2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cuaca Masih Ekstrem: Para Jomblo Stop Berdoa Mohon Hujan, Carilah Pacar!

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Adegan dalam Film “The Shawshank Redemption” [1994]

MESKI di beberapa daerah hujan sudah reda dan hari mulai panas, namun di sejumlah daerah lain hujan tampaknya belum sepenuhnya berhenti. Apalagi, ini memang masih musim hujan. Yang bikin cemas, cuaca di sejumlah daerah masih ekstrem. Buktinya, di media sosial maupun di media arus utama, berita banjir masih tetap ada.

Teman-teman yang melewati jalur Denpasar-Singaraja masih tetap waspada, karena titik banjir di wilayah Pancasari belum bisa diatasi. Jika hujan, banjirlah berita tentang banjir di media sosial. Belum lagi kemungkinan longsor tetap jadi hantu dalam perjalanan.

Kenapa tiba-tiba panas, lalu tiba-tiba hujan turun sangat lebat disertai badai? Kenapa cuaca ikut-ikutan tidak bisa ditebak? Kenapa tidak mood cewek saja yang sulit ditebak? Kenapa cuaca ikut-ikutan tak bisa ditebak?

Mungkinkah itu kerjaan para jomblo? Hah?

***

TERSEBUTLAH sebuah kisah di sebuah negeri antah berantah. Hujan turun secara ekstrem, begitu deras. Banyak tanah longsor dan banjir. Setelah diselidiki, ternyata penyebab banjir adalah para jomblo yang jumlahnya makin banyak di negeri itu. Lho?

Barangkali tak ada yang pernah berpikir bahwa jomblo juga bisa jadi salah satu penyebab terjadinya perubahan cuaca yang ekstrem. Jika pembaca tulisan ini adalah seorang jomblo, tentu akan tahu jawabannya kenapa jomblo dianggap menjadi biang kerok masalah ini.

Ya, karena jomblo biasa berdoa setiap Sabtu malam atau malam Minggu. Berdoa agar turun hujan deras disertai badai kencang. Itu dilakukan agar teman-temannya yang punya pacar tak bisa bermesraan dengan bermanjaan sambil jalan-jalan menikmati Sabtu malam.

Apalagi pada bulan Februari, bulan yang disebut-sebut sebagai bulan kasih sayang. Hujan deras disertai angin kencang terjadi hampir setiap hari. Saat itu, para jomblo ternyata sedang getol-getolnya berdoa agar hujan turun dengan deras.

Semakin banyak jomblo yang berdoa semakin semakin sering turun hujan yang deras. Semakin banyak jomblo yang berdoa, semakin besar kemungkinan angin bertiup lebih kencang dari biasanya, bahkan mungkin saja durasinya sepanjang hari atau bisa juga sepanjang minggu. Atau sepanjang mantan-mantan mereka masih berstatus pacaran dengan orang lain. Doa ini tentu saja dilakukan jomblo-jomblo yang tidak bisa move on alias masih hold on.

Maka, agar tak terus-terusan terjadi hujan, pemimpin negeri pun mengeluarkan maklumat agar para jomblo jangan terus-terusan berdoa minta hujan deras dan badai. Daripada berdoa minta hujan, para pemimpin menyarankan lebih baik berdoa disertai perjuangan untuk mendapatkan pacar.

***

CERITA di negeri antah berantah itu tentu saja fiksi dan karangan semata. Tapi dalam kenyataannya, tampaknya ada dari kita pernah melihat, atau setidaknya tahu, bahwa ada seorang jomblo yang bahagia ketika turun hujan deras di malam Minggu.

Ada yang menulis status di beranda facebook: “Hahaha, hujan ya? Kasihan deh lo yang mau malmingan”.

Atau ada juga yang menulis dengan bahasa sok kebarat-baratan “Hujan ya? Too bad so sad for you couple”.

Bahkan ada juga yang sebelum malam Minggu tiba,  mereka terang-terangan berdoa agar turun hujan deras. “Malam minggu besok moga-moga turun hujan deras ya Tuhan. Galau liat mereka pacaran”.

Nah, jomblo-jomblo yang membaca tulisan ini, apakah ada yang pernah seperti itu? Atau apa ada yang pernah melihat temannya yang sesama jomblo seperti itu? Ayo ngaku, yang ngaku disayang Tuhan, ha ha ha.

Orang-orang tua mengatakan bahwa doa dari orang yang tulus biasanya akan terkabul, jika berdoa secara sungguh-sungguh juga akan terkabul, dan doa dari orang yang tersakiti katanya juga akan terkabul.

Nah, siapa tahu jomblo-jomblo itu adalah orang-orang yang tersakiti, misalnya menjomblo karena gagal move on, masih terasa sakit akibat pasangannya selingkuh dengan orang yang lebih tampan, lebih kaya, lebih bertalenta dan yang pasti lebih perhatian. Apa daya kalau sudah seperti itu. Maka, berdoa saja.

Tapi kenapa berdoa mohon hujan? Seperti katak saja. Jangan seperti katak-lah. Lebih baik, sebagimana pesan pemimpin di negeri antah berantah itu, para jomblo lekas berdoa untuk mendapatkan pacar. Jika doa belum juga terkabul, maka berjuanglah. Jangan pasrah tak jelas, lalu berdoa agar teman yang punya pacar juga menderita. Ayo, move on dong.

Jika doa mohon hujan dikabulkan, apakah para jomblo akan bahagia? Apakah para jomblo bahagia melihat teman-teman yang punya pacara juga menderita? Ah, jangan begitu, ah!

Ingatlah, jika doa para jomblo yang minta hujan deras disertai angin kencang itu terkabulkan, maka yang menderita bukan hanya pasangan yang sedang dimabuk asmara, tapi juga warga yang tinggal di lokasi rawan banjir dan rawan longsor juga mnederita. Nah, jika hujan deras dan banjir besar itu menyebabkan warga lain juga menderita, apakah para jomblo berbahagia?

Selain berdoa dan berjuang agar dapat pacar, bukankah lebih baik jika berdoa juga demi kebahagian mereka (baca: pasangan-pasangan asmara itu, yang di dalamnya ada sang mantan). Siapa tahu rejeki akan dilipatgandakan oleh Tuhan dan segera mendapatkan pacar.   Percayalah, Tuhan pasti sayang dengan jomblo-jomblo yang rajin berdoa untuk kebaikan orang lain di muka bumi ini.

Dan penting diingat, jika para jomblo sudah dapat pacar, status jomblo pun berubah menjadi berpacaran, bila perlu langsung ke bertunangan. Jika nanti sudah punya pacar, bagaimana rasanya jika ada orang lain yang berdoa agar kita tak bisa jalan-jalan di malam Minggu akibat hujan deras dan badai kencang? (T)

Tags: cintacuacahujanjomblo
Share173TweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Bunga-Bunga – Sebuah Dongeng untuk Bhuja*

Next Post

“Kucing Hitam 1988” – Catatan Perayaan Menyambut Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

“Kucing Hitam 1988” – Catatan Perayaan Menyambut Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co