20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah-kisah dari Negeri Muram

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Surya Gemilang

/1/ Oh, Jaden

Seorang pria bernama Jaden terjun dari atap sebuah gedung tujuh lantai. Selama di udara, wajahnya menghadap ke bawah, ke arah orang-orang yang menyaksikan dirinya melompat dari atap gedung itu.

“Jangan bunuh diri, Tuan!” teriak seseorang di bawah sana.

“Masih ada banyak wanita lain di dunia ini!” teriak yang lain—ia menyangka bahwa Jaden berbuat senekat itu karena patah hati.

Orang yang menduga bahwa Jaden berlaku demikian karena masalah utang pun berteriak, “Aku akan memberikan kau uang, berapa pun, untuk melunasi seluruh utangmu!”

Ketiga teriakan itu tentu saja percuma karena baru muncul ketika Jaden sudah terjun, alih-alih sebelumnya.

Sementara seorang wanita sintal sedang merekam peristiwa itu dengan kamera telepon genggamnya, seorang pria tambun memosisikan dirinya tepat di bawah Jaden—berpatok pada letak bayangan—hendak menangkapnya, atau setidaknya lemak di badan tambunnya itu bisa menjadi semitrampolin.

Orang-orang yang lain hanya menjerit-jerit di tempat. Jangankan bergerak, berkalimat pun mereka tak mampu karena saking terkejutnya melihat Jaden terjun dari atap gedung itu.

Menurut perhitungan Jaden, satu setengah detik lagi tubuhnya bakal menghantam bumi. Ah, bukan! Yang benar adalah menghantam pria bertubuh tambun itu! Tapi, menghantam apa pun tubuhnya, bukanlah masalah buat Jaden sebab apa yang dilakukannya itu—melompat dari atap gedung tujuh lantai—hanyalah khayalan. Namun, reaksi orang-orang di bawah sana adalah sesuatu yang nyata ….

/2/ Sebutir Bom

Wanita itu berpikir bahwa saya telah menanam “bibit” di rahimnya. Padahal, saya menanam sebutir bom. Meski daya ledaknya tidaklah seberapa, setidaknya ledakan itu pasti dapat membunuh si Pemilik Rahim.

Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana bisa saya menanam sebutir bom di rahimnya. Jikalau benar demikian, maka akan saya jawab secara singkat: Segalanya bermodalkan sebuah puisi cinta, suasana kamar hotel yang mendukung, dan kasih sayang—palsu saja—yang terpancar dari kedua bola mata saya.

Sekitar satu menit lagi, bom itu akan meledak ….

***

Pria itu berpikir bahwa dirinya telah berhasil menanam sebutir bom di rahim saya. Tapi, ia salah besar. Saya tidak mempunyai rahim. Bahkan saya tidak mempunyai vagina. Tapi saya mempunyai otak dan jiwa untuk menikmati puisi cinta yang dibacakannya, suasana kamar hotel yang dipesannya untuk kami, dan kasih sayang—entah asli atau palsu—yang terpancar dari kedua bola matanya.

Sebutir bom itu sesungguhnya hanya ada di dalam pikirannya. Dan, sekitar satu menit lagi, bom tersebut akan meledak ….

/3/ Wanita yang Menari di Bulan

Malam itu, orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—dikejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang menari di bulan. Terlihat jelas wanita itu mengenakan gaun merah yang mewah, bertelanjang kaki, berambut panjang, berkulit putih, dan … begitu cantik.

“Astaga! Kalau ia turun kemari, aku akan langsung melamarnya!” seru seorang pria sembari memotret wanita itu dengan kamera DSLR-nya yang berlensa tele.

“Kalau aku, sih, tidak akan melamarnya,” sahut pria yang lain, “meskipun dia cantik sekali.”

“Ah, berarti kau bodoh sekali!”

“Bukan begitu, Kawan! Apa kau yakin bahwa kau mau menikah dengan wanita yang bertubuh sebesar itu?”

“Bertubuh sebesar itu?”

“Ya! Dari Bumi saja ia sudah terlihat sedemikian jelas. Bukankah itu berarti ukuran tubuhnya luar biasa besar?”

“Hmmm … benar juga.”

Bukan hanya kedua pria itu, seluruh pria di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—pun dihinggapi oleh rasa kagum yang serupa karena kecantikan paras dan tarian wanita itu. Maka, para kekasih dan para istri pun cemburu, walaupun mereka juga terkagum-kagum pada wanita yang sama.

Karena saking cemburunya, ada seorang wanita jenius yang memutuskan untuk terbang ke bulan malam itu juga dengan Pesawat Super-nya. Kecepatan Pesawat Super amatlah luar biasa sehingga si Wanita Jenius sampai di bulan hanya dalam waktu beberapa menit. Ketika mendarat di bulan, si Wanita Jenius segera membacok wanita penari yang ukuran tubuhnya luar biasa besar itu hingga tewas.

Barangkali sebab mewujudnya karma, atau sekadar kesialan, wanita jenius itu tak bisa kembali ke Bumi. Bahan bakar Pesawat Super-nya ternyata sudah habis! Kemudian, si Wanita Jenius pun menari di bulan, berharap kecantikan paras dan tariannya bakal membuat orang-orang, terutama para pria, terkagum-kagum, sehingga, mudah-mudahan, ada wanita pencemburu lain yang segera pergi ke bulan untuk membunuhnya. Tapi tentu saja si Wanita Jenius akan membunuh wanita pencemburu yang lain itu terlebih dahulu—“Semoga saja bisa,” doanya—sehingga ia bisa mencuri pesawatnya, lantas kembali ke Bumi—itu pun kalau bahan bakar pesawat milik wanita pencemburu yang lain itu mencukupi. Sayangnya, ukuran tubuh si Wanita Jenius begitu “kecil” sehingga ia tak terlihat dari Bumi, tak menarik perhatian siapa pun apalagi membuat orang-orang kagum. Apa yang orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—lihat di bulan hanyalah mayat wanita penari—yang tergeletak bersimbah darah—itu.

/4/ Pembunuh Bayaran dan Puisi

Dari sekian pembunuh bayaran yang pernah saya bayar untuk membunuh para pesaing bisnis, pembunuh bayaran yang satu itulah yang paling unik: ia meminta puisi, bertemakan apa saja, sebagai bayaran atas jasanya. Satu nyawa, satu puisi. Puisi yang bagus, tentu saja, dan mesti buatan saya sendiri.

Awalnya saya tak tahu siapa nama pembunuh bayaran itu sebab ia enggan memberi tahu, dan saya pun sebetulnya tak pernah ingin tahu. Tapi saya benar-benar ingin tahu kenapa ia meminta puisi sebagai bayarannya alih-alih sekoper-uang sebagaimana yang diminta oleh pembunuh bayaran lainnya.

“Uang tak seberharga puisi,” jelasnya. “Toh, kalau nanti saya butuh uang, saya bisa mengirimkan puisi-puisi dari Anda ke redaksi media massa agar dimuat, lantas mendapatkan honor.”

Saya ingin berkata, “Bagaimana kalau puisi-puisi itu tidak dimuat?” namun saya urungkan karena saya yakin bahwa puisi-puisi buatan saya pasti dimuat—sebab memang bagus. Kemudian, saya ingin berkata, “Bukankah honor dari media massa tidaklah sebanyak sekoper-uang?” tetapi saya urungkan pula karena takutnya pembunuh bayaran itu “berpikir ulang”. Akhirnya, saya memutuskan untuk diam saja sebagai tanggapan atas penjelasannya.

Berhubung menulis puisi adalah hobi saya, saya pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap pembunuh bayaran itu. (Penghematan yang saya lakukan sungguhlah luar biasa!)

***

Setahun kemudian, pembunuh bayaran itu menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram. Puisi-puisi di dalamnya adalah puisi-puisi buatan saya yang saya berikan kepadanya sebagai bayaran. Saya hadir di acara peluncuran antologi puisi itu karena ia mengundang saya. Di acara itu, saya pun membeli—bukan meminta!—antologi puisinya dan meminta tanda tangannya di halaman terdepan. (Oh ya, dari sampul antologi puisi itu, saya jadi tahu siapa namanya: Jaden Bonay. Entah itu nama asli atau nama pena.)

“Ini semua berkat Anda,” bisik Jaden Bonay pada saya sembari menandatangani antologi puisinya yang saya beli.

Saya lantas tertawa kecil dan berbisik juga, “Berkat kau, bisnis saya jadi semakin hebat. Oh ya, sekalipun antologi puisimu sudah terbit, kau tetap mau, kan, melakukan pekerjaan itu untuk saya?”

Jaden Bonay mengangguk.

Saya tersenyum.

***

Satu setengah tahun kemudian, bisnis saya hancur total! Kau tidak perlu tahu apa penyebabnya karena saya tidak ingin memberitahukannya kepada siapa-siapa. Jaden Bonay pun mendadak lenyap dari kehidupan saya. (Siapakah pelanggannya sekarang?)

Dua bulan setelah kehancuran bisnis saya, saya resmi kehilangan segala harta benda saya—kecuali pakaian yang saya kenakan—karena masalah-yang-menghancurkan-bisnis-saya itu rupanya sekali lagi “menyerang”. Dan, jadilah saya seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan.

Satu bulan setelah saya menjadi seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan, saya mendadak didera oleh penyesalan yang amat berat karena pernah membayar seorang pembunuh bayaran dengan puisi-puisi karya saya. Kau tahu kenapa? Karena—saya ketahui dari kabar yang tersiar di mana-mana—Jaden Bonay mendapatkan Penghargaan Utama di Bidang Sastra dari penguasa Negeri Muram berkat antologi puisinya yang berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram! Dan, dengan penghargaan itu, seluruh biaya hidupnya akan ditanggung oleh negeri ini sampai akhir napasnya! (T)

Tags: Cerpen
Share96TweetSendShareSend
Previous Post

Petualangan Dua Tupai – Healing Story untuk Membantu Menangani Anak Cengeng

Next Post

Ida Ayu Putri Adityarini# Cerita Tentang Kelahiran Matahari dan Bulan

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Ida Ayu Putri Adityarini# Cerita Tentang Kelahiran Matahari dan Bulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co