20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 23, 2019
in Khas
Calonarang di Zaman Milenial – Dari Diskusi, Pemutaran Film, dan Pameran Watercolor, di Littletalks Ubud

Ilustrasi dipotong dari poster

Odalan di Pura Dalem biasanya paling ditunggu-tunggu oleh anak muda, termasuk saya. Di Pura inilah biasanya pertunjukkan Calonarang digelar. Tidak hanya Pura yang di desa saya, Pura-Pura di desa lain pun tak ragu disasar. Toh, di Instagram sudah gampang mencari informasi pementasan calonarang.

Beberapa bulan yang lalu misalnya, di Sekitaran Klungkung, ada pementasan Calonarang dengan penawaran bahwa bangke matah akan dikubur. Saya tak ikut karena jauh, tetapi di media sosial, teman-teman saya sudah sibuk mengunggah foto-foto dengan penonton yang memadati pertunjukkan itu.

Saya dan teman-teman tentu merasa bangga masih banyak orang yang suka menonton pertunjukkan ini, tidak melulu soal film atau soal nonton youtube. Kami cukup bangga masih tersimpan selera itu dan berkata “Ne mara ngelestariang Budaya Bali!”.

Suatu hari, saya menonton Calonarang ke daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal dengan beramai-ramai. Kami seperti pemburu Calonarang. Keesokan harinya, paman saya yang kira-kira berumur 65 tahun bertanya dengan wajah yang santai dan datar seolah-olah menguji, “Apa cerita yang diangkat kemarin?”.

Saya bingung. Lalu saya jawab, “Bagus, rangda sangat metaksu, suasana seram sekali. Orang kerauhan di mana-mana.”

Mungkin karena merasa tidak puas, paman saya bertanya lagi, “Siapa patihya?”.

Saya jawab dengan secukupnya, “Pokoknya bagus, Rangda yang dipandung patih sangat bagus. Saya sangat suka, seharusnya desa kita juga punya yang seperti itu.”

Karena sesungguhnya saya tidak terjawab apa-apa, paman saya langsung menohok. “Keto be mebalih nak kerauhan dogen, satua sing tawang! Salihan isine. Arek-arek jani iteh ngalih nak kerauhan gen pang ada satuang manine! (Anak muda sekarang sibuk mencari orang yang kerasukan tanpa tahu cerita! Apalagi nilai-nilainya. Mereka hanya sibuk mencari orang kerasukan biar ada topik pembicaraan esoknya!)

Paman saya mungkin tak tahu, anak-anak di zaman milenial ini memang lebih suka sensasi, lebih takjub pada sesuatu yang seram dan berani, ketimbang hirau pada nilai-nilai. Mungkin karena itu juga anak-anak zaman milenial pun masih suka menonton film horror yang gambarnya lebih banyak gelap dan tokohnya lebih banyak teriak-teriak.

Tapi saya tersinggung juga dengan tuduhan paman saya itu.  Karena itulah, pada tanggal 22 Maret 2019 dengan sengaja saya menuju ke Littletalks Ubud. Di sana diadakan pameran watercolour, pemutaran film documenter, dan tentunya diskusi dengan topik yang diangkat “Kasuksman Calonarang” sebagai pembukaan pameran yang dimulai 22 Maret hingga 22 April 2019.

Karya yang dipajang di sana adalah karya watercolor dari Gede Pebri dan Satya Bhuana.

Saya ingin tahu lebih banyak nilai-nilai sehingga tidak hanya menonton Calonarang dari segi mistisnya saja. Namun, saya merasa agak kaget ketika menonton film dokumenter tersebut.

Seorang pelaku dalam pertunjukkan ini yang sudah menggelutinya dalam kurun waktu yang cukup panjang, yaitu Wayan Sukra berkata bahwa menonton dari sudut pandang itu sah-sah saja, sebab sifat tontonan salah satunya adalah untuk menghibur.

Seniman Wayan Sukra membuat saya kagum dengan kata-kata yang tidak serta merta menghakimi itu. Selain itu Wayan Sukra juga berkata bahwa sesungguhnya yang ingin disampaikan dalam calonarang adalah bagaimana kita sebagai manusia tidak menafikan keburukan, sebab kebaikan dan keburukan seperti kisah dalam Calonarang adalah suatu yang menciptakan keseimbangan. Tidak melulu soal baik, atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya teringat dengan simbol yang sering saya lihat dalam film “Avatar the Legend of Ang” yaitu, simbol Yin dan Yang. Hitam dan Putih membentuk lingkaran dan saling memenuhi.

Dalam kesempatan itu, Sukanda Arimbawa yang juga berpendapat dalam film hadir pada diskusi di Littletalks Ubud. Dalam film, seseorang sempat berkata tentang Taksu.

Saya teringat dengan teman-teman yang dengan gampang berkata “Barong to metaksu sajan”, “Rangda to metaksu”, dan yang paling saya ingat adalah ketika seseorang pekerja di pariwisata berkata bahwa Bali diramaikan wisatawan karena taksunya.

Kemudian saya bertanya, “Apa Taksu itu?” lalu Sukanda Arimbawa dengan rendah hati menjawab bahwa jawaban yang diberikan adalah pendapat, dan mungkin saja berbeda dengan yang lain. Menurutnya Taksu akan muncul dari pengulangan dan keiklasan dalam bekerja. Seperti seniman tradisi yang selalu saja latihan berulang-ulang tanpa niat untuk mendapatkan sesuatu. Bekerja dengan iklas, dari sanalah cikal bakal taksu itu.

Pada konteks pariwisata, Sukanda Arimbawa memberi contoh mengenai desanya, yaitu Ceking. Dulu, di terasering yang kini diramaikan pengunjung itu, para pendahulu desa bekerja mengurus sawah dengan iklas tanpa kepentingan Pariwisata atau kepentingan uang. Ya, bekerja untuk hidup, iklas. Kini, tempat itu diramaikan pengunjung dan saya menyimpulkan bahwa itulah yang disebut Taksu oleh Sukanda.

Hujan kian deras dan reda, berulang-ulang berkali-kali. Angin di tebing sesekali menyentuh peserta. Di tempat yang menarik ini, diskusi tetap berlangsung dan banyak yang berpartisipasi dalam diskusi.

Bagi saya sendiri, diskusi seperti ini menjadi hal yang sangat penting. Bahasannya adalah sesuatu yang sering kita lihat dan jumpai sehingga seolah-olah setiap orang sudah paham. Untuk mengenali seberapa paham dan dari sudut yang berbeda inilah diskusi mengenai sesuatu yang terasa dekat yang tidak disadari bahwa itu ternyata bias, perlu dilakukan.

Satya pun berkata bahwa alasannya mengangkat calonarang disebabkan kegelisahannya dengan nilai yang kian kabur dari pandangan Calonarang Hunter. Tetapi saya setuju juga dengan Wayan Sukra yang mengatakan itu juga sah-sah saja.

Dan terakhir ketika seorang bertanya, “Jadi, yang harus diperbaiki sebenarnya penonton apa pertunjukkannya?” Satya berkata bahwa keduanya harus diperbaiki. Penonton juga pelakunya.

Hampir tengah malam, saya pun pulang ke kampung saya di Pejeng. Saya pulang dengan perasaan lain seperti ketika saya baru pulang dari menonton Calonarang. Bukan takut, tapi lebih pada rasa gelisah, entah oleh sebab apa. [T]

Tags: baliCalonarangfilm dokumenterPameran Seni RupaUbud
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Klise dan Tak Kreatif untuk Mengelabui Pacar saat Pacar Lain Menelepon

Next Post

Alzhaeimer

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails
Next Post
Alzhaeimer

Alzhaeimer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co