15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orasi Cok Sawitri: Mari Memasuki Medan Tempur Simbolik!

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Opini

INI adalah era dimana ketakjuban dapat direkayasa. Semua tahu, bagaimana dan mengalami percepatan dan perpendekan jarak ruang dan waktu. Kini hitungannya yang terbesar adalah detik dan supra tak terhingga. Teknologi memberi ketercengangan untuk fasilitas komunikasi. Telepati gaya lama, klenik dengan semadi bertapa di gua digantikan dengan video call, dengan pesan singkat yang jelas-jelas, itu bergerak secara  kalau dipikirkan dengan ortodoks; itu mirip komunikasi mistik.

Ditengah-tengah keriuhan segitiga kekuasaan (politik, agama dan kapital) dan benoa Hi-Tech, maka panggung-panggung kesenian ini turut serta mengalami kegugupan. Sejauh mungkin melibatkan teknologi agar nampak tentunya mendekati penghiburan dan kezamanan. Sebab  kita tahu, betapa riuhnya pasar visual yang sama kleniknya dengan kisah pasar saham. Kita menghadapi dengan keluh kesah proses terjadinya Konglomerasi Budaya tanpa tahu kita turut semangat menjadi konsumennya  juga!

Karena itu dalam berkesenian, seolah mengundang senyum bila berucap: seni itu adalah arena perjuangan! Bukan pengumpulan massa untuk menyoraki pidato kampanye politik dan atau konser musik dari penyanyi ternama! Arena perjuangan itu selalu melahirkan para penyendiri dan kesepian, tidak oleh pengerahan massa dengan motiv apapun!  Kita tentu paham bahwa kini seniman, produser dan sponsor adalah ‘kehendak’ yang paling sulit dijabarkan. Bahwa arena perjuangan itu sebagai produksi wacana yang dikontrol oleh kekuatan kepentingan.

Kita saat ini otomatis menarik diri dalam bersikap kritis, kecuali keluh kesah atau mencaci maki sebagai pelampiasan—dan sering mengira itu model kritik dan apalagi jika sanggup dituliskan dengan bahasa santun dengan berstruktur! Tetap kategori keluh kesah alias ratapan! Kritik adalah sikap wawasan dan keluaran pikiran untuk menanggapi kadar pencapaian tertentu!

MAKA:

Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya, dalam pemikiran saya, tidaklah semata-mata tengah memuaskan kecengengan-kecengengan penulis amatiran yang menduga teater di Bali sedang koma ataukah sekarat ataukah menjadi jawaban kepada : bahwa kegiatan teater di Bali selalu meriah dan merakyat seperti pertunjukan joget porno atau pertunjukan teater dalam rangka mengkultuskan pahlawan atau memperdebatkan apakah seni penghiburan komedi ala opera van java lalu menjadi tiruan lipsing dibawa dalam arena perdebatan pada proses kreatif teater!

Maka secara teknis! Festival ini lebih saya pikirkan sebagai kritik balik terhadap begitu banyak orang, yang mengira ada dalam proses berkesenian.

Sebabnya,  jika memberi pandangan kritis terhadap teater maka tidaklah dapat semata hanya menilai kegiatan festival dalam rangka project ini dan anu atau dengan menghitung jumlah kelompok teater di sekolah dengan pelatihnya yang seringkali hanya berbekal nekad menjadi pelatih atau memiliki CV pernah pentas di gedung A atau B, Negara X ataukah Z.— Yang hendak dijadikan adu pemikiran adalah; Pelaku teater memang sejak lampau, selalu berjumlah minimal. Penontonnya pun tidak banyak seperti hasrat pencapaian pasar promo gebyar pelepasan album politik dan produk ekonomi yang dikemas oleh konglomerasi budaya.

Mengapa saya, menyampaikan pendapat ini, sebab arus deras dalam memperlakukan teater sebagai salah satu jenis seni pertunjukan, kini,  tak ubahnya seperti memasangkan standar dagangan; laris manis, sebagai ukuran pencapaian.  Dan tentu, pernyataan saya akan mendapatkan tanggapan berbeda. Tapi mari belajar menghadapi perbedaan itu, jika ada dalam koridor tengah memasuki proses berkesenian.

Bukankah, ada kecenderungan ketika menghargai gagasan berteater dalam rangka memasuki festival ini bahwa seni berteater ini akan menjadi momen-momen harmonis, menyenangkan, menghibur, menyindir, melelahkan, bertengkar, jatuh cinta bahkan juga muak (?) —Kita tidak harus sepakat bahwa dalam berkesenian itu ada momen yang menawarkan kesempatan unik untuk melakukan refleksi.

Kita tahu, fisik dan psikis kita dalam proses berteater itu merupakan arena pergulatan batin; bahkan dari soal mengatur waktu sampai kecemasan bila pentas dan belum hapal naskah, belum lagi masalah pribadi; anak sakit, pasangan rewel dan pencemburu, hutang cicilan motor dan kebaya, nilai kuliah jelek, bekal habis, dll.

Kemudian kita juga menghadapi konflik-konflik sosial; tulisan hoax berhamburan, berita politik mencengangkan dengan isu agama dan ‘sara’ yang membuat kita berada dalam ketidak berdayaan menghadapi gempuran ‘benoa Hi-tech’ ini.  Lalu kita secara pribadi juga menghadapi persoalan status-status sosial di dalam diri manusia, sebagai pribadi, itu semua berhamburan dalam sikap keseharian, dalam komunikasi keseharian.

Bagaimana kita berupaya menjadi ‘yang baik-baik’ saja dalam hidup rumah tangga, dalam hidup di dunia kerja, dalam kuliah, dalam sekolah, dari urusan bayar listrik sampai persaingan jabatan seolah ‘engkau baik-baik saja’.  Bukankah, semua itu dapat dibalut busana apa yang diinginkan ketika kita menghadirkan status sosial dalam keseharian (?)–  Karena itu, kegiatan teater juga akan mengalami apa yang dicemaskan, bahwa seni sebagai arena perjuangan, yang apabila dimasuki kepentingan ekonomi dan politik, maka kehidupan budaya itu akan terganggu dan kita menghadapi proses berkesenian itu dengan tanpa sadar ada dalam yang dimaksudkan : telah diberi label harga! Sama dengan pajangan camilan di etalase!

Kita pun menghadapi perbedaan-perbedaan semacam itu dalam apresiasi masyarakat, disebabkan seni teater itu melibatkan emosi-emosi kita yang terdalam, bukankah setiap peran dalam seni teater itu merupakan struktur perasaan dan cita rasa? –Semua itu tanpa kita sadari, karena kecerdasan emosional itu tidak sebanding dengan kecerdasan karena sekolah tinggi-tinggi, mengabaikan apa yang dimaksudkan dengan bahwa pertunjukan teater itu adalah bagian mewujudkan keyakinan-keyakinan dan sentimen-sentimen kita, serta membentuklah struktur perasaan itu, karena itu jelaslah keliru bila menduga saya tengah menyampaikan seni teater adalah eksklusif, tanpa cela ataupun aspek -aspek yang dihargai tinggi secara moral dalam eksistensi kita.  Bahwa secara personal, teater menghidupi aspirasi-aspirasi kita yang terbuka dan juga yang rahasia dalam berbagai bidang kehidupan yang kita inginkan, atau tidak pernah terpikirkan, ternyata menjadi bagian kita yang bisa mengandung elemen, yang berbeda rentangnya, mulai dari elemen rendahan hingga yang mistis.

Teater adalah juga bagian dari perjuangan sosial melalui ekspresi-ekspresi kesenangan, kedengkian, amarah, hasrat, nafsu, kehalusan budi, kekuasaan, sinisme, sarkasme, munafik, atau trauma, ketakuan yang dapat dibagikan kepada orang lain seperti pemikiran-pemikiran mana yang diiinginkan untuk disampaikan oleh kaum cendikiawan. Teater tidak akan dapat mengontrol mana yang tepat dengan konteks sosial dalam daya ucapnya.

Karena pertanyaan mendalamnya adalah dalam festival monolog 100 putu wijaya ini:  dari perspektif budaya, mana yang lebih berguna, kepuasan yang segera terasa sebagaimana yang diharapkan dapat dipertunjukan oleh pengalaman artistik, ataukah proses pembelajaran yang panjang dan lama mengenai apa yang bernilai tinggi dalam seni teater dan mengenai apa yang memberi dimensi lebih mendalam pada kehidupan?— Refrensi-refrensi macam apa, yang dapat dibuat oleh semua peserta festival monolog terhadap situasi aktual politik atau sosial, rujukan-rujukan tentang apa saja yang mereka sarankan agar terhindari dari ketidaknyamanan dalam kenyataan hidup (?)

Kita tahu, bahwa pentas-pentas teater, monolog utamanya, adalah juga medan tempur simbolik. Yang kadang tidak serta merta bercocokan dengan sekitarnya. Atau otomatis dipahami pesannya. Bahkan oleh penikmat teater bahkan oleh penulis teater yang dangkal pengetahuan dan wawasannya. Yang masih kebanyakan mengira; jumlah pertunjukan dan keriuhan penonton itu adalah tanda pencapaian proses kreatif teater. Karena itu, atas nama ketidakberdayaan kita pun tahu bagaimana beberapa perlakuan terhadap seni teater ini atas nama; ambisi hendak nampak berpengaruh; nampak pada bagaimana membawa-bawa strategi ’kepopuleran’ dengan menyelimutkan tema-tema berkandungan keprihatinan sosial politik, dengan memanfaatkan akses media, festival dengan kurasi atas koneksi selera! Seolah itu sebagai seleksi dari proses.

Padahal, itu salah satu bentuk pola penyakit sosial saat ini, yang dipanggungkan oleh kepentingan politik.  Sikap-sikap yang nampak ‘berseni’ namun sesungguhnya mirip dengan seseorang yang punya uang dan karena ingin menjadi politisi, maka dia membeli apa saja untuk mendapatkan predikat itu. Itu juga menjadi bagian kenyataan yang dihadapi oleh seni teater; menghadapi kejumawaan beberapa orang yang memiliki peluang seolah-olah menjadi tokoh teater; karena sanggup membiayai pentas, memberitakan di media dan menyewa artis yang tengah galau; gilanya lalu dijadikan narasumber seolah pengalaman teater adalah sebatas proses produksi.

KARENA ITU:

Maka festival ini, dikembalikan kepada semua proses pribadi-pribadi, tak peduli kalangan mana itu; apakah dimulai dari kepura-puraan tahu ataukah karena kenekadan, karena suka ria ataukah karena diajakin teman! Bila proses itu dengan berpegang pada bahwa proses ini adalah introspeksi! Maka selamat datang di festival ini, sebab semua hasil itu adalah akan tetap menjadi medan tempur simbolik. Akan menjadi pementasan monolog tersendiri. Semua sikap, semua ekspresi, semua kemunculan dan kebuntuan! Semuanya adalah fiesta!

Selamat pentas selamat berpesta! Sepanjang tahun 2017. Semoga berdebat dengan kadar yang lebih berkarat!

Denpasar, 2017

Cok Sawitri

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Kebiasaan “Copy-Paste” Jangan Dipelihara, Meski Hanya untuk Ucapan Selamat

Next Post

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Kisah Petani Kopi, Burung Punglor, dan Mistis Spiritual Bali di Batas Wallacea

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co