24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hormat pada Janda yang Suaminya “Hilang” pada 1965 – Edisi Merawat Ingatan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

SAYA tak pernah menanyakan nama aslinya, namun orang di desa saya di Tabanan, Bali, menyebutnya Men Suka. Ibu dari anak pertama yang bernama  Wayan Suka. Ia janda sejak tahun 1965 – janda yang ditinggalkan suaminya pergi entah ke mana setelah kemelut politik yang tak pernah  ia pahami hingga kini.

Men Suka bukan perempuan sekolahan. Ia menikah pertengahan tahun 1950-an dengan tetangga, teman bermain masa kecil, Wayan Pasek, yang bukan saja seorang guru, namun juga seorang intelektual penting pada zamannya.  Masa-masa bahagia ia nikmati hanya sekitar sepuluh tahun. Pada masa bahagia itu ia melahirkan empat anak, semua laki-laki.

Ketika anak keempatnya belum genap setahun, ia ditinggalkan suami entah ke mana. Ia tak bisa menahannya. Apalah artinya ia, seorang perempuan tak berpendidikan, di depan suaminya yang saat itu sudah menghabiskan bacaan ratusan buku. Ia tahu, suaminya punya keputusan yang baik bagi dirinya dan keluarga.

Wayan Pasek pergi sekitar dua bulan setelah meledaknya prahara politik 30 September 1965. Men Suka sadar betul suaminya itu memang dikenal sebagai orang PKI, partai yang dituduh melakukan kudeta saat itu. Namun ia tak tahu, apa peran suaminya di partai itu, apakah sekadar simpatisan, pengurus atau tokoh penting. Yang jelas, setelah 30 September, suaminya gelisah.

Suaminya memutuskan pergi ketika banyak temannya dijemput massa lalu dibunuh di suatu tempat. Ia sendiri sebenarnya belum “diapa-apakan”, namun beberapa kali terdengar kabar bahwa ia dan keluarganya menunggu waktu untuk “dihabisi”.

Maka, suaminya memutuskan untuk pergi. Dengan naik sepeda gayung ia pergi bersama dua temannya. Gayungan sepedanya menuju Denpasar. Belakangan diketahui, ia pergi untuk “menyerahkan diri” ke markas tentara di Denpasar dengan harapan bisa mendapatkan “pengampunan dan keadilan”. Namun tak diketahui hingga kini, apakah ia sudah mendapatkan keadilan atau tidak.

Yang pasti, istrinya, Men Suka, sejak itu harus melewati jalan keras demi menghidupi anak-anaknya. Ia berganti peran jadi laki-laki: mengolah sawah dan kebun agar anak-anaknya bisa sekolah.  Karena ia ingat betul pesan suaminya sebelum pergi. “Usahakan anak-anak tetap bersekolah,” kata suaminya sebelum mengayuh sepeda meninggalkan rumah.

Pada bulan-bulan awal, ia tetap berusaha untuk mendapatkan suaminya kembali. Sejumlah saudara diminta menanyakan ke markas tentara di Denpasar saat itu, namun tak diketahui ke mana Wayan Pasek dibawa. Sampai akhirnya suaminya itu dianggap hilang. Diduga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan politik lain.

Sekitar tahun 1976, terdengar berita di radio bahwa sejumlah tahanan politik dibebaskan dan dibolehkan pulang. Samar-samar ada yang mendengar nama Wayan Pasek disebut berada dalam daftar tahanan yang dibebaskan.  Beberapa hari Men Suka dan keluarga selalu berkumpul di rumah. Mereka berlomba ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan Wayan Pasek pulang. Namun lelaki itu tak pernah pulang.

Mulai pertengahan tahun 1980-an beberapa kali terdengar kabar Wayan Pasek terlihat di daerah transmigrasi di Sulawesi. Kabar itu tak pernah punya sumber yang jelas, namun selalu saja ada orang yang menyampaikan secara bisik-bisik atau terang-terangan.  Men Suka hanya mendengar kabar itu dengan penuh harap. Tapi, kabar tetaplah jadi kabar, karena saat itu pergi ke Sulawesi bukan perkara mudah.

Dua tahun lalu, ketika pergi ke Sulawesi bukan lagi perkara sulit, Wayan Suka sempat bolak-balik ke sebuah perkampungan orang Bali di daerah transmigrasi di Sulawesi. Ia menindaklanjuti kabar bahwa ada seorang lelaki tua yang dicurigai sebagai ayahnya. Lelaki itu hidup bersama seorang istri dan dan seorang anak.

Namun Wayan Suka tak berhasil memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan.  Ia memang bertemu dengan seorang lelaki tua, namun lelaki itu terkesan linglung seperti ingin menyembunyikan banyak cerita.  Dari wajah, Wayan Suka juga tak bisa memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan. Ia tak ingat betul bagaimana wajah ayahnya. Selain karena saat ditinggalkan ia masih tergolong anak-anak, ingatannya juga tergerus oleh waktu dan tekanan hidup yang cukup lama dan keras.

Akhirnya diputuskan lelaki itu bukan ayahnya. Dan ia pulang melapor kepada ibunya, bahwa lelaki tua di daerah transmigrasi itu bukan suami si ibu. Sang ibu biasa-biasa saja, mungkin karena pada masa tua seluruh harapan sudah ia tanggalkan.  Apalagi, selama sekitar  40 tahun, harapan itu tak lebih sebagai beban yang menggayut sangat berat di seluruh tubuhnya.

Men Suka menjanda hingga kini. Semua anaknya, sesuai pesan suami, bersekolah minimal hingga tamat SMA. Anak pertama menjadi guru seperti ayahnya, anak kedua jadi PNS di kantor sosial, anak ketiga menjadi pegawai swasta di Denpasar, dan anak keempatnya ngayah menjadi pemangku di desa.

Cerita Men Suka ini hanya satu dari ribuan kisah janda yang ditinggalkan suami setelah prahara politik bangsa yang amat kelam 30 September 1965. Saya menceritakan ini sekadar untuk merawat ingatan tentang sejarah kelam 1965 yang menyebabkan banyak perempuan menjadi janda secara tiba-tiba.

Ini juga saya ceritakan untuk menghormati janda yang  tetap “kuat” hidup dan membesarkan anak-anak di bawah banyak tekanan politik, tekanan psikologis dan tekanan batin yang tak berkesudahan, hingga kini, hingga kini.

Selain, tentu saja, agar anak-anak saya, keponakan saya, anak teman saya, keponakan teman saya, yang hidup pada dunia gila digital ini mengetahui sejumlah cerita nyata (cerita nyata yang kadang melebihi daya imajinasi) yang pernah terjadi di Indonesia, lebih khusus lagi pernah terjadi di Bali, lebih khusus lagi di desa mereka, lebih khusus lagi mungkin terjadi di keluarga mereka sendiri.  (T)

Tags: baliPerempuansejarah
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co