27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Humor Satir ala Etgar Keret – Ulasan Buku “The Seven Good Year”

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Ulasan

Buku : The Seven Good Year
Penulis : Etgar Keret
Penerjemah : Ade Kumalasari
Hal : 198 hlm
Penerbit : Bentang
Cetakan 1 : Juni 2016
ISBN : 978-602-291-200-2

MEMOAR-MEMOAR yang di tulis Etgar Keret begitu ringan dan mudah dipahami pembacanya. The Seven Good Years sebenarnya menceritakan akan 7 tahun kehidupan di Tel Aviv bersama Lev putranya dan Shira istrinya. Gaya bertutur yang unik dan humoris mengingatkan kita pada almarhum Gerson Poyk, sastrawan kita kelahiran Kupang yang belum sebulan ini berpulang. Etgar mengemasnya dengan sangat apik dan ringan bergaya cerita pendek.

Buku The Seven Good Year dibagi 7 bab sesuai tujuh tahun perjalanan hidupnya, di dalamnya tidak hanya kehidupan pribadi saja tapi kritik sosial dan politik juga tersaji. Seperti kita ketahui bahwa Etgar Keret ini adalah seorang penulis beragama yahudi yang hidup di Israel berdekatan dengan Palestina notabene Islam berseteru pemerintahan Zionis. Peristiwa mengebom ke kota Tel Aviv oleh gerakan Hamas garis keras sudah jadi kebiasaan rutinitas dan pemandangan sehari, itu terlihat pada kisah Pastrami di bab tahun Ketujuh.

Dalam “Pastrami” menceritakan saat ia sekeluarga berkunjung ke utara Tel Aviv menemui saudara disana dan ditengah jalan ada sirene peringatan serangan udara. Lev anaknya ketakutan, Etgar harus membujuk dia agar tidak takut dengan cara membuat permainan roti pastrami (makanan khas Israel).

“Kamu mau bermain game roti tangkup pastrami” aku bertanya kepada Lev.”Apa itu? Dia bertanya, tidak mau melepaskan tanganku.

“Mommy dan aku adalah sekerat roti” aku menjelaskan, “Dan kamu adalah sepotong pastrami, dan kita harus membuat roti tangkup pastrami secepat yang kita bisa. Ayo, pertama kamu tengkurap diatas Mommy” kataku dan Lev berbaring pada punggung Shira dan memeluknya sekuat dia bisa. Aku tengkurap di atas mereka, menahan dengan tanganku di tanah yang lembab agar tidak menekan mereka. Hal 191

Persoalan yang sensitif tentang agama pun ditanggapi santai Etgar, sempat ia diundang oleh Ubud Writer dan Reader Festival di Bali. Sang ayah korban Holocaust Jerman menguatirkan anaknya datang ke Indonesia, gerakan anti Semit dan pembakaran bendera Israel di Jakarta membikin ngeri.

Tapi Etgar menanggapi dengan nyeleneh, ia hanya menunjukkan wikipedia bahwa di Ubud Bali itu mayoritas beragama Hindu dan tak mungkin mereka menanyakan agama apa yang ia anut setibanya di sana. Cuplikan itu tercantum dalam bab tahun kedua dalam kisah “Teman Tidur Yang Aneh”

Tidak hanya itu Etgar juga mengkritik tentang korupsi yang terjadi di negaranya tapi sekali lagi dengan ungkapan yang menggemaskan. Menurut dia semua koruptor itu kucing, ini dikarenakan ia berkiblat pada Lev anaknya.

Pada suatu hari Etgar dipanggil gurunya Lev bahwa anaknya suka memakan permen coklat yang diberikan juru masak sekolah. Peraturan dalam sekolahnya tidak boleh memakan coklat di lingkungan sekolah tapi Lev melanggarnya. Etgar bertanya kepada Lev “Kenapa kau lakukan itu?” jawaban dari Lev “Aku ini bukan manusia tapi kucing..meoow..meow”

Jawaban itu membuat Etgar berimajinasi tinggi mengapa pejabat negara suka korupsi, ternyata semua itu bukan manusia tapi kucing. Semua itu tersaji dalam bab tahun kelima dalam esai Kucing Gemuk, betapa herannya Etgar kenapa sekelas perdana menteri Ehud Olmert melakukan korupsi, ia juga tidak kelaparan atau miskin. Khayalan Etgar terpampang dalam rangkaian dialog antara hakim dan Olmert.

“Jaksa : Tuan Olmert, apakah anda sadar bahwa pemalsuan dan penipuan adalah melanggar hukum?

Olmer : Sebagai mantan perdana menteri yang bermoral dan taat pada hukum, saya sepenuhnya sadar bahwa keduanya melanggar hukum untuk semua warga negara ini. Tetapi kalau anda membaca hukum di negeri ini dengan hati-hati. Anda akan melihat bahwa mereka tidak bisa diterapkan pada kucing! Dan saya, Tuan. Telah dikenal oleh seluruh dunia sebagai kucing gemuk yang malas…..
…meow..meow..meow
hal 111

Etgar sebagai seorang Yahudi selalu dihantui oleh paranoid jika beredar di luar negeri. Ia merupakan anak generasi kedua yang selamat dari peristiwa Holocaust-pembasmian ras yahudi di Jerman. Begitu paranoid akan kata-kata ”Juden Raus” yang artinya Yahudi Keluar, ini terjadi pada saat Etgar mengikuti festival buku di Jerman. Saat malam ada seorang mabuk Jerman masuk restoran terus mengatakan “Juden Raus..Juden Raus” dipikir itu menghina dia hingga mendatangi pemabuk tersebut.

“Aku mendatangi orang itu, lalu berkata dalam bahasa Inggris dengan nada yang mencoba terdengar tenang,”Aku seorang yahudi. Anda ingin mengeluarkanku dari sini? Ayo lakukan saja, keluarkan aku!” Orang Jerman itu, yang tidak mengerti satu kata pun dalam bahasa Inggris, tetap berteriak dalam bahasa Jerman, dan tidak berapa lama kemudian, kami melakukan aksi saling dorong” hal 35

Etgar sebelum menjadi penulis dan dosen pengajar adalah seorang tentara berumur 19 tahun. Ia ditempatkan di kamp dalam ruangan bawah tanah yang dingin dengan shift panjang. Dalam waktu yang senggang itu Etgar iseng menulis sebuah cerita pendek yang menurut ia bagus. Ia coba menunjukkan itu ke kakaknya yang sedang membawa anjing mereka jalan sambil membaca tulisan Etgar.

“Cerita ini bagus” kata kakakku. “Mengesankan. Kamu punya salinannnya” Aku bilang, aku punya. Dia memberiku senyuman kakak yang bangga kepada adiknya, kemudian dia membungkuk dan menggunakan kertas itu untuk mengambil kotoran anjing dan membuangnya ke tempat sampah.
Itu adalah momen ketika aku menyadari bahwa aku ingin menjadi seorang penulis.
hal 123

Tulisan-tulisan Etgar ini layaknya menertawakan kehidupan karena tawa adalah obat terbaik akan kesedihan daripada menyesalinya. Dikemas dengan humor gelap dan sindiran-sindiran yang membuat kita ketawa sendiri.

Sesuatu menghibur memoar-memoar yang ditulisnya, semua itu memang nyata ada dimasyarakat kita. Kita diajak untuk ketawa bahwa serumit apapun kehidupan, dibuat tetap waras. Anda perlu ketawa ala Etgar Keret penulis yang lahir di Rahmat Gan-Israel 20 Agustus 1967 ini. (T)

Tags: Bukuresensi
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

“Rumah” bagi Anak Punk

Next Post

Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co