3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hormat pada Janda yang Suaminya “Hilang” pada 1965 – Edisi Merawat Ingatan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

SAYA tak pernah menanyakan nama aslinya, namun orang di desa saya di Tabanan, Bali, menyebutnya Men Suka. Ibu dari anak pertama yang bernama  Wayan Suka. Ia janda sejak tahun 1965 – janda yang ditinggalkan suaminya pergi entah ke mana setelah kemelut politik yang tak pernah  ia pahami hingga kini.

Men Suka bukan perempuan sekolahan. Ia menikah pertengahan tahun 1950-an dengan tetangga, teman bermain masa kecil, Wayan Pasek, yang bukan saja seorang guru, namun juga seorang intelektual penting pada zamannya.  Masa-masa bahagia ia nikmati hanya sekitar sepuluh tahun. Pada masa bahagia itu ia melahirkan empat anak, semua laki-laki.

Ketika anak keempatnya belum genap setahun, ia ditinggalkan suami entah ke mana. Ia tak bisa menahannya. Apalah artinya ia, seorang perempuan tak berpendidikan, di depan suaminya yang saat itu sudah menghabiskan bacaan ratusan buku. Ia tahu, suaminya punya keputusan yang baik bagi dirinya dan keluarga.

Wayan Pasek pergi sekitar dua bulan setelah meledaknya prahara politik 30 September 1965. Men Suka sadar betul suaminya itu memang dikenal sebagai orang PKI, partai yang dituduh melakukan kudeta saat itu. Namun ia tak tahu, apa peran suaminya di partai itu, apakah sekadar simpatisan, pengurus atau tokoh penting. Yang jelas, setelah 30 September, suaminya gelisah.

Suaminya memutuskan pergi ketika banyak temannya dijemput massa lalu dibunuh di suatu tempat. Ia sendiri sebenarnya belum “diapa-apakan”, namun beberapa kali terdengar kabar bahwa ia dan keluarganya menunggu waktu untuk “dihabisi”.

Maka, suaminya memutuskan untuk pergi. Dengan naik sepeda gayung ia pergi bersama dua temannya. Gayungan sepedanya menuju Denpasar. Belakangan diketahui, ia pergi untuk “menyerahkan diri” ke markas tentara di Denpasar dengan harapan bisa mendapatkan “pengampunan dan keadilan”. Namun tak diketahui hingga kini, apakah ia sudah mendapatkan keadilan atau tidak.

Yang pasti, istrinya, Men Suka, sejak itu harus melewati jalan keras demi menghidupi anak-anaknya. Ia berganti peran jadi laki-laki: mengolah sawah dan kebun agar anak-anaknya bisa sekolah.  Karena ia ingat betul pesan suaminya sebelum pergi. “Usahakan anak-anak tetap bersekolah,” kata suaminya sebelum mengayuh sepeda meninggalkan rumah.

Pada bulan-bulan awal, ia tetap berusaha untuk mendapatkan suaminya kembali. Sejumlah saudara diminta menanyakan ke markas tentara di Denpasar saat itu, namun tak diketahui ke mana Wayan Pasek dibawa. Sampai akhirnya suaminya itu dianggap hilang. Diduga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan politik lain.

Sekitar tahun 1976, terdengar berita di radio bahwa sejumlah tahanan politik dibebaskan dan dibolehkan pulang. Samar-samar ada yang mendengar nama Wayan Pasek disebut berada dalam daftar tahanan yang dibebaskan.  Beberapa hari Men Suka dan keluarga selalu berkumpul di rumah. Mereka berlomba ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan Wayan Pasek pulang. Namun lelaki itu tak pernah pulang.

Mulai pertengahan tahun 1980-an beberapa kali terdengar kabar Wayan Pasek terlihat di daerah transmigrasi di Sulawesi. Kabar itu tak pernah punya sumber yang jelas, namun selalu saja ada orang yang menyampaikan secara bisik-bisik atau terang-terangan.  Men Suka hanya mendengar kabar itu dengan penuh harap. Tapi, kabar tetaplah jadi kabar, karena saat itu pergi ke Sulawesi bukan perkara mudah.

Dua tahun lalu, ketika pergi ke Sulawesi bukan lagi perkara sulit, Wayan Suka sempat bolak-balik ke sebuah perkampungan orang Bali di daerah transmigrasi di Sulawesi. Ia menindaklanjuti kabar bahwa ada seorang lelaki tua yang dicurigai sebagai ayahnya. Lelaki itu hidup bersama seorang istri dan dan seorang anak.

Namun Wayan Suka tak berhasil memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan.  Ia memang bertemu dengan seorang lelaki tua, namun lelaki itu terkesan linglung seperti ingin menyembunyikan banyak cerita.  Dari wajah, Wayan Suka juga tak bisa memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan. Ia tak ingat betul bagaimana wajah ayahnya. Selain karena saat ditinggalkan ia masih tergolong anak-anak, ingatannya juga tergerus oleh waktu dan tekanan hidup yang cukup lama dan keras.

Akhirnya diputuskan lelaki itu bukan ayahnya. Dan ia pulang melapor kepada ibunya, bahwa lelaki tua di daerah transmigrasi itu bukan suami si ibu. Sang ibu biasa-biasa saja, mungkin karena pada masa tua seluruh harapan sudah ia tanggalkan.  Apalagi, selama sekitar  40 tahun, harapan itu tak lebih sebagai beban yang menggayut sangat berat di seluruh tubuhnya.

Men Suka menjanda hingga kini. Semua anaknya, sesuai pesan suami, bersekolah minimal hingga tamat SMA. Anak pertama menjadi guru seperti ayahnya, anak kedua jadi PNS di kantor sosial, anak ketiga menjadi pegawai swasta di Denpasar, dan anak keempatnya ngayah menjadi pemangku di desa.

Cerita Men Suka ini hanya satu dari ribuan kisah janda yang ditinggalkan suami setelah prahara politik bangsa yang amat kelam 30 September 1965. Saya menceritakan ini sekadar untuk merawat ingatan tentang sejarah kelam 1965 yang menyebabkan banyak perempuan menjadi janda secara tiba-tiba.

Ini juga saya ceritakan untuk menghormati janda yang  tetap “kuat” hidup dan membesarkan anak-anak di bawah banyak tekanan politik, tekanan psikologis dan tekanan batin yang tak berkesudahan, hingga kini, hingga kini.

Selain, tentu saja, agar anak-anak saya, keponakan saya, anak teman saya, keponakan teman saya, yang hidup pada dunia gila digital ini mengetahui sejumlah cerita nyata (cerita nyata yang kadang melebihi daya imajinasi) yang pernah terjadi di Indonesia, lebih khusus lagi pernah terjadi di Bali, lebih khusus lagi di desa mereka, lebih khusus lagi mungkin terjadi di keluarga mereka sendiri.  (T)

Tags: baliPerempuansejarah
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co