2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia Film Lokal Buleleng Tahun 1970 – Diputar Keliling Desa, Tiketnya 25 Rupiah

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Khas

Salah satu adegan dalam film Mayadenawa/youtube

PADA awal tahun 1970 Buleleng pernah memiliki semacam pusat industri film. Lokasinya di sebuah rumah sederhana di kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Meski tak bisa disandingkan dengan industri film di Jakarta, apalagi dengan Bollywood di India atau Hollywood di AS, namun untuk ukuran sebuah kota kecil, geliat industri film di Singaraja pada masa lampau itu bisa dijadikan sebuah tonggak sejarah besar dalam perkembangan sinema di Bali, bahkan Indonesia.

Sejumlah orang di Buleleng yang sedang remaja pada tahun 1970-an pasti masih ingat bagaimana berbagai desa di Buleleng sempat disuguhi film produksi lokal dengan cerita-cerita lokal. Bukan hanya di desa-desa di Buleleng, film itu juga merambah desa di wilayah Jembrana dan Karangasem.

Saat itu film nasional dengan pemain-pemain terkenal, seperti Bing Slamet bersama grup lawak Kwartet Jaya, memang sudah melanda dunia hiburan di pedesaan Bali. Namun film produksi Singaraja tetap mendapat tempat dan sambutan meriah. Justru karena film Bali Utara itu tak bisa dibandingkan dengan film nasional saat itu, terutama dari segi kekhasan ceritanya.

Jika film nasional menggunakan artis ibukota, maka film produksi lokal itu menghadirkan pemain-pemain lokal yang kadang sering dilihat dalam keseharian. Bahasa yang digunakan bahasa Bali. Kostumnya khas Bali seperti kostum dalam seni pertunjukkan tradisional. Setting-nya juga di wilayah-wilayah yang dikenal oleh penonton.

“Sehingga secara emosi para penonton merasa lebih dekat, akrab bahkan seperti ikut bermain di dalamnya,”  kata Anak Agung Ngurah Sentanu.

AA Ngurah Sentanu

Siapa Ngurah Sentanu? Dia-lah pada zaman itu sebagai anak muda kreatif yang punya “keinginan besar” untuk menciptakan film khas Buleleng. Ia tak bisa dipisahkan dengan munculnya industri perfilman di Singaraja tahun 1970-an.

Berawal dari kesukaannya bereksperimen dengan kamera, ia kemudian mendirikan semacam production house dengan nama Bhaskara Film, di mana ia sendiri bertindak sebagai produser, sutradara, penulis skenario, pencatat adegan, dan pekerjaan lainnya. Memang selama lima tahun ia hanya mampu memproduksi empat film, ”Karmapala” (1970), ”Mayadenawa” (1972), ”Jaya Umbara” (1973) dan ”Titah Dewata” (1974), namun demam film lokal yang ia ciptakan sempat mewabah hingga ke berbagai desa di Bali.

Awal kemunculan industri film di Singaraja itu diakui Sentanu sebagai sesuatu yang serba kebetulan. Begitu lulus dari STM elektro di Surabaya, ia bekerja serabutan sebagai bengkel radio dan alat-alat elektronik lainnya. Secara kebetulan ia kemudian bertemu dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini Undiksha). Saat itu ia diminta membuat pemancar radio Kumarastana di Jalan Pramuka Singaraja.

Kebetulan juga saat itu FKIP memiliki kamera yang oleh Kuna Winaya diberikan kepadanya untuk melakukan eksperimen. Dari sekadar bermain-main dengan kamera itu kemudian terbersit di benak Sentanu untuk belajar memproduksi film.

Kebetulan juga ia mendapat dukungan dari sejumlah teman seniman yang bersedia menjadi pemain tanpa memperhitungkan bayaran.  Seperti sejumlah seniman di Banyuning, Tukadmungga dan Kalibukbuk. Ada juga pemain drama gong dari Penarungan yang sangat terkenal kala itu. Merasa mendapat dukungan, Sentanu kemudian memberanikan diri membeli sejumlah peralatan, seprti proyektor, alat dubbing, dan lain-lainnya.

Dengan modal semangat dan kekompakan, mulailah ia membuat film “Karmapala”. Dengan hasil yang tak bisa dibilang sempurna, film itu diputar keliling desa di Buleleng. Sungguh mengejutkan, film itu laku, penontonnya selalu melimpah. Bahkan, film itu bisa diputar dua kali dalam semalam di dua desa yang berjauhan.

Merasa dapat sambutan, Sentanu kemudian membuat film kedua dengan judul ”Mayadenawa”. Film ini dibuat secara kolosal dengan kisah klasik yang menceritakan perlawanan antara tokoh kebajikan dan kebatilan. Durasi film inipun dua kali lipat lebih panjang dari ”Karmapala”.

Jika ”Karmapala” durasinya 1,5 jam, ”Mayadenawa” 3 jam. “Ini karena penonton terbiasa menonton drama gong, sehingga minta durasinya diperpanjang,” kenang Sentanu yang lahir 24 Desember 1937 itu.

Proses produksi ”Mayadenawa” ini diakui sangat melelahkan. Proses pembuatannya pun dilakukan lebih dari 1,5 tahun. Selain karena kolosal, proses pembuatan film ini sempat dilanda masalah. Proses syuting sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba pemain utama wanitanya mengundurkan diri karena menikah. Maka terpaksa pengambilan gambar diulang kembali dari awal. Namun, meski melelahkan, para kru dan pemain akhirnya menikmati kepuasankarena film kedua itu mendapat sambutan luar biasa dari penonton.

Film ketiga, ”Jaya Umbara” (1973), dibuat dengan cerita dan setting lebih modern. Namun, film jenis ini ternyata kurang laku. Penonton tampaknya lebih suka cerita-serita klasik seperti ”Mayadenawa”. Maka pada produksi keempatkembali dibuat film gaya klasik berjudul ”Titah Dewata”. Film ini pun kembali mendapat sambutan, apalagi di dalamnya diselipi sejumlah adegan romantic yang bisa mengharu-biru penonton.

Bagi Hasil

Bhaskara Film yang dikelola Sentanu ini bisa dikatakan sebagai production house yang menggarap semua proses dari produksi hingga pemutaran keliling desa. Biasanya film itu diputar di desa-desa dengan sistem bagi hasil. Dari hasil penjualan tiket, Bhaskara dapat pembagian setengah, dan setengah lagi diambi lpanitia.

Harga tiket saat itu paling mahal sekitar Rp 25. Setiap kali pemutaran, biasanya terkumpul hasil penjualan tiket sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Hasil pembagian yang diperoleh Bhaskara, setelah dipotong ongkos minyak mobil,makan dan minum sejumlah kru, paling tersisa bersih sekitar Rp 125 hingga Rp 150. Itu pun belum dihitung untuk biaya penyusutan alat-alat produski, kostum dan honor pemain. “Syukurnya, saat itu pemain tak banyak menuntut honor, apalagi royalti. Semua bekerja dengan senang dan penuh kekompakan,” kata Sentanu.

Hasil pembagian untuk panitia biasanya dipakai untuk membangun fasilitas umum, seperti pembangunan pura, balai desa dan sekolah. Sentanu masih ingat, di Desa Tukadsumaga, Gerokgak, panitia sampai bisa membeli jendela untuk melengkapi peralatan sekolah di desa itu.

“Baru-baru ini saya bertemu seorang guru di Tukadsumaga yang mengaku masih terharu karena bisa membeli jendela sekolah dari hasil pemutaran film made in Buleleng,” ujar Sentanu.

Namun setelah film keempat, produksi Bhaskara pun terhenti. Itu terjadi ketika film-film impor begitu mudah masuk ke desa-desa. Melalui seorang broker di Singaraja, film-film nasional maupun film India dan Hongkong mulai merajalela di Buleleng.

Selain biayanya murah karena hanya menyewa dan bukan memproduksi, judul-judul film itu bisa berganti-ganti setiap minggu. Penonton kala itu sesungguhnya masih kangen untuk menonton film produksi lokal, namun mereka menginginkan agar setiap minggu bisa berganti judul. “Itu mustahil, satu film saja harus dikerjakan selama setahun,” tandas Sentanu.

Kini film-film produksi lokal itu sudah dipindahkan dalam bentuk CD dan juga sudah bisa ditonton di youtube. (T)

 

Tags: bulelengfilmnostalgia
Share335TweetSendShareSend
Previous Post

Sajak Belati

Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co