14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Blackscape Series; Momentum Sindu Memaknai “Hening“

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
November 13, 2018
in Ulasan
Blackscape Series; Momentum Sindu Memaknai “Hening“

Pameran "Blackscape Series Gus Sindu" di Yogyakarta

“Saya menampilkan seri karya yang sekarang (Black Scape Series) dengan kesadaran penuh. Dalam membaca dan merespon tema pameran “Peacefull Seaker “, ada kebutuhan dalam diri saya untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dari kecenderungan kekaryaan saya yang sebelumnya yang realistik, dan dalam pameran ini menjadi lebih abstraktif”. Pencarian dan pemaknaan ihwal kata damai yang menjadi tema sentral dalam pameran ini , saya baca  dan maknai sebagai sebuah proses atau momentum dalam meresapi arti sebuah keheningan.” 

— (IBK. Sindu Putra)

SENIMAN dalam berproses kreatif adalah penyusur jalan – jalan kreativitas yang penuh kemungkinan itu. Keberanian untuk mencoba dan menggumuli gagasan – gagasan yang berbeda dari “zona nyaman” yang selama ini digeluti seorang seniman adalah momentum  yang menantang sekaligus mengasyikan bagi seorang seniman.

Tentu saja ada tarikan , tegangan, pertimbangan di dalamnya, namun semua itu bukan persoalan karena sebuah kebutuhan untuk mengungkapkan gagasan dan kegelisahan tertentu cenderung menjadi daya dorong yang kuat tentu saja didasari oleh kesadaran penuh dalam menjalankan proses penjajagan atas ruang ruang kemungkinan yang “baru” atau berbeda dari zona eksplorasi sebelumnya. Tampaknya hal itulah yang dirasakan dan diyakini sepenuhnya oleh IBK. Sindu Putra dalam menghadirkan seri karya termutakhirnya yang Ia beri nama ; Blackscape Series.

Dalam seri karya terbarunya ini saya melihat dan membacanya sebagai sebuah lompatan kreativitas yang coba ia tawarkan dari zona kreativitas dan eksplorasi yang selama ini Sindu lakukan. Dalam seri karya terbarunya ini Sindu nyaris menghilangkan representasi objek potret terutama potret tentang manusia Bali yang ia dapat dari foto foto masa kolonial yang selama selalu hadir dalam kekaryaanya. Sindu dalam seri karya terbarunya memilih untuk bereksplorasi pada wilayah yang lebih abstraktif enghitamkan seluruh permukaan bidang kanvas ber-embos yang menampilkan objek susunan kepingan – kepingan puzel.

Apakah yang melatar belakangi Sindu dalam menghadirkan seri karya terbarunya tersebut dalam pameran ini? Adakah benang merah dari karya Sindu yang ditampilkan dalam pameran ini dengan karya – karya yang sebelumnya? Pertanyaan pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menyergap pikiran saya ketika saya mengunjungi studionya di kawasan Klungkung Bali pada awal bulan lalu.

Sindu  dan Gagasannya  Selama  Ini

Saya dan Sindu mulai berkenalan dan  intens bertemu untuk  saling berdialog ,  sekitar empat tahun yang lalu. Ketika Ia memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamanya di Takmung Klungkung, Bali pada akhir tahun 2013. Kami sering terlibat dalam obrolan – obrolan tentang berbagai hal dalam kesenian. Mulai dari soal gagasan – gagasanya berkarya maupun soal pandanganya dalam melihat berkesenian sebagai jalan hidup.

Beberapa kali pula kami sering terlibat dalam event ataupun aktivitas berkesenian yang kami gagas bersama baik di Bali maupun di luar Bali. Sindu , salah satunya adalah ketika pada tahun 2015 kami membentuk sebuah wadah atau sistem bersama yang kami namami sebagai Bali Emerging Artis , sebuah wadah yang coba mempertemukan para perupa muda Bali untuk terlibat dalam aktivitas pameran bersama.

Dalam amatan saya Sindu adalah perupa yang selalu gelisah dan ingin terus bergerak dalam berbagai kemungkinan kemungkinan eksplorasi gagasanya. Sejak kami intens berinteraksi  di  bali  Sindu memperlihatkan pengembangan kreatif atas  fokus minat gagasanya sejak di  jogya yakni soal memori  dan identotas melaui penggambaran  ulang  potret  manusia Bali yang didapat dari foto foto Bali masa kolonial  yang ia dapat dari berbagai sumber baik di internet maupun dari berbagai publikasi lainya.

Dalam berkarya Sindu adalah seniman yang intens dengan media carcoal.. Sehingga bisa dikatakan bahwa Sindu adalah seniman yang berangkat dari  drawing yang dieksplorasi lebih jauh berbagai kemungkinanya. Dalam seni rupa kontemporer yang salah satu karakteristiknya adalah peluntas batasan teknik medium genre maupun sekat sekat  disiplin yang sudah terkonstruksi secara mapan dalam seni rupa modern maka drawing pun dalam seni rupa kontemporer diposisikan atau dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dari pandangan atau konstruksi seni rupa modern.

Jika dalam seni rupa modern drawing dipandang sebagai basic atau karya dasar dari seni lukis yang secara hirarki ditempatkan sebagai sebuah tahapan eksperimen dari seni lukis  atau dengan kata lain dalam seni  rupa modern drawing diposisikan lebih rendah dari  karya seni lukis .karena fungsi drawing terpahami  sebagai  rancangan awal dari seni lukis. Namun dalam seni  rupa  kontemporer yang sudah tidak  mempedulikan segala hirarki dan sekat sekat antar genre atau disiplin dalam seni rupa maka drawing terpahami sebagai  sebuah karya final yang berdiri  sendiri. Drawing memiliki posisi  yang setara dengan seni lukis. Drawing menjadi  ruang jelajah yang menjanjikan peluang eksplorasi  untuk terus digumuli oleh para seniman kontemporer yang intens menekuni  wilayah  kreativitas ini.

Karya Sindu

Sindu adalah salah satu seniman yang selama ini intens bereksplorasi dalam teknik  drawing khususnya dengan medium charcoal  dengan teknik dussel. Dalam karya seri potret nya Sindu tampaknya memilih teknik drawing dengan medium charcoal  dalam rangka menghadirkan karakter hitam putih dari karya karyanya yang sebagian besar  menampikan objek foto foto orang  Bali  pada  masa kolonial . Disamping itu  konsep dasar yang menjadi pokok persoalan dalam Sindu yakni persoalan memori  terwakilkan  dalam  pilihan teknik dan mediumnya tersebut.

Selain  potret  yang tergarap dengan teknik drawing charcoal yang juga hadir dalam karya Sindu adalah  kesan  remasan kertas  atau objek kepingan kepingan puzel yang tergarap dengan teknik embos. Hadirnya dua jenis visual dalam karya Sindu tersebut dapat terbaca dalam dua hal yang pertama dari aspek estetik hadirnya kesan  remasan  kertas dengan teknik drawing serta hadirnya objek berupa kepingan kepingan puzel  yang tergarap dengan teknik embos  menurut  Sindu adalah persoalan artistik yakni tekstur.

Efek kesan remasan kertas adalah tekstur semu sedangkan objek puzel yang dihadirkan dengan teknik embos adalah tekstur nyata. Sedangkan dari aspek tematik hadirnya efek remasan kertas yang digarap dengan teknik drawaing adalah sebuah pernyataan simbolik ihwal konsep meraba ingatan yang menjadi pergulatan kreatifnya selama ini. Demikian pula dengan abjek kepingan puzel dengan teknik embos juga adalah sebentuk pernyataan simbolik ihwal  tema tema soal ingatan dan identitas.

Blackscape Series : Antara Lompatan Kreativitas dan Benah Merah Dengan Karya Sebelumnya

Dalam  pameran Peaceful Seaker #2 ini, Seperti telah disinggung secara sepintas di awal tukisan ini menampilkan karya yang berbeda dengan kebiasaaanya berkarya selama ini. Peacefull Seeker #2  sebagai sebuah tema mengajak para seniman utk menghadirkan interpretasi mereka masing masing atas tema seputar kata  “Damai”  yang menjadi frame tematik pameran ini.

Karya Sindu

Sindu tampaknya melakukan interpretasi atas tema tersebut dengan melakukan  upaya penggalian ke dalam dirinya sendiri. Baginya untuk mencari damai manusia musti berani untuk mengosongkan diri sejenak melakukan perjalanan ke dalam diri. Hening, adalah salah satu momentum yang paling sering dilakukan manusia  ketika berhadapan dengan berbagai hal , yang beranyam dalam memori terkadang menjadi chaos perasaan yang tumpang tindih berkelindan mengusik batin manusia. Hingga terkadang kita memerlukan ruang untuk merenungkan apa yang tengah terjadi dengan cara diam dan memilih menyepi dalam keheningan berdialog dengan diri sendiri. Inilah gagasan  Sindu dalam memaknai proses pencarian damai sebagai sebuah proses meditatif dan kembali kedalam diri.

Proses pemaknaan dan pembacaan tentang damai dalam sudut pandang merayakan keheningan   yang meditatif ini secara alam bawah sadar tampaknya juga dipengaruhi oleh latar kultural Sindu yakni Bali. Dalam kebudayaan Hindu Bali misalnya kita mengenal adanya hari raya Nyepi sebagai sebuah momentum pergantian tahun baru saka dengan cara merayakan kesubyian. Momentum hari raya nyepi adalah sebuah anti klimaks dari kecenderungan ritual ritual lainya dalam tradisi Bali yang cenderung semarak dan hingar bingar.

Dalam hari raya Nyepi segala karakteristik yang semarak dalam ritual Hindu Bali yang cenderung penuh semarak oleh berbagai elemen elemen upakara , terabuhan gamelan, tarian tarian sakral san lain sebagainya tak terlihat yang ada justru adalah keheningan. Sebagai momentum untuk mulat sarira sebagai upaya menjalani pergantian siklus masa satu tahun agar harmoni dalam alam besar (buana agung) dan alam kecil, diri sebdiri (bhuana alit) selalu terjaga.

Sindu mebterjemahkan konsep ataupun cara pandangnya dalam memaknai keheningan yang meditatif tersebut dengan tidak lagi memainkan representasi objek untuk menghadirkan perbyataan dan gagasanya. Sindu lebih memilih untuk melompat ke luar “zona nyaman”  kreativirasnya selama ini dengan kembali pada persoalan persoalan yang elementer dalam karya seni rupa (seni lukis) sebut saja garis, bidang, warna , irama dan komposisi. Sehingga karyanya tampak sangat berbeda dari karyanya selama ini yang realistik menjadi lebih abstarktif.

Lantas apakah karya karya dalam seri Blackscape ini memutus mata rantai atau benang merah dengan karya yang sebelumnya?  Jika dilihat dari pilihan cara ungkap visual jelas akan terlihat perbedaan yang signifikan. Namun jika dilihat dari pilihan medium dan teknik  kita akan masih dapat menyaksikan jejak jejak kekaryaan ataupun proses kreatifnya sebelumnya. Susunan kepingan kepingan puzel  yang digarap dengan teknik embos  masih terlihat di sekujur kanvasnya.

Demikian juga dengan teknik drawing carcoal  masih tetap hadir sebagai medium  yang dipakai dalam menghadirkan warna  hitam pada permukaan kanvasnya. Warna hitam yang dihadirkan dengan teknik dusel dibuat berlapis gelap dan terangnya tekomposisikan pada tiap tiap susunan bidang bidang berteslktur berbentuk kepingan puzel . Selain warna hitam pada karya karya  Sindu juga  hadir warna warna emas atau prada. Selain secara artistik warna emas hadir  sebagai penguat pernyataan tentang keheningan yang agung atau mulia.

Seri Blackscape menghadirkan satu bentuk karya abstrak yang multilayering . Efek warna emas dan  hitamnya carcoal yang tergosokkan pada pada permukaan kanvas bertekstur embos berbentuk objek susunan kepungan kepungan puzel menghadirkan dimensi yang volumetrik. Menjadi sebentuk tekstur yang tertib, terpola  dan artistik  sejaligus menjadi bentuk  simbolik yang menguatkan pernyataan atas apa yang hendak ia sampaikan. Bahwa puzel  merupakan susunan dari segala hal yang telah terlalui dalam hidup manusia. Baik buruk, tegangan, tawa, canda dan segala fenomena emosional  itu bersusun satu sama lainya dalam kehidupan manusia seiring peoses pencarian damai itu sendiri.

Selain karena kebutuhan gagasan  dalam merespon tema peacefull seeker, penjelajahan Sindu dalam menghadirkan karya di luar kebiasaanya dari realis ke abstrak juga didorong oleh keibginan  Sindu untuk merasakan bagaimana berkarya secara bebas tanpa pretensi  untuk menyalin rwalitas objektif suatu objek yang dilukis ke dalam bidang lukis. Sindu dalam penghadiran seri karya Blackscape kali ini mengaku sangat terinslpirasi dari kebebasan anak anak dalam menggambar.  Hampir semua anak suka menggambar dan ketika menggambar setiap anak merasakan kesenanganya tersendiri. Menggamabar semaunya, membuat apa saja dan bisa menjadi  apa saja. Bukankah itu juga adalah damai yang seunguhnya?  Terang Sindu pada penulis.

Demikianlah pembacaan saya atas apa yang dihadirkan Sindu dalam pameran kali ini. Keputusan Sindu untuk menghadirkan karya di luar kebiasaanya selama ini adalah tanda bahwa Sindu adalah tipikal perupa muda yang bergerak dinamis dalam jelajah kreatifitas yang ibgin mencoba berbagai  kemungkinan. Sindu sepertinya tidak teelalu khawatir jika dalam karyanya kali  ini ia dianggap meninggalkan sejenak identitas visual yang ditekuni selama ini. Bukankah odentitas itu adalah sesuatu yang terus bergerak dalam proses menjadi?  Mari kita tunggu jelajah jelajah gagasan yang akan terus Sindu hadirkan kelak sepanjang jalan berkesenianya yang ia susuri  kini dan tentu saja nanti. (T)

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYogyakarta
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

“Sunset di Tanah Anarki” – Untuk Munir, Widji Thukul & Melawan Lupa

Next Post

Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co