1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 23, 2019
in Khas
Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Ilustrasi dipotong dari poster

Odalan di Pura Dalem biasanya paling ditunggu-tunggu oleh anak muda, termasuk saya. Di Pura inilah biasanya pertunjukkan Calonarang digelar. Tidak hanya Pura yang di desa saya, Pura-Pura di desa lain pun tak ragu disasar. Toh, di Instagram sudah gampang mencari informasi pementasan calonarang.

Beberapa bulan yang lalu misalnya, di Sekitaran Klungkung, ada pementasan Calonarang dengan penawaran bahwa bangke matah akan dikubur. Saya tak ikut karena jauh, tetapi di media sosial, teman-teman saya sudah sibuk mengunggah foto-foto dengan penonton yang memadati pertunjukkan itu.

Saya dan teman-teman tentu merasa bangga masih banyak orang yang suka menonton pertunjukkan ini, tidak melulu soal film atau soal nonton youtube. Kami cukup bangga masih tersimpan selera itu dan berkata “Ne mara ngelestariang Budaya Bali!”.

Suatu hari, saya menonton Calonarang ke daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal dengan beramai-ramai. Kami seperti pemburu Calonarang. Keesokan harinya, paman saya yang kira-kira berumur 65 tahun bertanya dengan wajah yang santai dan datar seolah-olah menguji, “Apa cerita yang diangkat kemarin?”.

Saya bingung. Lalu saya jawab, “Bagus, rangda sangat metaksu, suasana seram sekali. Orang kerauhan di mana-mana.”

Mungkin karena merasa tidak puas, paman saya bertanya lagi, “Siapa patihya?”.

Saya jawab dengan secukupnya, “Pokoknya bagus, Rangda yang dipandung patih sangat bagus. Saya sangat suka, seharusnya desa kita juga punya yang seperti itu.”

Karena sesungguhnya saya tidak terjawab apa-apa, paman saya langsung menohok. “Keto be mebalih nak kerauhan dogen, satua sing tawang! Salihan isine. Arek-arek jani iteh ngalih nak kerauhan gen pang ada satuang manine! (Anak muda sekarang sibuk mencari orang yang kerasukan tanpa tahu cerita! Apalagi nilai-nilainya. Mereka hanya sibuk mencari orang kerasukan biar ada topik pembicaraan esoknya!)

Paman saya mungkin tak tahu, anak-anak di zaman milenial ini memang lebih suka sensasi, lebih takjub pada sesuatu yang seram dan berani, ketimbang hirau pada nilai-nilai. Mungkin karena itu juga anak-anak zaman milenial pun masih suka menonton film horror yang gambarnya lebih banyak gelap dan tokohnya lebih banyak teriak-teriak.

Tapi saya tersinggung juga dengan tuduhan paman saya itu.  Karena itulah, pada tanggal 22 Maret 2019 dengan sengaja saya menuju ke Littletalks Ubud. Di sana diadakan pameran watercolour, pemutaran film documenter, dan tentunya diskusi dengan topik yang diangkat “Kasuksman Calonarang” sebagai pembukaan pameran yang dimulai 22 Maret hingga 22 April 2019.

Karya yang dipajang di sana adalah karya watercolor dari Gede Pebri dan Satya Bhuana.

Saya ingin tahu lebih banyak nilai-nilai sehingga tidak hanya menonton Calonarang dari segi mistisnya saja. Namun, saya merasa agak kaget ketika menonton film dokumenter tersebut.

Seorang pelaku dalam pertunjukkan ini yang sudah menggelutinya dalam kurun waktu yang cukup panjang, yaitu Wayan Sukra berkata bahwa menonton dari sudut pandang itu sah-sah saja, sebab sifat tontonan salah satunya adalah untuk menghibur.

Seniman Wayan Sukra membuat saya kagum dengan kata-kata yang tidak serta merta menghakimi itu. Selain itu Wayan Sukra juga berkata bahwa sesungguhnya yang ingin disampaikan dalam calonarang adalah bagaimana kita sebagai manusia tidak menafikan keburukan, sebab kebaikan dan keburukan seperti kisah dalam Calonarang adalah suatu yang menciptakan keseimbangan. Tidak melulu soal baik, atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya teringat dengan simbol yang sering saya lihat dalam film “Avatar the Legend of Ang” yaitu, simbol Yin dan Yang. Hitam dan Putih membentuk lingkaran dan saling memenuhi.

Dalam kesempatan itu, Sukanda Arimbawa yang juga berpendapat dalam film hadir pada diskusi di Littletalks Ubud. Dalam film, seseorang sempat berkata tentang Taksu.

Saya teringat dengan teman-teman yang dengan gampang berkata “Barong to metaksu sajan”, “Rangda to metaksu”, dan yang paling saya ingat adalah ketika seseorang pekerja di pariwisata berkata bahwa Bali diramaikan wisatawan karena taksunya.

Kemudian saya bertanya, “Apa Taksu itu?” lalu Sukanda Arimbawa dengan rendah hati menjawab bahwa jawaban yang diberikan adalah pendapat, dan mungkin saja berbeda dengan yang lain. Menurutnya Taksu akan muncul dari pengulangan dan keiklasan dalam bekerja. Seperti seniman tradisi yang selalu saja latihan berulang-ulang tanpa niat untuk mendapatkan sesuatu. Bekerja dengan iklas, dari sanalah cikal bakal taksu itu.

Pada konteks pariwisata, Sukanda Arimbawa memberi contoh mengenai desanya, yaitu Ceking. Dulu, di terasering yang kini diramaikan pengunjung itu, para pendahulu desa bekerja mengurus sawah dengan iklas tanpa kepentingan Pariwisata atau kepentingan uang. Ya, bekerja untuk hidup, iklas. Kini, tempat itu diramaikan pengunjung dan saya menyimpulkan bahwa itulah yang disebut Taksu oleh Sukanda.

Hujan kian deras dan reda, berulang-ulang berkali-kali. Angin di tebing sesekali menyentuh peserta. Di tempat yang menarik ini, diskusi tetap berlangsung dan banyak yang berpartisipasi dalam diskusi.

Bagi saya sendiri, diskusi seperti ini menjadi hal yang sangat penting. Bahasannya adalah sesuatu yang sering kita lihat dan jumpai sehingga seolah-olah setiap orang sudah paham. Untuk mengenali seberapa paham dan dari sudut yang berbeda inilah diskusi mengenai sesuatu yang terasa dekat yang tidak disadari bahwa itu ternyata bias, perlu dilakukan.

Satya pun berkata bahwa alasannya mengangkat calonarang disebabkan kegelisahannya dengan nilai yang kian kabur dari pandangan Calonarang Hunter. Tetapi saya setuju juga dengan Wayan Sukra yang mengatakan itu juga sah-sah saja.

Dan terakhir ketika seorang bertanya, “Jadi, yang harus diperbaiki sebenarnya penonton apa pertunjukkannya?” Satya berkata bahwa keduanya harus diperbaiki. Penonton juga pelakunya.

Hampir tengah malam, saya pun pulang ke kampung saya di Pejeng. Saya pulang dengan perasaan lain seperti ketika saya baru pulang dari menonton Calonarang. Bukan takut, tapi lebih pada rasa gelisah, entah oleh sebab apa. [T]

Tags: baliCalonarangfilm dokumenterPameran Seni RupaUbud
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Klise dan Tak Kreatif untuk Mengelabui Pacar saat Pacar Lain Menelepon

Next Post

Alzhaeimer

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Alzhaeimer

Alzhaeimer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co