6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memilih Buron

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Yoyo Raharyo

SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian seminggu lalu ketika seseorang bersama tetangga yang baru ia kenal, serta petugas keamanan adat, tiba-tiba datang ke rumah kontrakan yang ditinggalinya di Kota Pelangi.

Seseorang ini adalah pemilik kain yang dia curi enam bulan lalu. Karena kejadian itu, dia memilih jadi buronan polisi, ketimbang menyelesaikan secara baik-baik. Sukri juga tak berani pulang ke rumah aslinya di Kota Apel. Pikirnya, kalau itu ia lakukan, sangat mudah bagi polisi melakukan penangkapan.

“Pak,” seru Sutinah mengejutkan lamunannya. “Sampai kapan kita begini?”

Usai tergeragap, ia berkata: “Tak tahulah. Mungkin untuk sementara kita begini dulu, sampai kita cukup aman.”

“Tapi, kapan, Pak? Uang kita sudah menipis. Kalau Bapak terus sembunyi, diam begini saja, kita ndak enak sama sepupu kita. Malu Pak, jadi benalu,” katanya nyerocos.

“Sabar dulu, Bu. Aku juga belum bisa mikir.”

***

Sejak setahun lalu, kondisi perekonomian negeri memburuk. Dampak dari krisis ekonomi global yang melanda berbagai negeri. Sukri kena dampak. Ia gelisah karena pembeli sepi. Pelanggannya pun jarang yang datang ke tempat usahanya, di depan sebuah lapangan sepakbola, diapit sejumlah sekolah dan perumahan.

Sebelum masa paceklik, ia bisa menyelip daging sapi sebanyak 2 kilogram ditambah 2 kilogram daging ayam setiap hari. Buruknya daya beli masyarakat membuat dia terpaksa hanya menyelip separonya saja. Itu pun, kadang tidak habis terjual. Dijual kembali keesokan harinya, atau dibagikan kepada tetangga bila tak mampu terjual lagi. Terlalu lama tak laku, bakso pasti basi.

Di sisi yang lain, sang istri, Sutinah sedang mengandung anak kedua dari perkawinannya yang sudah berlangsung 14 tahun. Kalau ekonomi baik-baik saja, pikirnya, tentu dia tak perlu harus berpindah-pindah terus dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Rumah kontrakannya yang terakhir adalah sebuah rumah dengan biaya murah, di pinggiran Kota Pelangi, sebuah kota kecil di Pulau Dewata. Rumah tipe 21 meter persegi, dengan satu kamar tidur saja. Dinding tanpa plesteran, dengan lantai berplester kasar.

“Bu, kalau usaha kita begini terus, sepertinya aku tak mampu bayar biaya lahiran anak kedua kita,” katanya sambil membuat pentol bakso di dapur rumah kontrakannya, kala itu.

“Lalu, kita harus bagaimana, Pak? Sedangkan kita tak dapat JKN* yang digembar-gemborkan pemerintah.”

“Mungkin kita harus pakai jaminan kesehatan yang ditanggung pemerintah daerah. Kata Pak Sarto, itu mudah. Yang penting ada KTP provinsi sini.”

“Ya kalau begitu, cepetan diurus ke pak kades, Pak. Soalnya biaya bersalin tak sedikit juga. Belum lagi Adi, anak kita juga butuh biaya sekolah, belum lagi jajan sehari-hari yang tak cukup lima ribu rupiah.”

Dua bulan setelah percakapan itu, ketika tidur-tiduran di kamar, Sutinah merasakan mules. Dia yakin, bayi di kandungannya sudah siap memberontak, ingin menghirup udara bebas. Sukri yang sedang berjualan bakso di pangkalannya, segera pulang ketika mendapat telepon sang istri. Sutinah pun dibawa ke RSUD di Kota Pelangi. Anak pertamanya yang sudah kelas 3 SD pun dititipkan kepada tetangga, agar dia bisa fokus menunggu sang istri di rumah sakit.

“Bapak keluarga Ibu Sutinah?” tanya perawat.

“Ya, Bu. Saya suaminya.”

“Jadi begini, Pak. Ibu Sutinah mengalami hipertensi. Tekanan darah tingginya naik jadi 150/100 mmHg. Ini cukup berbahaya. Maka, tekanan darahnya akan diturunkan dulu. Kalau sudah normal, dilakukan tindakan cesar.”

“Bagaimana baiknya saja, Bu. Yang penting ibu dan bayinya bisa selamat.”

Selang beberapa menit, Sukri dipanggil perawat. Dia diberikan resep obat untuk ditebus di apotek rumah sakit. Dan pihak apotek menyerahkan rincian obat dan biayanya. Tercetak angka Rp 845.000. Betapa terkejutnya Sukri. Ingin dia bertanya mengapa bayar, tapi tak berani. Hari kedua juga dia diberikan resep yang tak jauh berbeda. Baik obat-obatan, termasuk beberapa botol cairan infuse. Itu berlangsung sampai hari ketiga. Sekitar Rp 2.730.500 sudah dia keluarkan. Uang di dompetnya tertinggal Rp 125 ribu. Itu uang sisa yang didapat dari menggadaikan BPKB sepeda motor satu-satunya.

Pikiran Sukri kalut. Dia mencoba meminjam uang ke sana-sini. Tidak banyak yang dapat meminjami. Kalaupun ada yang mau meminjami, hanya seratusan sampai dua ratusan ribu rupiah saja.

Dan di  hari kelima, sang istri pun menjalani operasi cesar untuk mengeluarkan si jabang bayi. Ibu dan anak berhasil diselamatkan. Rasa bahagia dan nelangsa bercampur di batinnya. Senang karena istri yang terkasih berikut bayinya dapat tertolong. Tapi, dia masih belum tenang. Ini soal biaya rumah sakit yang terus membengkak. Sampai hari kelima itu, dia sudah mengeluarkan uang Rp 3.605.000. Sudah tidak ada uang di dompet. Hanya tersisa Rp 35 ribu di kantong celananya.

***

Ia berpikir keras. Sesekali menjambak rambut sendiri, memukul-mukul kepalanya menggunakan kepalan tangan. Lalu tertunduk, meratapi nasib. Ia menggugat Tuhan-nya. “Kepada siapa lagi aku mengadu, ya Tuhan. Tolonglah aku. Setiap hari kusembah, apakah Kau akan menelantarkan hambamu ini?”

Dalam gusar, ia teringat Tarno. Tetangga rumah kontrakannya terdahulu. Segera, Sukri menggeber sepeda motornya mencari mantan aktivis mahasiswa itu. Tapi, Tarno sedang tak ada di rumah. Padahal, dia sangat berharap Tarno bisa membantunya. Setidaknya bukan dengan uang, karena ia tahu, kehidupan Tarno juga hanya lebih baik sedikit darinya. Sukri butuh Tarno yang dikenal berani dan luas wawasannya.

“Bapak masih di luar kota, Pak Sukri. Mungkin besok siang sudah kembali,” kata Khodijah, istri Tarno.

Sambil mengendarai sepeda motor untuk kembali ke rumah sakit, pandangan Sukri tertuju pada bungkusan karung ukuran beras setengah kwintal. Seorang kondekturbaru menurunkan dari bus di depan minimarket yang tak terlalu ramai. Mendadak Tarno menghentikan laju sepeda motornya. Mengambil jarak 30 meter dari barang bidikannya, ia menyelidik, duduk di atas motornya yang sudah dimatikan. Sambil membakar rokoknya, lelaki yang tak tamat SD ini mengamati gerak pengunjung minimarket.

Lima menit menunggu, si empunya paket barang itu tak kunjung nongol. Tanpa pikir panjang lagi, Sukri pun segera mendekati karung yang kemudian ia tahu, itu berisi kain. Konon kain mahal, untuk membuat kebaya. Karung berisi paketan ini memang biasa seminggu sekali datang dan diturunkan di depan minimarket. Biasanya anak buah si pemilik paketan ini sudah menunggu sebelum bus tiba. Entah bagaimana, hari itu ia telat datang.

Dengan hati cemas, ia naikkan kain sekarung itu ke atas sepeda motornya, lalu dibawa ke rumah kontrakan. Sayang, tak mudah dia menjualnya. Beberapa kali ditawarkan ke tetangga, atau teman-temannya, baru sedikit saja yang laku. Dia baru bisa mengumpulkan uang Rp 2.500.000 dari menjual seperempat kain itu. Tapi, lagi-lagi hanya tersisa sedikit saja, untuk membeli obat kembali.

***

Tarno tiba di rumah sesuai rencana. Sang istri memberitahu bahwa Sukri sempat datang kemarin siang. Meski hidup dengan kesederhanaan, dia orang yang ringan tangan. Kerap membantu orang tanpa berpamrih. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia memang pintar bersilat lidah. Argumentasinya sering masuk akal. Dengan dibumbui sedikit gertakan, aparatur pelayanan publik kerap tak berkutik menghadapinya.

“Sudah sewajarnya kita membantu sesama,” katanya kepada sang istri. “Bukankah yang kuat harus membantu yang lemah, atau yang pintar membantu yang bodoh, yang tahu membantu yang belum mengetahui?”

“Iya, tapi tak dapat apa-apa dari itu semua. Hanya dapat capek.”

“Apakah semua hal harus dinilai dengan materi, harus diuangkan? Tentu tidak. Alangkah sebaiknya kita tetap saling membantu. Suatu saat, mungkin kita yang membutuhkan bantuan orang lain,” tuturnya seperti berceramah.

Di saat asyik berbincang di beranda rumahnya, Sukri yang ditunggu-tunggu datang. Dia menceritakan masalahnya. “Jadi, sebetulnya, kalau pakai jaminan kesehatan ini harusnya gratis atau tidak sih, Pak? Tolong saya, Pak. Saya sudah tidak punya uang lagi.”

“Memang, itu gratis kalau pelayanan, fasilitas, termasuk obat yang diberikan sesuai formula dari jaminan kesehatan ini. Kalau tidak, maka bayar. Ada kemungkinan, pelayanan yang didapatkan, termasuk obatnya tidak sesuai formula itu. Masalahnya, waktu diberikan resep obat yang bayar itu, apakah Pak Sukri sempat dijelaskan atau diberikan pilihan untuk memakai obat yang gratis atau bayar?”

“Saya ndak pernah diberikan penjelasan apa-apa, Pak. Hanya diberikan resep dan disuruh menebusnya di apotik. Saya ndak tahu yang gitu-gitu, Pak.”

“Baik,” kata Tarno. “Saya akan coba tanyakan hal ini ke manajemen rumah sakit ini.”

***

Di hadapan direktur operasional RSUD Kota Pelangi, Tarno dan Sukri pun menjelaskan duduk perkaranya. Dengan segala argumentasinya, Tarno seperti mengadili direktur operasional itu.

“Waduh, maaf kalau ada kesalahan. Mungkin petugas kami sibuk. Jadi tidak sempat menjelaskan, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada petugas terkait masalah ini.”

“Masalahnya,” tohok Tarno. “Bukan kali ini saja pasien jaminan kesehatan daerah dimintai biaya. Padahal pemerintah sudah bilang ini gratis. Kami khawatir, ini modus dari oknum di dalam rumah sakit. Mudah-mudahan ini bukan berjamaah,” katanya lagi menohok. “Terkait masalah pasien Sutinah, istri Pak Sukri ini, karena sudah kadung membayar, untuk selanjutnya kami minta agar pelayanannya sesuai formula jaminan kesehatan daerah ini. Tak perlu obat-obat paten, generik pun cukup, tak masalah. Yang penting bisa sembuh.”

“Baik, Pak. Akan kami usahakan, dan kami perbaiki ke depannya.”

Tarno dan Sukri pun pamit meninggalkan ruangan kantor RSUD. Tarno pulang ke rumahnya, dan Sukri kembali ke ruang perawatan pasien di kelas III yang berjubel pasien dan penunggunya. Hanya ada kipas angin di ruang perawatan itu.

Selepas pertemuan dengan manajemen RS, wajah Sukri tampak semringah. Walau, uang yang dia miliki makin menipis. Untuk menutup kekurangan, sekaligus sebagai jaga-jaga bila dibutuhkaan, dia kembali menjual beberapa meter kain curiannya.

***

Setelah dirawat 10 hari, pihak dokter menyatakan sang istri dan bayinya sudah bisa pulang.

”Bayar berapa?” tanya keluarga pasien di bed sebelah istrinya.

“Ndak bayar.”

“Kok bisa? Sebelum-sebelumnya masih ada tagihan lagi sampai Rp 2,5 juta. Pasti ada orang bermain dalam di Rumah Sakit, ya?”

“Ndak juga,” sergahnya. ”Cuma saya bersama teman sempat menyampaikan masalah ini ke pihak manajemen. Dan manajemen mengakui salah. Sehingga, ndak perlu bayar lagi.”

 ***

Enam bulan setelah istrinya melahirkan, Sukri pun kembali berjualan bakso. Namun, kondisi ekonomi memang belum pulih sepenuhnya. Maka, usahanya pun masih kembang kempis. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sukri masih bergantung dari sisa kain curiannya yang masih sekitar separo karung. Apalagi, kelahiran anak keduanya meninggalkan utang di sana-sini, termasuk di koperasi untuk menebus BPKB sepeda motor satu-satunya.

Dia menawarkan kain-kain itu kepada beberapa tetangga. Ada yang berminat, tak sedikit pula yang menolak. Tapi, apes memang. Salah satu tetangga yang ditawari kain ini ternyata malah anak buah pemilik kain yang dicurinya. Sang anak buah bernama Ami itu pun memberitahukan kepada sang majikan. Mendengar kabar itu,  si majikan dan pekerjanya ini langsung datang ke rumah kontrakan Sukri.

“Kami tidak mau cari masalah,” kata pemilik kain didampingi petugas keamanan adat pula. “Kami hanya minta uang kami dikembalikan sekitar Rp 20 juta. Itu uang modal saya. Saya tak cari untung, dan saya anggap masalah hukumnya selesai.”

Sukri tak bisa berkata banyak,  “Saya usahakan, Bu.”

***

Sampai malam hari, Sukri belum mampu juga mengembalikan uang yang dijanjikan. Setelah berembuk dengan sang istri, Sukri memilih kabur. Istri dan kedua anaknya ikut serta. Barang-barang miliknya, ia tinggalkan. Termasuk sepeda motor dan rombong bakso dititipkan kepada temannya. Dia menyeberangi pulau, menggunakan bus, untuk menghindari pemeriksaan di pelabuhan.

***

Saat nonton tivi di ruang keluarga, Tarno dan istrinya membicarakan nasib keluarga Sukri. Mereka tak menyangka Sukri bisa senekat itu. Padahal, selama bertetangga dua tahun lalu, Tarno tahu Sukri orang yang baik.

“Kalau kepepet, apa pun bisa terjadi, Bu.”

“Memang betul, Pak. Tapi, kasihan anak-anaknya. Khususnya Adi yang harus meninggalkan sekolahnya.”

“Ya, kesalahan ini ndak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada Sukri. Oknum-oknum di rumah sakit juga turut berkontribusi. Seandainya mereka jujur, bekerja sesuai SOP, tentu jaminan kesehatan bisa dijalankan semestinya, gratis. Bukan mempermainkan kebodohan orang untuk mencari keuntungan semata.”

***

Di tempat persembunyiannya, Sukri termenung. Ia berpikir keras, mencari jalan jeluar atas masalah yang dihadapi. Dia memikirkan nasib Adi, anak pertamanya yang belum bisa bersekolah lagi. Ia takut Adi putus sekolah, mengikuti jejaknya yang tak pernah tamat SD. Sedangkan, untuk berdagang bakso lagi di tempat barunya ini pun, ia belum bisa. Belum memiliki keberanian untuk itu.

“Apakah aku harus menyerahkan diri kepada polisi?” tanyanya dalam hati.

 

Catatan:

*) JKN = Jaminan Kesehatan Nasional. Program pemerintah ini hanya menanggung premi sekitar 40 persen warganya, agar bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis. Sedangkan, sisanya harus membayar premi atau iuran sendiri, dan tak sedikit orang miskin yang tercecer, tidak masuk tanggungan pemerintah.

Lembah Kauripan, 28/11/2016, di waktu Subuh

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Komik Indonesia Hari Ini: Dari “Tahilalats”, “Trickster”, sampai “Nusantara Droid War”

Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co