2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki itu Mati dengan Perasaan yang Sama Seperti Perasaan Tuan-Tuan Setelah Mendengar Cerita ini

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi

DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku.

“Tuan-tuan. Jangan memandang seperti itu. Kita santai saja. Hembuskan napas dan carilah posisi duduk sampai merasa nyaman. Sebentar lagi saya akan menceritakan bagaimana ia mati hari itu. Seperti kabar burung yang tuan-tuan dengar, ia memang mengidap gangguan afektif.

Saat pertama kali lelaki itu memiliki pacar dan menceritakan semuanya padaku, lelaki itu tiba-tiba merasa sedih secara berkelanjutan, lalu merasa senang beberapa menit kemudian, kemudian bersedih lagi. Lama sekali seolah-olah itu terjadi secara fluktuatif.

Kalau tuan-tuan melihat sendiri bagaimana lelaki itu memerankan  hidupnya, niscaya tuan-tuan akan benar menganggap bahwa lelaki itu adalah keturunan dewa dan setan sekaligus. Saya sendiri, selaku orang yang paling dekat dengannya selalu merasa iba dan terharu pada setiap keluh-kesahnya.

Terlebih, saat dia mabuk hingga dini hari. Dia benar-benar sanggup menyirih untuk berdebat dengan bahasa yang bahkan kami berduapun tak mengerti. Dalam keadaan seperti itulah, saya harus selalu mengerti bahkan pada apa yang belum dia katakan dan turut meniru apa yang dia lakukan.

Itulah hari pertama bahwa saya tahu lelaki itu sering mengalami gangguan kiklomitik yang membikin mood-nya berubah dari sedih ke senang atau senang ke sedih secara signifikan. Tidak hanya itu, ia juga seperti mengidap enosumonia. Segala yang dilakukannya selalu berhati-hati.

Misalnya ketika makan, ia selalu mencium terlebih dulu makanan, atau melihat penampakan apa yang akan dia makan. Apakah makanan itu berjamur atau mengandung racun. Kadang-kadang sifat lelaki itu membikin setiap orang yang dekat dengannya menjadi penuh amarah seolah mendapat kecurigaan yang luar biasa. Lelaki itu sangat takut melakukan kesalahan sekecil apapun.

Tapi tuan-tuan jangan salah duga, lelaki itu mati bukan karena penyakit yang dia idap. Bukan sama sekali. Dia juga bukan mati karena usia. Tuan-tuan sendiri tahu, bahwa usianya masih sebaya denganku. Masih dua puluh enam tahun. Di usia seperti itu, manusia normal tentu sedang berada di puncak ketahanan tubuh.

Lelaki itu adalah manusia normal, tuan-tuan. Dia tak memiliki satupun cacat pada fisik. Tubuhnya bugar. Dia amat sehat dengan otot yang kekar. Saya bahkan sempat  menganjurkan padanya untuk menjadi atlet gulat atau atlet panco saja. Tapi dia senantiasa menolak. Katanya, di Indonesia, menjadi atlet sama saja tidak menjadi apa-apa. Entah apa maksud perkataanya. Saya merasa tidak perlu menggali makna lebih dalam mengenai pernyataan yang tidak penting itu.

Lelaki itu, tuan-tuan, dia kadang-kadang mengajakku pergi ke suatu tempat hanya karena ingin merasakan suasana semata di tempat itu. Dan ketika kami sampai di tempat itu, kadang-kadang lelaki itu tiba-tiba langsung mengajakku pulang. Perlakuan yang seperti itu sudah biasa. Dia tak pernah merasa bersalah karena membohongi.

Dia adalah satu-satunya orang yang pernah mengajariku bagaimana membangun sebuah rumah dengan menanam bermacam-macam tanaman yang berguna di halaman. Setiap tanaman memiliki fungsinya sendiri. Begitu menurutnya. Dia juga menyarankan agar tidak memasang tangga pilin di tengah rumah. Itu adalah sumber penyakit bagi keluarga. Begitu menurut salah satu tokoh fengshui yang ia kagumi. Entah siapa tokoh itu. Lagi-lagi menurut saya bukanlah sesuatu yang penting.

Bahkan untuk tuan-tuan ketahui. Menurut saya, tak ada hubungannya antara tangga pilin dan kesehatan keluarga. Kesehatan bagi saya selalu datang dari dalam diri. Tapi, toh, akhirnya saya percaya pada perkataan lelaki itu untuk tidak menaruh tangga pilin di dalam rumah. Hal ini semata-mata hanya untuk membuat seolah laki-laki itu memiliki perkataan yang mujarab untuk mengubah hidup orang lain yang hidup di alam semesta ini.

Oh, ya, sambil bersantai ria, silakan tuan-tuan menikmati kopi yang telah disediakan istri saya. Ini kopi rubosta yang saya datangkan dari Bali. Bukan hanya jenis kopi yang menjadi daya tariknya, tuan-tuan juga harus mempertimbangkan daerah asal ketika hendak menikmati. Kopi ini rasanya sedikit masam, tapi menusuk langsung ke dalam kepala tuan-tuan sekalian. Kepala tuan-tuan akan merasa ringan sekali. Maklum, proses pengolahannya sangat alami tanpa sedikitpun sentuhan pembubuk skala lanoratorium. Ia dipetik, dijemur, disangrai, kemudian ditumbuk.

Istri saya menyeduh kopi itu dengan air rendaman cengkeh, kapulaga, kayu manis, dan satu ramuan rahasia. Khasiatnya luar biasa. Setelah meminum kopi ini, akan terjadi sesuatu pada badan tuan-tuan. Silakan tuan. Nah, bagaimana aromanya, sangat wangi bukan? Kalau rasanya tidak cocok dengan apa yang diaharapkan tenggorokan tuan-tuan sekalian, berpura-puralah menikmatinya. Begitu hal yang biasa saya lakukan untuk menyenangkan hatinya.

Sambil menemani tuan-tuan minum kopi, sebaiknya saya lanjutkan saja.

Tepat di hari kematiannya, memang benar saya ada di situ. Saya menyaksikanya. Saya tahu persis bagaimana ia mati, siapa pelaku dan apa motifnya. Saya tahu persis. Tuan-tuan tidak usah khawatir. Saya akan menceritakan semuanya. Sebagai saksi yang baik, tentulah saya memiliki tugas untuk jujur. Dan kejujuran saya ini tentulah buntut dari kesuksesan tuan-tuan selaku anggota penyelidik.

Apakah tuan-tuan mengantuk? Mengapa memejamkan mata seperti itu? Nah kalau tuan-tuan sudah tidak sabar dan merasa terlalu lama menunggu sampai saya tiba di pokok cerita. Bersabarlah sebentar lagi. Tentu tuan-tuan tidak mau rugi bukan, karena datang pagi-pagi sekali bertamu ke rumah kami? Maka baiklah tuan. Saya juga bukan tipe orang yang ingin merugikan usaha orang lain.

Saya sebenarnya amat menyayangkan kematian lelaki itu seperti saya menyayangkan kepergian seekor anjing yang baru saja saya beli dengan harga tiga bulan gaji. Saya tahu memang tidak baik membandingkan manusia dengan anjing. Tapi bukan begitu maksud saya. Bukan. Saya adalah orang sering menggolongkan rasa sayang.

Rasa sayang yang saya miliki terhadap sesuatu memiliki peringkatnya sendiri. Seperti yang saya katakan tadi, saya memiliki seekor anjing kecil. Saya sangat menyayanginya. Rasa sayang yang saya berikan terhadap anjing itu saya golongkan dalam peringkat pertama. Setara dengan rasa sayang saya terhadap lelaki itu.

Tuan-tuan, saya rasa sudah terlalu lama tuan-tuan duduk dengan posisi seperti itu. Jangan tegang-tegang. Sekarang, agar suasana lebih santai, aturlah kembali posisi duduk anda sampai menemukan posisi duduk paling nyaman. Nah, sekarang tibalah saya di pokok cerita.

Tuan-tuan, bersiaplah.  Pada akhirnya, tuan-tuan bisa menuduh saya yang bercerita tentang apapun yang saya suka.  Saya bisa saja membahas lebih banyak apa saja tentang lelaki itu, namun sebenarnya saya tak beranjak ke mana-mana. Sejak awal tuan telah tahu pokok cerita ini. Tentang kejujuran saya sebagai saksi, dan supaya pengakuan saya lekas selesai dengan singkat, saya ingin bertanya; apa yang tuan-tuan rasakan sekarang ini?

Perasaan yang timbul dalam dada tuan-tuan sampai detik ini, sampai saya selesai bercerita, akan sama persis seperti apa yang dialami lelaki itu sebelum mengebuskan napas terakhirnya. Lelaki itu mati dengan perasaan santai dan menunggu saya selesai bercerita tentang suatu apa saja yang telah ia ketahui sebelumnya. Hanya saja ia meminum kopi. Persis seperti kopi yang baru saja tuan-tuan nikmati. “

Tiga orang interogator masih duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram lehernya sendiri. (T)

 

Tags: Cerpen
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 3# Selalu “Ya” – Bermain Adrenalin

Next Post

Hampir tak Mungkin Penulis Sejarah Benar-benar “Jujur”

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Hampir tak Mungkin Penulis Sejarah Benar-benar “Jujur”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co