14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orasi Cok Sawitri: Mari Memasuki Medan Tempur Simbolik!

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Opini

INI adalah era dimana ketakjuban dapat direkayasa. Semua tahu, bagaimana dan mengalami percepatan dan perpendekan jarak ruang dan waktu. Kini hitungannya yang terbesar adalah detik dan supra tak terhingga. Teknologi memberi ketercengangan untuk fasilitas komunikasi. Telepati gaya lama, klenik dengan semadi bertapa di gua digantikan dengan video call, dengan pesan singkat yang jelas-jelas, itu bergerak secara  kalau dipikirkan dengan ortodoks; itu mirip komunikasi mistik.

Ditengah-tengah keriuhan segitiga kekuasaan (politik, agama dan kapital) dan benoa Hi-Tech, maka panggung-panggung kesenian ini turut serta mengalami kegugupan. Sejauh mungkin melibatkan teknologi agar nampak tentunya mendekati penghiburan dan kezamanan. Sebab  kita tahu, betapa riuhnya pasar visual yang sama kleniknya dengan kisah pasar saham. Kita menghadapi dengan keluh kesah proses terjadinya Konglomerasi Budaya tanpa tahu kita turut semangat menjadi konsumennya  juga!

Karena itu dalam berkesenian, seolah mengundang senyum bila berucap: seni itu adalah arena perjuangan! Bukan pengumpulan massa untuk menyoraki pidato kampanye politik dan atau konser musik dari penyanyi ternama! Arena perjuangan itu selalu melahirkan para penyendiri dan kesepian, tidak oleh pengerahan massa dengan motiv apapun!  Kita tentu paham bahwa kini seniman, produser dan sponsor adalah ‘kehendak’ yang paling sulit dijabarkan. Bahwa arena perjuangan itu sebagai produksi wacana yang dikontrol oleh kekuatan kepentingan.

Kita saat ini otomatis menarik diri dalam bersikap kritis, kecuali keluh kesah atau mencaci maki sebagai pelampiasan—dan sering mengira itu model kritik dan apalagi jika sanggup dituliskan dengan bahasa santun dengan berstruktur! Tetap kategori keluh kesah alias ratapan! Kritik adalah sikap wawasan dan keluaran pikiran untuk menanggapi kadar pencapaian tertentu!

MAKA:

Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya, dalam pemikiran saya, tidaklah semata-mata tengah memuaskan kecengengan-kecengengan penulis amatiran yang menduga teater di Bali sedang koma ataukah sekarat ataukah menjadi jawaban kepada : bahwa kegiatan teater di Bali selalu meriah dan merakyat seperti pertunjukan joget porno atau pertunjukan teater dalam rangka mengkultuskan pahlawan atau memperdebatkan apakah seni penghiburan komedi ala opera van java lalu menjadi tiruan lipsing dibawa dalam arena perdebatan pada proses kreatif teater!

Maka secara teknis! Festival ini lebih saya pikirkan sebagai kritik balik terhadap begitu banyak orang, yang mengira ada dalam proses berkesenian.

Sebabnya,  jika memberi pandangan kritis terhadap teater maka tidaklah dapat semata hanya menilai kegiatan festival dalam rangka project ini dan anu atau dengan menghitung jumlah kelompok teater di sekolah dengan pelatihnya yang seringkali hanya berbekal nekad menjadi pelatih atau memiliki CV pernah pentas di gedung A atau B, Negara X ataukah Z.— Yang hendak dijadikan adu pemikiran adalah; Pelaku teater memang sejak lampau, selalu berjumlah minimal. Penontonnya pun tidak banyak seperti hasrat pencapaian pasar promo gebyar pelepasan album politik dan produk ekonomi yang dikemas oleh konglomerasi budaya.

Mengapa saya, menyampaikan pendapat ini, sebab arus deras dalam memperlakukan teater sebagai salah satu jenis seni pertunjukan, kini,  tak ubahnya seperti memasangkan standar dagangan; laris manis, sebagai ukuran pencapaian.  Dan tentu, pernyataan saya akan mendapatkan tanggapan berbeda. Tapi mari belajar menghadapi perbedaan itu, jika ada dalam koridor tengah memasuki proses berkesenian.

Bukankah, ada kecenderungan ketika menghargai gagasan berteater dalam rangka memasuki festival ini bahwa seni berteater ini akan menjadi momen-momen harmonis, menyenangkan, menghibur, menyindir, melelahkan, bertengkar, jatuh cinta bahkan juga muak (?) —Kita tidak harus sepakat bahwa dalam berkesenian itu ada momen yang menawarkan kesempatan unik untuk melakukan refleksi.

Kita tahu, fisik dan psikis kita dalam proses berteater itu merupakan arena pergulatan batin; bahkan dari soal mengatur waktu sampai kecemasan bila pentas dan belum hapal naskah, belum lagi masalah pribadi; anak sakit, pasangan rewel dan pencemburu, hutang cicilan motor dan kebaya, nilai kuliah jelek, bekal habis, dll.

Kemudian kita juga menghadapi konflik-konflik sosial; tulisan hoax berhamburan, berita politik mencengangkan dengan isu agama dan ‘sara’ yang membuat kita berada dalam ketidak berdayaan menghadapi gempuran ‘benoa Hi-tech’ ini.  Lalu kita secara pribadi juga menghadapi persoalan status-status sosial di dalam diri manusia, sebagai pribadi, itu semua berhamburan dalam sikap keseharian, dalam komunikasi keseharian.

Bagaimana kita berupaya menjadi ‘yang baik-baik’ saja dalam hidup rumah tangga, dalam hidup di dunia kerja, dalam kuliah, dalam sekolah, dari urusan bayar listrik sampai persaingan jabatan seolah ‘engkau baik-baik saja’.  Bukankah, semua itu dapat dibalut busana apa yang diinginkan ketika kita menghadirkan status sosial dalam keseharian (?)–  Karena itu, kegiatan teater juga akan mengalami apa yang dicemaskan, bahwa seni sebagai arena perjuangan, yang apabila dimasuki kepentingan ekonomi dan politik, maka kehidupan budaya itu akan terganggu dan kita menghadapi proses berkesenian itu dengan tanpa sadar ada dalam yang dimaksudkan : telah diberi label harga! Sama dengan pajangan camilan di etalase!

Kita pun menghadapi perbedaan-perbedaan semacam itu dalam apresiasi masyarakat, disebabkan seni teater itu melibatkan emosi-emosi kita yang terdalam, bukankah setiap peran dalam seni teater itu merupakan struktur perasaan dan cita rasa? –Semua itu tanpa kita sadari, karena kecerdasan emosional itu tidak sebanding dengan kecerdasan karena sekolah tinggi-tinggi, mengabaikan apa yang dimaksudkan dengan bahwa pertunjukan teater itu adalah bagian mewujudkan keyakinan-keyakinan dan sentimen-sentimen kita, serta membentuklah struktur perasaan itu, karena itu jelaslah keliru bila menduga saya tengah menyampaikan seni teater adalah eksklusif, tanpa cela ataupun aspek -aspek yang dihargai tinggi secara moral dalam eksistensi kita.  Bahwa secara personal, teater menghidupi aspirasi-aspirasi kita yang terbuka dan juga yang rahasia dalam berbagai bidang kehidupan yang kita inginkan, atau tidak pernah terpikirkan, ternyata menjadi bagian kita yang bisa mengandung elemen, yang berbeda rentangnya, mulai dari elemen rendahan hingga yang mistis.

Teater adalah juga bagian dari perjuangan sosial melalui ekspresi-ekspresi kesenangan, kedengkian, amarah, hasrat, nafsu, kehalusan budi, kekuasaan, sinisme, sarkasme, munafik, atau trauma, ketakuan yang dapat dibagikan kepada orang lain seperti pemikiran-pemikiran mana yang diiinginkan untuk disampaikan oleh kaum cendikiawan. Teater tidak akan dapat mengontrol mana yang tepat dengan konteks sosial dalam daya ucapnya.

Karena pertanyaan mendalamnya adalah dalam festival monolog 100 putu wijaya ini:  dari perspektif budaya, mana yang lebih berguna, kepuasan yang segera terasa sebagaimana yang diharapkan dapat dipertunjukan oleh pengalaman artistik, ataukah proses pembelajaran yang panjang dan lama mengenai apa yang bernilai tinggi dalam seni teater dan mengenai apa yang memberi dimensi lebih mendalam pada kehidupan?— Refrensi-refrensi macam apa, yang dapat dibuat oleh semua peserta festival monolog terhadap situasi aktual politik atau sosial, rujukan-rujukan tentang apa saja yang mereka sarankan agar terhindari dari ketidaknyamanan dalam kenyataan hidup (?)

Kita tahu, bahwa pentas-pentas teater, monolog utamanya, adalah juga medan tempur simbolik. Yang kadang tidak serta merta bercocokan dengan sekitarnya. Atau otomatis dipahami pesannya. Bahkan oleh penikmat teater bahkan oleh penulis teater yang dangkal pengetahuan dan wawasannya. Yang masih kebanyakan mengira; jumlah pertunjukan dan keriuhan penonton itu adalah tanda pencapaian proses kreatif teater. Karena itu, atas nama ketidakberdayaan kita pun tahu bagaimana beberapa perlakuan terhadap seni teater ini atas nama; ambisi hendak nampak berpengaruh; nampak pada bagaimana membawa-bawa strategi ’kepopuleran’ dengan menyelimutkan tema-tema berkandungan keprihatinan sosial politik, dengan memanfaatkan akses media, festival dengan kurasi atas koneksi selera! Seolah itu sebagai seleksi dari proses.

Padahal, itu salah satu bentuk pola penyakit sosial saat ini, yang dipanggungkan oleh kepentingan politik.  Sikap-sikap yang nampak ‘berseni’ namun sesungguhnya mirip dengan seseorang yang punya uang dan karena ingin menjadi politisi, maka dia membeli apa saja untuk mendapatkan predikat itu. Itu juga menjadi bagian kenyataan yang dihadapi oleh seni teater; menghadapi kejumawaan beberapa orang yang memiliki peluang seolah-olah menjadi tokoh teater; karena sanggup membiayai pentas, memberitakan di media dan menyewa artis yang tengah galau; gilanya lalu dijadikan narasumber seolah pengalaman teater adalah sebatas proses produksi.

KARENA ITU:

Maka festival ini, dikembalikan kepada semua proses pribadi-pribadi, tak peduli kalangan mana itu; apakah dimulai dari kepura-puraan tahu ataukah karena kenekadan, karena suka ria ataukah karena diajakin teman! Bila proses itu dengan berpegang pada bahwa proses ini adalah introspeksi! Maka selamat datang di festival ini, sebab semua hasil itu adalah akan tetap menjadi medan tempur simbolik. Akan menjadi pementasan monolog tersendiri. Semua sikap, semua ekspresi, semua kemunculan dan kebuntuan! Semuanya adalah fiesta!

Selamat pentas selamat berpesta! Sepanjang tahun 2017. Semoga berdebat dengan kadar yang lebih berkarat!

Denpasar, 2017

Cok Sawitri

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Kebiasaan “Copy-Paste” Jangan Dipelihara, Meski Hanya untuk Ucapan Selamat

Next Post

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co