23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Hartanto by Hartanto
October 6, 2018
in Esai
Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Ist

28 Oktober 1928, adalah tonggak penting keberadaan bangsa ini. Sejumlah anak muda,generasi terbaik bangsa ini di jaman itu, menggagas berdirinya sebuah bangsa, dengan berbahasa dan bertanah air yang satu, Indonesia.

Konggres I yang diadakan di Batavia pada 30 April – 2 Mei tahun 1926 telah memunculkan kesadaran mengenai pentingnya komunitas dan kegiatan kepemudaan di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Konggres yg diketuai Muhammad Tabrani ini diikuti oleh organisasi-organisasi pemuda, seperti ; Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya.

Proses pengendapan selama 2 tahun itu, selanjutnya memunculkan kesadaran akan pentingnya berbangsa, berbahasa, dan bertanah air – Indonesia. Konggres kedua diadakan pada 27 – 28 Oktober 1928. Konggres dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan-Pelajar Indonesia (PPPI).

Selain melahirkan keputusan penting yang disebut Sumpah Pemuda, juga ditetapkan lagu kebangsaan Indonesia karya Wage Rudolf Supratman, Indonesia Raya. Sejak konggres inilah bahasa melayu menjadi bahasa pengantar (lingua fanca) bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara adalah sosok penting karena dia adalah tokoh pertama yang mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

Memasuki tahun 2018 ini, Sumpah Pemuda sudah berusia 90 tahun. Artinya, bahasa Melayu resmi menjadi bahasa pengantar bangsa Indonesia juga sudah berusia 90 tahun. Hampir satu abad. Membahas soal bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, tentu tak terlepas dengan bapak bahasa kita, Raja Ali Haji. Bapak bahasa ini diberi gelar pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Pemerintah RI memberikan penghargaan tersebut karena jasa beliau membina bahasa Melayu Kepulauan Riau sehingga menjadi bahasa Melayu Tinggi atau bahasa baku, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional dengan sebutan bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2000, Gusdur mengungkapkan apresiasinya kepada Raja Ali Haji sebagai sosok yang berjasa dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional.

Para penggemar sastra tentu tak asing dengan pujangga, ulama dan sejarawan Raja Ali Haji (1808-1873) yang begitu populer dengan Gurindam Dua Belas nya. Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa buku antara lain; Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat al-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Bustan al-Kathibin, Intizam Waza’if al-Malik, dan Thamarat al-Mahammah Dhiyafah li al-umara wa al-Kubara, Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Malik, Syair Abdul Maluk, Bustan al-Katibin, Syair Siti Siyanah, Syair Hukum Nikah, dan Syair Gemala Mastika Alam. Kitab pengetahuan bahasa berisi tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi standar bahasa Melayu dan bertumbuh menjadi bahasa Indonesia.

Kembali ke peristiwa penting, 90 tahun bahasa Indonesia, tampaknya para ‘pengguna’, dan ‘pemuja’ bahasa Indonesia perlu memikirkan kegiatan yang produkti, dari pada berpolemik tentang puisi esai nya Denny JA. Biennale Sastra — sebagai kegiatan melihat proses dan puncak pencapaian karya sastra — sepertinya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Istilah Biennale, adalah kegiatan dua tahunan, mengadopsi dari kegiatan senirupa. Bali, memiliki komunitas sastra yang punya potensi untuk penyelenggaraan perhelatan Biennale Sastra. Tentu sangatlah menarik bila kegiatan Biennale Sastra ini dirancang jauh hari secara rapi.

Di Bali, timbul tenggelamnya sanggar-sanggar, kegiatan-kegiatan lomba seperti ; Pekan Seni Remaja, Lomba Drama Modern, lomba-lomba baca puisi, grudag-grudug dan acara apresiasi sastra lainnya – semua itu merupakan ‘artefak’ yang tidak hanya berhenti sebagai bahan riset saja, tapi juga bisa sebagai pemantik aktifitas kreatif kemudian hari.

Kajian sastra tak akan pernah berhenti sepanjang medium nya (bahasa) masih hidup di bumi. Bahasa daerah memang punya kemungkinan lenyap, tapi saya belum pernah mendengar lenyapnya bahasa nasional sebuah bangsa. Kompas.com melaporkan, bahasa daerah yang punah berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher. Saya tak hendak mengkaji soal bahasa daerah, karena yang akan kita peringati pada 28 Oktober nanti adalah 90 tahun bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Pada suatu diskusi di Bentara Budaya Bali beberapa waktu yang lalu, saya sebutkan bahwa puncak dari eksistensi bahasa adalah sastra, dan puncak dari sastra adalah puisi. Saya ingin mengajukan gagasan pada teman-teman sastrawan tentang kemungkinan Biennale Sastra.

Kenapa sastra? Karena asumsi yang saya ungkapkan pada diskusi di Bentara Budaya, bahwa sastra adalah puncak bahasa. Selain itu, produk penulisan kreatif adalah karya sastra. Seperti kita ketahui, Biennale merupakan perhelatan seni 2 tahunan yang menampilkan puncak-puncak karya seniman.

Biennale juga merupakan ruang bagi para seniman dalam merepresentasikan ide, gagasan, konsep dan proses kreatifnya dalam bentuk karya. Sepengetahuan saya, biennale sastra belum pernah terselenggara di Indonesia (mohon dikoreksi kalau memang pernah ada). Tentu, diharapkan format penyelenggaraannya, berbeda dengan Ubud Writers & Readers Festival.

Pasti akan sangat menarik jika perhelatan Biennale Sastra ini terselenggara. Seniman, sastrawan dan para ilmuwan bahasa pasti akan terlibat dengan menampilkan puncak-puncak karya mereka. Sastra lisan, sastra tulisan, sastra koran, sastra media sosial, dan berbagai macam karya susastra akan menjadi kajian dan sajian yang menarik pada perhelatan akbar itu.

Yang menjadi pertanyaan — apakah komunitas JKP (Jatijagat Kampung Puisi), Komunitas Mahima, Komunitas Posbud-Posrem dan gradag-grudug (kalo masih ada), dan komunitas sastra lainnya — tertarik pada peringatan 90 tahun bahasa Indonesia yang selama ini menjadi ’medium’ ekspresi penulisan kreatifnya?

Pertanyaan itu kulontarkan pada batu-batu diam yang menatap hatiku terpejam, agar aku ingat pada petikan sajak Tanah Lot nya Umbu. …//inilah bunga angin dan tirta//air kelapa muda para peladang yang membalik-balik tanah dengan tugal//agar langit bermuka-muka//tinggal serta dalamku//…… (T)

Tags: Bahasasastrasumpah pemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Bill di Ubud, Bercakap-cakap tentang Meditasi dan Mindfulness

Next Post

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co