25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Tanpa Kemaluan

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjangi diri, melintasi ruang hampa tanpa kelaki-lakian. Hidup dimulai dari kekosongan. Penistaan baru saja dimulai.takdir dimulai, jam berputar kembali. Angin berdesir kembali. Dan daun kering mulai jatuh dari pohonnya.

Aku duduk di tempat ini lagi. Tempat yang kusebut ruang tamu, dengan bolam kecil sebagai pemecah kegelapan. Dan seonggok televisi serta sofa yang usang terpukul waktu. Aku menonton, hal yang paling membosankan dalam hidup, duduk membaca koran, minum kopi di depan televisi. Sembari menunggu lusinan pekerjaan yang takkan ada henti menggerogoti isi kepala yang sedang menyantap sebuah kebahagiaan.

Apalah aku, aku adalah seorang mahluk nista tanpa daya menghadapi dusta yang tiada tara. Ketika aku tertutup kain, tertutup sebuah kepalsuan. Aku mereka sebut laki-laki. Tapi aku masih merasa seperti sekumpulan daging yang bisa bicara dan berjalan.

Mereka sebut aku laki-laki karena aku berkumis, memiliki jakun, badan tegap dan berjalan seolah sekeliling hanyalah sampah. Tapi jika saja mereka tahu, aku hanyalah mahluk nista yang diciptakan Pengarang Yang Maha Agung. Mungkin mereka akan bersiap meludahiku dengan kebencian, dengan ketakutan dan menenggelamkanku pada dimensi keterasingan.

Apa yang salah dengan tubuhku, tentu takada bila aku membaluti diri dengan kain. Tapi saat aku bercermin dan menelanjangi diri sendiri. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang tak diciptakan Tuhan. Itu adalah sebuah kehormatan bagi kaumku, bagi diriku tentunya, karena aku berbeda, karena aku terasing.

Ketika aku berenang atau sekadar berenang bersama kawan aku tak berani melepas sehelai kain dari tubuhku, itu sangat masuk akal karena aku takut mereka tahu bahwa ada laki-laki tanpa kemaluan seperti aku, seperti makhluk aneh ini. Dengan tanpa kemaluan aku berdiri untuk tipikal manusia yang tak memiliki sisi.

Mendekati wanita pun aku tak berani, apa yang salah, mereka juga mungkin menganggapku laki-laki yang normal dengan keadaan tubuh yang maksimal. Tapi tanpa segumpal daging itu, aku tak ada apa-apanya.

Tapi bukan hanya tanpa kemaluan, sifatku juga berbeda dengan lelaki kebanyakan. Mungkin kebanyakan lelaki sangat suka menggoda perempuan yang melintasi daerah kekuasaanya, tapi aku tidak, sama sekali tidak. Aku takut memanggil, menatap pun aku takut, apalagi memanggil dan menggoda. Ternyata aku baru sadar hanya tubuhku yang disebut laki-laki. Tapi jiwaku entah apa namanya.

Hidup penuh dengan penderitaan, ya penuh dengan penderitaan. Di mana waktu aku berada di Sekolah Dasar, ada yang disebut dengan tes urine. Lalu apa yang harus kukeluarkan, aku merasa cairan dalam tubuhku menguap tak mengalir keluar.

Setiap malam tubuhku terasa panas. Entah kenapa aku selalu berkeringat. Keringat yang mengucur deras. Lalu menguapkan bau pesing. Aku baru sadar keringatku bercampur dengan urine. Sungguh tidak masuk akal bukan? Tapi yang kurasakan sulit untuk kuungkapkan. Ya, perasaan seseorang tak pernah bisa dibaca ataupun diterawang, perasaan seseorang hanya bisa dirasakan, memang rasa harus bertemu dengan rasa.

Lelaki masa kini buas dan bernafsu seperti binatang. Gadis tetanggaku baru berumur 14 tahun sudah menikah akibat kebuasan lelaki. Ada apa dengan lelaki masa kini? Aku tak merasakan nafsu seperti kalian wahai kaum lelaki.

Pagi ini kuawali dengan berfikir itu lagi dengan segelas teh hijau yang dibawakan oleh temanku dari Belanda. Ia sangat cantik. Aku merasakan cinta. Ya, cinta yang berkepanjangan, sampai surat-surat yang ia kirimi dari Belanda kutempel di langit-langit kamar agar setiap hari bisa kubaca.

Tentu saja bisa kubaca, langit-langitku hanya setinggi 2 meter, jadi surat-surat itu bisa kubaca setiap hari dengan sempurna. Isi suratnya mengalir seperti puisi. Aku tak sadar kalau aku selalu bersyair setiap malam ditemani lusinan kertas merah muda yang selalu mengingatkanku padanya.

Mungkin perlu kuceritakan sedikit kepribadianku. Kepribadian yang sangat jauh dari dimensi kelaki-lakian. Entah apa namanya ini, mungkin aku, seperti kataku tadi hanyalah sebuah onggokan daging yang berjalan mengikuti alur hati. Aku adalah seorang laki-laki perasa. Berbeda dari laki-laki lain, yang mementingkan keangkuhan di atas segalanya. Sedikit keintiman berbahasa yang mungkin menusuk hatiku, sontak aku seperti prajurit yang kalah perang, penjudi yang kalah judi, aku lemas, remuk redam.

Hatiku tak bisa dibuai oleh pisau bahasa. Masih bisa kah kusebut diriku laki-laki? Mungkin belum. Mari dengarkan ceritaku lagi.

Kemarin malam aku melewati gang sempit di kompleks perumahan sebelah, di sana banyak kaum laki-laki berkumpul sembari menunggu para perempuan yang lewat lalu meneriaki, menggoda, mungkin sampai dicegat. Aku mulai berfikir dengan otak yang masih kumiliki, begitu hauskah laki-laki terhadap perempuan? Begitu maniskah perempuan lalu mereka telanjangi dan bersorak “horayyy”. Aku benci kaum laki-laki, begitu benci, benci sekali.

Ya aku berani mengatakan hal itu karena aku bukan kaum mereka, aku kaum nista yang dilahirkan Pengarang Yang Agung. Yang tak mengutamakan identitas diri, yang tak peduli dari kaum apa dan ras apa.

Aku terlahir tanpa kemaluan. Ya aku bukan aku, aku tak bisa disebut aku. Karena aku bukan terlahir dari ego, aku terlahir dari rasa yang dipendam Pengarang Yang Agung.

Kulanjutkan lagi tentang temanku yang dari Belanda. Ia adalah wanita yang anggun. Bagaimana rasanya menggambarkan wajah, mulai dari mana? Aliskah? Hidungkah? Aku hampir tak bisa menggambarkannya, membayangkannya saja senyum tipis diwajahku timbul sendiri.

Kemarin ia mengirimkan puisi lagi, isinya tentang kekangennannya padaku, tentang rindunya yang menggebu-gebu. Lalu di akhir kalimatnya yang melankoli ia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan menetap di Indonesia dengan waktu yang cukup lama.

Aku menunggu kepulangannya, menunggunya di gubuk derita ini. Menunggunya dengan segelas teh yang kuaduk setiap hari. Aku tak lelah juga tak letih menunggu kepulangannya. Ia dijadwalkan pulang besok pukul 12.30 Wita. Aku menunggu perenungan yang mengalir ini. Tepat pukul 11.00 Wita kujemput ia tepat di balik pohon bintang, pohon di mana kita pertama kali jumpa.

Ia masuk ke pekaranganku menghadapkan berbagai keluh kesahnya di negeri seberang. Ia menenun, menjahit dan membordir rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Pedih yang bertubi-tubi ia jumpai dan kegetiran yang tak kunjung ia usaikan. Ia membicarakan beribu pesakitan bersamaku sepanjang petang. Sembari mengaduk kopi yang ia buat sendiri dengan rasa penyesalannya datang ke negeri seberang. Lalu ia tertidur lelap. Menghadiahiku sepotong senyuman pengantar tidur yang menawan.

Keesokan harinya ia mulai bercerita lagi tentang jati dirinya, namun sebelum ia bicara ia menatapku dengan tajam dan menjentikkan satu jemarinya di sehelai rambut usangku. Ia mengatakan, “Kau tampan walau tanpa senyum, apakah hari-harimu selalu bahagia?”

Aku sontak terdiam, tertegun sembari menatap matanya yang masih lusuh, mungkin karena kelelahan setelah penerbangan yang jauh.

“Kau pikir aku bahagia?”

“Iya, tentu, pria setampan dan sependiam dirimu mungkin bahagia bukan?”

Bahagia katanya. Lelaki pendiam sepertiku ia bilang bahagia. Ia tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jati diri.

“Kau pernah mendengar, lelaki yang tak memiliki jati diri?” tanyaku spontan.

“Pernah, pamanku dulu tak memiliki jati diri, ia seperti iblis, tak seperti laki-laki!”

“Pernah mendengar laki-laki tanpa kelaki-lakian?”

“Maksudmu?”

“Ya, tanpa kelaki-lakian!”

“Kemaluan maksudmu?”

Aku terdiam, mengapa dengan semua kode menyulitkan itu dia langsung gamblang menyebutkan kemaluan? Atas dasar apa dia bisa menebak hal itu? Atas dasar apa dia mengetahui itu, aku menghentikan pembicaraanku dengannya. Berusaha menutup semua mulut yang ada di dalam tubuh. Ya, tubuh memiliki semua mulut yang secara tidak sadar bisa memberitahu orang tentang apa yang ingin kita bicarakan.

Siang menjelang, ia membereskan semua barang-barang yang ia anggap perlu untuk dibawa, yang penting untuk dibawa. Ia menyisakan satu barang untukku, lagi-lagi sebuah surat kecil, mungkinkah itu puisi yang ia buat setelah percakapan kita tadi? Mungkin saja tinta pada kertas itu masih basah, masih penuh keringat dan hembusan nafasnya.

Isi suratnya adalah tentang undangan menuju tempat pertemuan dan perpisahan kita, iya pohon berdaun bintang. Pohon di mana kenangan bersamannya beradu membentuk sebuah gelembung sabun yang tak pernah pecah walau diterpa angin sekalipun. Gelembung itu hidup di dalam sini, di dalam onggokan daging yang tak memiliki jati diri ini.

Aku menemuinya saat petang menjelang, sebab kami selalu bertemu dan berpisah saat petang memandang. Bukan kami yang memandang petang. Tapi petang yang mengiri langkah kami menuju tempat ini. Ia membisu lalu diingiringi dengan derai air mata yang membasahi hampir seluruh pipinya yang lembut itu. Ia menangis. Bersedih, entah karena apa.

Aku menemaninya memandang bintang jatuh lalu dibarengi dengan daun bintang yang berguguran. Lampu taman tak begitu menyilaukan mata. Sedikit redup tapi menyinari, cukup untukku melihat kegelisahannya, melihat beban yang begitu terpendam di bilik hatinya yang terdalam.

Ia memandangku tajam, cukup tajam untuk membelah dadaku dan mengeluarkan isinya. Ia memegang tangan ku lalu berkata.

“Apakah kau ingin kujadikan laki-laki sejati?”

“Maksudmu?” dengan lantang aku balik bertanya.

“Menjadi ayah tepatnya, menjadi ayah bagi anak kita kelak?”

Aku masih belum mengerti, hatiku dingin, sedingin udara petang itu.

“Marilah kita nikah, aku tengah hamil!”

“Siapa Bapak dari anak itu, tak mungkin aku kan?”

“Ini memang bukan anakmu, bukan juga anaku. Ini adalah anak dari pohon bintang, pohon pertemuan dan perpisahan!”

Anaku adalah sebuah tanah liat, yang diciptakan Pengarang Yang Agung. Dibentuk menjadi sebuah tubuh. Lalu dihiasi dengan kayu api, dan dua kerikil sebagai matanya, lalu sepucuk padi untuk hidung, dan ilalang kering sebagai rambut. Tak lupa juga Ia memberinya kemahiran agar bisa bersosialisasi dengan sesama tanah liat. Itulah anaku. Yang tercipta dari diriku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co