2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Hartanto by Hartanto
October 6, 2018
in Esai
Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Ist

28 Oktober 1928, adalah tonggak penting keberadaan bangsa ini. Sejumlah anak muda,generasi terbaik bangsa ini di jaman itu, menggagas berdirinya sebuah bangsa, dengan berbahasa dan bertanah air yang satu, Indonesia.

Konggres I yang diadakan di Batavia pada 30 April – 2 Mei tahun 1926 telah memunculkan kesadaran mengenai pentingnya komunitas dan kegiatan kepemudaan di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Konggres yg diketuai Muhammad Tabrani ini diikuti oleh organisasi-organisasi pemuda, seperti ; Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya.

Proses pengendapan selama 2 tahun itu, selanjutnya memunculkan kesadaran akan pentingnya berbangsa, berbahasa, dan bertanah air – Indonesia. Konggres kedua diadakan pada 27 – 28 Oktober 1928. Konggres dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan-Pelajar Indonesia (PPPI).

Selain melahirkan keputusan penting yang disebut Sumpah Pemuda, juga ditetapkan lagu kebangsaan Indonesia karya Wage Rudolf Supratman, Indonesia Raya. Sejak konggres inilah bahasa melayu menjadi bahasa pengantar (lingua fanca) bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara adalah sosok penting karena dia adalah tokoh pertama yang mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

Memasuki tahun 2018 ini, Sumpah Pemuda sudah berusia 90 tahun. Artinya, bahasa Melayu resmi menjadi bahasa pengantar bangsa Indonesia juga sudah berusia 90 tahun. Hampir satu abad. Membahas soal bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, tentu tak terlepas dengan bapak bahasa kita, Raja Ali Haji. Bapak bahasa ini diberi gelar pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Pemerintah RI memberikan penghargaan tersebut karena jasa beliau membina bahasa Melayu Kepulauan Riau sehingga menjadi bahasa Melayu Tinggi atau bahasa baku, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional dengan sebutan bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2000, Gusdur mengungkapkan apresiasinya kepada Raja Ali Haji sebagai sosok yang berjasa dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional.

Para penggemar sastra tentu tak asing dengan pujangga, ulama dan sejarawan Raja Ali Haji (1808-1873) yang begitu populer dengan Gurindam Dua Belas nya. Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa buku antara lain; Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat al-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Bustan al-Kathibin, Intizam Waza’if al-Malik, dan Thamarat al-Mahammah Dhiyafah li al-umara wa al-Kubara, Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Malik, Syair Abdul Maluk, Bustan al-Katibin, Syair Siti Siyanah, Syair Hukum Nikah, dan Syair Gemala Mastika Alam. Kitab pengetahuan bahasa berisi tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi standar bahasa Melayu dan bertumbuh menjadi bahasa Indonesia.

Kembali ke peristiwa penting, 90 tahun bahasa Indonesia, tampaknya para ‘pengguna’, dan ‘pemuja’ bahasa Indonesia perlu memikirkan kegiatan yang produkti, dari pada berpolemik tentang puisi esai nya Denny JA. Biennale Sastra — sebagai kegiatan melihat proses dan puncak pencapaian karya sastra — sepertinya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Istilah Biennale, adalah kegiatan dua tahunan, mengadopsi dari kegiatan senirupa. Bali, memiliki komunitas sastra yang punya potensi untuk penyelenggaraan perhelatan Biennale Sastra. Tentu sangatlah menarik bila kegiatan Biennale Sastra ini dirancang jauh hari secara rapi.

Di Bali, timbul tenggelamnya sanggar-sanggar, kegiatan-kegiatan lomba seperti ; Pekan Seni Remaja, Lomba Drama Modern, lomba-lomba baca puisi, grudag-grudug dan acara apresiasi sastra lainnya – semua itu merupakan ‘artefak’ yang tidak hanya berhenti sebagai bahan riset saja, tapi juga bisa sebagai pemantik aktifitas kreatif kemudian hari.

Kajian sastra tak akan pernah berhenti sepanjang medium nya (bahasa) masih hidup di bumi. Bahasa daerah memang punya kemungkinan lenyap, tapi saya belum pernah mendengar lenyapnya bahasa nasional sebuah bangsa. Kompas.com melaporkan, bahasa daerah yang punah berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher. Saya tak hendak mengkaji soal bahasa daerah, karena yang akan kita peringati pada 28 Oktober nanti adalah 90 tahun bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Pada suatu diskusi di Bentara Budaya Bali beberapa waktu yang lalu, saya sebutkan bahwa puncak dari eksistensi bahasa adalah sastra, dan puncak dari sastra adalah puisi. Saya ingin mengajukan gagasan pada teman-teman sastrawan tentang kemungkinan Biennale Sastra.

Kenapa sastra? Karena asumsi yang saya ungkapkan pada diskusi di Bentara Budaya, bahwa sastra adalah puncak bahasa. Selain itu, produk penulisan kreatif adalah karya sastra. Seperti kita ketahui, Biennale merupakan perhelatan seni 2 tahunan yang menampilkan puncak-puncak karya seniman.

Biennale juga merupakan ruang bagi para seniman dalam merepresentasikan ide, gagasan, konsep dan proses kreatifnya dalam bentuk karya. Sepengetahuan saya, biennale sastra belum pernah terselenggara di Indonesia (mohon dikoreksi kalau memang pernah ada). Tentu, diharapkan format penyelenggaraannya, berbeda dengan Ubud Writers & Readers Festival.

Pasti akan sangat menarik jika perhelatan Biennale Sastra ini terselenggara. Seniman, sastrawan dan para ilmuwan bahasa pasti akan terlibat dengan menampilkan puncak-puncak karya mereka. Sastra lisan, sastra tulisan, sastra koran, sastra media sosial, dan berbagai macam karya susastra akan menjadi kajian dan sajian yang menarik pada perhelatan akbar itu.

Yang menjadi pertanyaan — apakah komunitas JKP (Jatijagat Kampung Puisi), Komunitas Mahima, Komunitas Posbud-Posrem dan gradag-grudug (kalo masih ada), dan komunitas sastra lainnya — tertarik pada peringatan 90 tahun bahasa Indonesia yang selama ini menjadi ’medium’ ekspresi penulisan kreatifnya?

Pertanyaan itu kulontarkan pada batu-batu diam yang menatap hatiku terpejam, agar aku ingat pada petikan sajak Tanah Lot nya Umbu. …//inilah bunga angin dan tirta//air kelapa muda para peladang yang membalik-balik tanah dengan tugal//agar langit bermuka-muka//tinggal serta dalamku//…… (T)

Tags: Bahasasastrasumpah pemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Bill di Ubud, Bercakap-cakap tentang Meditasi dan Mindfulness

Next Post

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co