24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
March 11, 2019
in Esai
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Bagai si pungguk merindukan beasiswa, eh merindukan bulan, eh merindukan buku, akhirnya buku yang dirindukan pungguk ketemu juga.

Dari dulu ingin sekali saya memiliki buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Ya, seperti pungguk meridukan buku.

Padahal, seperti pungguk buruk rupa, saya tak mengerti banyak soal kritik sastra. Maka isenglah saya mencari-cari bagaimana rupa dan wajah teks kritik sastra itu. Saya belajar sana-sini, sedikit-sedikit, tapi lama-lama perasaan ini menjalar ke sekujur tubuh sehingga niatan untuk mencari buku kritik sastra yang benar-benar bernas dan serius dan berani, terus menggebu.

Saya pun memcari buku Katrin Bandel lewat dunia maya. Karena ternyata buku itu sudah lama ada di dunia nyata, tapi dasar saya memang pungguk, ya, tahunya baru belakang-belakangan ini.

Pencarian di toko buku dunia maya-maya pun dilakukan. Dari sekian toko buku hanya dua toko buku yang menuliskan stok sisa 1. 

“Selamat siang, Mas,” pesan saya kirimkan ke salah satu narahubung toko buku tersebut, sembari mengirimkan link dagangannya. Sepuluh menit tidak dibalas, saya mulai tidak enak badan, mual, perut kembung dan perasaan buku diambil duluan oleh orang jahat* pun tumbuh.

*Jahat di sini merujuk pada kutipan Joseph Brodsky yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bunyinya begini, “Ada yang lebih jahat dari membakar buku, tidak membacanya!”. Nah, saya kan takut itu terjadi, saya pun mengirimkan pesan lagi. 

“Mas.., Haloo .. cek, Mas! Cek..”

“P”

“P” 

“P” 

“P” 

Kata teman saya, kalau kita mengirimkan pesan dengan hanya huruf P, itu semacam ketika kita menggunakan BBM, jadi secara tidak langsung itu akan menimbulkan getar pada HP. Entah benar atau salah, saya melakukannya siapa tau aji mumpung.

Entah HP Mas-nya getar atau merasa terganggu oleh chat yang seperti itu, dia pun membalasnya, “Wah kalau itu sudah habis dulu mas. Yang lain mau, Mas?”

Saya pun menjawab, “Tidak Mas, tyada yang bisa. Saya tak bisa bersanding dengan yang lain.”

“Okeee! Bye!” Mas-nya membalas ketus. 

Singkat cerita, suatu hari di Jogja diadakanlah sebuah Festival Literasi dan Pasar Buku. Karena hati kecil saya waktu itu mengatakan akan ada banyak buku bagus nan langka, saya pun berangkat ke sana.

Perjuangan naik kereta selama 12 jam pun terbayarkan ketika saya menemukan buku ini di tumpukan dan tak terlihat ada yang mencarinya, seketika itu saya mengambilnya. Berikut saya tuliskan kenapa buku ini ingin sekali saya miliki. 

KMTKI

Membaca buku ini kita akan dihadapkan pada persoalan kritik sastra yang dilakukan begitu menarik oleh Katrin Bandel kepada karya sastra Indonesia pra dan pascakolonial. Katrin Bandel, dari namanya kayaknya udah bandel dan suka banget mengkritik ya.

Katrin Bandel adalah seorang penulis yang berasal dari Jerman. Dia menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di Universitas Hamburg, Jerman dengan judul “Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia”.

Buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel

Katrin adalah seorang Indonesianis. Karena merasa ikut memiliki sastra Indonesia kebanyakan penelitiannya menggunakan bahasa Indonesia ketimbang menggunakan bahasa Inggris.

Tujuannya tak lain agar orang Indonesia sendiri punya kesempatan untuk mengakses penelitian-penelitian sastra di Indonesia. Lah, kok saya tau? Eits, saya bukan balian, cuman baca beberapa sumber aja. 

Ada beberapa bab dalam buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Seperti pada bab Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KMTKI), Katrin mekritik penerbitan KMTKI dilakukan jelas dalam kerangka politik identitas.

Bagi Katrin sendiri penerbitan KMTKI ini dipahami sebagai bagian dari kebangkitan politik identitas etnis Tionghoa setelah runtuhnya Orde Baru. Hal tersebut terungkap dengan cukup eksplisit dalam antologi itu sendiri.

Dalam pengantar “Sekapur Sirih” dijelaskan bahwa “kepeloporan [Peranakan Tionghoa] dalam proses kebangsaan Indonesia melalui perkembangan Kesastraan Melayu Tionghoa selama ini kurang mendapat pengakuan. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa tujuan penerbitan adalah untuk menuntut agar sekian banyak karya yang selama ini dilupakan, diakui sebagai bagian dari sastra Indonesia.

Dalam bab yang sama Katrin juga mengkritik soal isi dari KMTKI ini, apalagi yang jilid 1. Meskipun antologinya berjudul Kesusastraan, apalagi jika mengarah kepada pengakuan sebagai karya yang bernilai “sastra”, antologi ini sudah melenceng karena di KMTKI jilid 1 terdapat dua teks yang jelas-jelas bukan karya sastra yaitu “kitab eja” yang tampaknya disusun sebagai bahan ajar anak-anak sekolah dasar dan juga informasi dan ulasan mengenai olahraga tinju.

Jadi, antologi ini pun dikritiknya sebagai antologi yang dipenuhi ketidaktegasan mengenai kriteria pemilihan karya. 

Laskar Pelangi

Pada bab Laskar Pelangi, dia mempertanyakan posisi Laskar Pelangi sebagai sebuah karya terjemahan atau sanduran. Hal ini karena pada versi bahasa Inggrisnya ada begitu banyak pembaruan yang dilakukan bahkan hingga melebihi 10 bab dari versi aslinya.

Sehingga, ada sedikit kerancuan jika karya tersebut dikatakan sebagai sebuah karya terjemahan karena selain ditambahkannya bab yang tak sedikit, hadirnya karakter baru juga membuat karya versi bahasa Inggris ini semakin jauh dari aslinya meskipun dari segi judul, versi bahasa Inggris diterjemahkan langsung menjadi The Rainbow Troops. Versi Inggris “diterjemahkan” Angie Kilbane. 

Andrea Hirata tidak hanya sekedar memposisikan diri sebagai penghibur tapi juga sebagai sejenis pembela keadilan. Namun dengan adanya eksotisasi penderitaan dalam beberapa contoh versi inggrisnya, juga informasi menyesatkan mengenai kebudayaan Indonesia, sistem pendidikan Indonesia dan sebagainya, lewat kritiknya Katrin mempertanyakan, apakah kita masih dapat percaya cita-cita luhur Andrea Hirata? 

Pada bab yang sama, membaca catatan kaki tentang pengakuan prestasi ke”internasionalan” Andrea Hirata membuat saya tertawa.

 “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa yang mendunia, tapi alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.”(metrotvnews.com, 12 Februari 2013).

Lucu saja, Andrea Hirata begitu pongah mengakui prestasi keinternasionalannya, apa dia tidak sadar Pramoedya Ananta Toer pernah mendapat nominasi nobel dan karyanya diterjemahkan dalam beberapa bahasa bin digunakan sebagai buku yang harus dibaca untuk belajar tentang Indonesia? 

Andrea Hirata kini memposisikan diri sebagai penulis Indonesia yang sukses di luar negeri. Namun, siapa sebetulnya yang menulis novel yang sukses di luar Indonesia tersebut? Apakah The Rainbow Troops merupakan karya Andrea Hirata sendiri? Ataukah itu kolaborasi antara dirinya dan Angie Kilbane?

Seksualitas dan Sastra Indonesia

Tak berhenti di sana, Katrin juga menyinggung Seksualitas dalam Sastra Indonesia. Salah satunya, kritiknya kepada Saman karya Ayu Utami yang bagi pembaca dikaitkan dengan feminisme, kebebasan seksual, dan kebaruan dalam dunia sastra Indonesia dikatakan olehnya adalah sebuah bentuk yang salah kaprah.

Bagi Katrin membaca Saman karya Ayu Utami tidak memberinya informasi apapun mengenai feminisme. Dia pun sangat menyayangkan jika ada orang yang menyamakan atau secara spontan menghubungkan feminisme dengan Ayu Utami, atau menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks bebas.

Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup merugikan menurut pandangan Katrin karena menimbulkan kesan seakan-akan “maju” atau “terbelakang” nya seorang perempuan tergantung terutama pada perilaku seksualnya.

Hal ini dijelaskannya begitu runut hingga kritik mengarah ke tulisan Goenawan Mohamad (GM) yang berbicara soal Ayu Utami dan karyanya “The Body is Heard” yang cenderung politis.

Dalam tulisannya, GM mengatakan bahwa Ayu Utami pada rejim Orde Baru adalah salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang melawan kecenderungan umum apalagi Ayu Utami dikatakan memiliki bahasa yang khas.

Pernyataan GM yang seperti itu sempat dikritik oleh Katrin karena dipandang sebagai pernyataan yang sangat berlebihan. Karena bagi Katrin sendiri sebagian besar sastrawan pada rejim itu bersikap kritis, apalagi tahun-tahun terakhir rejim. Sastrawan pada masa itu justru mencari gaya dan cara penyampaian kritik yang berbeda (karena kebebasan berpendapat sangat terbatas) sehingga tidak menyampaikan protes dengan lantang. 

Lebih jauh Katrin juga mengkritik soal GM yang menghubungkan persoalan perlawan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan.

Katrin mempertanyakan seperti apa bahasa terobosan baru yang khas? Yang begitu feminis? Yang menghadirkan tubuh dalam bahasa? Maka bagi Katrin sendiri semua itu hanya klaim yang cukup luar biasa. Yang sulit dipahami karena memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan atau bahkan tidak pernah digunakan dalam bahasa Indonesia.

Maka, bagi Katrin, GM dalam tulisannya hanya menuliskan asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat argumentasi dan bukti. 

Rekomendasi

Nah, itu sedikit bocoran dalam buku ini hehe. Masih buanyak hal seru lainnya yang kawan-kawan pasti dapat lewat buku ini. Saya merekomendasikan buku ini bagi kawan-kawan yang tertarik untuk tahu beberapa esai kritik sastra Katrin Bandel pra dan pascakolonial.

Buku ini juga mengajak kita untuk melihat celah-celah kecil gagasan yang diusung oleh beberapa karya sastra agar tak terbawa oleh arus sastra yang dipolitisi. Ya selain sebagai bacaan latihan belajar berpikir kritis kawan-kawan semua. Belajar sepanjang hayat toh? 

Sering-sering buka tatkala.co, di kolom RAK BUKU nanti kita bicara buku lebih lanjut, jika ada waktu hahaa. Paling tidak, sebulan sekali ya. Komen jika ada judul buku seru, siapa tau nanti ulasannya di Rak Buku. 

Dua tiga anjing menggonggong, share yang rajin dong. Terima kasih. [T]

Tags: BukukritiksastraSastra Indonesiatoko buku
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Porno – Bacaan Orang Dewasa

Next Post

Semua Adalah Rumah

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Semua Adalah Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co