4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Puisi: Kedai Cungkring, Tentang Kesibukan yang Berkejaran

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Nyoman Erawan #COMIC DANCE #3#2016#600cmx600cmx600cm#mixed Media#Installation Art

.
SISA KALIMAT

Adakah sisa kalimat untukku ?
Jika tidak biarkan aku berlalu
Meletakkan diri di tepi sungai agar selalu bercermin dari alir airnya
Kulepas kulup murkaku
Kulepas sisik egoku
Menyaru dalam stupa sampai menjelma setengah Budha
Menadahi getah pagi yang kepayang oleh embun
Biarlah rautku paham akan rindu yang mangsi
Sebab telah kukunci mulut menyesap roh Tuhan dari pori kulit sehingga
Gumpalan lemak pecah menjadi daging beraroma dupa
Menyelam dalam kalam dan pulang
Pada rahim yang paling pagi
Adakah sisa kalimat untukku ?
Jika ada, biarkan kuresapi ruh tiap huruf
Menyaring mana yang pantas meski lewat lensa silindrisku
Meraba cahaya yang mungkin jadi puisi di tiap inci tubuhku
Agar aku selalu bangun meriwayatkan siang malam
Dalam hening yang takzim
Merangkum sajak-sajak sunyi dalam lembar-lembar kitab
Tanpa menafsir apapun kecuali hal ihwal
Kedatangan dan kepergian

Tegaljaya, Juni 2017

KE DIRIMU

Ke hatimu paling ceruk
Kutuangkan anggur dan hosti
Mengatupkan hari-hari meragu
Yang lama menganga akibat lapar yang purba
Bayi-bayi menjerit dalam dada
Anggur dan hosti bertukar rupa menjadi cahaya dalam lampin
Memiuhkan nestapa yang berbaris rapi di riak darahmu paling dingin
Adakah yang lebih mengharukan dari ricik anggur yang menuntaskan dahaga
Dan melapangkan jiwa ?
Adakah yang lebih menggetarkan dari santapan hosti yang
Memaknai langkah demi langkah ?
Ke dadamu paling liang
Kudaraskan ayat-ayat dan kisah nabi
Agar kau paham bahasa Ibu
Agar kau jaga jangkar hati dari gelombang yang kuyup oleh liar dunia
Ke rindumu paling biru kupetik huruf-huruf senja
Menanaknya menjadi doa
Membentangkan fragmen syukur
Menggenapkan segala yang ganjil
Seusai kemarau yang panjang

Tegaljaya, Juni 2017

LORONG KEHILANGAN
: Bagi Ayah Ibu

Kau katakan cara mencium kehilangan
Lalu kau tunjukkan lemari tempat kenangan,foto penuh debu,
bumbu dapur, sayap-sayap kuno
dan tanah tempat mengubur ari-ari
Lalu aku menyandingkan kisahku dan kisahmu
Mengakrabi kehilangan membiarkan deretan nada keluar
Dari celahnya yang hitam
Kubaca riwayat air mata di pelupukmu
lalu lendir-lendir berjatuhan dari gelak tawa menjelma
barisan dosa dan doa
Ah, begitu semu batas dosa dan doa di garis matamu
Begitu tipis renjana dan lencana dalam degup jantungmu
Kini kau menjelma sepasang hujan
Menjadi laras bagi musim-musim
Di lorong kehilangan banyak orang tersesat
Termasuk aku yang tertatih keluar dari pengapnya
Di lorong kehilangan keheningan dapat tercipta
Dengan memahami kehilangan sebagai siklus
Dan jalan menuju kesadaran

Kerobokan, Mei 2017

KOTAMU

Menunggumu
Di kota hujan
Tanganku terlipat cemas
Langit senja murung memanggil angin
Kerinduan meniupkan nelangsa ke penjuru sendiku
“Tunggu aku di Bojonggede,” Katamu
Pernahkah angin membisikkan harapan kosong di telingamu ?
Atau hujan datang mengantar nyanyian sunyi di hatimu ?
Di stasiun ini aku merayakan pertemuan
Dalam ingatanku kau memilih pergi
bagai burung yang selalu nyala dalam rumah ingatan dan
asap dupa yang baur dengan udara
Akankah kini kau datang meninjau lekuk wajahku yang lama merindumu
merindu kotamu
Tempat segala angka kita tuangkan
Tempat menyatukan dua sumbu melabur jejak sangka kala
dengan nyala petir yang liar
Seliar parfummu berkelana ke setiap saraf penciumanku
Oh, angin yang memerangkapku di pohon sunyi
Bawalah tangannya padaku
Tangan pemanggil hujan di dadaku
Segugus tangan lembut yang selalu melingkar di pinggangku
Selembut belaian gerimis
Di kotamu yang biru

Tegaljaya, 4 April 2017

KEDAI CUNGKRING

Telah kau lumat aku dalam bumbu kacang manis
Kau lebarkan perih tubuhku menjadi malam panjang
Saat kau kunyah potongan kikil sapi
Kau menjadi takdir bagi kelahiranku
Menimbang-nimbang jarak antara lapar dan nafsu
Tangis dan lara
Lontong-lontong kehilangan cerita
Sebab kebisuan mencatat lebih banyak dosa ketimbang keriangan akan perjamuan di kedai ini
Kita terlalu banyak bersepah hingga malaikat beranjak sedari tadi meski harum cungkring masih tersisa di liurnya
Ke dadaku paling ceruk kau hidangkan cungkring paling lezat tuk penuhi hasrat purba
Kau pungut reremah sesal dan menempelkan identitas di keningku
Huruf-huruf berloncatan dari lidahku tak mampu membedakan terang dan mangsi
Sesungguhnya aku ingin menjadi bumbu bagi cungkringmu
Pelecut gairahmu
Namun kau tak pernah ada di kedai ini

Tegaljaya, 3 April 2017

TENTANG KESIBUKAN YANG BERKEJARAN

Kita tak pernah sepi dari deru kendaraan, asap-asap, alarm
Dan dering telepon
Selalu berlari dalam lautan rutinitas
Segalanya serba terburu-buru
Entah apa yang kita buru
Kelelahan hinggap di tubuh dan jiwa kita
Lama-lama ia berkerak seperti lemak yang mengeras di pembuluh darah
Menunggu saatnya pecah
Mari kita ke Rancamaya belajar bahagia dari alam
Sama seperti ketika pertamakali kata cinta hinggap di telinga
Di Rancamaya kita cipta puisi tanpa mengungkit ketiadaan
Tapi menumpu harapan tanpa mengeja kesibukan-kesibukan yang berkejaran
Kita mulai kehabisan oksigen
Tubuhku tubuhmu beku tak mengenal senyum
Hanya meruncing jarak
Di Rancamaya

Diriku : Hirup oksigen sepuasnya, keluarkan getah luka dari kerutan dahi
Dan kerutan garis senyum
Dirimu : Mengembaralah ke puncak sajak, tebas sekat pekat
Biarlah oksigen mencairkan kerak lemak di pembuluh darah

Kita tanggalkan segalanya
Tambatkan kata-kata dari lidah kaku
Menulis segala yang kita pahami
Merawat rindu membunuh curiga dan
Menerka letakmu di jantungku

Tegaljaya, 4 April 2017

Tags: Puisi
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Membayangkan Denpasar Seperti London

Next Post

Macet di Ubud: 10 Hal Sederhana yang Bisa Kita Renungkan

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Macet di Ubud: 10 Hal Sederhana yang Bisa Kita Renungkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co