12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngobrol Bersama Faisal Kamandobat: “Kavaleri Malam Hari”, Gus Dur, dan Puisi Spiritual

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Khas

PERTENGAHAN Juni nanti, dunia kesusastraan Indonesia akan kembali dibikin semarak dengan hadirnya antologi puisi bersama “Kavaleri Malam Hari”. Antologi tersebut memuat karya-karya 17 penyair muda Indonesia yang, menurut editor antologi tersebut, penuh vitalitas dan nilai-nilai spiritualitas. Tak hanya menghimpun karya-karya para penyair muda, antologi tersebut juga dilengkapi dengan karya grafis beberapa maestro seni rupa Indonesia.

Sambil menunggu rampungnya proses penerbitan antologi tersebut, redaksi tatkala.co berkesempatan melakukan wawancara dengan Faisal Kamandobat—penyair, peminat masalah sosial, budaya, dan seni rupa—yang berperan sebagai editor antologi puisi Kavaleri Malam Hari. Sebagai informasi, sehari-hari Faisal bergiat di Abdurahman Wahid Center Univeritas Indonesia (AWC-UI). Antologi ini juga terbit atas kerjasama lembaga tersebut dengan penerbit baru asal Yogyakarta, Quark.

Berikut petikan wawancara kami.

Antologi ini, dalam iklannya, mengusung tawaran besar berlabel “sajak-sajak spiritual dan sosial”. Bisa dijelaskan maknanya?

Tema spiritual dan sosial bukan hal besar dan baru di negeri ini, keduanya telah menjadi bagian sehari-hari masyarakat selama berabad-abad. Jika diperhatikan, serat-serat, tembang-tembang, ritual-ritual, dan materi-materi budaya masyarakat kita, hampir semuanya terkait dengan dimensi spiritual, yaitu pengalaman ruhani masyarakat dalam hubungannya dengan dimensi Ilahiah yang suci.

Pengalaman ruhani tersebut mengejawantah dalam relasi sosial di antara mereka, membentuk norma, etika, dan orientasi hidup bersama. Itulah yang kita dapatkan manakala menyimak pantun Melayu, kakawin dan suluk di Jawa, tembang manaholo di Rote, kawoking di Sumba, kabanti di Buton, dan sebagainya. Dimensi spiritual dan sosial tak terpisahkan dari bangsa ini. Keduanya merupakan kesatuan yang membentuk narasi dari realitas dan historisitas kita—sekaligus menjadi salah satu warisan humanis yang paling berharga.

Gus Dur pernah bilang, “guru spiritual saya adalah realitas dan guru realitas saya adalah spiritualitas”. Dengan mengatakan itu, beliau sedang menunjuk realitas sosial yang amat spiritual, di mana beliau lahir, tumbuh dan mengabdi.

Lantas, tujuan dan fungsi mengusung tema itu apa?

Berdasar pernyataan di atas, tujuan kami mengusung tema spiritual dan sosial dalam puisi modern Indonesia adalah usaha merawat dan mengembangkan warisan berharga itu ke dalam bentuk artistik, konteks, audiens, dan bahkan visi yang berbeda.

Di tengah maraknya fenomena politisasi agama yang membawa nilai-nilai spiritual tapi berada di luar pesan intinya, puisi-puisi spiritual dan sosial dapat mengingatkan kita tentang perlunya ketaatan pada pesan hakiki dari Ilahi, memperluas pemahaman, memperdalam penghayatan, dan mengekspresikannya secara kreatif dan imajinatif.

Puisi, dalam hal ini, bukan semata menegaskan nilai-nilai ideal yang sudah ada, tetapi sebuah usaha merekonstruksi realitas dan sejarah kita dengan cara yang baru, segar, dan penuh vitalitas. Puisi adalah kunci pembuka bagi kondisi kemanusiaan tertentu agar keluar dari realitas ruhani dan sosial yang tengah dibekukan oleh kekuasaan dan aparatus penegaknya: ideologi politik, institusi, program-program, dan gerakan-gerakannya.

Oke, sebagai editor, Anda siap mempertanggungjawabkan “label” dan isi antologi ini?

Pada dasarnya, kami—saya dan Ahmad Syafiq, Ketua AWC-UI sekaligus ahli kesehatan dan penyuka fotografi serta seni —tidak menentukan batasan tentang spiritualitas dan manifestasi sosialnya ke dalam doktrin religius, model interpretasi, atau bentuk ekspresi tertentu. Apa yang kami lakukan adalah memperhatikan fenomena tersebut di kalangan para penyair muda yang cukup kami kenal, melihat bagaimana mereka melakukan tafsir dan ekspresi dari pengalaman spiritual masing-masing—sesuai keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan ekspresi yang disukai.

Jujur saja, vitalitas, komitmen, juga kreativitas mereka terkait hal ini sangat mengagumkan.

Bisa sedikit dijelaskan ragam—atau boleh juga kecenderungan—puisi-puisi dalam antologi ini?

Dalam “Kavaleri Malam Hari”, ada penyair yang berangkat dari pemahaman konseptual dan struktural terkait persoalan sosial, lantas mengekspresikannya dalam puisi panjang yang intens dan bertenaga. Di sisi lain, ada juga penyair yang berangkat dari pemahaman partikular dan kritis terkait kondisi sosial, lalu mengemukakan gagasannya lewat puisi dengan ekspresi yang padat, sublim, dan kadang disertai humor mengenai keterbatasan manusiawi kita.

Berbagai macam pemahaman dan ekspresi itu kami tampung dalam buku ini, sebaik yang bisa kami lakukan—sebagaimana para penyair dalam antologi ini telah melakukannya juga dengan kualitas, budi, dedikasi, dan karya-karyanya.

Menarik bahwa antologi ini terbit atas kerjasama AWC-UI—lembaga yang notabene fokus pada riset-riset masalah demokrasi, perdamaian dunia, serta penyelesaian konflik sosial—dengan penerbit Quark. Apa yang membuat AWC-UI bersedia menerbitkan antologi ini?

Antologi puisi ini terbit bukan dari program yang telah terjadwal di AWC-UI, tapi lebih karena inisiatif sukarela dari sejumlah individu di lembaga tersebut, terutama mereka yang berminat terhadap seni.

Kegiatan sukarela semacam ini, jauh sebelum proyek antologi ini, pernah kami lakukan juga dalam bidang fotografi. Di situ, kami mengangkat tema yang kurang lebih serupa bersama sejumlah fotografer yang memiliki komitmen dan visi yang sejalan dengan kami.

Dan, bukan kebetulan jika puisi mendapat giliran. Kita tahu betapa Gus Dur adalah pribadi yang amat mencintai sastra dan bahkan pernah membahas beberapa karya sastra di dalam artikel-artikelnya. Beliau berpandangan, begitu juga dengan kami, bahwa sastra dapat meningkatkan potensi dan kualitas kemanusiaan kita.

Lepas dari persoalan inisiatif tadi, dalam sebuah penelitian kami, sastra—terutama sastra tradisi—rupanya menjadi salah satu faktor penting bagi masyarakat untuk bertahan hidup di tengah tekanan. Sastra mentransformasikan nilai-nilai dan formasi sosial di tengah perubahan yang teramat cepat dan penuh ketimpangan. Itulah yang kami temukan pada beberpa komunitas di Sumba, Lombok, Sumatra Utara, Kalimantan, dan beberapa daerah lain. Dalam sastra, manusia sebagai entitas yang dinamis dan kompleks dapat ditangkap lebih jelas, komplit, dan menarik dibanding dalam statistik dan eksposisi hasil penelitian akademis.

Jadi, sastra khususnya dan seni pada umumnya telah melengkapi ranah dan pendekatan yang kami butuhkan dalam pekerjaan kami: ia diplomat yang menghubungkan imajinasi dan ilmu, manusia dan jagad raya, serta kekayaan manusiawi dari berbagai wilayah dan zaman. Antologi puisi sederhana ini hanyalah partikel di tengah horison visioner yang teramat besar itu. Meski begitu, semoga ia dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Dengan kata lain, AWC-UI masih percaya bahwa puisi masih punya makna di tengah riuhnya kata-kata dalam kehidupan kita saat ini?

Pendeknya, ya. Jika kita melihat khazanah Nusantara, di sana puisi merupakan hal yang penting dan kuat dalam kehidupan. Setiap hari mushola-mushola masih mengumandangkan syair pujian, sanggar-sanggar menyenandungkan mocopat dan pantun, dan ritual-ritual masyarakat juga masih menyertakan puisi tradisional mereka di dalamnya. Dalam konteks tersebut, puisi membentuk orientasi, memperdalam internalisasi nilai, dan mengikat kehidupan yang profan dan sementara dengan realitas sakral yang kekal. Di tengah banjir infomasi di media massa dan media sosial, masyarakat—terutama di perdesaan—akan berpulang pada puisi-puisi semacam tadi, menengankan dan memulihkan batinnya kembali, untuk selanjutnya melakoni kehidupan sebagai fitrah Ilahi.

Melihat kenyataan di atas, puisi dan sastra adalah hal yang amat penting bagi kehidupan kita.

Namun demikian, sastra modern Indonesia memiliki posisi, fungsi, dan lingkungan yang berbeda dengan sastra-sastra tradisional Nusantara. Sastra modern mungkin lebih popular dan inovatif, namun pengaruh sosio-kulturalnya belum sekuat sastra-sastra tradisional. Banyak sastra tradisional dianggap sebagai pusaka bagi masyarakat—sastra semacam itu dibaca, dipahami, dan diamalkan sedemikian rupa. Sedang sastra modern belum sampai pada posisi sekuat dan sedalam itu secara sosial, terlebih indeks literasi kita belum cukup baik.

Jika demikian, apa yang dikehendaki dari terbitnya antologi semacam ini?

Antologi puisi ini berusaha mengangkat tema yang dekat dengan sastra tradisional, dengan harapan sastra modern kita tidak berhenti di media massa dan di atas buku-buku, namun juga di atas sejarah dan realitas masyarakat itu sendiri.

Oke, sejauh mana puisi bisa dipercaya punya peran agar turut serta membangun kehidupan yang lebih baik?

Puisi bisa ikut membangun kehidupan yang lebih baik jika masih megandung kebajikan dan kebenaran. Terutama sekali bukan kebajikan dan kebenaran normatif yang disampaikan secara monoton dan konvensional, melainkan kebajikan dan kebenaran yang telah diolah menuju pemahaman yang lebih hakiki dan kontekstual, serta disampaikan secara inovatif dan komunikatif.

O iya, ada 17 penyair muda dalam kumpulan ini. Apa kriteria editor memilih ke-17 penyair tersebut?

Tidak ada kriteria khusus mengapa kami memilih 17 penyair ini. Kami melakukannya dengan meminta puisi sejumlah penyair muda yang kami kenal, kemudian mereka memberi tahu teman-temannya dan mengirimkan karya-karyanya kepada kami. Jadi, prosesnya bersifat kekeluargaan. Kami lantas memilih sejumlah karya dari karya-karya yang mereka kirimkan sesuai tema yang kami tawarkan, menimbang kekuatan puisi-puisi mereka berdasarkan gagasan dan pesan yang disampaiakan, serta melihat intensi, efektivitas, vitalitas dan kematangan bahasa mereka.

Banyak dari mereka menulis sajak-sajak panjang yang mengagumkan karena jarang kami temukan di media massa, juga sajak-sajak pendek yang kuat dan sublim. Namun, tidak semua sajak dapat dimuat dalam antologi ini karena keterbatasan halaman atau karena temanya kurang sesuai dengan konsep antologi ini.

Untuk karya-karya tersebut, semoga bisa segera disambut oleh buku-buku lain demi menyuarakan pesan, menyampaikan keindahan, kekuatan dan kedalamannya kepada publik pembaca yang luas.

Berapa lama proses penerbitan buku ini? Mulai dari perencanaan, kurasi, hingga cetak.

Berkat kebaikan semua pihak yang terlibat, proses berjalan cukup singkat, mungkin sekitar sebulan. Proses terbit jadi sedikit lebih lama karena ada masalah administrasi di pihak penerbit, juga dan antrean panjang di percetakan. Pertengahan ramadan, semoga buku ini sudah bisa dinikmati oleh para pembaca.

Dalam iklan—maksudnya dalam 3 poster yang sudah mulai marak beredar di media sosial—ada disebut bahwa kumpulan ini dilengkapi dengan karya-karya grafis sejumlah perupa Indonesia. Siapa saja mereka?

Para perupa yang kami ajak bekerjasama yakni Djoko Pekik, Heri Dono, Nasirun, Tisna Sanjaya, Hanafi, Bob Sick Yudhita Agung, serta Ahmad Syafiq. Nama terakhir kami sertakan karya fotografinya.

Apa pertimbangan memasukkan karya-karya para perupa yang notabene tidak tergolong muda itu, dalam antologi 17 penyair muda?

Pertimbangannya, karya-karya mereka disertakan karena pesan dalam karya-karya para perupa berpengalaman itu kurang lebih senada dengan puisi-puisi dalam antologi ini. Dengan begitu, antara puisi dan karya rupa bisa saling menjelaskan satu sama lain, dengan bahasa ungkap dari bidang seni dan generasi yang berbeda.

Selain itu, di tengah masyarakat yang semakin visual, kehadiran karya rupa juga akan membuat buku ini tampil lebih kaya dan komunikatif—strategi menghadapi para pembaca yang beragam minat dan seleranya.

Adakah penerbitan karya kreatif-kolaboratif semacam ini bakal terus dilakukan AWC ke depannya?

Jika penerbitan antologi ini mendapat sambutan baik dari masyarakat, baik publik sastra, seni rupa, dan pembaca yang lebih luas, sangat mungkin pihak AWC-UI akan menerbitkan karya semacam ini sebagai agenda tahunan dari program humanitarian. Terlebih jika muncul beragam gagasan yang menarik serta adanya pihak-pihak yang dapat diajak bekerjasama. Ini akan menjadi terobosan dalam diplomasi budaya di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi secara sosio-kultural sebagai dampak dari maraknya politisasi dan kontestasi budaya.

Terakhir, kepada siapakah pembaca bisa memesan buku ini?

Kepada Penerbit Quark, saudara Irwan A Segara dan Mario F. Lawi—keduanya bisa disapa di facebook, instagram, maupun twitter. Mereka juga akan mendistribusikan antologi ini ke toko-toko buku terdekat setelah bukunya lahir dari rahim percetakan. (T/ZS)

Tags: BukuGus DurPuisisastraSpiritual
Share438TweetSendShareSend
Previous Post

Saya Ingin jadi Koruptor

Next Post

Perempuan dengan Rambut Merah Menyala

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post

Perempuan dengan Rambut Merah Menyala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co