2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 26, 2018
in Esai
Perempuan

KOPLAK menatap Kemitir dengan serius. Kemitir melotot dan menatap kembali mata ayahnya dengan perasaan dan pikiran yang sedikit mengganggu.

“Ada apa? Bape menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?” Kemitir merengut dan beringsut dari hadapan Koplak. Koplak masih terdiam. Kemitir makin penasaran,” ada apa, Bape? Ada yang ingin Bape bicarakan dengan tiang?” tanya Kemitir serius, karena selama menjadi anak Koplak, Kemitir tidak pernah melihat Koplak menatapnya dengan sorot mata yang sedikit aneh, sorot mata yang penuh rasa kuatir, sorot mata yang penuh tanda tanya, sorot mata yang sulit dieja Kemitir.

Koplak masih terdiam. Nafasnya ditarik, terlihat agak berat. Terasa sekali ada beban yang mengisi seluruh lubang-lubang paru-parunya. Sesekali Koplak menunduk, mencoba menyibukkan diri menggiling kertas rokoknya.Salah satu kebiasaan unik di kalangan perokok adalah tradisi yang menggiling rokok sendiri terasa seperti melakukan “ritual” melinting sendiri sambil menghirup bau tembakau.

Bagi Koplak aktivitas melinting rokok memiliki nilai keasyikan tersendiri. Yakni, ketika jemari mulai memilih tembakau dan menatanya di atas kertas rokok atau biasa disebut papir lantasmenaburi dengan cengkeh. Komposisinya tak memakai ukuran pasti, namun feeling mereka sudah terlatih untuk menghasilkan racikan bercitarasa khas pada setiap batang rokok.

Kemudian, dengan lihai,  kedua telapak tangan dan jari-jarinya bergantian memilin secara perlahan hingga terasa kencang. Terkadang, mereka menjilat pinggiran-pinggiran papir,  rasanya manis dan gurih. Setelah itu, ludah yang tersisa di papir dipakai untuk pelekat. Ritual yang menenangkan Koplak. Tetapi kali ini Koplak merasa beban bratnya tidak bisa pindah ke kertas papir yang dipilinnya. Kegundahannya juga tidak bisa dipangkas oleh bau cengkeh dan tembakau. Apa yang salah dengan hari ini?

“Bape tidak ke kantor hari ini?” tanya Kemitir berusaha mencairkan keadaan. Tiba-tiba saja Kemitir merasa ada sesuatu yang dipendam Koplak. Ah, Kemitir merasa sangat berdosa. Selama ini dia merasa terlalu disibukkan dengan bisnis cafenya di Denpasar. Bisnis yang makin berkembang melampaui impiannya. Gerai-gerai kopinya segera dibuka di tempat-tempat pariwisata, dan banyak “klien” dari pelbagai daerah juga luar negeri berusaha menawarkan beragam ide dan kerjasama yang menggiurkan.

Diusianya yang ke-21 tahun, Kemitir telah suskses sebagai “pedagang kopi”, dulu ketika kanak-kanak Kemitir ingat istilah “Dakocan” akronim dari, Dagang Kopi Cantik. Istilah itulah yang Kemitir rasa membuat keberuntungan yang beruntun menghajar hidupnya sehingga Kemitir tidak perlu lagi pontang-panting mencari pekerjaan setelah tamat kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kemitir ingat kata-kata seorang perempuan tua di kantin tempatnya makan siang. “Hidup itu sudah ada yang mencatat, untung-buntung itu sudah ditulis di jidat,” kata perempuan di kantin kampusnya. Dulu, kata-kata itu seperti angin. Hari ini kata-kata perempuan itu seperti gasing yang meninggalkan jejak putarannya di tanah.

Kemitir menatap Koplak, berusaha meraba, membaca, juga mengeja pikirannya ayahnya, lelaki kelahiran 30 September 1971. Lelaki yang menjadi teman, ayah sekaligus ibu bagi Kemitir. Kemitir merengut pikirannya tiba-tiba seperti gasing berputar dan melukai hatinya. Apakah ini waktunya ayahnya yang selama ini setia pada cintanya telah jantu cinta pada perempuan lain? Membayangkan ayahnya jatuh cinta pada perempuan lain, ada pisau tajam yang melukai pikiran Kemitir.

Sebagai perempuan yang tumbuh makin dewasa Kemitir juga sadar ayahnya pasti kesepian sejak ditinggal ibunya, Ni Luh Wayan Langir yang meninggal setelah memuntahkan Kemitir dari tubuhnya. Bahkan, menurut orang-orang Langir bahkan tidak pernah melihat wujud daging yang diperamnya selama delapan bulan sebelas hari. Langir bahkan tak pernah menyentuh tubuh Kemitir. Tetapi, Kemitir tidak pernah merasa kesepian, tidak pernah merasa kehilangan, Koplak telah menjadi ayah-ibu sekaligus.

Dan, saat ini, mungkinkah ayahnya telah menemukan perempuan yang cocok untuk menemaninya di masa tua? Tegakah ayahnya menyapu bersih beragam kenangan yang telah tertatam permanen di hati, pikiran, juga nafas hidupnya? Lalu, siapkah Kemitir berhadapan dengan perempuan baru? Perempuan yang mungkin akan menyita seluruh perhatian ayahnya. Perempuan yang dijamin belum tentu cocok dengan Kemitir. Perempuan yang mungkin saja akan memiliki banyak aturan. Perempuan yang bisa saja membuat ayahnya lupa memiliki Kemitir. Kemitir menarik nafas tiba-tiba saja ada perasaan berat dan membuatnya kehilangan gairah.

Siapa perempuan itu? Seperti apa gayanya? Apakah perempuan itu seorang janda? Janda yang memiliki anak seusia Kemitir? Jika, iya. Celaka! Bagamana kalau anak-anak janda itu seperti cerita dongeng bawang merah dan bawang putih. Celaka, bisa jadi Si Upik Abu. Kemitir terus dirajam pikiran-pikiran buruk yang tidak jelas, sementara Koplak terlihat semakin gelisah, berkali-kali Koplak menatap dan melirik anak gadisnya.

“Bape…” Kemitir berkata dengan terbata-bata. Menyusun kekuatan untuk berusaha berada di posisi seimbang. Bagamanapun, Kemitir harus iklas jika ayahnya akan kawin lagi, “Bape…” Kemitir kembali menyusun kata-katanya di otaknya agar kata-katanya tidak menyinggung perasaan Koplak.

“Kau ingin bicara apa?” Koplak berkata sambil menatap Kemitir serius.

“Begini, Bape. Tiang nunas iwang, mohon maaf jika kata-kata tiang akan membuat Bape terluka atau membuat Bape tersinggung. Sudah sejak lama tiang berpikir, ada baiknya Bape mulai saat ini mencari teman hidup. Minimal bisa Bape ajak menemani hari-hari Bape, sehingga Bape tidak kesepian. Ada teman untuk bicara, ada orang yang setiap pagi bisa membuatkan sarapan untuk Bape… Ada….”

Koplak menatap mata Kemitir dengan penuh tanda tanya.

“Aku tidak ingin mencari perempuan untuk teman hidupku, Kemitir. Kau tahu apa yang membuat aku kehilangan selera makan. Bahkan aku merasa tidak bisa bernafas setiap bangun tidur. Kau tahu apa yang ada di dalam pikiranku?!” Koplak berkata sedikit geram. Kemitir beringsut dan menatap ayahnya serius, “kau tahu apa yang ada di otakku?” Tanya Koplak lagi dengan intonasi tinggi, “Bape, sedang berduka, kau baca apa yang dilakukan seorang guru, wali kelas sekolah dasar yang tega meracun ketiga orang anaknya. Anak-anaknya sendiri yang dilahirkan dengan susah payah. Bagaimana kamu bisa berpikir Bapemu ini harus kawin lagi. Bagaimana kalau perempuan yang Bape kawini meracunmu! Juga meracun, Bape?!” Koplak berkata makin keras. Kemitir beringsut menatap ayahnya.

Koplak terdiam. Lega rasanya telah mengeluarkan unek-uneknya. Perempuan-perempuan kadang-kadang memang selalu berpikir dengan hati tidak dengan pikirannya. Tahukah Kemitir, selama ini Koplak sudah membuktikan kesetiaannya sebagai ayah-ibu, juga sebagai lelaki-perempuan sekaligus untuk menjaga cintanya pada Langir. Bayangkan saja, jika perempuan baru yang ada di rumahnya juga memiliki niat negatif, ingin meracun. Koplak terdiam. Perempuan! (T)

Tags: baliPerempuan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Denpasar Perlu Seratus Pak Ogah

Next Post

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co