23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Hartanto by Hartanto
October 6, 2018
in Esai
Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Ist

28 Oktober 1928, adalah tonggak penting keberadaan bangsa ini. Sejumlah anak muda,generasi terbaik bangsa ini di jaman itu, menggagas berdirinya sebuah bangsa, dengan berbahasa dan bertanah air yang satu, Indonesia.

Konggres I yang diadakan di Batavia pada 30 April – 2 Mei tahun 1926 telah memunculkan kesadaran mengenai pentingnya komunitas dan kegiatan kepemudaan di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Konggres yg diketuai Muhammad Tabrani ini diikuti oleh organisasi-organisasi pemuda, seperti ; Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya.

Proses pengendapan selama 2 tahun itu, selanjutnya memunculkan kesadaran akan pentingnya berbangsa, berbahasa, dan bertanah air – Indonesia. Konggres kedua diadakan pada 27 – 28 Oktober 1928. Konggres dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan-Pelajar Indonesia (PPPI).

Selain melahirkan keputusan penting yang disebut Sumpah Pemuda, juga ditetapkan lagu kebangsaan Indonesia karya Wage Rudolf Supratman, Indonesia Raya. Sejak konggres inilah bahasa melayu menjadi bahasa pengantar (lingua fanca) bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara adalah sosok penting karena dia adalah tokoh pertama yang mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

Memasuki tahun 2018 ini, Sumpah Pemuda sudah berusia 90 tahun. Artinya, bahasa Melayu resmi menjadi bahasa pengantar bangsa Indonesia juga sudah berusia 90 tahun. Hampir satu abad. Membahas soal bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, tentu tak terlepas dengan bapak bahasa kita, Raja Ali Haji. Bapak bahasa ini diberi gelar pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Pemerintah RI memberikan penghargaan tersebut karena jasa beliau membina bahasa Melayu Kepulauan Riau sehingga menjadi bahasa Melayu Tinggi atau bahasa baku, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional dengan sebutan bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2000, Gusdur mengungkapkan apresiasinya kepada Raja Ali Haji sebagai sosok yang berjasa dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional.

Para penggemar sastra tentu tak asing dengan pujangga, ulama dan sejarawan Raja Ali Haji (1808-1873) yang begitu populer dengan Gurindam Dua Belas nya. Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa buku antara lain; Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat al-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Bustan al-Kathibin, Intizam Waza’if al-Malik, dan Thamarat al-Mahammah Dhiyafah li al-umara wa al-Kubara, Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Malik, Syair Abdul Maluk, Bustan al-Katibin, Syair Siti Siyanah, Syair Hukum Nikah, dan Syair Gemala Mastika Alam. Kitab pengetahuan bahasa berisi tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi standar bahasa Melayu dan bertumbuh menjadi bahasa Indonesia.

Kembali ke peristiwa penting, 90 tahun bahasa Indonesia, tampaknya para ‘pengguna’, dan ‘pemuja’ bahasa Indonesia perlu memikirkan kegiatan yang produkti, dari pada berpolemik tentang puisi esai nya Denny JA. Biennale Sastra — sebagai kegiatan melihat proses dan puncak pencapaian karya sastra — sepertinya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Istilah Biennale, adalah kegiatan dua tahunan, mengadopsi dari kegiatan senirupa. Bali, memiliki komunitas sastra yang punya potensi untuk penyelenggaraan perhelatan Biennale Sastra. Tentu sangatlah menarik bila kegiatan Biennale Sastra ini dirancang jauh hari secara rapi.

Di Bali, timbul tenggelamnya sanggar-sanggar, kegiatan-kegiatan lomba seperti ; Pekan Seni Remaja, Lomba Drama Modern, lomba-lomba baca puisi, grudag-grudug dan acara apresiasi sastra lainnya – semua itu merupakan ‘artefak’ yang tidak hanya berhenti sebagai bahan riset saja, tapi juga bisa sebagai pemantik aktifitas kreatif kemudian hari.

Kajian sastra tak akan pernah berhenti sepanjang medium nya (bahasa) masih hidup di bumi. Bahasa daerah memang punya kemungkinan lenyap, tapi saya belum pernah mendengar lenyapnya bahasa nasional sebuah bangsa. Kompas.com melaporkan, bahasa daerah yang punah berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher. Saya tak hendak mengkaji soal bahasa daerah, karena yang akan kita peringati pada 28 Oktober nanti adalah 90 tahun bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Pada suatu diskusi di Bentara Budaya Bali beberapa waktu yang lalu, saya sebutkan bahwa puncak dari eksistensi bahasa adalah sastra, dan puncak dari sastra adalah puisi. Saya ingin mengajukan gagasan pada teman-teman sastrawan tentang kemungkinan Biennale Sastra.

Kenapa sastra? Karena asumsi yang saya ungkapkan pada diskusi di Bentara Budaya, bahwa sastra adalah puncak bahasa. Selain itu, produk penulisan kreatif adalah karya sastra. Seperti kita ketahui, Biennale merupakan perhelatan seni 2 tahunan yang menampilkan puncak-puncak karya seniman.

Biennale juga merupakan ruang bagi para seniman dalam merepresentasikan ide, gagasan, konsep dan proses kreatifnya dalam bentuk karya. Sepengetahuan saya, biennale sastra belum pernah terselenggara di Indonesia (mohon dikoreksi kalau memang pernah ada). Tentu, diharapkan format penyelenggaraannya, berbeda dengan Ubud Writers & Readers Festival.

Pasti akan sangat menarik jika perhelatan Biennale Sastra ini terselenggara. Seniman, sastrawan dan para ilmuwan bahasa pasti akan terlibat dengan menampilkan puncak-puncak karya mereka. Sastra lisan, sastra tulisan, sastra koran, sastra media sosial, dan berbagai macam karya susastra akan menjadi kajian dan sajian yang menarik pada perhelatan akbar itu.

Yang menjadi pertanyaan — apakah komunitas JKP (Jatijagat Kampung Puisi), Komunitas Mahima, Komunitas Posbud-Posrem dan gradag-grudug (kalo masih ada), dan komunitas sastra lainnya — tertarik pada peringatan 90 tahun bahasa Indonesia yang selama ini menjadi ’medium’ ekspresi penulisan kreatifnya?

Pertanyaan itu kulontarkan pada batu-batu diam yang menatap hatiku terpejam, agar aku ingat pada petikan sajak Tanah Lot nya Umbu. …//inilah bunga angin dan tirta//air kelapa muda para peladang yang membalik-balik tanah dengan tugal//agar langit bermuka-muka//tinggal serta dalamku//…… (T)

Tags: Bahasasastrasumpah pemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Bill di Ubud, Bercakap-cakap tentang Meditasi dan Mindfulness

Next Post

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co