11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 23, 2019
in Khas
Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Ilustrasi dipotong dari poster

Odalan di Pura Dalem biasanya paling ditunggu-tunggu oleh anak muda, termasuk saya. Di Pura inilah biasanya pertunjukkan Calonarang digelar. Tidak hanya Pura yang di desa saya, Pura-Pura di desa lain pun tak ragu disasar. Toh, di Instagram sudah gampang mencari informasi pementasan calonarang.

Beberapa bulan yang lalu misalnya, di Sekitaran Klungkung, ada pementasan Calonarang dengan penawaran bahwa bangke matah akan dikubur. Saya tak ikut karena jauh, tetapi di media sosial, teman-teman saya sudah sibuk mengunggah foto-foto dengan penonton yang memadati pertunjukkan itu.

Saya dan teman-teman tentu merasa bangga masih banyak orang yang suka menonton pertunjukkan ini, tidak melulu soal film atau soal nonton youtube. Kami cukup bangga masih tersimpan selera itu dan berkata “Ne mara ngelestariang Budaya Bali!”.

Suatu hari, saya menonton Calonarang ke daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal dengan beramai-ramai. Kami seperti pemburu Calonarang. Keesokan harinya, paman saya yang kira-kira berumur 65 tahun bertanya dengan wajah yang santai dan datar seolah-olah menguji, “Apa cerita yang diangkat kemarin?”.

Saya bingung. Lalu saya jawab, “Bagus, rangda sangat metaksu, suasana seram sekali. Orang kerauhan di mana-mana.”

Mungkin karena merasa tidak puas, paman saya bertanya lagi, “Siapa patihya?”.

Saya jawab dengan secukupnya, “Pokoknya bagus, Rangda yang dipandung patih sangat bagus. Saya sangat suka, seharusnya desa kita juga punya yang seperti itu.”

Karena sesungguhnya saya tidak terjawab apa-apa, paman saya langsung menohok. “Keto be mebalih nak kerauhan dogen, satua sing tawang! Salihan isine. Arek-arek jani iteh ngalih nak kerauhan gen pang ada satuang manine! (Anak muda sekarang sibuk mencari orang yang kerasukan tanpa tahu cerita! Apalagi nilai-nilainya. Mereka hanya sibuk mencari orang kerasukan biar ada topik pembicaraan esoknya!)

Paman saya mungkin tak tahu, anak-anak di zaman milenial ini memang lebih suka sensasi, lebih takjub pada sesuatu yang seram dan berani, ketimbang hirau pada nilai-nilai. Mungkin karena itu juga anak-anak zaman milenial pun masih suka menonton film horror yang gambarnya lebih banyak gelap dan tokohnya lebih banyak teriak-teriak.

Tapi saya tersinggung juga dengan tuduhan paman saya itu.  Karena itulah, pada tanggal 22 Maret 2019 dengan sengaja saya menuju ke Littletalks Ubud. Di sana diadakan pameran watercolour, pemutaran film documenter, dan tentunya diskusi dengan topik yang diangkat “Kasuksman Calonarang” sebagai pembukaan pameran yang dimulai 22 Maret hingga 22 April 2019.

Karya yang dipajang di sana adalah karya watercolor dari Gede Pebri dan Satya Bhuana.

Saya ingin tahu lebih banyak nilai-nilai sehingga tidak hanya menonton Calonarang dari segi mistisnya saja. Namun, saya merasa agak kaget ketika menonton film dokumenter tersebut.

Seorang pelaku dalam pertunjukkan ini yang sudah menggelutinya dalam kurun waktu yang cukup panjang, yaitu Wayan Sukra berkata bahwa menonton dari sudut pandang itu sah-sah saja, sebab sifat tontonan salah satunya adalah untuk menghibur.

Seniman Wayan Sukra membuat saya kagum dengan kata-kata yang tidak serta merta menghakimi itu. Selain itu Wayan Sukra juga berkata bahwa sesungguhnya yang ingin disampaikan dalam calonarang adalah bagaimana kita sebagai manusia tidak menafikan keburukan, sebab kebaikan dan keburukan seperti kisah dalam Calonarang adalah suatu yang menciptakan keseimbangan. Tidak melulu soal baik, atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya teringat dengan simbol yang sering saya lihat dalam film “Avatar the Legend of Ang” yaitu, simbol Yin dan Yang. Hitam dan Putih membentuk lingkaran dan saling memenuhi.

Dalam kesempatan itu, Sukanda Arimbawa yang juga berpendapat dalam film hadir pada diskusi di Littletalks Ubud. Dalam film, seseorang sempat berkata tentang Taksu.

Saya teringat dengan teman-teman yang dengan gampang berkata “Barong to metaksu sajan”, “Rangda to metaksu”, dan yang paling saya ingat adalah ketika seseorang pekerja di pariwisata berkata bahwa Bali diramaikan wisatawan karena taksunya.

Kemudian saya bertanya, “Apa Taksu itu?” lalu Sukanda Arimbawa dengan rendah hati menjawab bahwa jawaban yang diberikan adalah pendapat, dan mungkin saja berbeda dengan yang lain. Menurutnya Taksu akan muncul dari pengulangan dan keiklasan dalam bekerja. Seperti seniman tradisi yang selalu saja latihan berulang-ulang tanpa niat untuk mendapatkan sesuatu. Bekerja dengan iklas, dari sanalah cikal bakal taksu itu.

Pada konteks pariwisata, Sukanda Arimbawa memberi contoh mengenai desanya, yaitu Ceking. Dulu, di terasering yang kini diramaikan pengunjung itu, para pendahulu desa bekerja mengurus sawah dengan iklas tanpa kepentingan Pariwisata atau kepentingan uang. Ya, bekerja untuk hidup, iklas. Kini, tempat itu diramaikan pengunjung dan saya menyimpulkan bahwa itulah yang disebut Taksu oleh Sukanda.

Hujan kian deras dan reda, berulang-ulang berkali-kali. Angin di tebing sesekali menyentuh peserta. Di tempat yang menarik ini, diskusi tetap berlangsung dan banyak yang berpartisipasi dalam diskusi.

Bagi saya sendiri, diskusi seperti ini menjadi hal yang sangat penting. Bahasannya adalah sesuatu yang sering kita lihat dan jumpai sehingga seolah-olah setiap orang sudah paham. Untuk mengenali seberapa paham dan dari sudut yang berbeda inilah diskusi mengenai sesuatu yang terasa dekat yang tidak disadari bahwa itu ternyata bias, perlu dilakukan.

Satya pun berkata bahwa alasannya mengangkat calonarang disebabkan kegelisahannya dengan nilai yang kian kabur dari pandangan Calonarang Hunter. Tetapi saya setuju juga dengan Wayan Sukra yang mengatakan itu juga sah-sah saja.

Dan terakhir ketika seorang bertanya, “Jadi, yang harus diperbaiki sebenarnya penonton apa pertunjukkannya?” Satya berkata bahwa keduanya harus diperbaiki. Penonton juga pelakunya.

Hampir tengah malam, saya pun pulang ke kampung saya di Pejeng. Saya pulang dengan perasaan lain seperti ketika saya baru pulang dari menonton Calonarang. Bukan takut, tapi lebih pada rasa gelisah, entah oleh sebab apa. [T]

Tags: baliCalonarangfilm dokumenterPameran Seni RupaUbud
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Klise dan Tak Kreatif untuk Mengelabui Pacar saat Pacar Lain Menelepon

Next Post

Alzhaeimer

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Alzhaeimer

Alzhaeimer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co