2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah-kisah dari Negeri Muram

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Surya Gemilang

/1/ Oh, Jaden

Seorang pria bernama Jaden terjun dari atap sebuah gedung tujuh lantai. Selama di udara, wajahnya menghadap ke bawah, ke arah orang-orang yang menyaksikan dirinya melompat dari atap gedung itu.

“Jangan bunuh diri, Tuan!” teriak seseorang di bawah sana.

“Masih ada banyak wanita lain di dunia ini!” teriak yang lain—ia menyangka bahwa Jaden berbuat senekat itu karena patah hati.

Orang yang menduga bahwa Jaden berlaku demikian karena masalah utang pun berteriak, “Aku akan memberikan kau uang, berapa pun, untuk melunasi seluruh utangmu!”

Ketiga teriakan itu tentu saja percuma karena baru muncul ketika Jaden sudah terjun, alih-alih sebelumnya.

Sementara seorang wanita sintal sedang merekam peristiwa itu dengan kamera telepon genggamnya, seorang pria tambun memosisikan dirinya tepat di bawah Jaden—berpatok pada letak bayangan—hendak menangkapnya, atau setidaknya lemak di badan tambunnya itu bisa menjadi semitrampolin.

Orang-orang yang lain hanya menjerit-jerit di tempat. Jangankan bergerak, berkalimat pun mereka tak mampu karena saking terkejutnya melihat Jaden terjun dari atap gedung itu.

Menurut perhitungan Jaden, satu setengah detik lagi tubuhnya bakal menghantam bumi. Ah, bukan! Yang benar adalah menghantam pria bertubuh tambun itu! Tapi, menghantam apa pun tubuhnya, bukanlah masalah buat Jaden sebab apa yang dilakukannya itu—melompat dari atap gedung tujuh lantai—hanyalah khayalan. Namun, reaksi orang-orang di bawah sana adalah sesuatu yang nyata ….

/2/ Sebutir Bom

Wanita itu berpikir bahwa saya telah menanam “bibit” di rahimnya. Padahal, saya menanam sebutir bom. Meski daya ledaknya tidaklah seberapa, setidaknya ledakan itu pasti dapat membunuh si Pemilik Rahim.

Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana bisa saya menanam sebutir bom di rahimnya. Jikalau benar demikian, maka akan saya jawab secara singkat: Segalanya bermodalkan sebuah puisi cinta, suasana kamar hotel yang mendukung, dan kasih sayang—palsu saja—yang terpancar dari kedua bola mata saya.

Sekitar satu menit lagi, bom itu akan meledak ….

***

Pria itu berpikir bahwa dirinya telah berhasil menanam sebutir bom di rahim saya. Tapi, ia salah besar. Saya tidak mempunyai rahim. Bahkan saya tidak mempunyai vagina. Tapi saya mempunyai otak dan jiwa untuk menikmati puisi cinta yang dibacakannya, suasana kamar hotel yang dipesannya untuk kami, dan kasih sayang—entah asli atau palsu—yang terpancar dari kedua bola matanya.

Sebutir bom itu sesungguhnya hanya ada di dalam pikirannya. Dan, sekitar satu menit lagi, bom tersebut akan meledak ….

/3/ Wanita yang Menari di Bulan

Malam itu, orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—dikejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang menari di bulan. Terlihat jelas wanita itu mengenakan gaun merah yang mewah, bertelanjang kaki, berambut panjang, berkulit putih, dan … begitu cantik.

“Astaga! Kalau ia turun kemari, aku akan langsung melamarnya!” seru seorang pria sembari memotret wanita itu dengan kamera DSLR-nya yang berlensa tele.

“Kalau aku, sih, tidak akan melamarnya,” sahut pria yang lain, “meskipun dia cantik sekali.”

“Ah, berarti kau bodoh sekali!”

“Bukan begitu, Kawan! Apa kau yakin bahwa kau mau menikah dengan wanita yang bertubuh sebesar itu?”

“Bertubuh sebesar itu?”

“Ya! Dari Bumi saja ia sudah terlihat sedemikian jelas. Bukankah itu berarti ukuran tubuhnya luar biasa besar?”

“Hmmm … benar juga.”

Bukan hanya kedua pria itu, seluruh pria di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—pun dihinggapi oleh rasa kagum yang serupa karena kecantikan paras dan tarian wanita itu. Maka, para kekasih dan para istri pun cemburu, walaupun mereka juga terkagum-kagum pada wanita yang sama.

Karena saking cemburunya, ada seorang wanita jenius yang memutuskan untuk terbang ke bulan malam itu juga dengan Pesawat Super-nya. Kecepatan Pesawat Super amatlah luar biasa sehingga si Wanita Jenius sampai di bulan hanya dalam waktu beberapa menit. Ketika mendarat di bulan, si Wanita Jenius segera membacok wanita penari yang ukuran tubuhnya luar biasa besar itu hingga tewas.

Barangkali sebab mewujudnya karma, atau sekadar kesialan, wanita jenius itu tak bisa kembali ke Bumi. Bahan bakar Pesawat Super-nya ternyata sudah habis! Kemudian, si Wanita Jenius pun menari di bulan, berharap kecantikan paras dan tariannya bakal membuat orang-orang, terutama para pria, terkagum-kagum, sehingga, mudah-mudahan, ada wanita pencemburu lain yang segera pergi ke bulan untuk membunuhnya. Tapi tentu saja si Wanita Jenius akan membunuh wanita pencemburu yang lain itu terlebih dahulu—“Semoga saja bisa,” doanya—sehingga ia bisa mencuri pesawatnya, lantas kembali ke Bumi—itu pun kalau bahan bakar pesawat milik wanita pencemburu yang lain itu mencukupi. Sayangnya, ukuran tubuh si Wanita Jenius begitu “kecil” sehingga ia tak terlihat dari Bumi, tak menarik perhatian siapa pun apalagi membuat orang-orang kagum. Apa yang orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—lihat di bulan hanyalah mayat wanita penari—yang tergeletak bersimbah darah—itu.

/4/ Pembunuh Bayaran dan Puisi

Dari sekian pembunuh bayaran yang pernah saya bayar untuk membunuh para pesaing bisnis, pembunuh bayaran yang satu itulah yang paling unik: ia meminta puisi, bertemakan apa saja, sebagai bayaran atas jasanya. Satu nyawa, satu puisi. Puisi yang bagus, tentu saja, dan mesti buatan saya sendiri.

Awalnya saya tak tahu siapa nama pembunuh bayaran itu sebab ia enggan memberi tahu, dan saya pun sebetulnya tak pernah ingin tahu. Tapi saya benar-benar ingin tahu kenapa ia meminta puisi sebagai bayarannya alih-alih sekoper-uang sebagaimana yang diminta oleh pembunuh bayaran lainnya.

“Uang tak seberharga puisi,” jelasnya. “Toh, kalau nanti saya butuh uang, saya bisa mengirimkan puisi-puisi dari Anda ke redaksi media massa agar dimuat, lantas mendapatkan honor.”

Saya ingin berkata, “Bagaimana kalau puisi-puisi itu tidak dimuat?” namun saya urungkan karena saya yakin bahwa puisi-puisi buatan saya pasti dimuat—sebab memang bagus. Kemudian, saya ingin berkata, “Bukankah honor dari media massa tidaklah sebanyak sekoper-uang?” tetapi saya urungkan pula karena takutnya pembunuh bayaran itu “berpikir ulang”. Akhirnya, saya memutuskan untuk diam saja sebagai tanggapan atas penjelasannya.

Berhubung menulis puisi adalah hobi saya, saya pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap pembunuh bayaran itu. (Penghematan yang saya lakukan sungguhlah luar biasa!)

***

Setahun kemudian, pembunuh bayaran itu menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram. Puisi-puisi di dalamnya adalah puisi-puisi buatan saya yang saya berikan kepadanya sebagai bayaran. Saya hadir di acara peluncuran antologi puisi itu karena ia mengundang saya. Di acara itu, saya pun membeli—bukan meminta!—antologi puisinya dan meminta tanda tangannya di halaman terdepan. (Oh ya, dari sampul antologi puisi itu, saya jadi tahu siapa namanya: Jaden Bonay. Entah itu nama asli atau nama pena.)

“Ini semua berkat Anda,” bisik Jaden Bonay pada saya sembari menandatangani antologi puisinya yang saya beli.

Saya lantas tertawa kecil dan berbisik juga, “Berkat kau, bisnis saya jadi semakin hebat. Oh ya, sekalipun antologi puisimu sudah terbit, kau tetap mau, kan, melakukan pekerjaan itu untuk saya?”

Jaden Bonay mengangguk.

Saya tersenyum.

***

Satu setengah tahun kemudian, bisnis saya hancur total! Kau tidak perlu tahu apa penyebabnya karena saya tidak ingin memberitahukannya kepada siapa-siapa. Jaden Bonay pun mendadak lenyap dari kehidupan saya. (Siapakah pelanggannya sekarang?)

Dua bulan setelah kehancuran bisnis saya, saya resmi kehilangan segala harta benda saya—kecuali pakaian yang saya kenakan—karena masalah-yang-menghancurkan-bisnis-saya itu rupanya sekali lagi “menyerang”. Dan, jadilah saya seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan.

Satu bulan setelah saya menjadi seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan, saya mendadak didera oleh penyesalan yang amat berat karena pernah membayar seorang pembunuh bayaran dengan puisi-puisi karya saya. Kau tahu kenapa? Karena—saya ketahui dari kabar yang tersiar di mana-mana—Jaden Bonay mendapatkan Penghargaan Utama di Bidang Sastra dari penguasa Negeri Muram berkat antologi puisinya yang berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram! Dan, dengan penghargaan itu, seluruh biaya hidupnya akan ditanggung oleh negeri ini sampai akhir napasnya! (T)

Tags: Cerpen
Share96TweetSendShareSend
Previous Post

Petualangan Dua Tupai – Healing Story untuk Membantu Menangani Anak Cengeng

Next Post

Ida Ayu Putri Adityarini# Cerita Tentang Kelahiran Matahari dan Bulan

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Ida Ayu Putri Adityarini# Cerita Tentang Kelahiran Matahari dan Bulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co