23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Tanpa Kemaluan

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjangi diri, melintasi ruang hampa tanpa kelaki-lakian. Hidup dimulai dari kekosongan. Penistaan baru saja dimulai.takdir dimulai, jam berputar kembali. Angin berdesir kembali. Dan daun kering mulai jatuh dari pohonnya.

Aku duduk di tempat ini lagi. Tempat yang kusebut ruang tamu, dengan bolam kecil sebagai pemecah kegelapan. Dan seonggok televisi serta sofa yang usang terpukul waktu. Aku menonton, hal yang paling membosankan dalam hidup, duduk membaca koran, minum kopi di depan televisi. Sembari menunggu lusinan pekerjaan yang takkan ada henti menggerogoti isi kepala yang sedang menyantap sebuah kebahagiaan.

Apalah aku, aku adalah seorang mahluk nista tanpa daya menghadapi dusta yang tiada tara. Ketika aku tertutup kain, tertutup sebuah kepalsuan. Aku mereka sebut laki-laki. Tapi aku masih merasa seperti sekumpulan daging yang bisa bicara dan berjalan.

Mereka sebut aku laki-laki karena aku berkumis, memiliki jakun, badan tegap dan berjalan seolah sekeliling hanyalah sampah. Tapi jika saja mereka tahu, aku hanyalah mahluk nista yang diciptakan Pengarang Yang Maha Agung. Mungkin mereka akan bersiap meludahiku dengan kebencian, dengan ketakutan dan menenggelamkanku pada dimensi keterasingan.

Apa yang salah dengan tubuhku, tentu takada bila aku membaluti diri dengan kain. Tapi saat aku bercermin dan menelanjangi diri sendiri. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang tak diciptakan Tuhan. Itu adalah sebuah kehormatan bagi kaumku, bagi diriku tentunya, karena aku berbeda, karena aku terasing.

Ketika aku berenang atau sekadar berenang bersama kawan aku tak berani melepas sehelai kain dari tubuhku, itu sangat masuk akal karena aku takut mereka tahu bahwa ada laki-laki tanpa kemaluan seperti aku, seperti makhluk aneh ini. Dengan tanpa kemaluan aku berdiri untuk tipikal manusia yang tak memiliki sisi.

Mendekati wanita pun aku tak berani, apa yang salah, mereka juga mungkin menganggapku laki-laki yang normal dengan keadaan tubuh yang maksimal. Tapi tanpa segumpal daging itu, aku tak ada apa-apanya.

Tapi bukan hanya tanpa kemaluan, sifatku juga berbeda dengan lelaki kebanyakan. Mungkin kebanyakan lelaki sangat suka menggoda perempuan yang melintasi daerah kekuasaanya, tapi aku tidak, sama sekali tidak. Aku takut memanggil, menatap pun aku takut, apalagi memanggil dan menggoda. Ternyata aku baru sadar hanya tubuhku yang disebut laki-laki. Tapi jiwaku entah apa namanya.

Hidup penuh dengan penderitaan, ya penuh dengan penderitaan. Di mana waktu aku berada di Sekolah Dasar, ada yang disebut dengan tes urine. Lalu apa yang harus kukeluarkan, aku merasa cairan dalam tubuhku menguap tak mengalir keluar.

Setiap malam tubuhku terasa panas. Entah kenapa aku selalu berkeringat. Keringat yang mengucur deras. Lalu menguapkan bau pesing. Aku baru sadar keringatku bercampur dengan urine. Sungguh tidak masuk akal bukan? Tapi yang kurasakan sulit untuk kuungkapkan. Ya, perasaan seseorang tak pernah bisa dibaca ataupun diterawang, perasaan seseorang hanya bisa dirasakan, memang rasa harus bertemu dengan rasa.

Lelaki masa kini buas dan bernafsu seperti binatang. Gadis tetanggaku baru berumur 14 tahun sudah menikah akibat kebuasan lelaki. Ada apa dengan lelaki masa kini? Aku tak merasakan nafsu seperti kalian wahai kaum lelaki.

Pagi ini kuawali dengan berfikir itu lagi dengan segelas teh hijau yang dibawakan oleh temanku dari Belanda. Ia sangat cantik. Aku merasakan cinta. Ya, cinta yang berkepanjangan, sampai surat-surat yang ia kirimi dari Belanda kutempel di langit-langit kamar agar setiap hari bisa kubaca.

Tentu saja bisa kubaca, langit-langitku hanya setinggi 2 meter, jadi surat-surat itu bisa kubaca setiap hari dengan sempurna. Isi suratnya mengalir seperti puisi. Aku tak sadar kalau aku selalu bersyair setiap malam ditemani lusinan kertas merah muda yang selalu mengingatkanku padanya.

Mungkin perlu kuceritakan sedikit kepribadianku. Kepribadian yang sangat jauh dari dimensi kelaki-lakian. Entah apa namanya ini, mungkin aku, seperti kataku tadi hanyalah sebuah onggokan daging yang berjalan mengikuti alur hati. Aku adalah seorang laki-laki perasa. Berbeda dari laki-laki lain, yang mementingkan keangkuhan di atas segalanya. Sedikit keintiman berbahasa yang mungkin menusuk hatiku, sontak aku seperti prajurit yang kalah perang, penjudi yang kalah judi, aku lemas, remuk redam.

Hatiku tak bisa dibuai oleh pisau bahasa. Masih bisa kah kusebut diriku laki-laki? Mungkin belum. Mari dengarkan ceritaku lagi.

Kemarin malam aku melewati gang sempit di kompleks perumahan sebelah, di sana banyak kaum laki-laki berkumpul sembari menunggu para perempuan yang lewat lalu meneriaki, menggoda, mungkin sampai dicegat. Aku mulai berfikir dengan otak yang masih kumiliki, begitu hauskah laki-laki terhadap perempuan? Begitu maniskah perempuan lalu mereka telanjangi dan bersorak “horayyy”. Aku benci kaum laki-laki, begitu benci, benci sekali.

Ya aku berani mengatakan hal itu karena aku bukan kaum mereka, aku kaum nista yang dilahirkan Pengarang Yang Agung. Yang tak mengutamakan identitas diri, yang tak peduli dari kaum apa dan ras apa.

Aku terlahir tanpa kemaluan. Ya aku bukan aku, aku tak bisa disebut aku. Karena aku bukan terlahir dari ego, aku terlahir dari rasa yang dipendam Pengarang Yang Agung.

Kulanjutkan lagi tentang temanku yang dari Belanda. Ia adalah wanita yang anggun. Bagaimana rasanya menggambarkan wajah, mulai dari mana? Aliskah? Hidungkah? Aku hampir tak bisa menggambarkannya, membayangkannya saja senyum tipis diwajahku timbul sendiri.

Kemarin ia mengirimkan puisi lagi, isinya tentang kekangennannya padaku, tentang rindunya yang menggebu-gebu. Lalu di akhir kalimatnya yang melankoli ia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan menetap di Indonesia dengan waktu yang cukup lama.

Aku menunggu kepulangannya, menunggunya di gubuk derita ini. Menunggunya dengan segelas teh yang kuaduk setiap hari. Aku tak lelah juga tak letih menunggu kepulangannya. Ia dijadwalkan pulang besok pukul 12.30 Wita. Aku menunggu perenungan yang mengalir ini. Tepat pukul 11.00 Wita kujemput ia tepat di balik pohon bintang, pohon di mana kita pertama kali jumpa.

Ia masuk ke pekaranganku menghadapkan berbagai keluh kesahnya di negeri seberang. Ia menenun, menjahit dan membordir rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Pedih yang bertubi-tubi ia jumpai dan kegetiran yang tak kunjung ia usaikan. Ia membicarakan beribu pesakitan bersamaku sepanjang petang. Sembari mengaduk kopi yang ia buat sendiri dengan rasa penyesalannya datang ke negeri seberang. Lalu ia tertidur lelap. Menghadiahiku sepotong senyuman pengantar tidur yang menawan.

Keesokan harinya ia mulai bercerita lagi tentang jati dirinya, namun sebelum ia bicara ia menatapku dengan tajam dan menjentikkan satu jemarinya di sehelai rambut usangku. Ia mengatakan, “Kau tampan walau tanpa senyum, apakah hari-harimu selalu bahagia?”

Aku sontak terdiam, tertegun sembari menatap matanya yang masih lusuh, mungkin karena kelelahan setelah penerbangan yang jauh.

“Kau pikir aku bahagia?”

“Iya, tentu, pria setampan dan sependiam dirimu mungkin bahagia bukan?”

Bahagia katanya. Lelaki pendiam sepertiku ia bilang bahagia. Ia tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jati diri.

“Kau pernah mendengar, lelaki yang tak memiliki jati diri?” tanyaku spontan.

“Pernah, pamanku dulu tak memiliki jati diri, ia seperti iblis, tak seperti laki-laki!”

“Pernah mendengar laki-laki tanpa kelaki-lakian?”

“Maksudmu?”

“Ya, tanpa kelaki-lakian!”

“Kemaluan maksudmu?”

Aku terdiam, mengapa dengan semua kode menyulitkan itu dia langsung gamblang menyebutkan kemaluan? Atas dasar apa dia bisa menebak hal itu? Atas dasar apa dia mengetahui itu, aku menghentikan pembicaraanku dengannya. Berusaha menutup semua mulut yang ada di dalam tubuh. Ya, tubuh memiliki semua mulut yang secara tidak sadar bisa memberitahu orang tentang apa yang ingin kita bicarakan.

Siang menjelang, ia membereskan semua barang-barang yang ia anggap perlu untuk dibawa, yang penting untuk dibawa. Ia menyisakan satu barang untukku, lagi-lagi sebuah surat kecil, mungkinkah itu puisi yang ia buat setelah percakapan kita tadi? Mungkin saja tinta pada kertas itu masih basah, masih penuh keringat dan hembusan nafasnya.

Isi suratnya adalah tentang undangan menuju tempat pertemuan dan perpisahan kita, iya pohon berdaun bintang. Pohon di mana kenangan bersamannya beradu membentuk sebuah gelembung sabun yang tak pernah pecah walau diterpa angin sekalipun. Gelembung itu hidup di dalam sini, di dalam onggokan daging yang tak memiliki jati diri ini.

Aku menemuinya saat petang menjelang, sebab kami selalu bertemu dan berpisah saat petang memandang. Bukan kami yang memandang petang. Tapi petang yang mengiri langkah kami menuju tempat ini. Ia membisu lalu diingiringi dengan derai air mata yang membasahi hampir seluruh pipinya yang lembut itu. Ia menangis. Bersedih, entah karena apa.

Aku menemaninya memandang bintang jatuh lalu dibarengi dengan daun bintang yang berguguran. Lampu taman tak begitu menyilaukan mata. Sedikit redup tapi menyinari, cukup untukku melihat kegelisahannya, melihat beban yang begitu terpendam di bilik hatinya yang terdalam.

Ia memandangku tajam, cukup tajam untuk membelah dadaku dan mengeluarkan isinya. Ia memegang tangan ku lalu berkata.

“Apakah kau ingin kujadikan laki-laki sejati?”

“Maksudmu?” dengan lantang aku balik bertanya.

“Menjadi ayah tepatnya, menjadi ayah bagi anak kita kelak?”

Aku masih belum mengerti, hatiku dingin, sedingin udara petang itu.

“Marilah kita nikah, aku tengah hamil!”

“Siapa Bapak dari anak itu, tak mungkin aku kan?”

“Ini memang bukan anakmu, bukan juga anaku. Ini adalah anak dari pohon bintang, pohon pertemuan dan perpisahan!”

Anaku adalah sebuah tanah liat, yang diciptakan Pengarang Yang Agung. Dibentuk menjadi sebuah tubuh. Lalu dihiasi dengan kayu api, dan dua kerikil sebagai matanya, lalu sepucuk padi untuk hidung, dan ilalang kering sebagai rambut. Tak lupa juga Ia memberinya kemahiran agar bisa bersosialisasi dengan sesama tanah liat. Itulah anaku. Yang tercipta dari diriku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co