3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama dan Potensi Fitrah Kemanusiaan

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Ulasan
  • Judul buku: Tunduk Kepada Allah; Fungsi dan Peran Agama dalam Kehidupan Manusia
  • Penulis: Dr. Alfatun Muchtar
  • Penerbit: Khazanah Baru
  • Tahun terbit: Cetakan I, Januari 2001
  • ISBN: 979-832-56-1 

NYATANYA, kebutuhan dasar manusia tidak melulu berkutat pada sandang, pangan, dan papan. Satu hal lagi yang menjadi kebutuhan bahkan bersifat mutlak pada diri manusia adalah agama. Potensi untuk menyembah dan menghambakan diri, atau paling tidak mengagungkan sesuatu sudah ada sejak manusia pertama lahir. Baik itu manusia yang beragama atau yang tidak mengakui satu pun agama yang dianut, sikap pengagungan tetap menjadi sifat dasar pada diri manusia. Tidak perlu jauh-jauh menyebut Tuhan, bahkan kesenangan dan kepuasan duniawi, ego, pula idealisme sering diagung-agungkan, dilayani untuk menghasilkan kepuasan dan kesenangan. Pada ranah itu, manusia nyatanya sudah melakukan penghambaan (untuk tidak mengatakan “beragama”) pada sesuatu.

Dalam Islam, manusia memang diciptakan untuk menyembah (beragama). Penyebutan manusia sebagai makhluk yang menyembah dalam al-Quran tidak dibarengi dengan objek penyembahan semisal Tuhan, patung, berhala, dan semacamnya. Hal ini selaras dengan amanat teologis Islam yang menyatakan bahwa tidak ada pemaksaaan dalam beragama yang diungkapkan dengan kata masdar (kata benda abstrak) “la ikraha fi al-din” yang dalam hemat saya menyiratkan makna bahwa segala bentuk pemaksaan dalam hal tersebut tidaklah dibenarkan. Namun dengan begitu, makna tersirat tentang kebebasan memilih keyakinan pada diri manusia tentunya adalah kebebasan yang dilandaskan atas konsekuensi dan tanggung jawab.

Hasrat manusia untuk beragama ini sudah ada sejak zama dahulu. Terbukti dengan adanya temuan-temuan patung dan sejumlah berhala yang digunakan manusia sebagai simbol penyembahan dan penghambaan. Bahkan tradisi-tradisi semacam tumbal dan sesajen sampai sekarang pun masih banyak ditemui di kalangan masyarakat. Hal itulah yang menjadi bukti kuat dalam pembenaran ungkapan filosofis bahwa manusia adalah makhluk yang menyembah atau beragama. Ungkapan yang hampir menyerupai quote-quote para filsuf yang di antaranya ada yang menyatakan manusia sebagai makhluk berpikir (Descrates), manusia sebagai makhluk yang bekerja (Karl Marx), dan berbagai ungkapan filosof lainnya.

Seiring dengan berkembangnya peradaban, kemudian banyak muncul berbagai macam agama yang dianut oleh manusia dengan beragam model, konsep, dan sistem yang berbeda-beda. Agama secara umum diformulasikan sebagai ajaran, aturan, dan jalan hidup. Dalam bukunya ini, Dr. Alfatun Muchtar menghadirkan banyak pendapat dari beberapa tokoh. Kesemua pandangan pada intinya menyatakan bahwa agama adalah aturan ilahi yang ditujukan pada orang-orang yang berakal sehat dengan segenap kehendak dan selera masing-masing untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setidaknya ada beberapa inti pokok yang terdapat dalam agama. Pertama, bahwa agama terdiri dari aturan-aturan. Kedua, bahwa agama berlaku bagi orang yang berakal sehat, oleh sebab itu dikenal sebuah ungkapan “tidak ada agama bagi yang tidak berakal”. Kemudian yang ketiga, dalam agama secara umum; untuk tidak terkesan berpihak pada salah satu agama, manusia diberi keluasan untuk memilih model dan macam agama mana yang akan mereka pilih. Dan yang terakhir merupakan tujuan dari agama itu sendiri, yaitu semata untuk kebahagiaan manusia di dunia atau pun di akhirat.

Hal-hal semacam akhirat, Tuhan, juga segala perkara ghaib sangat sarat dalam ajaran agama, bahkan semua agama pastilah terdapat askpek keghaiban. Entah itu, malaikat, setan, dan lainnya. Karena inilah kemudian sejumlah ajaran dalam agama lebih bersifat dogmatis.

Perihal potensi manusia untuk beragama, Alfatun menyatakan bahwa secara ideal seharusnya bumi dihuni oleh manusi-manusia yang beriman dan menganut agama (hal. xi). Akan tetapi karena kebingungan yang menjadi konsekuensi bawaan manusia sebagai makhluk yang berakal, kemudian manusia banyak memproyeksikan rupa Tuhan (objek yang disembah) dengan hal yang kiranya timbul dalam imajinasi mereka. Sehingga muncul banyak berhala seperti patung-patung yang berbentukkan hewan, arca, candi, dan lain-lain.

Tidak hanya secara aspek etimologis, dalam bukunya ini juga terdapat paparan panjang terkait arti agama secara makna bahasa. Diawali dengan berbagai penyebutan agama dalam sujumlah bahasa seperti din (Arab), religi (Belanda), dan religion (Eropa). Dalam bahasa Arab kata agama disebut dengan susunan huruf hijaiyah yang terdiri dari dal, ya’, dan nun. Lebih tepatnya din. Dan setiap kata arab yang bersusunkan huruf hijaiyah dal, ya’ dan nun seperti kata dayn (hutang) mengandung arti ketundukan dan ketaatan yang menunjukkan adanya dua pihak yang melakukan transaksi di mana kedudukan pihak utama memiliki tingkat lebih tinggi dari pihak yang kedua. Seperti hutang, agama (din) menunjukkan hubungan antara pencipta dan ciptaannya (hal. xii).

Lebih jauh lagi, Alfatun menitik beratkan pada kajian kebahasaan yang dalam hal ini adalah bahasa Arab yang kemudian banyak mengambil rujukan dari dalam al-Quran yang menjadi dasar utama dalam ajaran umat Islam. Mulai dari maksud dan macam kata-kata yang bergandengan dengan kata din dalam al-Quran seperti kata yaum, al-haqq, al-islam, dan perbedaan pernafsiran makna kata din dalam al-Quran berdasarkan sejarah historis turunnya ayat yang terbagi atas periode Makkah dan Madinah.

Belum lagi pemaparan masing-masing pendapat dari para mufassir dunia yang menjadikan buku tersebut terkesan sangatlah lengkap dalam pembahasan perihal ontologi agama. Dilanjutka pula dengan pembagian dan penggolongan  sejumlah agama menjadi din al-haqq (agama yang benar) dan din al-bathil (agama yang salah) juga din samawi (agama langit) dan din ardli (agama bumi). Juga pembahasan terkait perbedaan arti antara din, millah, dan syariat.

Di pertengahan sampai akhir pembahasan buku, Alfatun menjelaskan berbagai macam fungsi agama dalam kehidupan manusia selain pemenuh kebutuhan rohani yang di antaranya sebagai motivasi, pedoman hidup, kontrol, penyeimbang, dan semacamnya. Juga diterangkan hubungan antar pemeluk din.

Terlepas dari semua pembahasan tersebut, orientasi pandangan seseorang perihal agama sangatlah bermacam-macam. Sebagian terkesan positif dan sebagian terang-terangan menolak eksistensi agama. Lantas timbullah semacam perpolitikan wacana yang melahirkan dan memetakkan manusia ke dalam kelompok-kelompok yang saling berseteru. Satu sisi, ada pendapaat yang mengkampanyekan agama sebagai pengatur dan kontrol atas kebebasan manusia.

Kemudian di sisi lain pandangan-pandangan sinis perihal agama menyatakan bahwa agama adalah sumber kejumudan dalam mandegnya perkembangan peradaban. Agama dikatakan sebagai candu dan pelampiasan absurd di tengah masyarakat ketika mereka mengalami kegagalan dan kesusahan. Dikatakan pula sistem dalam agama terkesan menimbulkan ketidakadilan dan kepincangan dalam strata kemanusian. Belum lagi reduksi dan marjinalisasi fungsi agama yang kemudian membengkok ke arah legitimasi instrumental bagi hasrat keserakahan manusia dan banyak hal lain yang perlu anda ketahui dalam buku ini. (T)

Tags: agamaBukuresensi
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Pentas SMKN 4 Bangli: Kreasi Selonding, Dari Bali Kuno ke Masa Depan

Next Post

Manuk Aguci hingga Cilinaya – Tari dan Tabuh Tiga Zaman Sanggar Semara Ratih Ubud

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Manuk Aguci hingga Cilinaya - Tari dan Tabuh Tiga Zaman Sanggar Semara Ratih Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co