3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Esai

Net

Kisah Petani Kopi

DI sebuah desa di Tabanan Kauh, Bali, seorang petani kopi sibuk bekerja di kebun  merabas rumput. Karena rumput sudah tinggi melebihi lutut. Seperti biasa, rumput harus dipangkas, rata-rata 3 kali dalam setahun, agar produksi kopi bisa optimal.

Sambil bekerja Si Petani berharap bisa memetik buah pisang untuk dijual. Hari itu ada satu pohon pisang yang sudah tua. Pikir Si Petani, setidaknya 50-75 ribu rupiah uang pasti didapat dari menjual buah pisang di warung. Kebetulan hari itu Si Petani tak punya uang sepeser pun untuk membeli lauk-pauk bagi anak-anaknya.

Sore hari menjelang pulang, Si Petani bergerak menuju pohon pisang. Batang pisang dipotong sedemikian rupa agar batang pisang rebah perlahan, sehingga buah pisang bisa dipetik dengan mudah.

Sayang seribu sayang, buah pisang yang dalam satu tandannya terdiri dari ratusan buah itu tidak layak dijual. Buahnya kena penyakit. Bagian dalamnya memerah dan hitam. Padahal dari luar kelihatan mulus. Harapan Si Petani lenyap. Ia gagal menjual buah pisang di warung terdekat.

Dengan pikiran kosong, Si Petani beranjak pulang. Ia sudah siap makan dengan lauk ala kadarnya: sambel telengis dan sayuran. Namun, saat menyusuri jalan setapak di kebun, seorang petani tetangganya yang membantu merabas rumput menginformasikan kalau di salah satu pohon kopi ada burung punglor yang bersarang dan kemungkinan sedang beranak.

Di desa itu para petani sudah mahir membedakan suara burung punglor di alam terbuka. Dari suaranya saja, biasanya diketahui burung punglor sedang beranak sekaligus diketahui pula keberadaan sarangnya.

Burung punglor adalah salah satu jenis burung yang banyak dipelihara karena memiliki suara bagus. Anakan burung punglor sudah lama menjadi komuditi pasar yang laris manis di desa itu. Penggemar burung punglor biasanya membeli anakannya agar mudah dilatih sehingga ketika dewasa mampu berkicau bagus. Burung dengan kicau yang bagus memiliki nilai jual tinggi karena mampu memenangkan perlombaan suara burung.

Komunitas dan penggemar burung punglor di Bali dan Indonesia ada ribuan dan sudah eksis sejak lama. Rata-rata harga anakan punglor Rp. 200-250 ribu  per ekor.

Tak berpikir panjang, Si Petani Kopi bergegas mencari ordinat sarang burung punglor seperti yang ditunjukkan oleh petani tetangganya. Benar saja, tidak begitu sulit Si Petani Kopi  menemukan sarang burung punglor itu. Setelah dilihat, jumlah anakannya hanya 1 ekor. Namun tampaknya sudah layak dijual sesuai harga pasar.

Di sisi lain, kecintaan Si Petani Kopi terhadap lingkungan mulai membuatnya ragu. Ia tidak langsung mengambil anakan burung punglor itu di sarangnya. Sejenak ia diam. Ia berpikir panjang antara mengambil atau membiarkan anakan burung punglor itu di sarangnya.

Terbersit rasa kasihan di hati Si Petani Kopi. Ia tidak biasa menjual anakan burung punglor  yang hanya satu ekor itu, walau hal itu sudah lumrah dilakukan oleh warga di desanya. Tetapi di sisi lain, jika tidak diambil ia yakin tidak lama lagi lokasi sarang itu akan diketahui orang lain dan anakannya diambil orang lain untuk dijual.

Setelah merenung sejenak Si Petani Kopi akhirnya memutuskan untuk mengambil saja anakan burung punglor itu. Ia menjualnya ke pengepul. Dan sore itu ia bisa membawa pulang uang Rp. 200 ribu. Anak-anak dan keluarganya pun bisa menikmati lauk-pauk yang agak mewah di meja makan.

Begitulah dinamika kehidupan. Walau Si Petani itu sadar akan makna konservasi lingkungan namun ada kondisi lain yang membuatnya terpaksa melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nuraninya. Begitulah nasib burung punglor, gara-gara suaranya yang merdu, akhirnya ia menjadi komuditi untuk diperjualbelikan.

Garis Wallacea

Di Indonesia terdapat beragam jenis burung peliharaan karena suaranya merdu. Tetapi belum banyak yang tahu kalau dari beragam jenis burung di Indonesia itulah garis Wallace berhasil dipetakan oleh peneliti  kawasan biogeografis flora dan fauna di Indonesia. Salah satunya adalah Alfred Russel Wallace yang melakukan pengamatan dalam perjalanannya menjelajahi lautan Nusantara antara tahun 1854-1862.

Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian akhirnya pada tahun 1863, Wallace menyatakan dengan tegas dalam tulisannya bahwa batas biografis yang bertipe Asia dimulai dari Selat Lombok berlanjut ke Selat Makassar, kemudian berbelok ke arah timur di Selat Filipina yang kemudian terkenal dengan sebutan garis Wallace.

Garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Di Indonesia ada tiga garis biogeografis flora dan fauna yaitu Wallace, Waber dan Lydekker. Antara garis Wallace dengan Ludekker disebut wilayah Wallacea.

Dalam peta garis Wallace terlihat berada di selat Lombok dan Makkasar terus ke atas membelok ke timur Filiphina. Dari sana terihat bahwa penelitian dan data banyak diperoleh dari proses berlayar dan catatan para pelaut yang melintasi kepulauan Nusantara.

Dilihat dari peta biogeografis flora dan fauna, posisi Pulau Bali persis berada di perbatasan antara geografis Asia dan Australia. Ada asumsi bahwa posisi garis Wallace tidak persis ada di tengah laut Selat Lombok. Seolah-olah di Selat Lombok karena penelitian dan pengamatan banyak dilakukan oleh para pelaut saat itu.

Bisa jadi persisnya garis Wallace ada di daratan tengah Pulau Bali. Hal itu ditandai dengan titik-titik kawasan suci yang percis berada di tengah pulau Bali yang lurus dari selatan ke utara.

Jika asumsi di atas benar, maka Bali sebagai kawasan yang unik dari sisi budaya akhirnya terbukti. Bahwa kebudayaan di sebuah wilayah sangat dipengaruhi oleh energi makrokosmos dan mikrokosmos, sekala maupun niskala. Di Bali hal itu disebut taksu. Taksu itulah kemudian menjadikan manusia Bali selalu dibaluri oleh “mistis spiritual”.

Percaya atau tidak, tentu sangat menarik untuk dikaji dan direnungkan. Karena pengaruh alam terhadap adanya “mistis spiritual” bangsa Indonesia juga pernah terjadi ketika meletusnya Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Yang mana di kemudian hari letusan Gunung Krakatau dikaitkan dengan tumbuhnya kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Mistis spiritual” orang Bali hingga kini sebenarnya tidak pernah pudar walau kadang pura-pura ditutupi (sering karena konflik). Ini dibuktikan dengan banyak hal seperti  kerinduan untuk mekrama di desa, atau berkumpul bersama keluarga besar di Pura Dadia saat persembahyangan. Juga kesadaran untuk senantiasa menghormati tempat dan kawasan suci, eling ring kawitan dan leluhur, meyadnya, dan  megambel di bale banjar. Dan sebagainya.

“Mistis spiritual” itulah yang sesungguhnya menjadikan Bali sebagai “Pulau Dewata” yang membudaya. Karena membudaya, maka di dalamnya pun termuat tentang awig-awig, tradisi dan adat istiadat. Dalam bahasa akademis kemudian disebut “masyarakat kesatuan hukum adat” Bali. (T).

Tags: balifaunalingkungantabanan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Orasi Cok Sawitri: Mari Memasuki Medan Tempur Simbolik!

Next Post

Sajak Belati

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Sajak Belati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co