3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Hartanto by Hartanto
October 6, 2018
in Esai
Biennale Sastra Indonesia – Catatan Menjelang 90 Tahun Bahasa Indonesia

Ist

28 Oktober 1928, adalah tonggak penting keberadaan bangsa ini. Sejumlah anak muda,generasi terbaik bangsa ini di jaman itu, menggagas berdirinya sebuah bangsa, dengan berbahasa dan bertanah air yang satu, Indonesia.

Konggres I yang diadakan di Batavia pada 30 April – 2 Mei tahun 1926 telah memunculkan kesadaran mengenai pentingnya komunitas dan kegiatan kepemudaan di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Konggres yg diketuai Muhammad Tabrani ini diikuti oleh organisasi-organisasi pemuda, seperti ; Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya.

Proses pengendapan selama 2 tahun itu, selanjutnya memunculkan kesadaran akan pentingnya berbangsa, berbahasa, dan bertanah air – Indonesia. Konggres kedua diadakan pada 27 – 28 Oktober 1928. Konggres dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan-Pelajar Indonesia (PPPI).

Selain melahirkan keputusan penting yang disebut Sumpah Pemuda, juga ditetapkan lagu kebangsaan Indonesia karya Wage Rudolf Supratman, Indonesia Raya. Sejak konggres inilah bahasa melayu menjadi bahasa pengantar (lingua fanca) bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara adalah sosok penting karena dia adalah tokoh pertama yang mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

Memasuki tahun 2018 ini, Sumpah Pemuda sudah berusia 90 tahun. Artinya, bahasa Melayu resmi menjadi bahasa pengantar bangsa Indonesia juga sudah berusia 90 tahun. Hampir satu abad. Membahas soal bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, tentu tak terlepas dengan bapak bahasa kita, Raja Ali Haji. Bapak bahasa ini diberi gelar pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Pemerintah RI memberikan penghargaan tersebut karena jasa beliau membina bahasa Melayu Kepulauan Riau sehingga menjadi bahasa Melayu Tinggi atau bahasa baku, yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional dengan sebutan bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2000, Gusdur mengungkapkan apresiasinya kepada Raja Ali Haji sebagai sosok yang berjasa dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional.

Para penggemar sastra tentu tak asing dengan pujangga, ulama dan sejarawan Raja Ali Haji (1808-1873) yang begitu populer dengan Gurindam Dua Belas nya. Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa buku antara lain; Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat al-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Bustan al-Kathibin, Intizam Waza’if al-Malik, dan Thamarat al-Mahammah Dhiyafah li al-umara wa al-Kubara, Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Malik, Syair Abdul Maluk, Bustan al-Katibin, Syair Siti Siyanah, Syair Hukum Nikah, dan Syair Gemala Mastika Alam. Kitab pengetahuan bahasa berisi tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi standar bahasa Melayu dan bertumbuh menjadi bahasa Indonesia.

Kembali ke peristiwa penting, 90 tahun bahasa Indonesia, tampaknya para ‘pengguna’, dan ‘pemuja’ bahasa Indonesia perlu memikirkan kegiatan yang produkti, dari pada berpolemik tentang puisi esai nya Denny JA. Biennale Sastra — sebagai kegiatan melihat proses dan puncak pencapaian karya sastra — sepertinya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Istilah Biennale, adalah kegiatan dua tahunan, mengadopsi dari kegiatan senirupa. Bali, memiliki komunitas sastra yang punya potensi untuk penyelenggaraan perhelatan Biennale Sastra. Tentu sangatlah menarik bila kegiatan Biennale Sastra ini dirancang jauh hari secara rapi.

Di Bali, timbul tenggelamnya sanggar-sanggar, kegiatan-kegiatan lomba seperti ; Pekan Seni Remaja, Lomba Drama Modern, lomba-lomba baca puisi, grudag-grudug dan acara apresiasi sastra lainnya – semua itu merupakan ‘artefak’ yang tidak hanya berhenti sebagai bahan riset saja, tapi juga bisa sebagai pemantik aktifitas kreatif kemudian hari.

Kajian sastra tak akan pernah berhenti sepanjang medium nya (bahasa) masih hidup di bumi. Bahasa daerah memang punya kemungkinan lenyap, tapi saya belum pernah mendengar lenyapnya bahasa nasional sebuah bangsa. Kompas.com melaporkan, bahasa daerah yang punah berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher. Saya tak hendak mengkaji soal bahasa daerah, karena yang akan kita peringati pada 28 Oktober nanti adalah 90 tahun bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Pada suatu diskusi di Bentara Budaya Bali beberapa waktu yang lalu, saya sebutkan bahwa puncak dari eksistensi bahasa adalah sastra, dan puncak dari sastra adalah puisi. Saya ingin mengajukan gagasan pada teman-teman sastrawan tentang kemungkinan Biennale Sastra.

Kenapa sastra? Karena asumsi yang saya ungkapkan pada diskusi di Bentara Budaya, bahwa sastra adalah puncak bahasa. Selain itu, produk penulisan kreatif adalah karya sastra. Seperti kita ketahui, Biennale merupakan perhelatan seni 2 tahunan yang menampilkan puncak-puncak karya seniman.

Biennale juga merupakan ruang bagi para seniman dalam merepresentasikan ide, gagasan, konsep dan proses kreatifnya dalam bentuk karya. Sepengetahuan saya, biennale sastra belum pernah terselenggara di Indonesia (mohon dikoreksi kalau memang pernah ada). Tentu, diharapkan format penyelenggaraannya, berbeda dengan Ubud Writers & Readers Festival.

Pasti akan sangat menarik jika perhelatan Biennale Sastra ini terselenggara. Seniman, sastrawan dan para ilmuwan bahasa pasti akan terlibat dengan menampilkan puncak-puncak karya mereka. Sastra lisan, sastra tulisan, sastra koran, sastra media sosial, dan berbagai macam karya susastra akan menjadi kajian dan sajian yang menarik pada perhelatan akbar itu.

Yang menjadi pertanyaan — apakah komunitas JKP (Jatijagat Kampung Puisi), Komunitas Mahima, Komunitas Posbud-Posrem dan gradag-grudug (kalo masih ada), dan komunitas sastra lainnya — tertarik pada peringatan 90 tahun bahasa Indonesia yang selama ini menjadi ’medium’ ekspresi penulisan kreatifnya?

Pertanyaan itu kulontarkan pada batu-batu diam yang menatap hatiku terpejam, agar aku ingat pada petikan sajak Tanah Lot nya Umbu. …//inilah bunga angin dan tirta//air kelapa muda para peladang yang membalik-balik tanah dengan tugal//agar langit bermuka-muka//tinggal serta dalamku//…… (T)

Tags: Bahasasastrasumpah pemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Bill di Ubud, Bercakap-cakap tentang Meditasi dan Mindfulness

Next Post

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Film “Kanya” karya Ning Gayatri dari SMAN 3 Denpasar Juara di LKAS 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co