23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 26, 2018
in Esai
Perempuan

KOPLAK menatap Kemitir dengan serius. Kemitir melotot dan menatap kembali mata ayahnya dengan perasaan dan pikiran yang sedikit mengganggu.

“Ada apa? Bape menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?” Kemitir merengut dan beringsut dari hadapan Koplak. Koplak masih terdiam. Kemitir makin penasaran,” ada apa, Bape? Ada yang ingin Bape bicarakan dengan tiang?” tanya Kemitir serius, karena selama menjadi anak Koplak, Kemitir tidak pernah melihat Koplak menatapnya dengan sorot mata yang sedikit aneh, sorot mata yang penuh rasa kuatir, sorot mata yang penuh tanda tanya, sorot mata yang sulit dieja Kemitir.

Koplak masih terdiam. Nafasnya ditarik, terlihat agak berat. Terasa sekali ada beban yang mengisi seluruh lubang-lubang paru-parunya. Sesekali Koplak menunduk, mencoba menyibukkan diri menggiling kertas rokoknya.Salah satu kebiasaan unik di kalangan perokok adalah tradisi yang menggiling rokok sendiri terasa seperti melakukan “ritual” melinting sendiri sambil menghirup bau tembakau.

Bagi Koplak aktivitas melinting rokok memiliki nilai keasyikan tersendiri. Yakni, ketika jemari mulai memilih tembakau dan menatanya di atas kertas rokok atau biasa disebut papir lantasmenaburi dengan cengkeh. Komposisinya tak memakai ukuran pasti, namun feeling mereka sudah terlatih untuk menghasilkan racikan bercitarasa khas pada setiap batang rokok.

Kemudian, dengan lihai,  kedua telapak tangan dan jari-jarinya bergantian memilin secara perlahan hingga terasa kencang. Terkadang, mereka menjilat pinggiran-pinggiran papir,  rasanya manis dan gurih. Setelah itu, ludah yang tersisa di papir dipakai untuk pelekat. Ritual yang menenangkan Koplak. Tetapi kali ini Koplak merasa beban bratnya tidak bisa pindah ke kertas papir yang dipilinnya. Kegundahannya juga tidak bisa dipangkas oleh bau cengkeh dan tembakau. Apa yang salah dengan hari ini?

“Bape tidak ke kantor hari ini?” tanya Kemitir berusaha mencairkan keadaan. Tiba-tiba saja Kemitir merasa ada sesuatu yang dipendam Koplak. Ah, Kemitir merasa sangat berdosa. Selama ini dia merasa terlalu disibukkan dengan bisnis cafenya di Denpasar. Bisnis yang makin berkembang melampaui impiannya. Gerai-gerai kopinya segera dibuka di tempat-tempat pariwisata, dan banyak “klien” dari pelbagai daerah juga luar negeri berusaha menawarkan beragam ide dan kerjasama yang menggiurkan.

Diusianya yang ke-21 tahun, Kemitir telah suskses sebagai “pedagang kopi”, dulu ketika kanak-kanak Kemitir ingat istilah “Dakocan” akronim dari, Dagang Kopi Cantik. Istilah itulah yang Kemitir rasa membuat keberuntungan yang beruntun menghajar hidupnya sehingga Kemitir tidak perlu lagi pontang-panting mencari pekerjaan setelah tamat kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kemitir ingat kata-kata seorang perempuan tua di kantin tempatnya makan siang. “Hidup itu sudah ada yang mencatat, untung-buntung itu sudah ditulis di jidat,” kata perempuan di kantin kampusnya. Dulu, kata-kata itu seperti angin. Hari ini kata-kata perempuan itu seperti gasing yang meninggalkan jejak putarannya di tanah.

Kemitir menatap Koplak, berusaha meraba, membaca, juga mengeja pikirannya ayahnya, lelaki kelahiran 30 September 1971. Lelaki yang menjadi teman, ayah sekaligus ibu bagi Kemitir. Kemitir merengut pikirannya tiba-tiba seperti gasing berputar dan melukai hatinya. Apakah ini waktunya ayahnya yang selama ini setia pada cintanya telah jantu cinta pada perempuan lain? Membayangkan ayahnya jatuh cinta pada perempuan lain, ada pisau tajam yang melukai pikiran Kemitir.

Sebagai perempuan yang tumbuh makin dewasa Kemitir juga sadar ayahnya pasti kesepian sejak ditinggal ibunya, Ni Luh Wayan Langir yang meninggal setelah memuntahkan Kemitir dari tubuhnya. Bahkan, menurut orang-orang Langir bahkan tidak pernah melihat wujud daging yang diperamnya selama delapan bulan sebelas hari. Langir bahkan tak pernah menyentuh tubuh Kemitir. Tetapi, Kemitir tidak pernah merasa kesepian, tidak pernah merasa kehilangan, Koplak telah menjadi ayah-ibu sekaligus.

Dan, saat ini, mungkinkah ayahnya telah menemukan perempuan yang cocok untuk menemaninya di masa tua? Tegakah ayahnya menyapu bersih beragam kenangan yang telah tertatam permanen di hati, pikiran, juga nafas hidupnya? Lalu, siapkah Kemitir berhadapan dengan perempuan baru? Perempuan yang mungkin akan menyita seluruh perhatian ayahnya. Perempuan yang dijamin belum tentu cocok dengan Kemitir. Perempuan yang mungkin saja akan memiliki banyak aturan. Perempuan yang bisa saja membuat ayahnya lupa memiliki Kemitir. Kemitir menarik nafas tiba-tiba saja ada perasaan berat dan membuatnya kehilangan gairah.

Siapa perempuan itu? Seperti apa gayanya? Apakah perempuan itu seorang janda? Janda yang memiliki anak seusia Kemitir? Jika, iya. Celaka! Bagamana kalau anak-anak janda itu seperti cerita dongeng bawang merah dan bawang putih. Celaka, bisa jadi Si Upik Abu. Kemitir terus dirajam pikiran-pikiran buruk yang tidak jelas, sementara Koplak terlihat semakin gelisah, berkali-kali Koplak menatap dan melirik anak gadisnya.

“Bape…” Kemitir berkata dengan terbata-bata. Menyusun kekuatan untuk berusaha berada di posisi seimbang. Bagamanapun, Kemitir harus iklas jika ayahnya akan kawin lagi, “Bape…” Kemitir kembali menyusun kata-katanya di otaknya agar kata-katanya tidak menyinggung perasaan Koplak.

“Kau ingin bicara apa?” Koplak berkata sambil menatap Kemitir serius.

“Begini, Bape. Tiang nunas iwang, mohon maaf jika kata-kata tiang akan membuat Bape terluka atau membuat Bape tersinggung. Sudah sejak lama tiang berpikir, ada baiknya Bape mulai saat ini mencari teman hidup. Minimal bisa Bape ajak menemani hari-hari Bape, sehingga Bape tidak kesepian. Ada teman untuk bicara, ada orang yang setiap pagi bisa membuatkan sarapan untuk Bape… Ada….”

Koplak menatap mata Kemitir dengan penuh tanda tanya.

“Aku tidak ingin mencari perempuan untuk teman hidupku, Kemitir. Kau tahu apa yang membuat aku kehilangan selera makan. Bahkan aku merasa tidak bisa bernafas setiap bangun tidur. Kau tahu apa yang ada di dalam pikiranku?!” Koplak berkata sedikit geram. Kemitir beringsut dan menatap ayahnya serius, “kau tahu apa yang ada di otakku?” Tanya Koplak lagi dengan intonasi tinggi, “Bape, sedang berduka, kau baca apa yang dilakukan seorang guru, wali kelas sekolah dasar yang tega meracun ketiga orang anaknya. Anak-anaknya sendiri yang dilahirkan dengan susah payah. Bagaimana kamu bisa berpikir Bapemu ini harus kawin lagi. Bagaimana kalau perempuan yang Bape kawini meracunmu! Juga meracun, Bape?!” Koplak berkata makin keras. Kemitir beringsut menatap ayahnya.

Koplak terdiam. Lega rasanya telah mengeluarkan unek-uneknya. Perempuan-perempuan kadang-kadang memang selalu berpikir dengan hati tidak dengan pikirannya. Tahukah Kemitir, selama ini Koplak sudah membuktikan kesetiaannya sebagai ayah-ibu, juga sebagai lelaki-perempuan sekaligus untuk menjaga cintanya pada Langir. Bayangkan saja, jika perempuan baru yang ada di rumahnya juga memiliki niat negatif, ingin meracun. Koplak terdiam. Perempuan! (T)

Tags: baliPerempuan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Denpasar Perlu Seratus Pak Ogah

Next Post

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Lovina adalah Merk Dagang #Cakil Putu Kusuma Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co