24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 26, 2018
in Esai
Perempuan

KOPLAK menatap Kemitir dengan serius. Kemitir melotot dan menatap kembali mata ayahnya dengan perasaan dan pikiran yang sedikit mengganggu.

“Ada apa? Bape menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?” Kemitir merengut dan beringsut dari hadapan Koplak. Koplak masih terdiam. Kemitir makin penasaran,” ada apa, Bape? Ada yang ingin Bape bicarakan dengan tiang?” tanya Kemitir serius, karena selama menjadi anak Koplak, Kemitir tidak pernah melihat Koplak menatapnya dengan sorot mata yang sedikit aneh, sorot mata yang penuh rasa kuatir, sorot mata yang penuh tanda tanya, sorot mata yang sulit dieja Kemitir.

Koplak masih terdiam. Nafasnya ditarik, terlihat agak berat. Terasa sekali ada beban yang mengisi seluruh lubang-lubang paru-parunya. Sesekali Koplak menunduk, mencoba menyibukkan diri menggiling kertas rokoknya.Salah satu kebiasaan unik di kalangan perokok adalah tradisi yang menggiling rokok sendiri terasa seperti melakukan “ritual” melinting sendiri sambil menghirup bau tembakau.

Bagi Koplak aktivitas melinting rokok memiliki nilai keasyikan tersendiri. Yakni, ketika jemari mulai memilih tembakau dan menatanya di atas kertas rokok atau biasa disebut papir lantasmenaburi dengan cengkeh. Komposisinya tak memakai ukuran pasti, namun feeling mereka sudah terlatih untuk menghasilkan racikan bercitarasa khas pada setiap batang rokok.

Kemudian, dengan lihai,  kedua telapak tangan dan jari-jarinya bergantian memilin secara perlahan hingga terasa kencang. Terkadang, mereka menjilat pinggiran-pinggiran papir,  rasanya manis dan gurih. Setelah itu, ludah yang tersisa di papir dipakai untuk pelekat. Ritual yang menenangkan Koplak. Tetapi kali ini Koplak merasa beban bratnya tidak bisa pindah ke kertas papir yang dipilinnya. Kegundahannya juga tidak bisa dipangkas oleh bau cengkeh dan tembakau. Apa yang salah dengan hari ini?

“Bape tidak ke kantor hari ini?” tanya Kemitir berusaha mencairkan keadaan. Tiba-tiba saja Kemitir merasa ada sesuatu yang dipendam Koplak. Ah, Kemitir merasa sangat berdosa. Selama ini dia merasa terlalu disibukkan dengan bisnis cafenya di Denpasar. Bisnis yang makin berkembang melampaui impiannya. Gerai-gerai kopinya segera dibuka di tempat-tempat pariwisata, dan banyak “klien” dari pelbagai daerah juga luar negeri berusaha menawarkan beragam ide dan kerjasama yang menggiurkan.

Diusianya yang ke-21 tahun, Kemitir telah suskses sebagai “pedagang kopi”, dulu ketika kanak-kanak Kemitir ingat istilah “Dakocan” akronim dari, Dagang Kopi Cantik. Istilah itulah yang Kemitir rasa membuat keberuntungan yang beruntun menghajar hidupnya sehingga Kemitir tidak perlu lagi pontang-panting mencari pekerjaan setelah tamat kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kemitir ingat kata-kata seorang perempuan tua di kantin tempatnya makan siang. “Hidup itu sudah ada yang mencatat, untung-buntung itu sudah ditulis di jidat,” kata perempuan di kantin kampusnya. Dulu, kata-kata itu seperti angin. Hari ini kata-kata perempuan itu seperti gasing yang meninggalkan jejak putarannya di tanah.

Kemitir menatap Koplak, berusaha meraba, membaca, juga mengeja pikirannya ayahnya, lelaki kelahiran 30 September 1971. Lelaki yang menjadi teman, ayah sekaligus ibu bagi Kemitir. Kemitir merengut pikirannya tiba-tiba seperti gasing berputar dan melukai hatinya. Apakah ini waktunya ayahnya yang selama ini setia pada cintanya telah jantu cinta pada perempuan lain? Membayangkan ayahnya jatuh cinta pada perempuan lain, ada pisau tajam yang melukai pikiran Kemitir.

Sebagai perempuan yang tumbuh makin dewasa Kemitir juga sadar ayahnya pasti kesepian sejak ditinggal ibunya, Ni Luh Wayan Langir yang meninggal setelah memuntahkan Kemitir dari tubuhnya. Bahkan, menurut orang-orang Langir bahkan tidak pernah melihat wujud daging yang diperamnya selama delapan bulan sebelas hari. Langir bahkan tak pernah menyentuh tubuh Kemitir. Tetapi, Kemitir tidak pernah merasa kesepian, tidak pernah merasa kehilangan, Koplak telah menjadi ayah-ibu sekaligus.

Dan, saat ini, mungkinkah ayahnya telah menemukan perempuan yang cocok untuk menemaninya di masa tua? Tegakah ayahnya menyapu bersih beragam kenangan yang telah tertatam permanen di hati, pikiran, juga nafas hidupnya? Lalu, siapkah Kemitir berhadapan dengan perempuan baru? Perempuan yang mungkin akan menyita seluruh perhatian ayahnya. Perempuan yang dijamin belum tentu cocok dengan Kemitir. Perempuan yang mungkin saja akan memiliki banyak aturan. Perempuan yang bisa saja membuat ayahnya lupa memiliki Kemitir. Kemitir menarik nafas tiba-tiba saja ada perasaan berat dan membuatnya kehilangan gairah.

Siapa perempuan itu? Seperti apa gayanya? Apakah perempuan itu seorang janda? Janda yang memiliki anak seusia Kemitir? Jika, iya. Celaka! Bagamana kalau anak-anak janda itu seperti cerita dongeng bawang merah dan bawang putih. Celaka, bisa jadi Si Upik Abu. Kemitir terus dirajam pikiran-pikiran buruk yang tidak jelas, sementara Koplak terlihat semakin gelisah, berkali-kali Koplak menatap dan melirik anak gadisnya.

“Bape…” Kemitir berkata dengan terbata-bata. Menyusun kekuatan untuk berusaha berada di posisi seimbang. Bagamanapun, Kemitir harus iklas jika ayahnya akan kawin lagi, “Bape…” Kemitir kembali menyusun kata-katanya di otaknya agar kata-katanya tidak menyinggung perasaan Koplak.

“Kau ingin bicara apa?” Koplak berkata sambil menatap Kemitir serius.

“Begini, Bape. Tiang nunas iwang, mohon maaf jika kata-kata tiang akan membuat Bape terluka atau membuat Bape tersinggung. Sudah sejak lama tiang berpikir, ada baiknya Bape mulai saat ini mencari teman hidup. Minimal bisa Bape ajak menemani hari-hari Bape, sehingga Bape tidak kesepian. Ada teman untuk bicara, ada orang yang setiap pagi bisa membuatkan sarapan untuk Bape… Ada….”

Koplak menatap mata Kemitir dengan penuh tanda tanya.

“Aku tidak ingin mencari perempuan untuk teman hidupku, Kemitir. Kau tahu apa yang membuat aku kehilangan selera makan. Bahkan aku merasa tidak bisa bernafas setiap bangun tidur. Kau tahu apa yang ada di dalam pikiranku?!” Koplak berkata sedikit geram. Kemitir beringsut dan menatap ayahnya serius, “kau tahu apa yang ada di otakku?” Tanya Koplak lagi dengan intonasi tinggi, “Bape, sedang berduka, kau baca apa yang dilakukan seorang guru, wali kelas sekolah dasar yang tega meracun ketiga orang anaknya. Anak-anaknya sendiri yang dilahirkan dengan susah payah. Bagaimana kamu bisa berpikir Bapemu ini harus kawin lagi. Bagaimana kalau perempuan yang Bape kawini meracunmu! Juga meracun, Bape?!” Koplak berkata makin keras. Kemitir beringsut menatap ayahnya.

Koplak terdiam. Lega rasanya telah mengeluarkan unek-uneknya. Perempuan-perempuan kadang-kadang memang selalu berpikir dengan hati tidak dengan pikirannya. Tahukah Kemitir, selama ini Koplak sudah membuktikan kesetiaannya sebagai ayah-ibu, juga sebagai lelaki-perempuan sekaligus untuk menjaga cintanya pada Langir. Bayangkan saja, jika perempuan baru yang ada di rumahnya juga memiliki niat negatif, ingin meracun. Koplak terdiam. Perempuan! (T)

Tags: baliPerempuan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Denpasar Perlu Seratus Pak Ogah

Next Post

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Ibu dari seorang anak lelaki. Yang mencoba memotret beragam kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia dengan cara karikatural. Ala orang "Bali".

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co