14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi “Seribu Pagi Secangkir Cinta”: Cara Wulan Mengabadikan Cinta

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Ulasan

APA yang pertama kali dipikirkan orang tentang puisi?

Sebagian besar orang mungkin akan memberi jawaban “kata-kata indah” dan “cinta”. Hal itu tidak salah karena tidak dapat dipungkiri puisi masih menjadi sarana yang ampuh untuk menyampaikan perasaan, khususnya rasa cinta, sampai saat ini. Puisi mampu membahasakan cinta yang begitu universal. Cinta dalam bentuk apa pun dan untuk siapa pun bisa dibahasakan oleh puisi.

Wulan Dewi Saraswati adalah salah satu orang yang sadar bahwa puisi adalah sarana yang sangat baik untuk menyampaikan perasaan cintanya. Buku antologi Seribu Pagi Secangkir Cinta ini adalah bukti keberhasilannya menggunakan puisi sebagai sarana menyampaikan cinta sekaligus mengabadikannya. Mengapa saya katakan berhasil?

Ini adalah efek hubungan antara puisi, cinta, dan orang-orang yang menganggap puisi sebagai sarana untuk menyampaikan cinta. Sebagian besar orang menganggap puisi memiliki kaitan erat dengan cinta dan mungkin lebih banyak orang lagi yang sudah menggunakan puisi untuk menyampaikan perasaan cintanya.

Itu berarti sudah sangat banyak orang yang menulis puisi (tentang) cinta dan kawan-kawannya, seperti rindu, harapan, penungguan, patah hati, dan lain-lain. Tentu, sudah sangat banyak pula puisi-puisi bertemakan cinta yang lahir dari tangan orang biasa sampai penyair ternama. Cinta dan kawan-kawannya itu menjadi hal yang paling puitis. Cinta menjadi topik puisi segala musim. Orang yang sedang mengalami musim jatuh cinta sampai orang yang sedang mengalami musim patah hati bisa menulis puisi.

Namun, topik yang universal ini tidak serta-merta mudah ditulis sebagai sebuah puisi. Banyak orang yang terjebak dalam sempitnya pandangan terhadap cinta dengan menganggap cinta sebagai sebatas hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap sempitnya tema puisi yang ditulis. Kesulitan lain adalah pemilihan kata dalam puisi. Kesulitan ini membuat orang yang menulis puisi kurang tepat memilih kata sehingga puisi yang dibuat akhirnya lebih mirip rayuan-rayuan yang digunakan dalam acara lawak di tv.

Selain itu, upaya untuk tidak terlalu terpengaruh dengan puisi yang pernah atau sering dibaca juga merupakan kesulitan tersendiri yang harus dihadapi dalam menulis puisi, termasuk puisi bertemakan cinta.

Mungkin, menulis puisi bertemakan cinta sama sulitnya dengan memahami cinta itu sendiri.
Saya menganggap Wulan berhasil menyampaikan cinta melalui puisi sekaligus mengabadikannya karena Wulan berhasil menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut.

Hal ini terlihat dari dua hal, yaitu tema dan pemilihan kata. Tema dalam antologi ini cenderung seragam, yaitu tentang cinta. Namun, pengetahuan, perasaan, dan pengalaman Wulan membuat tema cinta yang ia tulis dalam antologi ini menjadi lebih beragam. Wulan mampu menyampaikan cinta kepada banyak hal dengan banyak cara. Hal ini juga diikuti dengan usaha yang baik dari Wulan dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam puisi-puisinya.

Cinta adalah tema utama dalam antologi ini. Sebagai seorang perempuan dan masih muda, Wulan menempatkan dirinya langsung dalam puisi-puisinya. Hal ini terlihat dari banyaknya puisi yang menggunakan kata ganti “aku”. Ia juga membiarkan dirinya tampil apa adanya sebagai seorang perempuan dalam puisi-puisi yang ia buat. Sebagai seorang perempuan muda juga, Wulan mengungkapkan cintanya dengan berbagai cara dan rupa.

Yang pertama ia mengungkapkan cintanya secara langsung. Beberapa puisi seperti telanjang. Menggambarkan cinta sederhana. Apa adanya. Mereka memang puisi cinta yang tidak dapat dibantah lagi. Ada yang menandakan bahagia dan dimulainya suatu babak baru dalam suatu hubungan, seperti “Membaca Pagi”, “Santap Malam”, “Surat Cinta”, dan “Secangkir Cinta”. Dalam puisi-puisi tersebut cinta ditampilkan dengan sederhana dan apa adanya. Mungkin dalam hal ini Wulan sedang berada pada musim jatuh cinta. Hanya ada cinta, doa, harapan, dan puisi, seperti kutipan puisi berikut.

tidak ada yang lebih kuyakini selain pagi
pagi yang dihidangkan penuh puisi
serta ucapan selamat pagi dari kekasih hati
(Membaca Pagi, hlm.10)

Sayang, bagaimana kalau aku mati setelah menikmati
hidanganmu? tanyamu
kau akan mati bahagia, jawabku
begitulah caraku bunuh diri kelak, katamu
kurasa diracun cinta bukanlah dosa, kataku
(Santap Malam, hlm.12)

Ada pula yang menandakan kerinduan. Kerinduan yang Wulan sampaikan dalam puisi-puisinya adalah kerinduan yang begitu kompleks. Tidak hanya rindu antara kekasih, tetapi juga rindu pada ayah, rindu pada sahabat, rindu pada suatu tempat, rindu pada suatu masa, dan rindu pada kenangan. Puisi dengan subtema kerinduan ini merupakan puisi dengan jumlah yang paling banyak di antologi ini. Mungkin Wulan menganggap rindu adalah hal yang paling seksi dalam cinta.

Hal ini bisa dibaca pada puisi “November Bapak”, “Surat Lena”, “Untuk Jo”, “Denpasar Aku Merindukanmu”, “Zwolle”, “Menggapai Seribu Rindu”, “La Rochelle”, “Dari Karangasem”, “Kabar dari Zwolle”, dan lain-lain. Judul-judul puisi tersebut memperlihatkan bahwa rindu selalu membuntuti langkah seseorang. Tidak peduli tempat dan waktu. Kenangan pada sesuatu bisa menjadi semacam dokumentasi dalam pikiran yang dapat dilihat sewaktu-waktu ketika rindu datang. Dalam puisi-puisi dengan subtema kerinduan ini, Wulan seolah-olah menyatakan bahwa kerinduan tidak akan bisa terlepas dari kenangan, kecemasan, dan penungguan. Berikut adalah beberapa penggalan puisi-puisi tersebut.

ingatan kembali ke masa semula
saat kita berjanji bertemu
di pinggiran Zwolle
menanam bunga dan menyusuri sungai
(Zwolle, hlm 36)

Walau senja selalu liar menyambut mimpi remaja
aku tetap memeluk kerinduan untukmu, Denpasar
(Denpasar, Aku Merindukanmu, hlm 68)

Bapak, lemparkanlah cintamu pada kami yang merindu
Katakan kau melihat kami bahagia. Katakan, katakanlah.
Entah dalam sunyi, katakanlah. Kami menanti.
(November Bapak, hlm 8)

Yang kedua, Wulan menyampaikan cinta melalui kisah-kisah yang sudah dikenal sekaligus menceritakan kembali kisah-kisah (cinta) yang terkenal itu. Wulan menampilkan kembali cerita rakyat dan sejarah, seperti pada puisi “Kelahiran Layonsari”, “Asmara di Semarapura”, “Di Pundak Jaya Pangus”, “Kepada Jaya Pangus”, dan “Wisanggeni”. Dalam hal ini, cinta dinyatakan tidak sebatas hubungan. Cinta juga adalah kekuatan dan direkonstruksi sebagai penanda suatu kehidupan yang baru.

sebab tak ada setia yang terucap
terlebih cinta hanya pura-pura
di sela pertapaanmu
…………………………..
siapakah pemilik setiamu?
perempuan Cina tanpa permata di bibirnya?
(Kepada Jaya Pangus, hlm 52—53)

Darahmu yang sejati
adalah belati bagi lelaki
yang memuja birahi
maka kelahiranmu dalam sepi
serupa anggur segar murim gugur
biarkan angin utara mencium getarmu
untuk pemudi yang haus asmara
(Kelahiran Layonsari, hlm 2)

Tema tentang cinta dan kawan-kawannya tersebut disampaikan oleh Wulan dengan bahasa yang baik. Secara umum, Wulan memilih kata-kata dan menggunakannya dengan baik. Wulan banyak mengulang kata “cinta” dan “rindu” dalam satu puisinya, tetapi ia melalukannya dengan rapi sehingga tidak terkesan monoton. Wulan juga memperhatikan keindahan bunyi dalam puisi-puisinya meskipun banyak puisinya yang naratif, seperti penggalan puisi berikut.

sejauh kau melangkah, sejauh kau berlabuh
kau tetap menjadi Lovina tanpa senja
jika tak tahu rupa bahagia
(Lovina)

Aku selalu menyuguhkan minuman
bukan kopi, teh, atau susu
hanya secangkir cinta
kurasa cukup melepas rindu
di hari ulang tahunmu
(Secangkir Cinta, hlm 22)

dan kau selalu berkata,
karena kita adalah semesta
yang tak selalu pasti
maka keyakinan adalah kepastian
paling sederhana untuk kita miliki
(Sebuah Nama, hlm 76)

Dalam beberapa puisi, Wulan menggunakan kata atau istilah dari luar bahasa Indonesia, seperti bahasa Bali dan bahasa Prancis. Penggunaan kata dari luar bahasa Indonesia ini sebenarnya adalah hal yang bagus, terutama untuk lebih mendukung tema puisi yang dibuat. Akan tetapi, penggunaan kata-kata ini perlu diperhatikan. Tujuannya adalah mendapatkan makna yang tepat dan utuh serta agar bisa dibaca oleh pembaca yang lebih universal. Misalnya kata-kata yang dicetak tebal dalam puisi berikut.

mungkinkah kau damai
yang selalu menyekah upakara
kerinduanku?
hening
bening
(Buat Ning, hlm92)

………………………………………………………….
kita tak akan betah menebak wajah sejarah
karena kita adalah wajah-wajah kawitan
yang mengeja doa dengan terbata
………………………………………………………..
(Asmara di Semarapura, hlm 9)

Penggunaan kata menyekah ,upakara, dan kawitan dalam puisi tersebut perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan makna yang berbeda jika dicari maknanya dalam bahasa Indonesia atau tidak tercantum maknanya dalam bahasa Indonesia. Ketidaktepatan penggunaan kata dapat berujung pada tidak sampainya makna puisi yang diinginkan penulis. Selain itu, latar budaya yang dibawa oleh masing-masing kata asing juga perlu diperhatikan dan dipahami secara mendalam agar penggunaan kata-kata tersebut tepat untuk menyampaikan suatu makna dalam puisi.

Akhirnya, sebagai suatu karya mula dari penulis muda, antologi ini patut dibaca. Antologi ini patut dibaca untuk mengetahui gambaran perkembangan karya penulis muda. Antologi ini patut dibaca sebagai pemantik semangat bagi penulis muda lainnya. Yang paling sederhana, antologi ini patut dibaca sebagai suatu dokumentasi cinta bagi siapa saja. Antologi ini adalah bukti keberhasilan dan keberanian seorang perempuan muda mengabadikan dua sisi cinta dalam hidupnya saat kebanyakan orang ingin membuang sisi gelapnya. Berbahagialah, Wulan!

Kemenuh, Mei 2017

Tags: BukucintaPuisiresensi
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan dengan Rambut Merah Menyala

Next Post

Anak Sekolahan “Memainkan” Putu Wijaya – Catatan Festival Monolog di SMA Bali Mandara

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Anak Sekolahan “Memainkan” Putu Wijaya – Catatan Festival Monolog di SMA Bali Mandara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co