23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
November 14, 2018
in Esai
Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

BELAKANGAN, panggung politik nasional ramai menyuguhi dikotomi diksi. Optimis dan pesimis salah satunya. Di luar itu, masih banyak diksi aneh lain dari para elit yang semakin menjelaskan kelucuan pentas politik di Indonesia.

Kesan sebagai kelompok optimis dibangun oleh petahana. Redaksi-redaksi yang dihadirkan di ruang publik lewat podium atau layar kaca mengesankan begitu. Bagi kelompok ini, negara selalu dalam keadaan baik-baik saja.

Neraca perdagangan minus, nilai tukar Dollar USA sempat menembus 15 ribu, impor kebutuhan dasar, pertumbuhan ekonomi tak sampai 7%, dan masih banyak masalah lain disikapi pemerintah dengan keengganan secara eksplisit untuk mengoreksi diri sendiri. Atau sekadar mengakui sedang tidak bekerja secara optimal.

Bahwa pemerintah telah berusaha meregulasi kembali kebijakan ekspor-impor, bahwa kendala-kendala lain yang dihadapi negeri juga diakibatkan oleh faktor eksternal. Salah satunya yang paling sering mampir di telinga adalah perang dagang USA dan Tiongkok.

Intinya, pemerintah mengklaim bahwa mereka tidak diam. Bahwa Indonesia tetap akan menjadi negara hebat dalam dekade mendatang.

Sebaliknya, narasi yang dibangun kelompok penantang punya suasana yang sama sekali berbeda. Dari ancaman krisis yang parah, terlalu bergantung pada impor, tempe seukuran kartu ATM, harga nasi ayam di Jakarta lebih mahal daripada di Singapura, mayoritas orang Indonesia hidupnya pas-pasan, hingga bubarnya negara.

Narasi-narasi macam itu kemudian dilabel sebagai narasi pesimis oleh kelompok petahana. Dan, secara naluriah, kelompok penantang berdalih menentang. Juga di ruang publik. Bahwa narasi yang mereka bangun bukanlah gambaran pesimisme. Tapi, gambaran realita republik, yang kata mereka sedang salah urus.

Sampai di titik ini, untuk sekadar menenangkan diri dan menghindari perdebatan omong kosong, barangkali, banyak orang perlu menyadari, bahwa segala hal, di masa hangat politik, bisa didikotomi. Bisa dijual. Jangankan sekadar diksi, bahkan Tuhan dan setan-pun ikut ditarik-tarik. Surga dan Neraka-pun ikut dibawa-bawa.

Pentas politik di Indonesia memang unik. Lintas alam. Lintas makhluk hidup. Hingga Tuhan serta Surga dan Neraka ciptaan-Nya. Padahal, politik itu hanya muncul dari, oleh, dan untuk manusia. Tapi, toh ada juga yang justru getol percaya, dan berteriak.

Narasi adanya kelompok optimis dan pesimis di pentas politik hari ini tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Apalagi secara total menjadikannya sebagai dasar penentuan pilihan politik di tahun 2019. Karena, di setiap perhelatan politik, semua orang yang berkepentingan selalu memoles diri. Menjadi lebih tampan untuk memikat kaum perempuan. Menjadi lebih menawan untuk menggaet para lelaki. Hati-hati.

Mereka hadir hanya sebagai alat propaganda.

Petahana tentu selalu datang dengan segala macam redaksi kemajuan dan harapan solusi dari berbagai masalah. Menyampaikan kabar kepada rakyat bahwa selama ini mereka telah bekerja. Telah berupaya menjalankan suara rakyat yang diselipkan di kertas suara 4 tahun lalu, 2014.

Tentunya, dalam narasi itu ada satu tujuan. Agar rakyat masih percaya padanya dan memilihnya kembali tahun depan, 2019.

Sebaliknya, tim penantang selalu hadir dengan segala bentuk kekurangan pemerintahan saat ini. Menyampaikan berita kepada rakyat bahwa pemerintahan saat ini belum bekerja dengan baik. Atau sekadar cukup baik. Bahwa diri mereka menawarkan perubahan untuk menjadikan tanah ini lebih baik.

Tentunya, dalam narasi itu, tujuannya juga satu. Agar rakyat tak lagi percaya pada pemerintahan saat ini sehingga berpaling ke pelukannya di tahun depan, 2019.

Namun, di balik kedua upaya propaganda itu, yang wajar saat kompetisi politik, tim petahana dan penantang sering melupakan hal yang cukup penting.

Masyarakat jarang, kalaupun ada sangat sedikit, diberikan tontonan tentang kebesaran hati mengakui kekurangan dan keikhlasan diri mensyukuri kemajuan. Para politisi yang diundang di berbagai acara gelar wicara di banyak stasiun TV menjadi buktinya.

Mereka, dari kubu petahana, berupaya sekuat tenaga melawan, atau menghindari, argumen-argumen kritik yang dikirim penantang, yang apabila diresapi pasti ada benarnya. Sepertinya semua yang dilakukan pemerintah sudah benar adanya.

Mereka lainnya, dari kubu penantang, berdalih dengan upaya sangat keras untuk mengabaikan segala bentuk kemajuan negeri yang sudah diupayakan oleh pemerintah saat ini. Sepertinya semua yang dilakukan pemerintah tak ada benarnya.

Buruknya lagi, perdebatan itu sering kali sampai pada suatu hal yang paling menyedihkan. Berupa obrolan tak substantif sampai argumen yang tak masuk akal. Hingga pilihan terakhir yang paling realistis adalah mematikan TV atau pindah channel.

Jadi, pesan kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden tentang pemilu yang sejuk dan damai tempo hari jelas-jelas belum sampai. Jangankan kepada masyarakat akar rumput, kepada para elit dan tim internalnya pun belum.

Sehingga, menjadi wajar bilamana media sosial hari ini masih menjadi gelanggang “perang”. Karena kecintaan dan kebencian yang buta masih tumbuh subur di ruang publik. (T)

Tags: NegeriPilpresPolitikwacana politik
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Blackscape Series; Momentum Sindu Memaknai “Hening“

Next Post

Revolusi Seorang INTJ di Panggung Teater — Catatan Jelang Pentas Tini Wahyuni di 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Revolusi Seorang INTJ di Panggung Teater  — Catatan Jelang Pentas Tini Wahyuni di 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Revolusi Seorang INTJ di Panggung Teater -- Catatan Jelang Pentas Tini Wahyuni di 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co