3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hormat pada Janda yang Suaminya “Hilang” pada 1965 – Edisi Merawat Ingatan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

SAYA tak pernah menanyakan nama aslinya, namun orang di desa saya di Tabanan, Bali, menyebutnya Men Suka. Ibu dari anak pertama yang bernama  Wayan Suka. Ia janda sejak tahun 1965 – janda yang ditinggalkan suaminya pergi entah ke mana setelah kemelut politik yang tak pernah  ia pahami hingga kini.

Men Suka bukan perempuan sekolahan. Ia menikah pertengahan tahun 1950-an dengan tetangga, teman bermain masa kecil, Wayan Pasek, yang bukan saja seorang guru, namun juga seorang intelektual penting pada zamannya.  Masa-masa bahagia ia nikmati hanya sekitar sepuluh tahun. Pada masa bahagia itu ia melahirkan empat anak, semua laki-laki.

Ketika anak keempatnya belum genap setahun, ia ditinggalkan suami entah ke mana. Ia tak bisa menahannya. Apalah artinya ia, seorang perempuan tak berpendidikan, di depan suaminya yang saat itu sudah menghabiskan bacaan ratusan buku. Ia tahu, suaminya punya keputusan yang baik bagi dirinya dan keluarga.

Wayan Pasek pergi sekitar dua bulan setelah meledaknya prahara politik 30 September 1965. Men Suka sadar betul suaminya itu memang dikenal sebagai orang PKI, partai yang dituduh melakukan kudeta saat itu. Namun ia tak tahu, apa peran suaminya di partai itu, apakah sekadar simpatisan, pengurus atau tokoh penting. Yang jelas, setelah 30 September, suaminya gelisah.

Suaminya memutuskan pergi ketika banyak temannya dijemput massa lalu dibunuh di suatu tempat. Ia sendiri sebenarnya belum “diapa-apakan”, namun beberapa kali terdengar kabar bahwa ia dan keluarganya menunggu waktu untuk “dihabisi”.

Maka, suaminya memutuskan untuk pergi. Dengan naik sepeda gayung ia pergi bersama dua temannya. Gayungan sepedanya menuju Denpasar. Belakangan diketahui, ia pergi untuk “menyerahkan diri” ke markas tentara di Denpasar dengan harapan bisa mendapatkan “pengampunan dan keadilan”. Namun tak diketahui hingga kini, apakah ia sudah mendapatkan keadilan atau tidak.

Yang pasti, istrinya, Men Suka, sejak itu harus melewati jalan keras demi menghidupi anak-anaknya. Ia berganti peran jadi laki-laki: mengolah sawah dan kebun agar anak-anaknya bisa sekolah.  Karena ia ingat betul pesan suaminya sebelum pergi. “Usahakan anak-anak tetap bersekolah,” kata suaminya sebelum mengayuh sepeda meninggalkan rumah.

Pada bulan-bulan awal, ia tetap berusaha untuk mendapatkan suaminya kembali. Sejumlah saudara diminta menanyakan ke markas tentara di Denpasar saat itu, namun tak diketahui ke mana Wayan Pasek dibawa. Sampai akhirnya suaminya itu dianggap hilang. Diduga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan politik lain.

Sekitar tahun 1976, terdengar berita di radio bahwa sejumlah tahanan politik dibebaskan dan dibolehkan pulang. Samar-samar ada yang mendengar nama Wayan Pasek disebut berada dalam daftar tahanan yang dibebaskan.  Beberapa hari Men Suka dan keluarga selalu berkumpul di rumah. Mereka berlomba ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan Wayan Pasek pulang. Namun lelaki itu tak pernah pulang.

Mulai pertengahan tahun 1980-an beberapa kali terdengar kabar Wayan Pasek terlihat di daerah transmigrasi di Sulawesi. Kabar itu tak pernah punya sumber yang jelas, namun selalu saja ada orang yang menyampaikan secara bisik-bisik atau terang-terangan.  Men Suka hanya mendengar kabar itu dengan penuh harap. Tapi, kabar tetaplah jadi kabar, karena saat itu pergi ke Sulawesi bukan perkara mudah.

Dua tahun lalu, ketika pergi ke Sulawesi bukan lagi perkara sulit, Wayan Suka sempat bolak-balik ke sebuah perkampungan orang Bali di daerah transmigrasi di Sulawesi. Ia menindaklanjuti kabar bahwa ada seorang lelaki tua yang dicurigai sebagai ayahnya. Lelaki itu hidup bersama seorang istri dan dan seorang anak.

Namun Wayan Suka tak berhasil memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan.  Ia memang bertemu dengan seorang lelaki tua, namun lelaki itu terkesan linglung seperti ingin menyembunyikan banyak cerita.  Dari wajah, Wayan Suka juga tak bisa memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan. Ia tak ingat betul bagaimana wajah ayahnya. Selain karena saat ditinggalkan ia masih tergolong anak-anak, ingatannya juga tergerus oleh waktu dan tekanan hidup yang cukup lama dan keras.

Akhirnya diputuskan lelaki itu bukan ayahnya. Dan ia pulang melapor kepada ibunya, bahwa lelaki tua di daerah transmigrasi itu bukan suami si ibu. Sang ibu biasa-biasa saja, mungkin karena pada masa tua seluruh harapan sudah ia tanggalkan.  Apalagi, selama sekitar  40 tahun, harapan itu tak lebih sebagai beban yang menggayut sangat berat di seluruh tubuhnya.

Men Suka menjanda hingga kini. Semua anaknya, sesuai pesan suami, bersekolah minimal hingga tamat SMA. Anak pertama menjadi guru seperti ayahnya, anak kedua jadi PNS di kantor sosial, anak ketiga menjadi pegawai swasta di Denpasar, dan anak keempatnya ngayah menjadi pemangku di desa.

Cerita Men Suka ini hanya satu dari ribuan kisah janda yang ditinggalkan suami setelah prahara politik bangsa yang amat kelam 30 September 1965. Saya menceritakan ini sekadar untuk merawat ingatan tentang sejarah kelam 1965 yang menyebabkan banyak perempuan menjadi janda secara tiba-tiba.

Ini juga saya ceritakan untuk menghormati janda yang  tetap “kuat” hidup dan membesarkan anak-anak di bawah banyak tekanan politik, tekanan psikologis dan tekanan batin yang tak berkesudahan, hingga kini, hingga kini.

Selain, tentu saja, agar anak-anak saya, keponakan saya, anak teman saya, keponakan teman saya, yang hidup pada dunia gila digital ini mengetahui sejumlah cerita nyata (cerita nyata yang kadang melebihi daya imajinasi) yang pernah terjadi di Indonesia, lebih khusus lagi pernah terjadi di Bali, lebih khusus lagi di desa mereka, lebih khusus lagi mungkin terjadi di keluarga mereka sendiri.  (T)

Tags: baliPerempuansejarah
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co