23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kucing Hitam 1988” – Catatan Perayaan Menyambut Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya

IDG Palguna by IDG Palguna
February 2, 2018
in Esai

“I wish I could write as misterious as a cat”

(Aku berhasrat mampu menulis semisterius seekor kucing)

Edgar Allan Poe, cerpenis, dramawan, penyair Amerika (1809-1849)

ARTA Bangun, penyiar beken Radio Prambors era 1980-an, memperkenalkan satu “mantra” penting dalam sejarah hidup saya sebagai eks penyiar radio komersial dan penggemar teater, “Siaran ini adalah show anda. Radio ini panggungnya. Anda aktornya. Seorang penyiar yang berhasil adalah ia yang mampu mentransformasikan semua itu ke dalam siarannya. Parameternya: jika anda mampu membuat pendengar, tanpa menyebut namanya, merasa bahwa anda seolah-olah sedang berbicara kepadanya sehingga ia tidak sempat berpikir untuk berpindah channel, bahkan tatkala anda memutar iklan sekalipun, sampai anda mengakhiri siaran”.

Secara kognitif, alangkah mudah mengingat dan memahami “mantra” itu. Namun, memraktikkannya, alamak… sulitnya minta ampun. Butuh waktu bertahun-tahun melatihnya – meski untuk sekadar mewujudkan 50% saja dari materi training itu. Tak ubahnya ibarat membedakan “belajar perihal bersepeda” dan “belajar bersepeda”: anda harus berkali-kali mengalami jatuh tatkala “belajar bersepeda” untuk memraktikkan pengetahuan tentang “belajar perihal bersepeda”.

Kesulitan macam itulah yang saya gunakan sebagai referensi kasar dan “kamera” untuk memotret olah tubuh, olah vokal, olah rasa, dan kesadaran panggung seorang aktor teater, yang akan saya ceriterakan berikut ini, dari sudut pandang penonton. Lebih-lebih tatkala sang aktor harus bermain sendirian sebab ia mementaskan monolog: bagaimana ia harus menjaga penonton untuk tak sedetik pun hilang fokus dari aktingnya hingga pertunjukan usai – saat di mana penonton “diharapkan” menghela nafas panjang yang menunjukkan apresiasinya terhadap akting si aktor dan keseluruhan pertunjukannya (dalam hal ini, mohon singkirkan jauh-jauh dari rujukan anda bayangan kehebatan Tom Hank ketika ia “berakting sendirian” dalam film Cast Away. Sebab, meski sama-sama “berakting sendirian”, ia melakukannya dalam film yang sedikit banyak “ditolong” scene dan permainan kamera, bukan dalam pentas monolog, pertunjukan panggung yang nyaris tanpa pertolongan apa-apa selain diri si aktor sendiri, lebih-lebih jika si aktor atau sutradara memilih format minimalis).

Dengan pemahaman demikian maka mudah-mudahan bisa dimaklumi kalau saya lebih tertarik memotret proses yang dilakukan dalam menemukan bentuk dan jiwa dari monolog yang akan dipentaskan itu tinimbang pertunjukannya sendiri, sehingga beginilah kurang lebih hasil pemotretan saya itu:

Anno: 1988. Tempus: suatu malam di hari Sabtu. Locus: tempat olah kreatif Klub Studi Teater Bali (KSTB), yang juga sekretariat sekaligus tempat latihan Kelompok Teater Sanggar Putih, sebuah gang di Jalan Surapati Denpasar, di antara belakang tembok (dulu) artshop Besakih di utara dan tembok Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di selatan, yang di pintu masuk tempat itu di sebelah timur ditandai oleh sebuah warung tipat kuah, namanya warung Mak Non – diambil dari nama “pengelola” sekaligus owner warung itu, seorang perempuan tua yang kini sudah almarhumah, penggemar fanatik serial sandiwara radio Saur Sepuh.

Aktor: Gede Agus Kurniawan, S.H., (saat itu) seorang advokat magang di sebuah kantor advokat terkenal. Sutradara: Abubakar, dramawan-penyair yang (menurut catatan dan ingatan saya) adalah figur yang memperkenalkan teater modern di Bali. Pada anno, tempus, dan locus  demikian itulah, tak kurang dari satu jam durasinya, monolog Kucing Hitam dipanggungkan, sebuah naskah monolog yang dialihbahasakan dari The Black Cat, karya Edgar Allan Poe, yang berkisah tentang seorang laki-laki (“Aku”) yang tak berapa lama lagi akan menemui ajalnya di tiang gantungan: ganjaran yang dijatuhkan kepadanya oleh hukum karena telah membunuh istrinya secara “tak sengaja” yang mencoba mencegahnya melakukan kekejaman terhadap Si Pluto, kucing hitam piaraannya, yang dipercayainya sebagai penjelmaan tukang tenung yang menyamar.

Ada begitu banyak pertanyaan yang harus digali jawabannya yang menyangkut sisi dramaturgi yang melatarbelangi ceritera ini guna menemukan ruhnya sebelum direkonstruksi secara estetik ke dalam sebuah bentuk pertunjukan teater. Sungguh bukan pekerjaan mudah, saat itu, ketika referensi tertulis amat susah didapat, dan menjadi makin tidak mudah mengingat ceritera itu akan dipentaskan secara monolog, di mana “kesaktian” seorang aktor (dan kejelian sutradara dalam menggali “kesaktian” si aktor) pada akhirnya menjadi penentu: apakah pertunjukan itu akan memukul lonceng kematian ataukah akan meneror histeria penonton dan memaksa mereka berdiri sembari bertepuk tangan – penanda visual terjadinya konsensus estetika dari pertunjukan itu.

Menggali sisi dramaturgi naskah Kucing Hitam bukan sekadar menjawab pertanyaan: bagaimana seorang pencinta dan penyayang binatang, si tokoh “Aku” dalam ceritera ini (yang bersama istrinya dikisahkan memelihara berbagai jenis binatang: burung, ikan mas, anjing, kelinci, monyet, dan seekor kucing kucing hitam), bisa berubah menjadi begitu membenci binatang yang dulu amat disayang, si kucing hitam Pluto itu, sedemikian rupa sampai tega membunuh istrinya dan “menguburnya” di tembok rumah, hanya karena si istri mencoba mencegahnya melakukan kekejaman terhadap si kucing hitam?

Rasanya terlalu sederhana apabila, dalam menggali sisi dramaturgi tadi, jawaban atas pertanyaan itu “dipercayakan” begitu saja pada pengakuan si “Aku” yang telah berubah menjadi pemabuk atau pada perilaku paranoidnya yang disemai oleh mitos kucing hitam sebagai perwujudan tukang tenung yang menyamar – sehingga secara imajinatif gambaran maksimum yang dihasilkan hanyalah potret seorang lelaki malang yang mengharap simpati di kala berhadapan dengan buah karmanya.

Ada maxim tua yang berbunyi, “Cara berpikir dan bertindak seseorang dipengaruhi oleh keadaan”. Sehingga, jika maxim itu dijadikan titik tolak dalam menggali sisi dramaturgi ceritera Kucing Hitam ini, itu berarti dibutuhkan penggalian informasi dan pemahaman lebih jauh akan gagasan-gagasan dan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam proses interaksi sosial masyarakat di tempat dan pada saat ceritera itu ditulis untuk selanjutnya diperhadapkan dengan gagasan-gagasan dan nilai-nilai individual yang “ditawarkan” oleh penulisnya – yang bisa jadi tak selamanya berterima dengan lingkungan sosial sekitarnya.

Maka, saya dapat membayangkan beratnya “riset intelektual” yang harus dikerjakan oleh pelakon “Aku”, sahabat kami Agus Kurniawan, saat itu. Ia bukan hanya harus memahami kondisi sosiologis masyarakat Amerika abad ke-19, saat Kucing Hitam ditulis, tetapi juga harus memasuki dan mentransformasikan “ruh” Edgar Allan Poe – guna menemukan efek dramatis dan emosional dari pengarang yang menjadikan misteri, horor, dan kejahatan sebagai topik dominan dalam karya-karyanya itu – dan pada saat yang sama juga harus menyelami kondisi seseorang yang akan segera berhadapan dengan kematian di tiang gantungan.

Belum lagi ia harus “mengaktualkan dan merelevankan” pemahaman itu kepada penonton yang tentu saja tak terbebani oleh “kewajiban” melakukan riset sosiologis-historis-psikologis seperti yang ia lakukan. Yang membuat saya salut kepada sahabat saya ini adalah usaha kerasnya: bukan hanya latihan maraton hampir sebulan penuh, yang bahkan kerap dilakukannya tanpa sempat mengganti “baju dinas” putihnya sepulang kantor, melainkan juga caranya mengakali keterbatasan referensi yang tersedia melalui diskusi intensif dengan tokoh-tokoh yang telah malang melintang di dunia sastra: di antaranya Bang Umbu Landu Paranggi, sang presiden Malioboro; Bang Frans Nadjira, pelukis yang sekaligus penyair; almarhum Kadek Suardana, seniman teater dan musisi yang juga pentolan Sanggar Putih; dan, tentu saja, Mas Abubakar selaku sutradara.

Keyakinan saya mengatakan, semangat yang sama sedang menyala-nyala di hati para aktor dan sutradara teater yang begitu antusias menyambut ide penyelenggaraan Festival 100 Monolog Putu Wijaya ini. Jadi, silakan interpretasikan dan terjemahkan semangat “teror” dan “bertolak dari yang ada” dalam karya-karya dramawan, aktor, penyair, sutradara, dan esais yang seperti tak pernah kehabisan tenaga ini ke dalam pentas monolog anda. Jika anda tulus dan bersungguh-sungguh, bukan tidak mungkin anda akan menemukan sisi dramaturgi “lain” yang selama ini terpendam dalam karya-karyanya yang meneror itu sehingga, siapa tahu, anda justru berbalik meneror si empunya karya melalui interpretasi anda yang ternyata mampu memberi taksu lain pada karya-karya itu. Bagaimana anda berproses, itulah yang terpenting.

Saya harus mengakhiri tulisan ini dengan pengakuan jujur kalau ulasan bersahaja bernuansa kilas balik pertunjukan monolog Kucing Hitam 1988 di atas sengaja saya pilih dalam memenuhi permintaan sahabat Putu Satria Kusuma (yang minta saya menulis “sesuatu” sebagai sebentuk ungkapan turut bersuka-cita atas penyelenggaraan Festival 100 Monolog Putu Wijaya yang digagasnya) pertama-tama adalah karena alasan bahwa saya tak perlu berpikir dalam menulisnya, sebab begitu berkesannya peristiwa itu sehingga semuanya masih terang dalam ingatan saya, seolah-olah kejadiannya baru berlangsung kemarin sore, dan saya tinggal membuat semacam laporan pandangan mata dengan sedikit improvisasi di sana-sini.

Namun, sudah pasti, itu bukanlah alasan satu-satunya. Alasan lain yang lebih penting sehingga membuat saya rela mengesampingkan sejenak tumpukan berkas perkara di hadapan saya adalah ini: barangkali pementasan Kucing Hitam di tahun 1988 itulah buat kali pertama (jangan-jangan juga yang terakhir) sebuah pementasan monolog dipersiapkan begitu serius bukan untuk merayakan apa-apa kecuali buat bersenang-senang dalam kesungguhan belajar perihal teater dan berteater dari para anggota komunitas KSTB. Penonton tidak (dan bukan) menjadi target, meskipun – tentu saja – diharapkan, khususnya penonton di luar anggota komunitas KSTB.

Saya ingat betul ucapan Putu Satria Kusuma saat itu, “Di Bali, ketika kita berteater, kalau ada satu orang penonton, itu sudah berarti sapih (impas). Kalau lebih dari satu berarti kita untung”. Seloroh yang sesungguhnya refleksi keprihatinan Putu itu disergah sahabat Joni Suhartawan, salah seorang anggota generasi pertama Sanggar Putih, “Eda keto Tu, melihat keseriusan si Agus dan Mas Abu, bisa-bisa justru kekurangan tongos (tempat) buat penonton, meskipun kita masih berteater secara sela-sela waktu”, pernyataan yang diiyakan oleh rekan David “Petruk” Darmawan sambil sibuk memilin-milin tali pramuka: property yang dipersiapkan buat menggantung leher si Agus, alias si “Aku”, pada adegan puncak Kucing Hitam. Dan, betapa bahagianya kami ketika optimisme Joni itulah yang menjadi kenyataan: penonton membludak – terlepas dari fakta bahwa hingga saat ini pun frasa “berteater secara sela-sela waktu” itu ternyata masih juga bertahan sebagai fenomena umum dalam kehidupan berteater (modern) di Bali.

Demikianlah sehingga ketika tepuk tangan panjang dan tulus yang diberikan secara spontan oleh penonton atas pertunjukan itu, bagi saya, reaksi penonton itu hanya mengandung satu interpretasi: kesungguhan proses akan selalu mendapat tempat dan apresiasi, kendatipun sangat melelahkan bahkan tidak jarang menyakitkan. Dalam kasus pementasan monolog Kucing Hitam 1988 ini, kata “menyakitkan” itu bahkan benar-benar bermakna literal: kawan Agus Kurniawan ketika memainkan lakon itu sesungguhnya dalam keadaan flu berat, mungkin karena kelelahan, sehingga begitu usai pentas kami harus mengantarnya ke dokter Mangku Karmaya, sekarang guru besar Fakultas Kedokteran Unud. Oleh dokter Mangku, ia diwajibkan beristirahat total. Itu pun masih dicoba ditawarnya, “Apa istirahatnya tidak boleh sambil nonton bola di tipi, Dok”. Dasar aktor. (T)

Jakarta, Maret 2017

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologTeater
Share150TweetSendShareSend
Previous Post

Cuaca Masih Ekstrem: Para Jomblo Stop Berdoa Mohon Hujan, Carilah Pacar!

Next Post

Anak Perempuan Suka Boneka – Apakah Mereka Pilih Mainan Sendiri?

IDG Palguna

IDG Palguna

Pengajar Hukum Internasional pada Fakultas Hukum Universitas Udayana, Hakim Konstitusi 2003-2008 dan 2015-2020.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Anak Perempuan Suka Boneka - Apakah Mereka Pilih Mainan Sendiri?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co