24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Tanpa Kemaluan

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjangi diri, melintasi ruang hampa tanpa kelaki-lakian. Hidup dimulai dari kekosongan. Penistaan baru saja dimulai.takdir dimulai, jam berputar kembali. Angin berdesir kembali. Dan daun kering mulai jatuh dari pohonnya.

Aku duduk di tempat ini lagi. Tempat yang kusebut ruang tamu, dengan bolam kecil sebagai pemecah kegelapan. Dan seonggok televisi serta sofa yang usang terpukul waktu. Aku menonton, hal yang paling membosankan dalam hidup, duduk membaca koran, minum kopi di depan televisi. Sembari menunggu lusinan pekerjaan yang takkan ada henti menggerogoti isi kepala yang sedang menyantap sebuah kebahagiaan.

Apalah aku, aku adalah seorang mahluk nista tanpa daya menghadapi dusta yang tiada tara. Ketika aku tertutup kain, tertutup sebuah kepalsuan. Aku mereka sebut laki-laki. Tapi aku masih merasa seperti sekumpulan daging yang bisa bicara dan berjalan.

Mereka sebut aku laki-laki karena aku berkumis, memiliki jakun, badan tegap dan berjalan seolah sekeliling hanyalah sampah. Tapi jika saja mereka tahu, aku hanyalah mahluk nista yang diciptakan Pengarang Yang Maha Agung. Mungkin mereka akan bersiap meludahiku dengan kebencian, dengan ketakutan dan menenggelamkanku pada dimensi keterasingan.

Apa yang salah dengan tubuhku, tentu takada bila aku membaluti diri dengan kain. Tapi saat aku bercermin dan menelanjangi diri sendiri. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang tak diciptakan Tuhan. Itu adalah sebuah kehormatan bagi kaumku, bagi diriku tentunya, karena aku berbeda, karena aku terasing.

Ketika aku berenang atau sekadar berenang bersama kawan aku tak berani melepas sehelai kain dari tubuhku, itu sangat masuk akal karena aku takut mereka tahu bahwa ada laki-laki tanpa kemaluan seperti aku, seperti makhluk aneh ini. Dengan tanpa kemaluan aku berdiri untuk tipikal manusia yang tak memiliki sisi.

Mendekati wanita pun aku tak berani, apa yang salah, mereka juga mungkin menganggapku laki-laki yang normal dengan keadaan tubuh yang maksimal. Tapi tanpa segumpal daging itu, aku tak ada apa-apanya.

Tapi bukan hanya tanpa kemaluan, sifatku juga berbeda dengan lelaki kebanyakan. Mungkin kebanyakan lelaki sangat suka menggoda perempuan yang melintasi daerah kekuasaanya, tapi aku tidak, sama sekali tidak. Aku takut memanggil, menatap pun aku takut, apalagi memanggil dan menggoda. Ternyata aku baru sadar hanya tubuhku yang disebut laki-laki. Tapi jiwaku entah apa namanya.

Hidup penuh dengan penderitaan, ya penuh dengan penderitaan. Di mana waktu aku berada di Sekolah Dasar, ada yang disebut dengan tes urine. Lalu apa yang harus kukeluarkan, aku merasa cairan dalam tubuhku menguap tak mengalir keluar.

Setiap malam tubuhku terasa panas. Entah kenapa aku selalu berkeringat. Keringat yang mengucur deras. Lalu menguapkan bau pesing. Aku baru sadar keringatku bercampur dengan urine. Sungguh tidak masuk akal bukan? Tapi yang kurasakan sulit untuk kuungkapkan. Ya, perasaan seseorang tak pernah bisa dibaca ataupun diterawang, perasaan seseorang hanya bisa dirasakan, memang rasa harus bertemu dengan rasa.

Lelaki masa kini buas dan bernafsu seperti binatang. Gadis tetanggaku baru berumur 14 tahun sudah menikah akibat kebuasan lelaki. Ada apa dengan lelaki masa kini? Aku tak merasakan nafsu seperti kalian wahai kaum lelaki.

Pagi ini kuawali dengan berfikir itu lagi dengan segelas teh hijau yang dibawakan oleh temanku dari Belanda. Ia sangat cantik. Aku merasakan cinta. Ya, cinta yang berkepanjangan, sampai surat-surat yang ia kirimi dari Belanda kutempel di langit-langit kamar agar setiap hari bisa kubaca.

Tentu saja bisa kubaca, langit-langitku hanya setinggi 2 meter, jadi surat-surat itu bisa kubaca setiap hari dengan sempurna. Isi suratnya mengalir seperti puisi. Aku tak sadar kalau aku selalu bersyair setiap malam ditemani lusinan kertas merah muda yang selalu mengingatkanku padanya.

Mungkin perlu kuceritakan sedikit kepribadianku. Kepribadian yang sangat jauh dari dimensi kelaki-lakian. Entah apa namanya ini, mungkin aku, seperti kataku tadi hanyalah sebuah onggokan daging yang berjalan mengikuti alur hati. Aku adalah seorang laki-laki perasa. Berbeda dari laki-laki lain, yang mementingkan keangkuhan di atas segalanya. Sedikit keintiman berbahasa yang mungkin menusuk hatiku, sontak aku seperti prajurit yang kalah perang, penjudi yang kalah judi, aku lemas, remuk redam.

Hatiku tak bisa dibuai oleh pisau bahasa. Masih bisa kah kusebut diriku laki-laki? Mungkin belum. Mari dengarkan ceritaku lagi.

Kemarin malam aku melewati gang sempit di kompleks perumahan sebelah, di sana banyak kaum laki-laki berkumpul sembari menunggu para perempuan yang lewat lalu meneriaki, menggoda, mungkin sampai dicegat. Aku mulai berfikir dengan otak yang masih kumiliki, begitu hauskah laki-laki terhadap perempuan? Begitu maniskah perempuan lalu mereka telanjangi dan bersorak “horayyy”. Aku benci kaum laki-laki, begitu benci, benci sekali.

Ya aku berani mengatakan hal itu karena aku bukan kaum mereka, aku kaum nista yang dilahirkan Pengarang Yang Agung. Yang tak mengutamakan identitas diri, yang tak peduli dari kaum apa dan ras apa.

Aku terlahir tanpa kemaluan. Ya aku bukan aku, aku tak bisa disebut aku. Karena aku bukan terlahir dari ego, aku terlahir dari rasa yang dipendam Pengarang Yang Agung.

Kulanjutkan lagi tentang temanku yang dari Belanda. Ia adalah wanita yang anggun. Bagaimana rasanya menggambarkan wajah, mulai dari mana? Aliskah? Hidungkah? Aku hampir tak bisa menggambarkannya, membayangkannya saja senyum tipis diwajahku timbul sendiri.

Kemarin ia mengirimkan puisi lagi, isinya tentang kekangennannya padaku, tentang rindunya yang menggebu-gebu. Lalu di akhir kalimatnya yang melankoli ia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan menetap di Indonesia dengan waktu yang cukup lama.

Aku menunggu kepulangannya, menunggunya di gubuk derita ini. Menunggunya dengan segelas teh yang kuaduk setiap hari. Aku tak lelah juga tak letih menunggu kepulangannya. Ia dijadwalkan pulang besok pukul 12.30 Wita. Aku menunggu perenungan yang mengalir ini. Tepat pukul 11.00 Wita kujemput ia tepat di balik pohon bintang, pohon di mana kita pertama kali jumpa.

Ia masuk ke pekaranganku menghadapkan berbagai keluh kesahnya di negeri seberang. Ia menenun, menjahit dan membordir rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Pedih yang bertubi-tubi ia jumpai dan kegetiran yang tak kunjung ia usaikan. Ia membicarakan beribu pesakitan bersamaku sepanjang petang. Sembari mengaduk kopi yang ia buat sendiri dengan rasa penyesalannya datang ke negeri seberang. Lalu ia tertidur lelap. Menghadiahiku sepotong senyuman pengantar tidur yang menawan.

Keesokan harinya ia mulai bercerita lagi tentang jati dirinya, namun sebelum ia bicara ia menatapku dengan tajam dan menjentikkan satu jemarinya di sehelai rambut usangku. Ia mengatakan, “Kau tampan walau tanpa senyum, apakah hari-harimu selalu bahagia?”

Aku sontak terdiam, tertegun sembari menatap matanya yang masih lusuh, mungkin karena kelelahan setelah penerbangan yang jauh.

“Kau pikir aku bahagia?”

“Iya, tentu, pria setampan dan sependiam dirimu mungkin bahagia bukan?”

Bahagia katanya. Lelaki pendiam sepertiku ia bilang bahagia. Ia tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jati diri.

“Kau pernah mendengar, lelaki yang tak memiliki jati diri?” tanyaku spontan.

“Pernah, pamanku dulu tak memiliki jati diri, ia seperti iblis, tak seperti laki-laki!”

“Pernah mendengar laki-laki tanpa kelaki-lakian?”

“Maksudmu?”

“Ya, tanpa kelaki-lakian!”

“Kemaluan maksudmu?”

Aku terdiam, mengapa dengan semua kode menyulitkan itu dia langsung gamblang menyebutkan kemaluan? Atas dasar apa dia bisa menebak hal itu? Atas dasar apa dia mengetahui itu, aku menghentikan pembicaraanku dengannya. Berusaha menutup semua mulut yang ada di dalam tubuh. Ya, tubuh memiliki semua mulut yang secara tidak sadar bisa memberitahu orang tentang apa yang ingin kita bicarakan.

Siang menjelang, ia membereskan semua barang-barang yang ia anggap perlu untuk dibawa, yang penting untuk dibawa. Ia menyisakan satu barang untukku, lagi-lagi sebuah surat kecil, mungkinkah itu puisi yang ia buat setelah percakapan kita tadi? Mungkin saja tinta pada kertas itu masih basah, masih penuh keringat dan hembusan nafasnya.

Isi suratnya adalah tentang undangan menuju tempat pertemuan dan perpisahan kita, iya pohon berdaun bintang. Pohon di mana kenangan bersamannya beradu membentuk sebuah gelembung sabun yang tak pernah pecah walau diterpa angin sekalipun. Gelembung itu hidup di dalam sini, di dalam onggokan daging yang tak memiliki jati diri ini.

Aku menemuinya saat petang menjelang, sebab kami selalu bertemu dan berpisah saat petang memandang. Bukan kami yang memandang petang. Tapi petang yang mengiri langkah kami menuju tempat ini. Ia membisu lalu diingiringi dengan derai air mata yang membasahi hampir seluruh pipinya yang lembut itu. Ia menangis. Bersedih, entah karena apa.

Aku menemaninya memandang bintang jatuh lalu dibarengi dengan daun bintang yang berguguran. Lampu taman tak begitu menyilaukan mata. Sedikit redup tapi menyinari, cukup untukku melihat kegelisahannya, melihat beban yang begitu terpendam di bilik hatinya yang terdalam.

Ia memandangku tajam, cukup tajam untuk membelah dadaku dan mengeluarkan isinya. Ia memegang tangan ku lalu berkata.

“Apakah kau ingin kujadikan laki-laki sejati?”

“Maksudmu?” dengan lantang aku balik bertanya.

“Menjadi ayah tepatnya, menjadi ayah bagi anak kita kelak?”

Aku masih belum mengerti, hatiku dingin, sedingin udara petang itu.

“Marilah kita nikah, aku tengah hamil!”

“Siapa Bapak dari anak itu, tak mungkin aku kan?”

“Ini memang bukan anakmu, bukan juga anaku. Ini adalah anak dari pohon bintang, pohon pertemuan dan perpisahan!”

Anaku adalah sebuah tanah liat, yang diciptakan Pengarang Yang Agung. Dibentuk menjadi sebuah tubuh. Lalu dihiasi dengan kayu api, dan dua kerikil sebagai matanya, lalu sepucuk padi untuk hidung, dan ilalang kering sebagai rambut. Tak lupa juga Ia memberinya kemahiran agar bisa bersosialisasi dengan sesama tanah liat. Itulah anaku. Yang tercipta dari diriku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co