23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia Film Lokal Buleleng Tahun 1970 – Diputar Keliling Desa, Tiketnya 25 Rupiah

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Khas

Salah satu adegan dalam film Mayadenawa/youtube

PADA awal tahun 1970 Buleleng pernah memiliki semacam pusat industri film. Lokasinya di sebuah rumah sederhana di kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Meski tak bisa disandingkan dengan industri film di Jakarta, apalagi dengan Bollywood di India atau Hollywood di AS, namun untuk ukuran sebuah kota kecil, geliat industri film di Singaraja pada masa lampau itu bisa dijadikan sebuah tonggak sejarah besar dalam perkembangan sinema di Bali, bahkan Indonesia.

Sejumlah orang di Buleleng yang sedang remaja pada tahun 1970-an pasti masih ingat bagaimana berbagai desa di Buleleng sempat disuguhi film produksi lokal dengan cerita-cerita lokal. Bukan hanya di desa-desa di Buleleng, film itu juga merambah desa di wilayah Jembrana dan Karangasem.

Saat itu film nasional dengan pemain-pemain terkenal, seperti Bing Slamet bersama grup lawak Kwartet Jaya, memang sudah melanda dunia hiburan di pedesaan Bali. Namun film produksi Singaraja tetap mendapat tempat dan sambutan meriah. Justru karena film Bali Utara itu tak bisa dibandingkan dengan film nasional saat itu, terutama dari segi kekhasan ceritanya.

Jika film nasional menggunakan artis ibukota, maka film produksi lokal itu menghadirkan pemain-pemain lokal yang kadang sering dilihat dalam keseharian. Bahasa yang digunakan bahasa Bali. Kostumnya khas Bali seperti kostum dalam seni pertunjukkan tradisional. Setting-nya juga di wilayah-wilayah yang dikenal oleh penonton.

“Sehingga secara emosi para penonton merasa lebih dekat, akrab bahkan seperti ikut bermain di dalamnya,”  kata Anak Agung Ngurah Sentanu.

AA Ngurah Sentanu

Siapa Ngurah Sentanu? Dia-lah pada zaman itu sebagai anak muda kreatif yang punya “keinginan besar” untuk menciptakan film khas Buleleng. Ia tak bisa dipisahkan dengan munculnya industri perfilman di Singaraja tahun 1970-an.

Berawal dari kesukaannya bereksperimen dengan kamera, ia kemudian mendirikan semacam production house dengan nama Bhaskara Film, di mana ia sendiri bertindak sebagai produser, sutradara, penulis skenario, pencatat adegan, dan pekerjaan lainnya. Memang selama lima tahun ia hanya mampu memproduksi empat film, ”Karmapala” (1970), ”Mayadenawa” (1972), ”Jaya Umbara” (1973) dan ”Titah Dewata” (1974), namun demam film lokal yang ia ciptakan sempat mewabah hingga ke berbagai desa di Bali.

Awal kemunculan industri film di Singaraja itu diakui Sentanu sebagai sesuatu yang serba kebetulan. Begitu lulus dari STM elektro di Surabaya, ia bekerja serabutan sebagai bengkel radio dan alat-alat elektronik lainnya. Secara kebetulan ia kemudian bertemu dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini Undiksha). Saat itu ia diminta membuat pemancar radio Kumarastana di Jalan Pramuka Singaraja.

Kebetulan juga saat itu FKIP memiliki kamera yang oleh Kuna Winaya diberikan kepadanya untuk melakukan eksperimen. Dari sekadar bermain-main dengan kamera itu kemudian terbersit di benak Sentanu untuk belajar memproduksi film.

Kebetulan juga ia mendapat dukungan dari sejumlah teman seniman yang bersedia menjadi pemain tanpa memperhitungkan bayaran.  Seperti sejumlah seniman di Banyuning, Tukadmungga dan Kalibukbuk. Ada juga pemain drama gong dari Penarungan yang sangat terkenal kala itu. Merasa mendapat dukungan, Sentanu kemudian memberanikan diri membeli sejumlah peralatan, seprti proyektor, alat dubbing, dan lain-lainnya.

Dengan modal semangat dan kekompakan, mulailah ia membuat film “Karmapala”. Dengan hasil yang tak bisa dibilang sempurna, film itu diputar keliling desa di Buleleng. Sungguh mengejutkan, film itu laku, penontonnya selalu melimpah. Bahkan, film itu bisa diputar dua kali dalam semalam di dua desa yang berjauhan.

Merasa dapat sambutan, Sentanu kemudian membuat film kedua dengan judul ”Mayadenawa”. Film ini dibuat secara kolosal dengan kisah klasik yang menceritakan perlawanan antara tokoh kebajikan dan kebatilan. Durasi film inipun dua kali lipat lebih panjang dari ”Karmapala”.

Jika ”Karmapala” durasinya 1,5 jam, ”Mayadenawa” 3 jam. “Ini karena penonton terbiasa menonton drama gong, sehingga minta durasinya diperpanjang,” kenang Sentanu yang lahir 24 Desember 1937 itu.

Proses produksi ”Mayadenawa” ini diakui sangat melelahkan. Proses pembuatannya pun dilakukan lebih dari 1,5 tahun. Selain karena kolosal, proses pembuatan film ini sempat dilanda masalah. Proses syuting sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba pemain utama wanitanya mengundurkan diri karena menikah. Maka terpaksa pengambilan gambar diulang kembali dari awal. Namun, meski melelahkan, para kru dan pemain akhirnya menikmati kepuasankarena film kedua itu mendapat sambutan luar biasa dari penonton.

Film ketiga, ”Jaya Umbara” (1973), dibuat dengan cerita dan setting lebih modern. Namun, film jenis ini ternyata kurang laku. Penonton tampaknya lebih suka cerita-serita klasik seperti ”Mayadenawa”. Maka pada produksi keempatkembali dibuat film gaya klasik berjudul ”Titah Dewata”. Film ini pun kembali mendapat sambutan, apalagi di dalamnya diselipi sejumlah adegan romantic yang bisa mengharu-biru penonton.

Bagi Hasil

Bhaskara Film yang dikelola Sentanu ini bisa dikatakan sebagai production house yang menggarap semua proses dari produksi hingga pemutaran keliling desa. Biasanya film itu diputar di desa-desa dengan sistem bagi hasil. Dari hasil penjualan tiket, Bhaskara dapat pembagian setengah, dan setengah lagi diambi lpanitia.

Harga tiket saat itu paling mahal sekitar Rp 25. Setiap kali pemutaran, biasanya terkumpul hasil penjualan tiket sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Hasil pembagian yang diperoleh Bhaskara, setelah dipotong ongkos minyak mobil,makan dan minum sejumlah kru, paling tersisa bersih sekitar Rp 125 hingga Rp 150. Itu pun belum dihitung untuk biaya penyusutan alat-alat produski, kostum dan honor pemain. “Syukurnya, saat itu pemain tak banyak menuntut honor, apalagi royalti. Semua bekerja dengan senang dan penuh kekompakan,” kata Sentanu.

Hasil pembagian untuk panitia biasanya dipakai untuk membangun fasilitas umum, seperti pembangunan pura, balai desa dan sekolah. Sentanu masih ingat, di Desa Tukadsumaga, Gerokgak, panitia sampai bisa membeli jendela untuk melengkapi peralatan sekolah di desa itu.

“Baru-baru ini saya bertemu seorang guru di Tukadsumaga yang mengaku masih terharu karena bisa membeli jendela sekolah dari hasil pemutaran film made in Buleleng,” ujar Sentanu.

Namun setelah film keempat, produksi Bhaskara pun terhenti. Itu terjadi ketika film-film impor begitu mudah masuk ke desa-desa. Melalui seorang broker di Singaraja, film-film nasional maupun film India dan Hongkong mulai merajalela di Buleleng.

Selain biayanya murah karena hanya menyewa dan bukan memproduksi, judul-judul film itu bisa berganti-ganti setiap minggu. Penonton kala itu sesungguhnya masih kangen untuk menonton film produksi lokal, namun mereka menginginkan agar setiap minggu bisa berganti judul. “Itu mustahil, satu film saja harus dikerjakan selama setahun,” tandas Sentanu.

Kini film-film produksi lokal itu sudah dipindahkan dalam bentuk CD dan juga sudah bisa ditonton di youtube. (T)

 

Tags: bulelengfilmnostalgia
Share335TweetSendShareSend
Previous Post

Sajak Belati

Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post

Bondres Citta Usadhi: Anak-anak “Busul Mincid” di Zaman Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co