23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Esai

Net

Kisah Petani Kopi

DI sebuah desa di Tabanan Kauh, Bali, seorang petani kopi sibuk bekerja di kebun  merabas rumput. Karena rumput sudah tinggi melebihi lutut. Seperti biasa, rumput harus dipangkas, rata-rata 3 kali dalam setahun, agar produksi kopi bisa optimal.

Sambil bekerja Si Petani berharap bisa memetik buah pisang untuk dijual. Hari itu ada satu pohon pisang yang sudah tua. Pikir Si Petani, setidaknya 50-75 ribu rupiah uang pasti didapat dari menjual buah pisang di warung. Kebetulan hari itu Si Petani tak punya uang sepeser pun untuk membeli lauk-pauk bagi anak-anaknya.

Sore hari menjelang pulang, Si Petani bergerak menuju pohon pisang. Batang pisang dipotong sedemikian rupa agar batang pisang rebah perlahan, sehingga buah pisang bisa dipetik dengan mudah.

Sayang seribu sayang, buah pisang yang dalam satu tandannya terdiri dari ratusan buah itu tidak layak dijual. Buahnya kena penyakit. Bagian dalamnya memerah dan hitam. Padahal dari luar kelihatan mulus. Harapan Si Petani lenyap. Ia gagal menjual buah pisang di warung terdekat.

Dengan pikiran kosong, Si Petani beranjak pulang. Ia sudah siap makan dengan lauk ala kadarnya: sambel telengis dan sayuran. Namun, saat menyusuri jalan setapak di kebun, seorang petani tetangganya yang membantu merabas rumput menginformasikan kalau di salah satu pohon kopi ada burung punglor yang bersarang dan kemungkinan sedang beranak.

Di desa itu para petani sudah mahir membedakan suara burung punglor di alam terbuka. Dari suaranya saja, biasanya diketahui burung punglor sedang beranak sekaligus diketahui pula keberadaan sarangnya.

Burung punglor adalah salah satu jenis burung yang banyak dipelihara karena memiliki suara bagus. Anakan burung punglor sudah lama menjadi komuditi pasar yang laris manis di desa itu. Penggemar burung punglor biasanya membeli anakannya agar mudah dilatih sehingga ketika dewasa mampu berkicau bagus. Burung dengan kicau yang bagus memiliki nilai jual tinggi karena mampu memenangkan perlombaan suara burung.

Komunitas dan penggemar burung punglor di Bali dan Indonesia ada ribuan dan sudah eksis sejak lama. Rata-rata harga anakan punglor Rp. 200-250 ribu  per ekor.

Tak berpikir panjang, Si Petani Kopi bergegas mencari ordinat sarang burung punglor seperti yang ditunjukkan oleh petani tetangganya. Benar saja, tidak begitu sulit Si Petani Kopi  menemukan sarang burung punglor itu. Setelah dilihat, jumlah anakannya hanya 1 ekor. Namun tampaknya sudah layak dijual sesuai harga pasar.

Di sisi lain, kecintaan Si Petani Kopi terhadap lingkungan mulai membuatnya ragu. Ia tidak langsung mengambil anakan burung punglor itu di sarangnya. Sejenak ia diam. Ia berpikir panjang antara mengambil atau membiarkan anakan burung punglor itu di sarangnya.

Terbersit rasa kasihan di hati Si Petani Kopi. Ia tidak biasa menjual anakan burung punglor  yang hanya satu ekor itu, walau hal itu sudah lumrah dilakukan oleh warga di desanya. Tetapi di sisi lain, jika tidak diambil ia yakin tidak lama lagi lokasi sarang itu akan diketahui orang lain dan anakannya diambil orang lain untuk dijual.

Setelah merenung sejenak Si Petani Kopi akhirnya memutuskan untuk mengambil saja anakan burung punglor itu. Ia menjualnya ke pengepul. Dan sore itu ia bisa membawa pulang uang Rp. 200 ribu. Anak-anak dan keluarganya pun bisa menikmati lauk-pauk yang agak mewah di meja makan.

Begitulah dinamika kehidupan. Walau Si Petani itu sadar akan makna konservasi lingkungan namun ada kondisi lain yang membuatnya terpaksa melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nuraninya. Begitulah nasib burung punglor, gara-gara suaranya yang merdu, akhirnya ia menjadi komuditi untuk diperjualbelikan.

Garis Wallacea

Di Indonesia terdapat beragam jenis burung peliharaan karena suaranya merdu. Tetapi belum banyak yang tahu kalau dari beragam jenis burung di Indonesia itulah garis Wallace berhasil dipetakan oleh peneliti  kawasan biogeografis flora dan fauna di Indonesia. Salah satunya adalah Alfred Russel Wallace yang melakukan pengamatan dalam perjalanannya menjelajahi lautan Nusantara antara tahun 1854-1862.

Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian akhirnya pada tahun 1863, Wallace menyatakan dengan tegas dalam tulisannya bahwa batas biografis yang bertipe Asia dimulai dari Selat Lombok berlanjut ke Selat Makassar, kemudian berbelok ke arah timur di Selat Filipina yang kemudian terkenal dengan sebutan garis Wallace.

Garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Di Indonesia ada tiga garis biogeografis flora dan fauna yaitu Wallace, Waber dan Lydekker. Antara garis Wallace dengan Ludekker disebut wilayah Wallacea.

Dalam peta garis Wallace terlihat berada di selat Lombok dan Makkasar terus ke atas membelok ke timur Filiphina. Dari sana terihat bahwa penelitian dan data banyak diperoleh dari proses berlayar dan catatan para pelaut yang melintasi kepulauan Nusantara.

Dilihat dari peta biogeografis flora dan fauna, posisi Pulau Bali persis berada di perbatasan antara geografis Asia dan Australia. Ada asumsi bahwa posisi garis Wallace tidak persis ada di tengah laut Selat Lombok. Seolah-olah di Selat Lombok karena penelitian dan pengamatan banyak dilakukan oleh para pelaut saat itu.

Bisa jadi persisnya garis Wallace ada di daratan tengah Pulau Bali. Hal itu ditandai dengan titik-titik kawasan suci yang percis berada di tengah pulau Bali yang lurus dari selatan ke utara.

Jika asumsi di atas benar, maka Bali sebagai kawasan yang unik dari sisi budaya akhirnya terbukti. Bahwa kebudayaan di sebuah wilayah sangat dipengaruhi oleh energi makrokosmos dan mikrokosmos, sekala maupun niskala. Di Bali hal itu disebut taksu. Taksu itulah kemudian menjadikan manusia Bali selalu dibaluri oleh “mistis spiritual”.

Percaya atau tidak, tentu sangat menarik untuk dikaji dan direnungkan. Karena pengaruh alam terhadap adanya “mistis spiritual” bangsa Indonesia juga pernah terjadi ketika meletusnya Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Yang mana di kemudian hari letusan Gunung Krakatau dikaitkan dengan tumbuhnya kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Mistis spiritual” orang Bali hingga kini sebenarnya tidak pernah pudar walau kadang pura-pura ditutupi (sering karena konflik). Ini dibuktikan dengan banyak hal seperti  kerinduan untuk mekrama di desa, atau berkumpul bersama keluarga besar di Pura Dadia saat persembahyangan. Juga kesadaran untuk senantiasa menghormati tempat dan kawasan suci, eling ring kawitan dan leluhur, meyadnya, dan  megambel di bale banjar. Dan sebagainya.

“Mistis spiritual” itulah yang sesungguhnya menjadikan Bali sebagai “Pulau Dewata” yang membudaya. Karena membudaya, maka di dalamnya pun termuat tentang awig-awig, tradisi dan adat istiadat. Dalam bahasa akademis kemudian disebut “masyarakat kesatuan hukum adat” Bali. (T).

Tags: balifaunalingkungantabanan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Orasi Cok Sawitri: Mari Memasuki Medan Tempur Simbolik!

Next Post

Sajak Belati

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Sajak Belati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co