23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 26, 2018
in Esai
Perempuan

KOPLAK menatap Kemitir dengan serius. Kemitir melotot dan menatap kembali mata ayahnya dengan perasaan dan pikiran yang sedikit mengganggu.

“Ada apa? Bape menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?” Kemitir merengut dan beringsut dari hadapan Koplak. Koplak masih terdiam. Kemitir makin penasaran,” ada apa, Bape? Ada yang ingin Bape bicarakan dengan tiang?” tanya Kemitir serius, karena selama menjadi anak Koplak, Kemitir tidak pernah melihat Koplak menatapnya dengan sorot mata yang sedikit aneh, sorot mata yang penuh rasa kuatir, sorot mata yang penuh tanda tanya, sorot mata yang sulit dieja Kemitir.

Koplak masih terdiam. Nafasnya ditarik, terlihat agak berat. Terasa sekali ada beban yang mengisi seluruh lubang-lubang paru-parunya. Sesekali Koplak menunduk, mencoba menyibukkan diri menggiling kertas rokoknya.Salah satu kebiasaan unik di kalangan perokok adalah tradisi yang menggiling rokok sendiri terasa seperti melakukan “ritual” melinting sendiri sambil menghirup bau tembakau.

Bagi Koplak aktivitas melinting rokok memiliki nilai keasyikan tersendiri. Yakni, ketika jemari mulai memilih tembakau dan menatanya di atas kertas rokok atau biasa disebut papir lantasmenaburi dengan cengkeh. Komposisinya tak memakai ukuran pasti, namun feeling mereka sudah terlatih untuk menghasilkan racikan bercitarasa khas pada setiap batang rokok.

Kemudian, dengan lihai,  kedua telapak tangan dan jari-jarinya bergantian memilin secara perlahan hingga terasa kencang. Terkadang, mereka menjilat pinggiran-pinggiran papir,  rasanya manis dan gurih. Setelah itu, ludah yang tersisa di papir dipakai untuk pelekat. Ritual yang menenangkan Koplak. Tetapi kali ini Koplak merasa beban bratnya tidak bisa pindah ke kertas papir yang dipilinnya. Kegundahannya juga tidak bisa dipangkas oleh bau cengkeh dan tembakau. Apa yang salah dengan hari ini?

“Bape tidak ke kantor hari ini?” tanya Kemitir berusaha mencairkan keadaan. Tiba-tiba saja Kemitir merasa ada sesuatu yang dipendam Koplak. Ah, Kemitir merasa sangat berdosa. Selama ini dia merasa terlalu disibukkan dengan bisnis cafenya di Denpasar. Bisnis yang makin berkembang melampaui impiannya. Gerai-gerai kopinya segera dibuka di tempat-tempat pariwisata, dan banyak “klien” dari pelbagai daerah juga luar negeri berusaha menawarkan beragam ide dan kerjasama yang menggiurkan.

Diusianya yang ke-21 tahun, Kemitir telah suskses sebagai “pedagang kopi”, dulu ketika kanak-kanak Kemitir ingat istilah “Dakocan” akronim dari, Dagang Kopi Cantik. Istilah itulah yang Kemitir rasa membuat keberuntungan yang beruntun menghajar hidupnya sehingga Kemitir tidak perlu lagi pontang-panting mencari pekerjaan setelah tamat kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kemitir ingat kata-kata seorang perempuan tua di kantin tempatnya makan siang. “Hidup itu sudah ada yang mencatat, untung-buntung itu sudah ditulis di jidat,” kata perempuan di kantin kampusnya. Dulu, kata-kata itu seperti angin. Hari ini kata-kata perempuan itu seperti gasing yang meninggalkan jejak putarannya di tanah.

Kemitir menatap Koplak, berusaha meraba, membaca, juga mengeja pikirannya ayahnya, lelaki kelahiran 30 September 1971. Lelaki yang menjadi teman, ayah sekaligus ibu bagi Kemitir. Kemitir merengut pikirannya tiba-tiba seperti gasing berputar dan melukai hatinya. Apakah ini waktunya ayahnya yang selama ini setia pada cintanya telah jantu cinta pada perempuan lain? Membayangkan ayahnya jatuh cinta pada perempuan lain, ada pisau tajam yang melukai pikiran Kemitir.

Sebagai perempuan yang tumbuh makin dewasa Kemitir juga sadar ayahnya pasti kesepian sejak ditinggal ibunya, Ni Luh Wayan Langir yang meninggal setelah memuntahkan Kemitir dari tubuhnya. Bahkan, menurut orang-orang Langir bahkan tidak pernah melihat wujud daging yang diperamnya selama delapan bulan sebelas hari. Langir bahkan tak pernah menyentuh tubuh Kemitir. Tetapi, Kemitir tidak pernah merasa kesepian, tidak pernah merasa kehilangan, Koplak telah menjadi ayah-ibu sekaligus.

Dan, saat ini, mungkinkah ayahnya telah menemukan perempuan yang cocok untuk menemaninya di masa tua? Tegakah ayahnya menyapu bersih beragam kenangan yang telah tertatam permanen di hati, pikiran, juga nafas hidupnya? Lalu, siapkah Kemitir berhadapan dengan perempuan baru? Perempuan yang mungkin akan menyita seluruh perhatian ayahnya. Perempuan yang dijamin belum tentu cocok dengan Kemitir. Perempuan yang mungkin saja akan memiliki banyak aturan. Perempuan yang bisa saja membuat ayahnya lupa memiliki Kemitir. Kemitir menarik nafas tiba-tiba saja ada perasaan berat dan membuatnya kehilangan gairah.

Siapa perempuan itu? Seperti apa gayanya? Apakah perempuan itu seorang janda? Janda yang memiliki anak seusia Kemitir? Jika, iya. Celaka! Bagamana kalau anak-anak janda itu seperti cerita dongeng bawang merah dan bawang putih. Celaka, bisa jadi Si Upik Abu. Kemitir terus dirajam pikiran-pikiran buruk yang tidak jelas, sementara Koplak terlihat semakin gelisah, berkali-kali Koplak menatap dan melirik anak gadisnya.

“Bape…” Kemitir berkata dengan terbata-bata. Menyusun kekuatan untuk berusaha berada di posisi seimbang. Bagamanapun, Kemitir harus iklas jika ayahnya akan kawin lagi, “Bape…” Kemitir kembali menyusun kata-katanya di otaknya agar kata-katanya tidak menyinggung perasaan Koplak.

“Kau ingin bicara apa?” Koplak berkata sambil menatap Kemitir serius.

“Begini, Bape. Tiang nunas iwang, mohon maaf jika kata-kata tiang akan membuat Bape terluka atau membuat Bape tersinggung. Sudah sejak lama tiang berpikir, ada baiknya Bape mulai saat ini mencari teman hidup. Minimal bisa Bape ajak menemani hari-hari Bape, sehingga Bape tidak kesepian. Ada teman untuk bicara, ada orang yang setiap pagi bisa membuatkan sarapan untuk Bape… Ada….”

Koplak menatap mata Kemitir dengan penuh tanda tanya.

“Aku tidak ingin mencari perempuan untuk teman hidupku, Kemitir. Kau tahu apa yang membuat aku kehilangan selera makan. Bahkan aku merasa tidak bisa bernafas setiap bangun tidur. Kau tahu apa yang ada di dalam pikiranku?!” Koplak berkata sedikit geram. Kemitir beringsut dan menatap ayahnya serius, “kau tahu apa yang ada di otakku?” Tanya Koplak lagi dengan intonasi tinggi, “Bape, sedang berduka, kau baca apa yang dilakukan seorang guru, wali kelas sekolah dasar yang tega meracun ketiga orang anaknya. Anak-anaknya sendiri yang dilahirkan dengan susah payah. Bagaimana kamu bisa berpikir Bapemu ini harus kawin lagi. Bagaimana kalau perempuan yang Bape kawini meracunmu! Juga meracun, Bape?!” Koplak berkata makin keras. Kemitir beringsut menatap ayahnya.

Koplak terdiam. Lega rasanya telah mengeluarkan unek-uneknya. Perempuan-perempuan kadang-kadang memang selalu berpikir dengan hati tidak dengan pikirannya. Tahukah Kemitir, selama ini Koplak sudah membuktikan kesetiaannya sebagai ayah-ibu, juga sebagai lelaki-perempuan sekaligus untuk menjaga cintanya pada Langir. Bayangkan saja, jika perempuan baru yang ada di rumahnya juga memiliki niat negatif, ingin meracun. Koplak terdiam. Perempuan! (T)

Tags: baliPerempuan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Denpasar Perlu Seratus Pak Ogah

Next Post

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co