12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia Film Lokal Buleleng Tahun 1970 – Diputar Keliling Desa, Tiketnya 25 Rupiah

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Khas

Salah satu adegan dalam film Mayadenawa/youtube

PADA awal tahun 1970 Buleleng pernah memiliki semacam pusat industri film. Lokasinya di sebuah rumah sederhana di kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Meski tak bisa disandingkan dengan industri film di Jakarta, apalagi dengan Bollywood di India atau Hollywood di AS, namun untuk ukuran sebuah kota kecil, geliat industri film di Singaraja pada masa lampau itu bisa dijadikan sebuah tonggak sejarah besar dalam perkembangan sinema di Bali, bahkan Indonesia.

Sejumlah orang di Buleleng yang sedang remaja pada tahun 1970-an pasti masih ingat bagaimana berbagai desa di Buleleng sempat disuguhi film produksi lokal dengan cerita-cerita lokal. Bukan hanya di desa-desa di Buleleng, film itu juga merambah desa di wilayah Jembrana dan Karangasem.

Saat itu film nasional dengan pemain-pemain terkenal, seperti Bing Slamet bersama grup lawak Kwartet Jaya, memang sudah melanda dunia hiburan di pedesaan Bali. Namun film produksi Singaraja tetap mendapat tempat dan sambutan meriah. Justru karena film Bali Utara itu tak bisa dibandingkan dengan film nasional saat itu, terutama dari segi kekhasan ceritanya.

Jika film nasional menggunakan artis ibukota, maka film produksi lokal itu menghadirkan pemain-pemain lokal yang kadang sering dilihat dalam keseharian. Bahasa yang digunakan bahasa Bali. Kostumnya khas Bali seperti kostum dalam seni pertunjukkan tradisional. Setting-nya juga di wilayah-wilayah yang dikenal oleh penonton.

“Sehingga secara emosi para penonton merasa lebih dekat, akrab bahkan seperti ikut bermain di dalamnya,”  kata Anak Agung Ngurah Sentanu.

AA Ngurah Sentanu

Siapa Ngurah Sentanu? Dia-lah pada zaman itu sebagai anak muda kreatif yang punya “keinginan besar” untuk menciptakan film khas Buleleng. Ia tak bisa dipisahkan dengan munculnya industri perfilman di Singaraja tahun 1970-an.

Berawal dari kesukaannya bereksperimen dengan kamera, ia kemudian mendirikan semacam production house dengan nama Bhaskara Film, di mana ia sendiri bertindak sebagai produser, sutradara, penulis skenario, pencatat adegan, dan pekerjaan lainnya. Memang selama lima tahun ia hanya mampu memproduksi empat film, ”Karmapala” (1970), ”Mayadenawa” (1972), ”Jaya Umbara” (1973) dan ”Titah Dewata” (1974), namun demam film lokal yang ia ciptakan sempat mewabah hingga ke berbagai desa di Bali.

Awal kemunculan industri film di Singaraja itu diakui Sentanu sebagai sesuatu yang serba kebetulan. Begitu lulus dari STM elektro di Surabaya, ia bekerja serabutan sebagai bengkel radio dan alat-alat elektronik lainnya. Secara kebetulan ia kemudian bertemu dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini Undiksha). Saat itu ia diminta membuat pemancar radio Kumarastana di Jalan Pramuka Singaraja.

Kebetulan juga saat itu FKIP memiliki kamera yang oleh Kuna Winaya diberikan kepadanya untuk melakukan eksperimen. Dari sekadar bermain-main dengan kamera itu kemudian terbersit di benak Sentanu untuk belajar memproduksi film.

Kebetulan juga ia mendapat dukungan dari sejumlah teman seniman yang bersedia menjadi pemain tanpa memperhitungkan bayaran.  Seperti sejumlah seniman di Banyuning, Tukadmungga dan Kalibukbuk. Ada juga pemain drama gong dari Penarungan yang sangat terkenal kala itu. Merasa mendapat dukungan, Sentanu kemudian memberanikan diri membeli sejumlah peralatan, seprti proyektor, alat dubbing, dan lain-lainnya.

Dengan modal semangat dan kekompakan, mulailah ia membuat film “Karmapala”. Dengan hasil yang tak bisa dibilang sempurna, film itu diputar keliling desa di Buleleng. Sungguh mengejutkan, film itu laku, penontonnya selalu melimpah. Bahkan, film itu bisa diputar dua kali dalam semalam di dua desa yang berjauhan.

Merasa dapat sambutan, Sentanu kemudian membuat film kedua dengan judul ”Mayadenawa”. Film ini dibuat secara kolosal dengan kisah klasik yang menceritakan perlawanan antara tokoh kebajikan dan kebatilan. Durasi film inipun dua kali lipat lebih panjang dari ”Karmapala”.

Jika ”Karmapala” durasinya 1,5 jam, ”Mayadenawa” 3 jam. “Ini karena penonton terbiasa menonton drama gong, sehingga minta durasinya diperpanjang,” kenang Sentanu yang lahir 24 Desember 1937 itu.

Proses produksi ”Mayadenawa” ini diakui sangat melelahkan. Proses pembuatannya pun dilakukan lebih dari 1,5 tahun. Selain karena kolosal, proses pembuatan film ini sempat dilanda masalah. Proses syuting sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba pemain utama wanitanya mengundurkan diri karena menikah. Maka terpaksa pengambilan gambar diulang kembali dari awal. Namun, meski melelahkan, para kru dan pemain akhirnya menikmati kepuasankarena film kedua itu mendapat sambutan luar biasa dari penonton.

Film ketiga, ”Jaya Umbara” (1973), dibuat dengan cerita dan setting lebih modern. Namun, film jenis ini ternyata kurang laku. Penonton tampaknya lebih suka cerita-serita klasik seperti ”Mayadenawa”. Maka pada produksi keempatkembali dibuat film gaya klasik berjudul ”Titah Dewata”. Film ini pun kembali mendapat sambutan, apalagi di dalamnya diselipi sejumlah adegan romantic yang bisa mengharu-biru penonton.

Bagi Hasil

Bhaskara Film yang dikelola Sentanu ini bisa dikatakan sebagai production house yang menggarap semua proses dari produksi hingga pemutaran keliling desa. Biasanya film itu diputar di desa-desa dengan sistem bagi hasil. Dari hasil penjualan tiket, Bhaskara dapat pembagian setengah, dan setengah lagi diambi lpanitia.

Harga tiket saat itu paling mahal sekitar Rp 25. Setiap kali pemutaran, biasanya terkumpul hasil penjualan tiket sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Hasil pembagian yang diperoleh Bhaskara, setelah dipotong ongkos minyak mobil,makan dan minum sejumlah kru, paling tersisa bersih sekitar Rp 125 hingga Rp 150. Itu pun belum dihitung untuk biaya penyusutan alat-alat produski, kostum dan honor pemain. “Syukurnya, saat itu pemain tak banyak menuntut honor, apalagi royalti. Semua bekerja dengan senang dan penuh kekompakan,” kata Sentanu.

Hasil pembagian untuk panitia biasanya dipakai untuk membangun fasilitas umum, seperti pembangunan pura, balai desa dan sekolah. Sentanu masih ingat, di Desa Tukadsumaga, Gerokgak, panitia sampai bisa membeli jendela untuk melengkapi peralatan sekolah di desa itu.

“Baru-baru ini saya bertemu seorang guru di Tukadsumaga yang mengaku masih terharu karena bisa membeli jendela sekolah dari hasil pemutaran film made in Buleleng,” ujar Sentanu.

Namun setelah film keempat, produksi Bhaskara pun terhenti. Itu terjadi ketika film-film impor begitu mudah masuk ke desa-desa. Melalui seorang broker di Singaraja, film-film nasional maupun film India dan Hongkong mulai merajalela di Buleleng.

Selain biayanya murah karena hanya menyewa dan bukan memproduksi, judul-judul film itu bisa berganti-ganti setiap minggu. Penonton kala itu sesungguhnya masih kangen untuk menonton film produksi lokal, namun mereka menginginkan agar setiap minggu bisa berganti judul. “Itu mustahil, satu film saja harus dikerjakan selama setahun,” tandas Sentanu.

Kini film-film produksi lokal itu sudah dipindahkan dalam bentuk CD dan juga sudah bisa ditonton di youtube. (T)

 

Tags: bulelengfilmnostalgia
Share335TweetSendShareSend
Previous Post

Sajak Belati

Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co