TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri bumbu, lalu dimasukkan ke dalam kemasan. Pesanan senilai Rp50.000 itu harus segera diantar. Anak lelakinya bertugas mengirim makanan kepada pelanggan, sementara Sukerti menyiapkan pesanan berikutnya.
Di sela kesibukannya, ia masih sempat menceritakan bagaimana usahanya berkembang sejak internet menjangkau Dusun Sembung, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Pelanggannya kini tidak hanya orang-orang yang tinggal di sekitar rumah. Pesanan juga datang dari warga Desa Tembok yang tinggal cukup jauh dari dusunnya.
“Ada saja yang order. Kalau tidak ada internet ya tidak bisa. Anak saya yang upload-upload,” ujarnya saat ditemui pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Warung Sukerti berjarak sekitar 20 meter dari balai masyarakat Dusun Sembung. Di dekat bangunan itulah sebuah menara internet berbahan bambu berdiri. Sejak jaringan tersedia, ia bisa memasarkan dagangannya melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Ketika pesanan ramai, tiga hingga empat kilogram daging untuk sate dapat habis terjual dalam sehari.
“Nah, sejak ada wifi kami jualan,” katanya.

Bagi Sukerti, internet bukan lagi sesuatu yang hanya digunakan untuk mencari informasi atau berkomunikasi saja. Jaringan itu telah menjadi bagian dari kegiatan usahanya. Foto makanan yang diunggah anaknya dapat menjangkau calon pembeli yang sebelumnya tidak mengenal warung mereka. Pesanan masuk melalui telepon, lalu berubah menjadi pekerjaan di dapur dan pemasukan bagi keluarga.
Perubahan itu bermula dari persoalan yang cukup lama dihadapi warga Sembung, yakni sulitnya memperoleh akses internet. Sebelum menara bambu dibangun, warga yang ingin mendapatkan jaringan harus menempuh perjalanan hampir dua kilometer menuju kantor desa. Jarak tersebut menyulitkan pelajar yang membutuhkan internet untuk mengerjakan tugas, juga warga yang ingin mengakses informasi dan menjalankan usaha.
Sembung merupakan salah satu dusun yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan Desa Tembok. Sebagian warganya bekerja sebagai petani dan buruh dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Membeli kuota internet secara rutin bukan kebutuhan yang selalu mudah dipenuhi. Di tengah keterbatasan itu, kehadiran menara internet menjadi upaya desa untuk memperluas akses informasi sekaligus membuka peluang ekonomi warga.
Kerja Kolaborasi
Menara internet di Dusun Sembung dibangun pada 2022 melalui kerja sama Pemerintah Desa Tembok, Pemerintah Kabupaten Buleleng, Common Room Networks Foundation, dan Pemerintah Inggris. Pembangunannya juga melibatkan dukungan keahlian teknis serta tenaga masyarakat setempat. Alih-alih menggunakan struktur besi atau baja yang membutuhkan biaya lebih besar, menara tersebut memanfaatkan bambu petung yang tersedia di lingkungan desa.
Menara setinggi sekitar 15 meter itu dirancang untuk menangkap dan menyebarkan sinyal internet dari jaringan di Kantor Kepala Desa Tembok. Sinyal diteruskan ke perangkat radio di menara, kemudian dibagikan kepada warga di sekitarnya. Kapasitas jaringan yang disalurkan ke lokasi tersebut sekitar 20 Mbps, dengan jangkauan yang diperkirakan mencapai radius 20 kilometer.
Pemilihan bambu bukan semata-mata karena bahan itu mudah ditemukan. Bambu petung dikenal kuat, tetapi tetap memerlukan pemilihan bahan, teknik perakitan, dan perawatan yang tepat. Bambu yang terlalu muda atau terlalu tua berisiko mengalami keretakan. Karena itu, perajin memilih batang dengan tingkat kematangan yang sesuai dan membatasi jumlah lubang pada bagian yang digunakan untuk penguncian agar serat bambu tidak mudah rusak.
Komang Ratnata, perajin bambu lokal yang terlibat dalam pembuatan menara, memahami betul karakter bahan tersebut. Bambu memang rentan terhadap panas matahari dan hujan. Namun, menurutnya, pengawetan serta perawatan berkala dapat memperpanjang usia pakainya.
“Kalau zaman dulu orang-orang tua pakai urin sapi. Itu bisa sangat awet,” ujarnya.

Ia juga mengenal cara perawatan menggunakan bahan yang mudah diperoleh, seperti minyak tanah, oli bekas, atau kapur barus. Dengan pemeliharaan yang benar, menara bambu diperkirakan dapat bertahan tujuh hingga sepuluh tahun, bahkan lebih lama apabila dirawat secara berkala.
Pengetahuan yang dimiliki perajin lokal menjadi bagian penting dari pembangunan tersebut. Bambu tidak hanya dipakai sebagai bahan konstruksi, tetapi juga menghadirkan kesempatan bagi warga untuk terlibat langsung dalam penyediaan infrastruktur yang mereka butuhkan. Pengerjaan bersama masyarakat turut membantu menekan biaya pembangunan.
Dalam laporan mengenai proyek ini, biaya awal pembangunan menara diperkirakan sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan biaya pembangunan menara konvensional berbahan besi atau baja yang dapat mencapai ratusan juta rupiah. Sementara itu, Pemerintah Desa Tembok menanggung biaya langganan internet dengan anggaran maksimal sekitar Rp15 juta per tahun.
Kolaborasi tersebut membuat pembangunan jaringan tidak sepenuhnya bergantung pada penyediaan infrastruktur dari luar desa. Pemerintah desa berperan dalam penganggaran dan pengelolaan layanan, organisasi pendamping membantu pengembangan jaringan internet berbasis komunitas, sementara warga menyumbangkan tenaga dan pengetahuan lokal.
Pada 2022, Desa Tembok terpilih menjadi lokasi penyelenggaraan Rural ICT Camp, sebuah kegiatan pengembangan akses internet berbasis komunitas di wilayah perdesaan. Menara bambu Sembung menjadi salah satu contoh pemanfaatan bahan lokal untuk menjawab persoalan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau jaringan komersial.
Namun, bagi warga, manfaat menara itu tidak berhenti pada pengakuan sebagai proyek percontohan. Perubahan paling terasa justru terjadi dalam kegiatan sehari-hari. Pelajar dapat mengerjakan tugas tanpa terlalu khawatir menghabiskan kuota, warga lebih mudah mencari informasi, dan pedagang seperti Sukerti bisa menerima pesanan dari pelanggan yang lebih jauh.
Menjawab Kebutuhan Warga
Budiarka, 53 tahun, masih mengingat suasana ketika jaringan internet mulai tersedia di balai masyarakat. Tempat itu perlahan menjadi ruang berkumpul bagi warga yang ingin terhubung dengan dunia di luar dusun mereka.
“Banyak sekali yang datang ke sini. Pelajar, masyarakat, semua memanfaatkan ini,” tuturnya.
Budiarka sendiri pernah menggunakan jaringan tersebut ketika kuota di telepon genggamnya habis. Dari balai masyarakat, ia melihat berbagai aktivitas berlangsung bersamaan. Pelajar membuka materi pelajaran dan menyelesaikan tugas sekolah, sedangkan warga lain menggunakan telepon untuk mencari informasi atau menikmati hiburan.
Pada akhir pekan, warga sudah datang sejak pukul enam pagi. Sebagian bertahan hingga malam, bahkan sampai sekitar pukul sebelas. Mereka datang bukan untuk mengikuti rapat atau kegiatan adat, tetapi untuk menggunakan internet yang tersedia di dekat tempat tinggal mereka.
Kehadiran jaringan gratis sangat berarti ketika pembelajaran daring masih berlangsung selama pandemi Covid-19. Bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan cermat, kebutuhan membeli kuota tambahan menjadi beban tersendiri.
“Kalau mandiri, kuotanya banyak terpakai. Kalau pakai wifi kan bisa tenang,” kata Budiarka.
Akses internet membuat pelajar dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa harus terus-menerus mengandalkan kuota pribadi. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli paket data dapat dialihkan untuk kebutuhan lain. Pada saat bersamaan, meningkatnya aktivitas di sekitar balai masyarakat turut membawa pembeli ke warung-warung setempat.

Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan, mengatakan bahwa Sembung merupakan salah satu dusun yang paling jauh dari pusat pemerintahan desa. Keterbatasan akses internet selama ini membatasi kesempatan warga untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan usaha.
“Banjar (dusun) ini adalah titik terjauh dari Desa Tembok. Dengan adanya layanan internet ini, masyarakat dapat lebih berkembang. Baik pengetahuan secara luas atau berbisnis untuk meningkatkan perekonomian mereka,” ujarnya.
Sukerti menjadi salah satu contoh perubahan tersebut. Usaha sate yang sebelumnya mengandalkan pembeli di sekitar rumah kini memperoleh pelanggan melalui media digital. Anak lelakinya membantu mengunggah foto makanan dan merespons pesanan, sementara ia tetap mengerjakan hal yang paling dikuasainya: menyiapkan makanan untuk dijual.
Hubungan antara akses internet dan kegiatan ekonomi juga terlihat dari kebiasaan warga yang datang ke balai masyarakat. Semakin banyak orang menggunakan jaringan, semakin besar pula kesempatan bagi warung di sekitarnya untuk memperoleh pembeli. Internet memberi jalan bagi usaha rumahan untuk memperkenalkan produknya, sedangkan aktivitas warga mendatangkan peluang transaksi di lingkungan dusun.
Meski demikian, pemanfaatan internet untuk usaha belum dilakukan oleh semua warga. Pemerintah desa masih perlu mendorong masyarakat agar tidak berhenti sebagai pengguna, tetapi juga mampu memakai jaringan untuk meningkatkan produktivitas. Akses yang tersedia menjadi modal awal; kemampuan menggunakannya untuk pendidikan, pemasaran, dan kebutuhan sehari-hari menentukan manfaat yang dapat diperoleh.
Aturan-Aturan dari Desa
Menyediakan jaringan internet gratis juga memerlukan aturan. Pemerintah Desa Tembok membatasi akses ke sejumlah media sosial dan situs yang dinilai berpotensi mengganggu tujuan layanan. Jaringan tersebut diprioritaskan untuk pendidikan, kegiatan usaha, pencarian informasi kesehatan, dan keperluan administrasi kependudukan.
Menurut Dewa Willy, pembatasan itu diterapkan agar fasilitas yang disediakan desa tidak disalahgunakan. Pemerintah desa ingin memastikan bahwa jaringan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan yang selama ini terhambat oleh keterbatasan akses.
Pengelolaan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak selesai ketika menara berdiri dan sinyal mulai menyebar. Desa juga perlu memikirkan bagaimana jaringan digunakan, siapa yang mendapat manfaat, dan bagaimana biaya operasionalnya dapat terus ditanggung.
Tantangan itu terlihat ketika menara bambu Sembung mengalami kerusakan akibat angin kencang beberapa minggu sebelum wawancara dilakukan. Tiang penyangga terlepas dan perangkat radio mengalami kerusakan sehingga jaringan utama tidak dapat berfungsi seperti biasa.
“Tiang penyangganya lepas sehingga perangkat radionya rusak,” kata Dewa Willy.
Pemerintah desa telah memesan perangkat pengganti. Sambil menunggu kedatangannya, jaringan internet gratis dari program tanggung jawab sosial perusahaan swasta di sekitar lokasi dipasang sebagai pengganti sementara. Dengan begitu, warga tetap dapat mengakses informasi secara daring dan kegiatan di balai masyarakat tidak sepenuhnya terhenti.
“Sudah terpasang sejak dua minggu lalu, sehingga masyarakat kami di Dusun Sembung tetap dapat mengakses informasi yang disebar secara online,” ujarnya.

Peristiwa itu memperlihatkan bahwa akses digital membutuhkan pemeliharaan dan kesiapan menghadapi gangguan. Menara bambu, perangkat radio, dan jaringan internet merupakan bagian dari sistem yang harus dijaga agar manfaatnya tidak terputus ketika salah satu komponen mengalami masalah.
Bagi Desa Tembok, pengalaman di Sembung juga memberi pelajaran mengenai pemanfaatan sumber daya lokal. Bambu petung dapat menjadi bahan untuk membangun menara, perajin setempat memiliki pengetahuan untuk mengolah dan merawatnya, sedangkan gotong royong membantu pelaksanaan pembangunan. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan organisasi pendamping melengkapi kemampuan desa dalam menyediakan layanan yang sebelumnya sulit dijangkau warga.
Dampaknya terlihat pada kegiatan yang berlangsung setiap hari. Pelajar mendapat akses untuk belajar, warga lebih mudah memperoleh informasi, dan pedagang rumahan dapat memperluas pemasaran. Infrastruktur yang dibangun di sebuah dusun terpencil itu membuka kemungkinan baru bagi masyarakat yang sebelumnya harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk mendapatkan sinyal.
Sukerti mungkin tidak memikirkan spesifikasi jaringan ketika membolak-balik sate di atas bara. Baginya, yang penting pesanan masuk dan pembeli dapat dijangkau. Namun, kesempatan yang kini ia peroleh berkaitan langsung dengan keputusan desa menghadirkan internet di dekat rumahnya.
Menara bambu itu pernah mengalami kerusakan dan kini menunggu perbaikan perangkat. Sementara itu, warga tetap berharap jaringan utamanya kembali berfungsi. Mereka telah merasakan bagaimana akses internet memengaruhi kegiatan belajar, komunikasi, dan usaha sehari-hari.
Dari Dusun Sembung, Desa Tembok memperlihatkan bahwa upaya mengurangi kesenjangan digital dapat dimulai dengan mengenali kebutuhan warga dan memanfaatkan kemampuan yang tersedia di desa. Bambu yang tumbuh di lingkungan setempat, keterampilan perajin, dukungan pemerintah, serta partisipasi masyarakat berpadu untuk menghadirkan akses yang sebelumnya sulit diperoleh.
Bagi Sukerti, hasilnya dapat dihitung dari pesanan sate yang datang melalui WhatsApp. Bagi pelajar, manfaatnya terasa ketika tugas sekolah dapat dikerjakan tanpa harus menghabiskan banyak uang untuk membeli kuota. Bagi desa, menara itu menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan warga agar tidak tertinggal hanya karena tempat tinggal mereka jauh dari pusat pemerintahan.
Di Sembung, jaringan internet bukan sekadar urusan perangkat dan sinyal. Ia telah masuk ke dapur rumah tangga, kegiatan belajar, dan usaha warga. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar layanan tersebut tetap tersedia dan semakin banyak dimanfaatkan untuk memperkuat kehidupan masyarakat desa.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.









![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)



















