25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Rika Mahardika by Rika Mahardika
February 27, 2018
in Esai
Permainan Kids Zaman Old: Menjadi “Polisi” atau “Maling”, Sama Asyiknya

Ilustrasi: Juli Sastrawan

MASA anak-anak adalah masa yang paling asyik. Selain belajar disekolah,  sehari-hari kita ya bermain. Bahkan dalam sehari rasanya waktu kita lebih banyak bermain daripada belajar.

Mari coba kita analisa secara ngawur saja. Kalau untuk belajar, mungkin waktu kita hanya habis selama 6 jam saja, yaitu saat berada di sekolah. Mulai belajar sekitar jam setengah delapan pagi, dan pulang sekolah sekitar jam setengah satu siang. Sampai di rumah kita makan siang, setelah itu cus, langsung bertemu teman untuk bermain.

Anak-anak dulu dan sekarang, porsi bermainnya mungkin tak jauh beda. Tapi, yang berbeda adalah jenis permaianannya. Mari bandingkan jenis permainan antara kids jaman old atau disebut generasi 80-90-an, dengan kids jaman now.

Anak-anak generasi 90-an, setelah makan siang sepulang sekolah, biasanya langsung kabur dari rumah. Tidak pernah ada yang namanya tidur siang. Kalau bermain, dulu, ya keluar. Ke tanah kosong, tanah lapang, kebun, sawah, atau jalanan. Jarang ada permainan di dalam rumah.

Jenis permainannya banyak, mulai dari main kelereng, main layangan, bermain adu kulit rokok, ada juga bermain petak umpet. Ada juga permainan tradisional seperti main benteng, bermain selodor,  bermain batu lima, bermain gemblung, main tembing dan masih banyak jenis permainan lainnya.

Yang menarik, ada permainan polisi-polisian dan penjahat (kalau di daerah saya di wilayah Paket Agung Singaraja) biasanya disebut main maling-malingan). Permainan ini seru. Sejumlah anak sok-sok jadi “polisi”, sejumlah anak lain cukup girang jadi “maling”.

Ada dua peran dalam permainan ini:maling dan polisi. Seperti namanya, tentu saja, yang berperan sebagai polisi harus berhasil menangkap sipemeran maling. Biasanya sih, di daerah saya, ini lebih asyik dimainkan pada malam hari.

Begitu kita sepakati peran masing-masing, permainan dimulai. Pemeran penjahat atau maling ini lebih dulu bergerak, berlari sekencang mungkin agar tidak ditangkap pemeran polisi. Begitu semua maling tertangkap, peran pun dimainkan bergantian. Artinya yang tadinya menjadi polisi, bertukar peran menjadi seorang penjahat atau maling.

Namanya juga permainan, jadi polisi atau jadi maling, ya, sama asyiknya. Bahkan saat berperan jadi maling, si maling biasa mengerjai si polisi.

Saya ingat ada ulah jahil dari sejumlah teman. Yang paling sering terjadi adalah, si maling ini, ngumpet (itu tidak dilarang dalam aturan mainnya), supaya tidak berhasil terciduk polisi. Cuma, ngumpetnya itu di rumah sendiri. Dan yang bikil kesel, dia tak nongol-nongol. Polisinya kan bingung mau cari di mana lagi. Semua sudut sudah ditelusuri. Eh, tak tahunya si maling sedang enak-enak makan di rumahnya.

Permainan pun bubar. Tapi besoknya, permainan yang sama bisa diulang lagi. Semua kejahilan yang terjadi kadang bikin kesal, namun itu menjadi kenangan yang sangat kaya.

Itulah makanya kenapa waktu anak jaman old itu lebih banyak bermain. Karena terkadang saking asyiknya bermain, kami generasi anak anak jaman 90-an sampai harus dicari-cari orang tua untuk mandi. Maklum saja,  terkadang kita bermain  hingga lupa waktu dan pulang terlalu sore. Bahkan malam pun kami bermain lagi.

Nah permainan maling-malingan yang kami lakoni sebagai kids jaman old sebenarnya penuh filosofi (bahasanya agak berat). Apa itu, ya tentu maling yang melakukan aksi kejahatan berupa pencurian ini harus ditangkap. Siapa yang menangkap? Tentu aparat hukum, yaitu polisi.

Dan Polisi pun dalam mengungkap kasus pencururian untuk menangkap maling, tentu akan melakukan banyak upaya. Semua tempat pasti akan dususuri. Semua sudut yang diduga sebagai tempat persembunyian pasti akan dijajagi. Barangkali saja bisa menangkap maling itu.

Lalu bagaimana dengan pemeran maling yang bersembunyi dirumahnya dan tidak berhasil ditangkap oleh seorang polisi? Bukankah itu curang namanya? Kalau pendapat saya sih itu namanya cerdik. Dan mungkin saja apa yang terjadi dalam permainan itu, terjadi pula di dunia nyata.

Bisa saja kan, ada seorang maling sungguhan, dengan kecerdikan yang dimiliki berhasil mengecoh polisi. Bersembunyi dari kejaran polisi sampai polisi pun penyerah untuk mengejar dan menangkap. Ujung-ujungnya, kasus ditutup, dan kasus pun selesai.

Di era tahun 90-an dulu, masa anak-anak juga sudah ada kok permainan yang modern. Misalkan saja, permainan nitendo dengan game favorit super Mario, atau permainan Sega, hingga PS1 juga sudah ada. Tapi tidak banyak orang yang betah berlama-lama dengan permainan itu. Karena lebih asyik bermain dengan lebih banyak orang. Dan yang pasti, semua permainan yang kita lakukan dijaman dulu, benar benar berinteraksi dengan teman.

Sekarang mari kita lihat jenis permainan yang dimainkan anak-anak jaman sekarang. Sepulang dari sekolah, mereka memang bermain. Jenis permainanya apa? Ada yang menuju warnet untuk bermain game online, ada yang menuju sebuah rental untuk main PS2, PS3, atau PS4, ada juga yang mencari warung, toko, atau warnet lagi yang menyediakan fasilitas Wifi untuk bermain game online melalui handphone jenis android atau smartphone miliknya. Disaat bermain, ya mereka focus pada permainan itu. Tidak ada interaksi, tidak ada rasanya kebahagiaan, tidak ada rasanya keceriaan. Hanya sesekali saja mereka saling berpandangan dan bertutur kata.

Tapi yang terpenting adalah, bagaimana sebuah permainan itu asyik dilakukan ketika ada sebuah interaksi, ada sebuah pergaulan, atau ada sebuah perdebatan jika dimungkinkan. Dan tolak ukur asyik itu kembali pada kita sebagai generasi anak-anak jaman old atau mereka anak-anak generasi jaman now, dalam menikmati sebuah permainan. (T)

Tags: anak-anakGenerasi Zaman Nowpermainan
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Wina Ranjau dan Apa Kabar Musik Bawah Tanah di Bali

Next Post

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Rika Mahardika

Rika Mahardika

Lahir dan tinggal di Singaraja. Sedang asyik-asyiknya jadi bapak sembari bekerja sebagai wartawan di koranbuleleng.com

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

20 Tahun Kelompok Perupa Galang Kangin: Merayakan Kerinduan Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co