23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Syahrini, Guru Kontrak dan Politik Goyang Pinggul

Emboeng Arishinta Poetra by Emboeng Arishinta Poetra
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Ari

Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri di depan kelas dan tenggorokan saya pasti sangat malu untuk serak apa lagi lipsing.

ITU adalah status facebook dari seorang guru kontrak di Kabupaten Jembrana. Status itu ditulis suatu pagi setelah pada Senin (15/8) malam sebelumnya digelar perayaan HUT ke-121 Jembrana di Gedung Kesenian Bung Karno di Jalan Sudirman, Negara.

Perayaan itu diisi pentas musik dengan mendatangkan artis ibukota, Syahrini, yang konon bayarannya sangat-sangat mahal, apalagi jika dibandingkan dengan gaji seorang guru kontrak.

Tentu saja suara guru kontrak di akun facebook itu tak bakal didengar. Benda apa sih itu guru? Apalagi hanya guru kontrak? Bayaran Rp 1 juta untuk seorang guru kontrak sudah sangat besar. Jika tak mau, berhenti saja. Masih banyak calon guru yang mau melamar guru kontrak, bahkan dengan nyogok sekalipun.

Jadi, harga guru kontrak memang murah. Jangan coba-coba membandingkan seorang guru, atau seratus guru sekali pun, dengan seorang artis sekelas Syahrini.

Toh, guru kontrak yang dibayar sekadarnya, dengan bekal makan seadanya, dengan pakaian sederhana, tetap saja dengan susah payah mengajar anak-anak agar cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa kelak. Sedangkan selebritis, hanya dengan ha ha he he di program TV, meski dianggap merusak moral dan mental anak-anak, tetaplah dibayar mahal.

Kedatangan Syahrini memang mendapat banyak protes, terutama di akun-akun media sosial. Yang diprotes, paling banyak masalah dana yang digunakan untuk membayar Syahrini. Selain itu, banyak warga berpendapat jika sebaiknya Pemkab Jembrana mendatangkan artis-artis lokal atau memberdayakan seniman-seniman tradisional.

Kis Band, Lolot Band, Bintang Band, Vitiek Band, Motifora Band, Ray Peni, Yu Mang Rimba, A.A. Raka Sidan,Dek Ulik, Widi Widiana, Putri Bulan, Ari Kencana, Jaya Pangsus, Yudi Kresna, Dek Arya, Bayu KW, Trio Kirani, Ayu Saraswati, Joni Agung n Doble T, Mang Gita, Ayu Canang Sari, Eka Jaya, Leyong Sinatra, Jhons, Bayu Cuaca, Nostress, Navicula, SID, PBK, HWP, Gonjak0, 4WD, Dialog Dini Hari, Emony, serta semua seniman Bali asli. Dan banyak lagi penyanyi dan band Bali lainnya, tentunya lebih punya idealism untuk daerah sendiri daripada sekadar maju mundur cantik.

Tapi siapa yang mau dengar protes di media sosial? Syahrini tetap datang. Malah disambut dengan meriah. Setelah dijemput di Bandara Ngurah Rai, Syahrini diajak ke vila untuk istirahat. Lalu sorenya diajak pawai dokar. Hebatnya, Syahrini ditempatkan paling depan, baru kemudian diiringi Bupati dan Wakil Bupati serta pejabat lain. Pada malam hari, Syahrini bernyanyi di panggung hiburan dan benar-benar menjadi bintang. Bintang di langit pun seakan padam he he he…

Bahkan sambutan Bupati dan Ketua Panitia (wakil Bupati) seakan menjadi sangat tidak penting bagi masyarakat Jembrana. Yang terpenting dan ditunggu adalah Syahrini.  Parahnya lagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan saat berdoa, sebagian penonton tidak mau berdiri meski sudah diperintahkan oleh pewara. Namun saat Syahrini datang, penonton langsung berdiri dan bergoyang tanpa diberi aba aba..

Bagaimana seorang guru kontrak bisa menyaingi Syahrini jika demikian keadaannya? Gaji tenaga kontrak daerah Jembrana sudah di bawah UMK, bersih dapat Rp 998 ribu. Guru honor ada yang dibayar hanya 7000 per jam.  Jika benar Syahrini seperti desas-desus dibayar Rp 150 juta bersih, wah jauh sekali dengan pendapatan tenaga kontrak.

Pekerja kontrak yang gajinya Rp 1 juta harus mengumpulkan gajinya 13 tahun untuk dapat punya uang melebihi nominal 150 juta. Enak jadi artis ya, tidak usah capek mengajar di kelas, apalagi sampai 36 jam dalam seminggu. Tidak perlu siapkan administrasi ini itu: RPP-lah, silabus-lah, promes-lah, prota-lah, dan lain-lain.

Jadi artis ya tinggal goyang-goyang pakai baju minim sudah dapat uang berjuta-juta. Cukup bilang maju mundur maju mundur cantik  sudah dapat berjuta-juta. Huuuhhh, indahnya negeriku. Padahal tukang parkir juga sering bilang maju-mundur, tapi tetap juga dibayar 1000 perak saja.

Mendatangkan Syahrini, atau artis ibukota yang sedang terkenal ke suatu daerah, adalah masalah pencitraan politik. Tujuannya menyenangkan massa. Jika massa sudah senang, tujuan politik dianggap sudah tercapai. Begitulah cara politikus memandang massa. Massa adalah kerumunan, keramaian, dan kehebohan.

Maka, jangan salah jika banyak yang memandang politik sama dengan dunia pop yang diisi para selebritis. Mereka memerlukan pasar dan hitungan-hitungan jumlah penggemar. Tak peduli penggemarnya dari kalangan mana, yang penting jumlahnya banyak.

Untuk itu juga, partai politik selalu numpang tenar pada dunia selebritis. Banyak artis dicalonkan jadi anggota DPR, jadi bupati atau wakil bupati. Saat kampanye, partai politik mengajak serta artis-artis tenar. Beberapa ada yang jadi juru kampanye, tapi lebih banyak hanya ditugaskan untuk goyang-pinggul di atas panggung.

Sudah sering terjadi, goyang-pinggul artis justru menjadi lebih ditunggu ketimbang pidato juru kampanye. Anehnya, tak ada yang merasa malu dengan politik goyang-pinggul semacam itu. (T)

 

Tags: gaya hidupPartai PolitikPolitikselebritis
Share183TweetSendShareSend
Previous Post

Sepatu Sekda dan Sepatu Bupati – Alas Kaki Penanda Kelas dalam Bekerja

Next Post

17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka

Emboeng Arishinta Poetra

Emboeng Arishinta Poetra

Mantan mahasiswa yang kini jadi mantan guru. Pernah menulis puisi dan menang di tingkat kampus

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co