24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Esai

Net

Kisah Petani Kopi

DI sebuah desa di Tabanan Kauh, Bali, seorang petani kopi sibuk bekerja di kebun  merabas rumput. Karena rumput sudah tinggi melebihi lutut. Seperti biasa, rumput harus dipangkas, rata-rata 3 kali dalam setahun, agar produksi kopi bisa optimal.

Sambil bekerja Si Petani berharap bisa memetik buah pisang untuk dijual. Hari itu ada satu pohon pisang yang sudah tua. Pikir Si Petani, setidaknya 50-75 ribu rupiah uang pasti didapat dari menjual buah pisang di warung. Kebetulan hari itu Si Petani tak punya uang sepeser pun untuk membeli lauk-pauk bagi anak-anaknya.

Sore hari menjelang pulang, Si Petani bergerak menuju pohon pisang. Batang pisang dipotong sedemikian rupa agar batang pisang rebah perlahan, sehingga buah pisang bisa dipetik dengan mudah.

Sayang seribu sayang, buah pisang yang dalam satu tandannya terdiri dari ratusan buah itu tidak layak dijual. Buahnya kena penyakit. Bagian dalamnya memerah dan hitam. Padahal dari luar kelihatan mulus. Harapan Si Petani lenyap. Ia gagal menjual buah pisang di warung terdekat.

Dengan pikiran kosong, Si Petani beranjak pulang. Ia sudah siap makan dengan lauk ala kadarnya: sambel telengis dan sayuran. Namun, saat menyusuri jalan setapak di kebun, seorang petani tetangganya yang membantu merabas rumput menginformasikan kalau di salah satu pohon kopi ada burung punglor yang bersarang dan kemungkinan sedang beranak.

Di desa itu para petani sudah mahir membedakan suara burung punglor di alam terbuka. Dari suaranya saja, biasanya diketahui burung punglor sedang beranak sekaligus diketahui pula keberadaan sarangnya.

Burung punglor adalah salah satu jenis burung yang banyak dipelihara karena memiliki suara bagus. Anakan burung punglor sudah lama menjadi komuditi pasar yang laris manis di desa itu. Penggemar burung punglor biasanya membeli anakannya agar mudah dilatih sehingga ketika dewasa mampu berkicau bagus. Burung dengan kicau yang bagus memiliki nilai jual tinggi karena mampu memenangkan perlombaan suara burung.

Komunitas dan penggemar burung punglor di Bali dan Indonesia ada ribuan dan sudah eksis sejak lama. Rata-rata harga anakan punglor Rp. 200-250 ribu  per ekor.

Tak berpikir panjang, Si Petani Kopi bergegas mencari ordinat sarang burung punglor seperti yang ditunjukkan oleh petani tetangganya. Benar saja, tidak begitu sulit Si Petani Kopi  menemukan sarang burung punglor itu. Setelah dilihat, jumlah anakannya hanya 1 ekor. Namun tampaknya sudah layak dijual sesuai harga pasar.

Di sisi lain, kecintaan Si Petani Kopi terhadap lingkungan mulai membuatnya ragu. Ia tidak langsung mengambil anakan burung punglor itu di sarangnya. Sejenak ia diam. Ia berpikir panjang antara mengambil atau membiarkan anakan burung punglor itu di sarangnya.

Terbersit rasa kasihan di hati Si Petani Kopi. Ia tidak biasa menjual anakan burung punglor  yang hanya satu ekor itu, walau hal itu sudah lumrah dilakukan oleh warga di desanya. Tetapi di sisi lain, jika tidak diambil ia yakin tidak lama lagi lokasi sarang itu akan diketahui orang lain dan anakannya diambil orang lain untuk dijual.

Setelah merenung sejenak Si Petani Kopi akhirnya memutuskan untuk mengambil saja anakan burung punglor itu. Ia menjualnya ke pengepul. Dan sore itu ia bisa membawa pulang uang Rp. 200 ribu. Anak-anak dan keluarganya pun bisa menikmati lauk-pauk yang agak mewah di meja makan.

Begitulah dinamika kehidupan. Walau Si Petani itu sadar akan makna konservasi lingkungan namun ada kondisi lain yang membuatnya terpaksa melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nuraninya. Begitulah nasib burung punglor, gara-gara suaranya yang merdu, akhirnya ia menjadi komuditi untuk diperjualbelikan.

Garis Wallacea

Di Indonesia terdapat beragam jenis burung peliharaan karena suaranya merdu. Tetapi belum banyak yang tahu kalau dari beragam jenis burung di Indonesia itulah garis Wallace berhasil dipetakan oleh peneliti  kawasan biogeografis flora dan fauna di Indonesia. Salah satunya adalah Alfred Russel Wallace yang melakukan pengamatan dalam perjalanannya menjelajahi lautan Nusantara antara tahun 1854-1862.

Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian akhirnya pada tahun 1863, Wallace menyatakan dengan tegas dalam tulisannya bahwa batas biografis yang bertipe Asia dimulai dari Selat Lombok berlanjut ke Selat Makassar, kemudian berbelok ke arah timur di Selat Filipina yang kemudian terkenal dengan sebutan garis Wallace.

Garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Di Indonesia ada tiga garis biogeografis flora dan fauna yaitu Wallace, Waber dan Lydekker. Antara garis Wallace dengan Ludekker disebut wilayah Wallacea.

Dalam peta garis Wallace terlihat berada di selat Lombok dan Makkasar terus ke atas membelok ke timur Filiphina. Dari sana terihat bahwa penelitian dan data banyak diperoleh dari proses berlayar dan catatan para pelaut yang melintasi kepulauan Nusantara.

Dilihat dari peta biogeografis flora dan fauna, posisi Pulau Bali persis berada di perbatasan antara geografis Asia dan Australia. Ada asumsi bahwa posisi garis Wallace tidak persis ada di tengah laut Selat Lombok. Seolah-olah di Selat Lombok karena penelitian dan pengamatan banyak dilakukan oleh para pelaut saat itu.

Bisa jadi persisnya garis Wallace ada di daratan tengah Pulau Bali. Hal itu ditandai dengan titik-titik kawasan suci yang percis berada di tengah pulau Bali yang lurus dari selatan ke utara.

Jika asumsi di atas benar, maka Bali sebagai kawasan yang unik dari sisi budaya akhirnya terbukti. Bahwa kebudayaan di sebuah wilayah sangat dipengaruhi oleh energi makrokosmos dan mikrokosmos, sekala maupun niskala. Di Bali hal itu disebut taksu. Taksu itulah kemudian menjadikan manusia Bali selalu dibaluri oleh “mistis spiritual”.

Percaya atau tidak, tentu sangat menarik untuk dikaji dan direnungkan. Karena pengaruh alam terhadap adanya “mistis spiritual” bangsa Indonesia juga pernah terjadi ketika meletusnya Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Yang mana di kemudian hari letusan Gunung Krakatau dikaitkan dengan tumbuhnya kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Mistis spiritual” orang Bali hingga kini sebenarnya tidak pernah pudar walau kadang pura-pura ditutupi (sering karena konflik). Ini dibuktikan dengan banyak hal seperti  kerinduan untuk mekrama di desa, atau berkumpul bersama keluarga besar di Pura Dadia saat persembahyangan. Juga kesadaran untuk senantiasa menghormati tempat dan kawasan suci, eling ring kawitan dan leluhur, meyadnya, dan  megambel di bale banjar. Dan sebagainya.

“Mistis spiritual” itulah yang sesungguhnya menjadikan Bali sebagai “Pulau Dewata” yang membudaya. Karena membudaya, maka di dalamnya pun termuat tentang awig-awig, tradisi dan adat istiadat. Dalam bahasa akademis kemudian disebut “masyarakat kesatuan hukum adat” Bali. (T).

Tags: balifaunalingkungantabanan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Orasi Cok Sawitri: Mari Memasuki Medan Tempur Simbolik!

Next Post

Sajak Belati

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Sajak Belati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co