SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul di genteng merah Ubud, sore itu terlihat putih lesi, nyaris pucat, seperti temaran mega-mega.
Di tengah suasana sore yang pucat itu; Pameran Militan Art [2021] digelar, dengan tajuk ”In-Between”, hendak menjabarkan ruang liminal kekuatan tradisi dan modern. Di sela dunia yang terlihat dan tak terlihat – dalam aliran sejarah yang tak selalu mulus, penuh dinamika beban zaman tak ringan.
Di gallery itu, sejumlah seniman Militan Art memajang karyanya. Di halaman gallery, Ketut Putrayasa hadir dengan seni instalasi. Temanya cukup menohok; ”Ubud is Winter 10 Degree Celcius”. Upaya memaknai Seratus Tahun Pita Maha. Dimana sejarah mengukir terobosan itu sebagai jawaban genial kegelisan seniman di Ubud.
Entah kenapa, memaknai 100 Tahun Pitamaha itu, sejarah seperti bertangkup di halaman Gajah Mas Gallery. Jam, hari bertemu tahun dalam tekukan Pandemi Covid-19 — dan Ubud merajut catatan penting, sebagai desa pertama yang membuka diri jadi desa wisata.
Dalam suasana ”senja” itu, Ubud tiba-tiba dibuat jadi lengang. Deru kendaraan senyap, dan lamat. Dunia Ubud yang sempat menjulang dalam beberapa dekade disitir memasuki kebekuan kultural. Pandemi menghentikan semua usaha gigih. Layaknya kebekuan musim di Eropa, semua terhenti — tak ada yang bisa tumbuh, alih-alih berbuah.

Di halaman gallery, seniman muda Ketut Putrayasa seperti menyapa ”matahari” Pita Maha lewat. Bersama sejumlah pekerja seni ia tengah berpeluh menumpuk-numpuk citakan, bahan batu bata yang belum dibakar — tanah liat yang masih berbau amis. Ada ratusan citakan ditumpuk menyerupai kotak kubus segi empat, tanpa jendela, tanpa asesoris estetik.
Satu truk balok-balok es batu kemudian datang, dideret menyelubungi, membungkus kubus citakan itu. Ini sesuatu yang nungkalik, citakan yang seharusnya dibakar, justru dibekukan balok-balok es. Keringat para pekerja tiba-tiba jadi terseka rasa dingin. Dan kubus es itu dengan pelan meleleh, rongga-rongga tumpukan citakan kian terlihat. Dan es mencair membasahi halaman gallery – dalam suasana petang sembari mencatat sejumlah kecemasan.
Siapa saja mendekati kubus, sesaat pori-pori jadi pejan, tertutup. Lima langkah dari kubus es, rasa dingin masih menyengat. Kebekuan tiba-tiba hadir, seperti menyitir bekunya kebudayaan yang pelan-pelan berubah jadi artefak. Dan tarian Yasmin Okubo seakan menghadirkan pasemon alus, rasa dingin membuat penari tak berpeluh, ia jadi beringsut menggambarkan tanda ”senja kebudaayan” yang juga pelan-pelan mulai terasa.
Penonton termangu. Entah mereka tersenyum atau pedih. ”Ubud is Winter 10 Degree Celsius” disingkat [UW10C ]seperti menjadi esai simbolik, bahasa diam yang menuntut perenungan lebih dalam perihal kondisi terkini Bali. Perihal kehidupan sosialnya, serta kehidupan budayanya. Ini sejenis pemberontakan senyap. Putrayasa melakukannya, sembari menayakan; apa yang tersisa di Ubud kini, terkecuali ia dengan letih merawat warisan adat yang meriah, yang di sana sini nyaris terkena racun politik praktis dalam sentuhan feodalisme santun.
Di sinilah orang harus kembali mempertanyakan makna kata Ubud – yang pada mulanya berarti ubad, bermakna obat. Dalam sejumlah historiografi tua, di sekitar Campuhan, di pertemuan dua sungai, para resi menanam aneka tanaman obat[taru pramana], bahan ubad untuk penyembuhan paripurna.
Ubud adalah apotek pertama Bali, farmasi rohani, tempat orang sakit datang ingin disembuhkan, disehatkan lahir-batin. Tuah Ubud bukan pada pemandangan, tapi pada khasiatnya yang menyembuhkan. Tanah ledakan vulkanis tua yang subur, membuat semua yang tumbuh di Ubud jadi penuh khasiat. Jurang, tebing, pemandangan yang indah adalah juga obat bagi jiwa. Perjalanan ke tempat-tempat meneduhkan jiwa itu kelak disebutkan Kakawin Ramayana itu sebagai ’wisata”, upaya menyegarkan kembali kondisi batin yang letih, keruh, dan tak berdaya.

Hari ini, dalam karya instalasi Ubud is Winter, tuah itu dipertanyakan. Apakah Ubud masih menjadi ubad, atau menjadi sumber penyakit baru, di mana kebudayaan dan roh kebudayaan semata diukur uang? UW10C menjawabnya; dengan kubus citakan yang dibungkus es. Obat yang seharusnya disangrai, diramu, direbus, justru dibekukan. Citakan yang semestinya dibakar, untuk menjadi batu bata merah malah dibekukan balok es. Ini arus serba tebalik-balik.
Ramuan yang seharusnya menghangatkan tubuh, justru didinginkan di suhu hingga 10 derajat. Dan kita paham akhirnya, Ubud tidak lahir dari pariwisata. Ia lahir dari pertapaan sang pencari penyembuhan jiwa. Di Tukad Pangkung, jurang di selatan Goa Gajah, pada 1931 Walter Spies menemukan relief stupa bercabang tiga, arca Dyani Buddha Amitabha abad ke-9, yang usianya lebih tua dari Borobudur. Ya, Ubud memendam peradaban tua, memang.
Jauh sebelum ada villa dan hotel, dan manusia sebumi menyemut ke Ubud, di jurang itu sudah ada biksu yang duduk diam mencari obat bagi penderitaan lahir. Goa Gajah sendiri yang disebut Prasasti Badung 1071 sebagai Antakunjarapadda dan Prasasti Songan Tambahan sebagai Er Gajah adalah apotek spiritual pertama: Hindu dan Buddha hidup berdampingan dalam satu gua, Trilingga dan Ganesha di dalam, stupa di luar.
Sementara tetangganya di Pejeng dengan Nekara Bulan yang dilaporkan Rumphius — tentara VOC yang jadi botanis, sejak 1705 dan Pura Kebo Edan dengan Bhairawa 3,6 meter. Ubud lahir dari keheningan biksu dan keangkeran Bhairawa, dari obat yang pahit, bukan dari welcome drink yang manis, memabukkan, mengguncang libido bawah.
Dan dalam perjalanan sejarah, Ubud lalu menjadi Kepunggawaan paling diperhitungkan bukan karena mistik, tapi karena strategi. Tjokorda Rai Batur 1850-1880 memenangkan perang melawan Gianyar. Sang anak Tjokorda Gde Sukawati 1880-1917 menguasai 130 desa dengan 18.000 pengikut, lebih berkuasa dari Raja Gianyar sendiri.
Ketika Belanda memaksa semua raja mengakui Ratu Belanda, Ubud tidak memilih perang, alih-alih perang puputan, ia justru mengajukan diri menjadi protektorat pada 1900. Tahun 1901 Gianyar resmi jadi protektorat Belanda, sementara kerajaan lain dihancurkan dalam Puputan Badung 1906 dan Klungkung 1908, Ubud tetap utuh dalam kilau keningratan, tak hendak memilih strategi fatalistik. Entah ini politik atau kepengecutan, kita tidak bisa membaca suasana zaman.
Tjokorda Gde Agung Sukawati 1917-1978 melanjutkan visi itu: membuka Ubud pada dunia bukan untuk dijajah, tapi untuk diajak berdialog. Puri Agung Ubud menjadi poros kekuasaan kultural yang mampu memanggil dunia tanpa kehilangan tuahnya sebagai ubad. Perlahan Ubud jadi desa satelit, dusun indah paling dicari pelancong dunia.
Di bawah naungan puri itulah orang asing pertama datang, bukan sebagai turis tapi sebagai pasien yang mencari obat. Walter Spies 1927, Rudolf Bonnet 1929, diundang Tjokorda Gde Raka Sukawati untuk tinggal di Campuhan karena mereka sakit oleh hingar-bingar modernitas Eropa. Sebelum mereka, Ubud sudah punya I Made Geria, I Wayan Togog, Ida Bagus Kembeng, Lempad.
Spies tidak mengajar melukis, ia mengajar melihat bahwa obat ada di sekitar: petani mencangkul, perempuan membawa canang, suara gamelan saat odalan yang syahdu. Lalu di tahun 1930-an turis Eropa memborong karya Bali, seniman memproduksi picisan massal, mutunya pun jatuh. Tanda-tanda senja kebudayaan harus diempang.

Maka 29 Januari 1936, empat orang berkumpul: Tjokorda Gde Agung Sukawati, Lempad, Spies, Bonnet mendirikan Pita Maha, grand ancestor. Tujuannya keras: menjaga mutu, melawan produksi massal, seleksi ketat. Anggota sampai 150 dari Nyuhkuning, Padang Tegal, Pengosekan. Dari sana lahir gaya Ubud, Batuan, Sanur.
Kala itu, Pita Maha adalah resep paling manjur: menjaga kemurnian Ubud dari pengenceran pasar. Setelah itu diaspora meledak, Arie Smit 1961 melahirkan Young Artist Penestanan, Blanco, Meier. Tapi sejak 1980-an resep itu dilanggar. Jika dulu karya diseleksi untuk mutu, sekarang karya diproduksi untuk pasar.
Pelukis tidak lagi melukis sawah sebagai pemadangan yang indah dilihat, tapi sawah yang hendak dibeli para turis dan pemodal. Pemahat di Mas tidak mengukir Cerita Tantri, tapi Barong yang menengteng koper. Sawah jadi view, bukan sumber pangan. Ubad lalu berubah menjadi toksik yang manis, pelan-pelan menjadi semacam ”diabet kebudayaan”.
Kita menjual ”ubad” sebagai souvenir, tapi tidak lagi menanam benihnya. Kita mengeksplorasi sumber daya alam, abai mencangkul-cangkul daya budi manusia. Kita pasang AC 16 derajat di setiap kamar, kita minta penari menari di ruangan dingin agar turis yang mencari tropis bisa merasakan winter yang mereka tinggalkan. Kita berhasil. Ubud jadi winter, dan winter tidak pernah menyembuhkan, ia cuma membekukan luka.
Maka Putrayasa datang dengan es balok untuk mengingatkan kita telah kehilangan yang rahasia di Ubud. Seniman kelahiran Banjar Tandeg Tibubeneng 15 Mei 1981 ini seperti tengah mempertanyakan spirit desa penuh tuah ini. Ia yang lahir di Pesisir Canggu, pasti amat mencitai Ubud. Ia berharap kebekuan segera mencair.
Dan UW10C 2021 itu menjadi semacan gugatan progresif. Pertanyaan dingin dilekatkan pada ratusan citakan yang belum dibakar, yang seharusnya menjadi bata malah beku dalam balok-balok es. Kita mengalami semacam solidifikasi kebudayaan, kemandegan kreatif yang cuma dijaga dengan jalan upacara. Ini adalah pengawetan, yang menggiring kita jadi mumi berjalan.
Sampai di sini, bener kata Ardono; kebudayaan yang cuma diproduksi ulang untuk dijual, akan jadi picisan. Dan bila kebudayaan hanya dirayakan, tanpa memikirkan kembali ia akan bergegas menuju museum.
Sampai di sini, ”Ubud is Winter” lalu menjadi sejenis esai penggugat, bahwa semanis-manis kemakmuran, bila tidak dikelola dengan baik kerap melahirkan hamba-hamba pemburu cuan semata, daya budi pun melorot ke bawah pusar. Dengan demikian semua problem kebudayaan tak cukup dijawab hanya dengan ritus. Pun semua patologi sosial tak juga cukup dijawab dengan pikiran-pikiran rasional. Menyalakan daya budi pendukung kebudayaan itu boleh jadi agenda paling mendesak, berharap jiwa-jiwa tidak jadi kerontang dalam kelimpahan. Jiwa-jiwa tidak layu dalam ujian hidup.

Di samping mengkritisi agenda-agenda ideal bagi pemajuan kebudayaan, Ubud is Winter 10 Degree Celcius, seperti menggugah supaya kebekuan cepat mencair. Kita tidak boleh terjebak dalam tradisionalisme sempit. Tradisi yang beku, yang cuma dihafal, diulang biar terlihat sakral, tanpa berani mempertanyakan. Tugas tradisi adalah mengalirkan, seperti juga sungai kebudayaan mengalirkan roh kebudayaan. Karena setiap kreator pasti mengalirkan tradisi tersendiri. Itulah pesan dari Ubud is Winter 10 Degree Celcius. [T]






























