6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaya

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Kaya

KOPLAK menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Juga lehernya. Segelas kopi hitam dihirupnya pelan-pelan.

Sambil membaca koran pagi, isinya begini: Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-2 Januari tahun ini, kenaikan harga beras di pasar sudah naik sekitar 3 persen. Peningkatan tersebut dianggap BPS sudah dalam kategori mengkhawatirkan atau mencemaskan. Kepala BPS, Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk mengatakan, pemerintah harus mengendalikan inflasi pada 2018 yang ditargetkan 3,5 persen. Target tersebut dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Presiden Joko Widodo mengatakan, kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan demi memperkuat cadangan beras nasional. “Itu (impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita agar tidak terjadi gejolak harga di daerah-daerah,” ujar Jokowi.

Selain itu, posisi cadangan beras pangan Indonesia menipis.Ketentuan soal cadangan beras di Indonesia itu mematok pada FAO. Organisasi sayap PBB yang mengurusi soal pangan itu merekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia.

Di sisi lain, panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya). Total konsumsi beras per tahun di Indonesia 37.700.000 ton. Artinya, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton. Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi cadangan  sekitar satu hingga dua pekan saja.

“Jadi aslinya negara kita itu sangat kaya ya, Koplak?” tanya Pan Gadung sambil menggambil sepotong singkong rebus.

“Kaya?”

“Iya, buktinya mau impor beras 500.000 ton.”

“Kok bisa berpikir seperti itu?”

“Sejak kapan Koplak tidak cerdas?” Pan Gadung, lelaki seumuran dirinya, yang sering membeli hasil bumi di desa Koplak menatap mata Koplak tajam, sambil menurunkan letak kacamatanya. Koplak menatap mata lelaki di depannya serius.

“Belum juga paham maksud tiang?”

“Belum. Dan tidak mengerti.” Koplak  menjawab jujur. Sambil mengambil satu buah pisang rebus.

“Berita pagi yang Koplak baca menunjukkan negara kita ini sudah kaya?” Suara Pan Gadung terdengar sedikit mengejek. Koplak merengut.

“Bagaimana kaya? Masak beras saja impor? Sebentar, ada yang ingin tiang tunjukkan.” Koplak tidak jadi mengupas pisang rebus tetapi beranjak ke ruang tamu.

“ Jangan repot-repot, tiang cukup dengan pisang rebus dan singkong rebus. Kolesterol tiang sedang naik , jangan dipesankan be genyol dan be guling,”

Koplak terdiam. Lalu berkata serius. “Setelah memutuskan impor beras, pemerintah kembali membuka keran impor garam industri sebanyak 3,7 juta ton pada 2018. Jumlah tersebut keluar setelah ada perbedaan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang hanya merekomendasikan 2,1 juta ton per tahun. Kau tahu, para petinggi negeri kita itu pada ribut kok. Antar pejabat tidak sama idenya. Satu menteri dan menteri lain konon bersitegang. Kau lihat urusan beras belum beres, muncul lagi urusan garam. Negeri kita konon  dikelilingi laut. Bukannya garam itu berasal dari laut? Bukannya beras itu berasal dari sawah? Sawah yang jadi kebanggaan negeri ini. Bahkan di Bali sawah jadi objek wisata. Kenapa kita bisa impor beras? Impor garam? Kabar seperti ini kau bilang negeri kita kaya? Semua barang serba impor? Kata anak perempuanku harga beras sudah membuat migren teman-temannya yang sudah menikah. “

Pan Gadung tersenyum, “Kupikir kau akan membelikan aku be guling.”

Koplak kembali duduk di kursinya.

“Apa maksudmu mengatakan negara kita makin kaya?”

“Coba duduklah yang tenang, jangan bersungut-sungut seperti itu. Orang yang berpikir tenang, akan bijak mengambil keputusan.”

“Gayamu, seperti pejabat saja.”

“Aku memang ada rencana ingin bermain di ranah politik, tetapi nanti setelah berlatih dan punya modal. Kau tidak tertarik bermain politik?”

“Politik? Jadi Kades saja sudah senang. Tiang bisa mengurusi warga desa. Pan Gadung bisa lihat sendiri, warga di desa tiang tidak ada yang ribut. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada juga yang ribut jika kebutuhan pokok terus meranjak naik. Semuanya karena warga di desa ini sesungguhnya warga yang kreatif. Tanah mereka bisa difungsikan sebagai hasil bumi, minimal mereka bisa menggunakan untuk kebutuhan hidup. Menanam cabe, bawang, dan apa saja untuk hidup. Kau pikir tiang mau bermain politik seperti orang-orang di TV? Waktu kampanye tiang tidak berjanji muluk-muluk. Yang penting kerja. Apa yang sudah baik kita lanjutkan. Tiang ini cuma tamatan sarjana ekonomi, tahulah sedikit-sedikit menghitung untung rugi. Warga desa memilih tiang jadi Kades, karena warga desa ingin penggunaan dana desa dari pemerintah benar-benar bermanfaat untuk warga desa.”

“Iya, kau memang harus berlaku seperti itu. Jangan sampai dana desa tidak berfungsi, malu sama rakyat. Tiang juga geli sendiri, lihat saja pemilihan gubernur yang heboh dan bikin ribut sampai hari ini. Tiang pikir kerjanya juga akan heboh seperti kampanyenya, masak mengambil kebijakan mengganti nama jalan, kayak tidak ada hal yang lebih penting saja yang harus diurus.  Menghidupkan becak. Jalanan sudah krodit . Prioritasnya makin tidak jelas. Kau jangan seperti itu.”

“Kau suruh aku berpolitik!”

“Iya, biar kau punya kekuasaan, Koplak?”

“Kau sajalah yang berkuasa. Semoga kau bisa membangun desa ini lebih maju lagi.” Koplak berkata serius. Terjun ke dunia politik? Memangnya berapa Koplak punya uang? Rasanya hidup di desa ini sudah menyenangkan. Orang ribut beras Koplak dan warga desa tidak bingung, tidak juga linglung, karena di desanya sudah terbiasa warga desa mencampur nasi dengan umbi-umbian. Yang sengaja di tanam di halaman rumah. Sarapan juga biasa dengan ubi rebus, jagung rebus, pisang rebus, dan singkong rebus. Memang terlihat kampungan. Kalau kondisi seperti saat ini, bagaimana? Harga beras makin tinggi. Harga di koran berbeda dengan harga di pasar.

Aneh juga komentar Pan Gadung, negara kita kok dibilang kaya?

“Jelas kaya dong. Bayangkan negara kita selalu impor. Itu menunjukkan negara kita kaya, Koplak. Bayangkan saja negara ini dirimu, kamu pakai barang impor. Ini kan artinya kamu kaya?” Pan Gadung tertawa nyelekit.

Koplak terdiam. Giginya terasa ngilu. Negara kaya? Iya sih, konon sebatang kayu pun bisa mudah tumbuh jadi pohon jika ditanam. Tapi faktanya? Negara ini makin tidak jelas, buktinya tidak ada anak muda yang mau jadi petani, karena kebiasaan  mengambil solusi selalu dengan cara pintas, impor. Barang-barang KW juga laku keras, semua demi gengsi dan status. Kenapa tidak ada kebanggaan dengan hasil negeri sendiri?

“Kita akan makin sering impor, karena kayanya. Tidak ada lagi petani di negeri ini, Koplak. Orang sudah malu jadi petani. Mungkin mereka lebih tertarik jadi koruptor. Bisa jadi artis di TV.” Pan Gadung tertawa keras.

Koplak terdiam, kopi tanpa gula yang diseduhnya terasa makin aneh di tenggorokannya. Negara kaya? Kaya dengan impor? Kira-kira apa lagi yang akan diimpor negeri ini setelah beras dan garam?

Menjadi seorang pemimpin sesungguhnya harus memiliki bekal etika moral. Etika moral yang dibangun di dalam diri sebelum membangun orang lain. Kalau begini terus negeri ini, bagaimana anak muda bisa bangga dengan sawah mereka,

Persawahan di Jatiluwih sudah dinyatakan sebagai salah satu Word Heritage kekayaan alam khususnya di bidang pengaturan dan perawatan sistem pengairan tradisional Bali, yang dikenal dengan sebutan Subak pada 26 Juli 2012 setelah melalui proses panjang pengajuan/pengusulan kepada Unesco di tahun 2003.  Area yang diakui sebagai World Heritage ini meliputi 14 buah subak yang menaungi 11 Desa, luas hamparan sawah (padi fields) sebesar 2.372 ha, taman seluas 3.545 ha, hutan seluas 9.316 ha, rumah sebanyak 317 unit, dan semak-semak liar seluas 475 ha.

Apa kita masih bangga, jika kekurangan beras? Apa kita masih bangga disebut orang pelaut, dengan impor garam? Apakah kita ini kaya, atau lebay? (T)

Denpasar, 4/2/2018

 

Tags: JokowilautPan Koplakpertanian
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

Next Post

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Ibu dari seorang anak lelaki. Yang mencoba memotret beragam kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia dengan cara karikatural. Ala orang "Bali".

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co