3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hormat pada Janda yang Suaminya “Hilang” pada 1965 – Edisi Merawat Ingatan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

SAYA tak pernah menanyakan nama aslinya, namun orang di desa saya di Tabanan, Bali, menyebutnya Men Suka. Ibu dari anak pertama yang bernama  Wayan Suka. Ia janda sejak tahun 1965 – janda yang ditinggalkan suaminya pergi entah ke mana setelah kemelut politik yang tak pernah  ia pahami hingga kini.

Men Suka bukan perempuan sekolahan. Ia menikah pertengahan tahun 1950-an dengan tetangga, teman bermain masa kecil, Wayan Pasek, yang bukan saja seorang guru, namun juga seorang intelektual penting pada zamannya.  Masa-masa bahagia ia nikmati hanya sekitar sepuluh tahun. Pada masa bahagia itu ia melahirkan empat anak, semua laki-laki.

Ketika anak keempatnya belum genap setahun, ia ditinggalkan suami entah ke mana. Ia tak bisa menahannya. Apalah artinya ia, seorang perempuan tak berpendidikan, di depan suaminya yang saat itu sudah menghabiskan bacaan ratusan buku. Ia tahu, suaminya punya keputusan yang baik bagi dirinya dan keluarga.

Wayan Pasek pergi sekitar dua bulan setelah meledaknya prahara politik 30 September 1965. Men Suka sadar betul suaminya itu memang dikenal sebagai orang PKI, partai yang dituduh melakukan kudeta saat itu. Namun ia tak tahu, apa peran suaminya di partai itu, apakah sekadar simpatisan, pengurus atau tokoh penting. Yang jelas, setelah 30 September, suaminya gelisah.

Suaminya memutuskan pergi ketika banyak temannya dijemput massa lalu dibunuh di suatu tempat. Ia sendiri sebenarnya belum “diapa-apakan”, namun beberapa kali terdengar kabar bahwa ia dan keluarganya menunggu waktu untuk “dihabisi”.

Maka, suaminya memutuskan untuk pergi. Dengan naik sepeda gayung ia pergi bersama dua temannya. Gayungan sepedanya menuju Denpasar. Belakangan diketahui, ia pergi untuk “menyerahkan diri” ke markas tentara di Denpasar dengan harapan bisa mendapatkan “pengampunan dan keadilan”. Namun tak diketahui hingga kini, apakah ia sudah mendapatkan keadilan atau tidak.

Yang pasti, istrinya, Men Suka, sejak itu harus melewati jalan keras demi menghidupi anak-anaknya. Ia berganti peran jadi laki-laki: mengolah sawah dan kebun agar anak-anaknya bisa sekolah.  Karena ia ingat betul pesan suaminya sebelum pergi. “Usahakan anak-anak tetap bersekolah,” kata suaminya sebelum mengayuh sepeda meninggalkan rumah.

Pada bulan-bulan awal, ia tetap berusaha untuk mendapatkan suaminya kembali. Sejumlah saudara diminta menanyakan ke markas tentara di Denpasar saat itu, namun tak diketahui ke mana Wayan Pasek dibawa. Sampai akhirnya suaminya itu dianggap hilang. Diduga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan politik lain.

Sekitar tahun 1976, terdengar berita di radio bahwa sejumlah tahanan politik dibebaskan dan dibolehkan pulang. Samar-samar ada yang mendengar nama Wayan Pasek disebut berada dalam daftar tahanan yang dibebaskan.  Beberapa hari Men Suka dan keluarga selalu berkumpul di rumah. Mereka berlomba ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan Wayan Pasek pulang. Namun lelaki itu tak pernah pulang.

Mulai pertengahan tahun 1980-an beberapa kali terdengar kabar Wayan Pasek terlihat di daerah transmigrasi di Sulawesi. Kabar itu tak pernah punya sumber yang jelas, namun selalu saja ada orang yang menyampaikan secara bisik-bisik atau terang-terangan.  Men Suka hanya mendengar kabar itu dengan penuh harap. Tapi, kabar tetaplah jadi kabar, karena saat itu pergi ke Sulawesi bukan perkara mudah.

Dua tahun lalu, ketika pergi ke Sulawesi bukan lagi perkara sulit, Wayan Suka sempat bolak-balik ke sebuah perkampungan orang Bali di daerah transmigrasi di Sulawesi. Ia menindaklanjuti kabar bahwa ada seorang lelaki tua yang dicurigai sebagai ayahnya. Lelaki itu hidup bersama seorang istri dan dan seorang anak.

Namun Wayan Suka tak berhasil memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan.  Ia memang bertemu dengan seorang lelaki tua, namun lelaki itu terkesan linglung seperti ingin menyembunyikan banyak cerita.  Dari wajah, Wayan Suka juga tak bisa memastikan apakah lelaki itu ayahnya atau bukan. Ia tak ingat betul bagaimana wajah ayahnya. Selain karena saat ditinggalkan ia masih tergolong anak-anak, ingatannya juga tergerus oleh waktu dan tekanan hidup yang cukup lama dan keras.

Akhirnya diputuskan lelaki itu bukan ayahnya. Dan ia pulang melapor kepada ibunya, bahwa lelaki tua di daerah transmigrasi itu bukan suami si ibu. Sang ibu biasa-biasa saja, mungkin karena pada masa tua seluruh harapan sudah ia tanggalkan.  Apalagi, selama sekitar  40 tahun, harapan itu tak lebih sebagai beban yang menggayut sangat berat di seluruh tubuhnya.

Men Suka menjanda hingga kini. Semua anaknya, sesuai pesan suami, bersekolah minimal hingga tamat SMA. Anak pertama menjadi guru seperti ayahnya, anak kedua jadi PNS di kantor sosial, anak ketiga menjadi pegawai swasta di Denpasar, dan anak keempatnya ngayah menjadi pemangku di desa.

Cerita Men Suka ini hanya satu dari ribuan kisah janda yang ditinggalkan suami setelah prahara politik bangsa yang amat kelam 30 September 1965. Saya menceritakan ini sekadar untuk merawat ingatan tentang sejarah kelam 1965 yang menyebabkan banyak perempuan menjadi janda secara tiba-tiba.

Ini juga saya ceritakan untuk menghormati janda yang  tetap “kuat” hidup dan membesarkan anak-anak di bawah banyak tekanan politik, tekanan psikologis dan tekanan batin yang tak berkesudahan, hingga kini, hingga kini.

Selain, tentu saja, agar anak-anak saya, keponakan saya, anak teman saya, keponakan teman saya, yang hidup pada dunia gila digital ini mengetahui sejumlah cerita nyata (cerita nyata yang kadang melebihi daya imajinasi) yang pernah terjadi di Indonesia, lebih khusus lagi pernah terjadi di Bali, lebih khusus lagi di desa mereka, lebih khusus lagi mungkin terjadi di keluarga mereka sendiri.  (T)

Tags: baliPerempuansejarah
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co