15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Blackscape Series; Momentum Sindu Memaknai “Hening“

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
November 13, 2018
in Ulasan
Blackscape Series; Momentum Sindu Memaknai “Hening“

Pameran "Blackscape Series Gus Sindu" di Yogyakarta

“Saya menampilkan seri karya yang sekarang (Black Scape Series) dengan kesadaran penuh. Dalam membaca dan merespon tema pameran “Peacefull Seaker “, ada kebutuhan dalam diri saya untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dari kecenderungan kekaryaan saya yang sebelumnya yang realistik, dan dalam pameran ini menjadi lebih abstraktif”. Pencarian dan pemaknaan ihwal kata damai yang menjadi tema sentral dalam pameran ini , saya baca  dan maknai sebagai sebuah proses atau momentum dalam meresapi arti sebuah keheningan.” 

— (IBK. Sindu Putra)

SENIMAN dalam berproses kreatif adalah penyusur jalan – jalan kreativitas yang penuh kemungkinan itu. Keberanian untuk mencoba dan menggumuli gagasan – gagasan yang berbeda dari “zona nyaman” yang selama ini digeluti seorang seniman adalah momentum  yang menantang sekaligus mengasyikan bagi seorang seniman.

Tentu saja ada tarikan , tegangan, pertimbangan di dalamnya, namun semua itu bukan persoalan karena sebuah kebutuhan untuk mengungkapkan gagasan dan kegelisahan tertentu cenderung menjadi daya dorong yang kuat tentu saja didasari oleh kesadaran penuh dalam menjalankan proses penjajagan atas ruang ruang kemungkinan yang “baru” atau berbeda dari zona eksplorasi sebelumnya. Tampaknya hal itulah yang dirasakan dan diyakini sepenuhnya oleh IBK. Sindu Putra dalam menghadirkan seri karya termutakhirnya yang Ia beri nama ; Blackscape Series.

Dalam seri karya terbarunya ini saya melihat dan membacanya sebagai sebuah lompatan kreativitas yang coba ia tawarkan dari zona kreativitas dan eksplorasi yang selama ini Sindu lakukan. Dalam seri karya terbarunya ini Sindu nyaris menghilangkan representasi objek potret terutama potret tentang manusia Bali yang ia dapat dari foto foto masa kolonial yang selama selalu hadir dalam kekaryaanya. Sindu dalam seri karya terbarunya memilih untuk bereksplorasi pada wilayah yang lebih abstraktif enghitamkan seluruh permukaan bidang kanvas ber-embos yang menampilkan objek susunan kepingan – kepingan puzel.

Apakah yang melatar belakangi Sindu dalam menghadirkan seri karya terbarunya tersebut dalam pameran ini? Adakah benang merah dari karya Sindu yang ditampilkan dalam pameran ini dengan karya – karya yang sebelumnya? Pertanyaan pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menyergap pikiran saya ketika saya mengunjungi studionya di kawasan Klungkung Bali pada awal bulan lalu.

Sindu  dan Gagasannya  Selama  Ini

Saya dan Sindu mulai berkenalan dan  intens bertemu untuk  saling berdialog ,  sekitar empat tahun yang lalu. Ketika Ia memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamanya di Takmung Klungkung, Bali pada akhir tahun 2013. Kami sering terlibat dalam obrolan – obrolan tentang berbagai hal dalam kesenian. Mulai dari soal gagasan – gagasanya berkarya maupun soal pandanganya dalam melihat berkesenian sebagai jalan hidup.

Beberapa kali pula kami sering terlibat dalam event ataupun aktivitas berkesenian yang kami gagas bersama baik di Bali maupun di luar Bali. Sindu , salah satunya adalah ketika pada tahun 2015 kami membentuk sebuah wadah atau sistem bersama yang kami namami sebagai Bali Emerging Artis , sebuah wadah yang coba mempertemukan para perupa muda Bali untuk terlibat dalam aktivitas pameran bersama.

Dalam amatan saya Sindu adalah perupa yang selalu gelisah dan ingin terus bergerak dalam berbagai kemungkinan kemungkinan eksplorasi gagasanya. Sejak kami intens berinteraksi  di  bali  Sindu memperlihatkan pengembangan kreatif atas  fokus minat gagasanya sejak di  jogya yakni soal memori  dan identotas melaui penggambaran  ulang  potret  manusia Bali yang didapat dari foto foto Bali masa kolonial  yang ia dapat dari berbagai sumber baik di internet maupun dari berbagai publikasi lainya.

Dalam berkarya Sindu adalah seniman yang intens dengan media carcoal.. Sehingga bisa dikatakan bahwa Sindu adalah seniman yang berangkat dari  drawing yang dieksplorasi lebih jauh berbagai kemungkinanya. Dalam seni rupa kontemporer yang salah satu karakteristiknya adalah peluntas batasan teknik medium genre maupun sekat sekat  disiplin yang sudah terkonstruksi secara mapan dalam seni rupa modern maka drawing pun dalam seni rupa kontemporer diposisikan atau dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dari pandangan atau konstruksi seni rupa modern.

Jika dalam seni rupa modern drawing dipandang sebagai basic atau karya dasar dari seni lukis yang secara hirarki ditempatkan sebagai sebuah tahapan eksperimen dari seni lukis  atau dengan kata lain dalam seni  rupa modern drawing diposisikan lebih rendah dari  karya seni lukis .karena fungsi drawing terpahami  sebagai  rancangan awal dari seni lukis. Namun dalam seni  rupa  kontemporer yang sudah tidak  mempedulikan segala hirarki dan sekat sekat antar genre atau disiplin dalam seni rupa maka drawing terpahami sebagai  sebuah karya final yang berdiri  sendiri. Drawing memiliki posisi  yang setara dengan seni lukis. Drawing menjadi  ruang jelajah yang menjanjikan peluang eksplorasi  untuk terus digumuli oleh para seniman kontemporer yang intens menekuni  wilayah  kreativitas ini.

Karya Sindu

Sindu adalah salah satu seniman yang selama ini intens bereksplorasi dalam teknik  drawing khususnya dengan medium charcoal  dengan teknik dussel. Dalam karya seri potret nya Sindu tampaknya memilih teknik drawing dengan medium charcoal  dalam rangka menghadirkan karakter hitam putih dari karya karyanya yang sebagian besar  menampikan objek foto foto orang  Bali  pada  masa kolonial . Disamping itu  konsep dasar yang menjadi pokok persoalan dalam Sindu yakni persoalan memori  terwakilkan  dalam  pilihan teknik dan mediumnya tersebut.

Selain  potret  yang tergarap dengan teknik drawing charcoal yang juga hadir dalam karya Sindu adalah  kesan  remasan kertas  atau objek kepingan kepingan puzel yang tergarap dengan teknik embos. Hadirnya dua jenis visual dalam karya Sindu tersebut dapat terbaca dalam dua hal yang pertama dari aspek estetik hadirnya kesan  remasan  kertas dengan teknik drawing serta hadirnya objek berupa kepingan kepingan puzel  yang tergarap dengan teknik embos  menurut  Sindu adalah persoalan artistik yakni tekstur.

Efek kesan remasan kertas adalah tekstur semu sedangkan objek puzel yang dihadirkan dengan teknik embos adalah tekstur nyata. Sedangkan dari aspek tematik hadirnya efek remasan kertas yang digarap dengan teknik drawaing adalah sebuah pernyataan simbolik ihwal konsep meraba ingatan yang menjadi pergulatan kreatifnya selama ini. Demikian pula dengan abjek kepingan puzel dengan teknik embos juga adalah sebentuk pernyataan simbolik ihwal  tema tema soal ingatan dan identitas.

Blackscape Series : Antara Lompatan Kreativitas dan Benah Merah Dengan Karya Sebelumnya

Dalam  pameran Peaceful Seaker #2 ini, Seperti telah disinggung secara sepintas di awal tukisan ini menampilkan karya yang berbeda dengan kebiasaaanya berkarya selama ini. Peacefull Seeker #2  sebagai sebuah tema mengajak para seniman utk menghadirkan interpretasi mereka masing masing atas tema seputar kata  “Damai”  yang menjadi frame tematik pameran ini.

Karya Sindu

Sindu tampaknya melakukan interpretasi atas tema tersebut dengan melakukan  upaya penggalian ke dalam dirinya sendiri. Baginya untuk mencari damai manusia musti berani untuk mengosongkan diri sejenak melakukan perjalanan ke dalam diri. Hening, adalah salah satu momentum yang paling sering dilakukan manusia  ketika berhadapan dengan berbagai hal , yang beranyam dalam memori terkadang menjadi chaos perasaan yang tumpang tindih berkelindan mengusik batin manusia. Hingga terkadang kita memerlukan ruang untuk merenungkan apa yang tengah terjadi dengan cara diam dan memilih menyepi dalam keheningan berdialog dengan diri sendiri. Inilah gagasan  Sindu dalam memaknai proses pencarian damai sebagai sebuah proses meditatif dan kembali kedalam diri.

Proses pemaknaan dan pembacaan tentang damai dalam sudut pandang merayakan keheningan   yang meditatif ini secara alam bawah sadar tampaknya juga dipengaruhi oleh latar kultural Sindu yakni Bali. Dalam kebudayaan Hindu Bali misalnya kita mengenal adanya hari raya Nyepi sebagai sebuah momentum pergantian tahun baru saka dengan cara merayakan kesubyian. Momentum hari raya nyepi adalah sebuah anti klimaks dari kecenderungan ritual ritual lainya dalam tradisi Bali yang cenderung semarak dan hingar bingar.

Dalam hari raya Nyepi segala karakteristik yang semarak dalam ritual Hindu Bali yang cenderung penuh semarak oleh berbagai elemen elemen upakara , terabuhan gamelan, tarian tarian sakral san lain sebagainya tak terlihat yang ada justru adalah keheningan. Sebagai momentum untuk mulat sarira sebagai upaya menjalani pergantian siklus masa satu tahun agar harmoni dalam alam besar (buana agung) dan alam kecil, diri sebdiri (bhuana alit) selalu terjaga.

Sindu mebterjemahkan konsep ataupun cara pandangnya dalam memaknai keheningan yang meditatif tersebut dengan tidak lagi memainkan representasi objek untuk menghadirkan perbyataan dan gagasanya. Sindu lebih memilih untuk melompat ke luar “zona nyaman”  kreativirasnya selama ini dengan kembali pada persoalan persoalan yang elementer dalam karya seni rupa (seni lukis) sebut saja garis, bidang, warna , irama dan komposisi. Sehingga karyanya tampak sangat berbeda dari karyanya selama ini yang realistik menjadi lebih abstarktif.

Lantas apakah karya karya dalam seri Blackscape ini memutus mata rantai atau benang merah dengan karya yang sebelumnya?  Jika dilihat dari pilihan cara ungkap visual jelas akan terlihat perbedaan yang signifikan. Namun jika dilihat dari pilihan medium dan teknik  kita akan masih dapat menyaksikan jejak jejak kekaryaan ataupun proses kreatifnya sebelumnya. Susunan kepingan kepingan puzel  yang digarap dengan teknik embos  masih terlihat di sekujur kanvasnya.

Demikian juga dengan teknik drawing carcoal  masih tetap hadir sebagai medium  yang dipakai dalam menghadirkan warna  hitam pada permukaan kanvasnya. Warna hitam yang dihadirkan dengan teknik dusel dibuat berlapis gelap dan terangnya tekomposisikan pada tiap tiap susunan bidang bidang berteslktur berbentuk kepingan puzel . Selain warna hitam pada karya karya  Sindu juga  hadir warna warna emas atau prada. Selain secara artistik warna emas hadir  sebagai penguat pernyataan tentang keheningan yang agung atau mulia.

Seri Blackscape menghadirkan satu bentuk karya abstrak yang multilayering . Efek warna emas dan  hitamnya carcoal yang tergosokkan pada pada permukaan kanvas bertekstur embos berbentuk objek susunan kepungan kepungan puzel menghadirkan dimensi yang volumetrik. Menjadi sebentuk tekstur yang tertib, terpola  dan artistik  sejaligus menjadi bentuk  simbolik yang menguatkan pernyataan atas apa yang hendak ia sampaikan. Bahwa puzel  merupakan susunan dari segala hal yang telah terlalui dalam hidup manusia. Baik buruk, tegangan, tawa, canda dan segala fenomena emosional  itu bersusun satu sama lainya dalam kehidupan manusia seiring peoses pencarian damai itu sendiri.

Selain karena kebutuhan gagasan  dalam merespon tema peacefull seeker, penjelajahan Sindu dalam menghadirkan karya di luar kebiasaanya dari realis ke abstrak juga didorong oleh keibginan  Sindu untuk merasakan bagaimana berkarya secara bebas tanpa pretensi  untuk menyalin rwalitas objektif suatu objek yang dilukis ke dalam bidang lukis. Sindu dalam penghadiran seri karya Blackscape kali ini mengaku sangat terinslpirasi dari kebebasan anak anak dalam menggambar.  Hampir semua anak suka menggambar dan ketika menggambar setiap anak merasakan kesenanganya tersendiri. Menggamabar semaunya, membuat apa saja dan bisa menjadi  apa saja. Bukankah itu juga adalah damai yang seunguhnya?  Terang Sindu pada penulis.

Demikianlah pembacaan saya atas apa yang dihadirkan Sindu dalam pameran kali ini. Keputusan Sindu untuk menghadirkan karya di luar kebiasaanya selama ini adalah tanda bahwa Sindu adalah tipikal perupa muda yang bergerak dinamis dalam jelajah kreatifitas yang ibgin mencoba berbagai  kemungkinan. Sindu sepertinya tidak teelalu khawatir jika dalam karyanya kali  ini ia dianggap meninggalkan sejenak identitas visual yang ditekuni selama ini. Bukankah odentitas itu adalah sesuatu yang terus bergerak dalam proses menjadi?  Mari kita tunggu jelajah jelajah gagasan yang akan terus Sindu hadirkan kelak sepanjang jalan berkesenianya yang ia susuri  kini dan tentu saja nanti. (T)

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYogyakarta
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

“Sunset di Tanah Anarki” – Untuk Munir, Widji Thukul & Melawan Lupa

Next Post

Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Tempe Optimis dan Tempe Pesimis di Negeri Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co