan.

Putra Pradnyana mementaskan monolog XX

Terakhir, tentunya Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya masih memiliki banyak naskah yang belum dipentaskan. Banyak juga komunitas dan daerah yang masih berhutang naskah jika dilihat dari selebaran pampflet soal peta pembagian naskah. Saat ini Buleleng masih memimpin dengan kurang lebih telah mementaskan 30 naskah.

Tentu saja hal tersebut terlepas dari poin-poin seperti kualitas. Dan jika jujur dikatakan, rasa-rasanya tidak akan pernah ada pementasan yang benar-benar memuaskan seluruh elemen masyarakat. Selalu ada kritik dan bahkan hinaan untuk sebuah pementasan. Oleh karena itulah, lebih baik mementaskan sesuatu yang dihina daripada mendiamkan sebah pementasan yang ujung-ujungnya cuma jadi guyonan. “Kau kapan mau mentas?” (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayakampusmahasiswaMonologTeater
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Air yang Seret dan Petani Seperti Lagu Pop: Berangkat Pagi Pulang Pagi

Next Post

Novel “Munajat Hati” dan Permasalahan Pemuda Masa Kini

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Novel “Munajat Hati” dan Permasalahan Pemuda Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co