29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

Jaswanto by Jaswanto
October 29, 2026
in Liputan Khusus
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Lanskap Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, diambil dari Bukit Yangudi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan arah pengembangan pariwisata Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les sekaligus pelaku usaha pariwisata dan UMKM, ia ingin warga mendapatkan tempat yang lebih besar dalam perkembangan pariwisata di kampung halamannya. “Mereka juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha, memasarkan produk, dan mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata,” tuturnya.

Don Rare kembali dari tanah rantau ke Desa Les pada 2016 dengan membawa pengetahuan tentang pariwisata. Kepulangannya membuat ia melihat kembali kampung halaman dengan cara yang berbeda. Desa yang membentang dari pesisir hingga perbukitan itu menyimpan beragam potensi, dari air terjun, terumbu karang, tradisi, kesenian, kuliner, hingga produk yang dihasilkan masyarakat. Baginya, semua itu bisa dikembangkan menjadi pengalaman wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.

Ia tumbuh sebagai anak petani garam. Garam menjadi produk yang dekat dengan pengalaman hidupnya, sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Les. Ia mulai memperkenalkan garam lokal kepada teman-temannya yang menjalankan usaha kuliner. Dari lingkaran pertemanan itu, ia berusaha mempertemukan produk warga dengan calon pembeli di luar desa.

Lanskap Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, diambil dari Bukit Yangudi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Gagasan tersebut sejalan dengan pekerjaan yang tengah dilakukan pemerintah desa. Bagi Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, pengembangan pariwisata harus memberi manfaat kepada masyarakat secara lebih luas. Penghargaan nasional yang telah diraih desa menjadi dorongan untuk memperbaiki pengelolaan, memperkuat promosi, dan mengembangkan potensi lokal.

“Perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya perhatian dan kepercayaan masyarakat terhadap potensi pariwisata Desa Les. Penghargaan ADWI menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi, memperkuat promosi, serta mengembangkan potensi alam dan budaya yang kami miliki,” ujar Adi Wistara.

Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diterima Desa Les menjadi pengakuan atas perjalanan pengembangan pariwisata yang melibatkan pemerintah desa, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan masyarakat. Desa ini bersaing dengan 6.016 desa wisata dari berbagai wilayah di Indonesia.

Namun, bagi Adi Wistara, penghargaan tersebut membawa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dimulai. Perhatian terhadap Desa Les perlu diikuti peningkatan kualitas destinasi, keterlibatan masyarakat, dan kesempatan usaha yang lebih luas bagi warga.

“Kami juga semakin menyadari bahwa pariwisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana potensi desa dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, kami terus mendorong pengelolaan pariwisata yang berbasis masyarakat, berkelanjutan, dan tetap menjaga identitas lokal Desa Les,” katanya.

Pernyataan itu menempatkan pengembangan desa wisata dalam urusan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Ada petani garam yang membutuhkan pasar, pelaku kuliner yang dapat melayani pengunjung, perajin yang ingin memperkenalkan karyanya, dan generasi muda yang bisa mengambil bagian dalam promosi maupun pengelolaan wisata. Pekerjaan pemerintah desa adalah membuka ruang agar berbagai kelompok tersebut bisa terlibat.

Dari Laut hingga Perbukitan

Desa Les memiliki bentang alam nyegara-gunung, istilah yang menggambarkan pertemuan kawasan laut dan pegunungan. Karakter geografis ini memungkinkan desa mengembangkan beragam pengalaman wisata, dari menjelajahi perbukitan hingga menikmati kehidupan bawah laut.

Salah satu daya tarik alamnya adalah Air Terjun Yeh Mampeh, yang memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Desa ini juga mempunyai jalur tracking Bukit Yangudi dan Yeh Anakan, lokasi yang dimanfaatkan untuk kegiatan melukat dengan sumber air alami. Masing-masing menawarkan pengalaman berbeda: perjalanan menyusuri alam, menikmati air terjun, atau mengunjungi tempat yang memiliki fungsi spiritual bagi masyarakat.

Di pesisir, garis pantai Desa Les membentang lebih dari tiga kilometer. Kawasan ini memiliki potensi terumbu karang yang menjadi bagian dari pengembangan wisata bahari, termasuk melalui kegiatan transplantasi karang. Kekayaan bawah laut tersebut melengkapi daya tarik daratan sekaligus menuntut perhatian terhadap kelestarian ekosistem laut.

“Desa Wisata Les merupakan wilayah nyegara gunung (laut dan gunung). Jadi, sudah barang tentu memiliki alam perbukitan dan pantai yang bagus. Terumbu karang dan air terjun merupakan unggulan daya tarik wisata kami,” ujar Don Rare saat mempresentasikan potensi Desa Les dalam rangkaian penilaian ADWI pada Agustus 2024.

Saat itu, Desa Les telah masuk 50 besar dan menerima kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, bersama sejumlah pejabat. Di hadapan para tamu, Don Rare memaparkan potensi desa yang menurutnya dapat dikembangkan dari daratan sampai lautan.

“Desa Les memiliki banyak potensi, dari mulai daratan sampai lautan. Kami memiliki garis pantai yang panjang. Dan tanah subur untuk perkebunan. Pemandangan alam di Desa Les tak perlu diragukan. Di bawah laut, di perbukitan, semua bisa dikelola. Belum lagi seni dan budayanya,” katanya.

Potensi alam tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik agar bisa dinikmati pengunjung. Jalur wisata perlu dirawat, informasi harus tersedia, dan layanan mesti dipersiapkan. Di laut, kegiatan wisata bahari juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan terumbu karang dan kebersihan pesisir.

Potret Pesisir Les dan sekitarnya, jalur dagang kuno di Bali Utara, diambil dari Bukit Yangudi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Adi Wistara menjelaskan bahwa pemerintah desa berupaya melibatkan warga sejak tahap perencanaan. Musyawarah desa menjadi salah satu ruang untuk membicarakan kebutuhan dan arah pengembangan, disertai koordinasi dengan kelompok pengelola wisata, pelaku UMKM, tokoh adat, pemuda, dan unsur masyarakat lainnya.

“Dalam perencanaan, kami mendorong agar program pengembangan pariwisata memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Masyarakat juga diharapkan terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan, pemeliharaan fasilitas, pengembangan atraksi wisata, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Pelibatan itu penting karena pengelolaan destinasi berlangsung jauh melampaui urusan promosi. Warga ikut menentukan bagaimana fasilitas dirawat, bagaimana pengunjung dilayani, dan bagaimana potensi desa diperkenalkan. Pemerintah desa perlu menghubungkan berbagai pihak agar kegiatan tersebut berjalan searah.

Wisatawan, misalnya, dapat mengenal kehidupan masyarakat pesisir melalui kegiatan memancing ikan tuna bersama warga setempat. Pengalaman semacam ini memungkinkan pengunjung berinteraksi lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Pelaksanaannya tentu perlu memperhatikan keselamatan dan keberlanjutan sumber daya laut.

Di daratan, pohon lontar yang tumbuh di lereng dan punggung bukit juga memiliki nilai ekonomi. Tanaman ini dimanfaatkan untuk menghasilkan gula, tuak, dan arak. Pengetahuan tentang pengolahan lontar memperlihatkan bagaimana lingkungan sekitar menjadi bagian dari mata pencaharian dan keterampilan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehidupan Desa Les juga dibentuk oleh sejarah dan kebudayaan Bali Mula. Dalam artikel Jaswanto di tatkala.co pada 2024, disebutkan adanya arca yang tersimpan di Pura Puseh, Banjar Dinas Panjingan. Berdasarkan penuturan yang dicatat dalam tulisan tersebut, arca itu konon dibuat dari bahan yang berasal dari lingkungan sekitar desa.

Warisan budaya juga terlihat dalam keterampilan yang berkembang di masyarakat. Pembuatan wayang, pengolahan logam menjadi perhiasan perak dan emas, anyaman, serta ukiran menjadi bagian dari kehidupan seni Desa Les. Pengembangan wisata dapat membuka kesempatan bagi seniman dan perajin untuk memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung sekaligus memperluas pemasaran produk.

Bagi pemerintah desa, potensi-potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang membuka kesempatan bagi masyarakat. Air terjun dan kawasan alam dapat dikembangkan sebagai tujuan kunjungan, sementara kehidupan masyarakat dan tradisi petani garam bisa diperkenalkan melalui wisata edukasi.

Adi Wistara mengatakan bahwa pemberdayaan diarahkan pada peningkatan keterampilan, pengembangan usaha lokal, dan pemanfaatan potensi desa. Program yang menjadi perhatian meliputi peningkatan kapasitas pengelola wisata, pengembangan produk UMKM, promosi produk lokal, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan pelestarian lingkungan.

Melalui pengembangan itu, pemerintah desa berharap masyarakat memperoleh peluang usaha baru dan peningkatan pendapatan secara berkelanjutan.

Produk Lokal dan Pasarnya

Di antara produk yang tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir, garam tradisional menempati tempat tersendiri. Garam Palungan disebut telah diproduksi sejak zaman dahulu dan dikenal hingga pasar internasional. Proses pembuatannya menyimpan pengetahuan lokal yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan melalui kegiatan wisata edukasi.

Akan tetapi, keberadaan produk tradisional tidak otomatis menjamin kesejahteraan produsennya. Kisah petani garam Desa Les yang ditulis di tatkala.co pada Agustus 2025 memperlihatkan sisi lain pekerjaan tersebut. Di balik tradisi yang bertahan, ada persoalan ekonomi dan tantangan usaha yang perlu dihadapi para produsen.

Don Rare berusaha menjembatani persoalan itu dengan memperkenalkan produk lokal kepada jaringan yang lebih luas. Ia memulainya dari lingkungan pertemanan, termasuk kenalan yang menjalankan usaha kuliner. Ia juga berupaya membawa produk UMKM ke dalam pergaulannya dengan pelaku pariwisata dan wisatawan.

Ketika seseorang membeli garam tradisional, ia berkesempatan mengenal kehidupan masyarakat pesisir dan pengetahuan pengolahan yang diwariskan selama bertahun-tahun. Hubungan antara produk dan pengalaman wisata itu dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan hasil usaha warga lainnya.

Ladang garam di pinggir Pantai Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Desa Les memiliki makanan lokal seperti jukut blook dan mengguh, serta olahan ikan laut yang dapat ditemukan di Warung Bali Mula. Hasil olahan lontar dan kerajinan juga berpotensi dipasarkan kepada pengunjung. Kehadiran produk-produk tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha makanan, perajin, dan pengolah hasil lokal untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata.

Persoalannya, memperkenalkan produk belum tentu sama dengan membangun pasar yang berkelanjutan. Pelaku UMKM membutuhkan jalur penjualan yang bisa diandalkan, bukan hanya pesanan yang datang sesekali. Karena itu, Don Rare membangun komunikasi dengan pengelola homestay, usaha perjalanan, dan pelaku pariwisata lainnya agar produk masyarakat dapat diperkenalkan kepada pengunjung. Ia juga membawa produk UMKM sebagai suvenir untuk diberikan kepada wisatawan.

Cara tersebut mengandalkan perjumpaan langsung. Produk diperkenalkan kepada orang-orang yang berpotensi menjadi pembeli atau menyebarkan informasi kepada calon pembeli lain. Jaringan pariwisata pun dapat menjadi pintu masuk bagi produk desa untuk menjangkau pasar di luar lingkungan asalnya.

Sementara itu, pemerintah desa berupaya membuka kesempatan bagi warga untuk terlibat dalam berbagai mata rantai ekonomi pariwisata. Menurut Adi Wistara, seseorang tidak harus memiliki destinasi wisata untuk mendapatkan manfaat dari sektor ini.

“Masyarakat dapat berperan sebagai pemandu wisata, penyedia kuliner lokal, pengrajin, penjual produk UMKM, penyedia homestay, penyedia jasa transportasi, maupun pelaku kegiatan edukasi wisata. Kami juga mendorong agar produk khas Desa Les, termasuk garam tradisional dan hasil usaha masyarakat, dapat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan,” ujarnya.

Pernyataan itu memperluas gambaran tentang pelaku pariwisata di Desa Les. Warga yang tidak mengelola objek wisata tetap dapat mengambil bagian melalui usaha makanan, jasa, kerajinan, dan produk lokal. Kesempatan tersebut perlu dibarengi akses pemasaran serta dukungan agar usaha dapat bertahan.

Don Rare sedang menerangkan tentang bagaimana proses garam les dihasilkan kepda dua perempuan muda | Foto: Dok. tatkala.co

Adi Wistara menyebut pelatihan pengelolaan wisata, peningkatan pelayanan kepada wisatawan, pengembangan produk UMKM, pengemasan produk, pemasaran digital, dan pendampingan usaha sebagai bentuk dukungan pemberdayaan yang perlu diperkuat.

Pemerintah desa juga dapat memfasilitasi komunikasi dengan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, lembaga keuangan, dan pihak swasta untuk membuka akses pelatihan, bantuan sarana usaha, serta dukungan pemasaran. Untuk bantuan modal atau program pendampingan yang sudah terlaksana, pemerintah desa perlu mengacu pada dokumentasi resmi agar informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.

“Ke depan, kami ingin memperkuat promosi digital Desa Wisata Les agar produk dan jasa yang ditawarkan masyarakat semakin mudah dikenal wisatawan,” katanya.

Pemasaran digital dapat membantu produk menjangkau calon pembeli yang belum pernah datang ke Desa Les. Namun, promosi juga perlu diikuti kesiapan pelaku usaha, mulai dari kualitas produk dan kemasan hingga kemampuan memenuhi pesanan. Dukungan pemasaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing usaha agar peluang yang terbuka bisa dimanfaatkan.

Don Rare melihat keterbatasan tenaga kerja, modal, pola pikir, dan kemampuan pemasaran sebagai persoalan yang dihadapi pelaku UMKM. Karena itu, ia berusaha menghubungkan produk warga dengan jaringan pariwisata yang telah dikenalnya. Upaya tersebut berjalan berdampingan dengan kebutuhan pendampingan dan koordinasi yang lebih luas.

Pariwisata yang Inklusif

Pengembangan desa wisata juga menyangkut siapa saja yang memperoleh kesempatan untuk terlibat. Adi Wistara mengatakan pemerintah desa mendorong pariwisata yang inklusif, dengan membuka ruang bagi pemuda, perempuan, pelaku UMKM, dan kelompok masyarakat lainnya.

Pemuda dapat mengambil peran dalam promosi digital, pembuatan konten wisata, pemanduan, dan pengembangan atraksi. Perempuan dapat mengembangkan usaha kuliner, kerajinan, pengolahan hasil lokal, serta usaha keluarga. Pelaku UMKM didorong menyediakan produk yang dapat dipasarkan kepada wisatawan.

“Kami juga memandang penting adanya kerja sama antara pengelola destinasi, pelaku usaha, kelompok masyarakat, dan pemerintah desa. Dengan demikian, manfaat pariwisata tidak hanya terpusat pada satu lokasi atau kelompok, tetapi dapat menjangkau lebih banyak warga Desa Les,” ujarnya.

Pemerataan manfaat itu membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak perencanaan hingga pelaksanaan. Musyawarah dan koordinasi dapat menjadi tempat menyampaikan kebutuhan, membicarakan program, serta menentukan bentuk partisipasi yang sesuai dengan kemampuan warga.

Bagi Don Rare, pendekatan pariwisata berbasis masyarakat juga berarti memberi kesempatan kepada warga untuk mengenalkan produk dan pengetahuan yang mereka miliki. Ia ingin pengunjung mengenal Desa Les melalui pengalaman yang berhubungan dengan kehidupan setempat, mulai dari menikmati alam hingga membeli produk hasil usaha masyarakat.

Tradisi dan kesenian menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Di Desa Les, keterampilan membuat wayang, mengolah logam menjadi perhiasan, menganyam, dan mengukir memperlihatkan kemampuan seni yang berkembang di tengah masyarakat.

Tradisi juga memperoleh ruang melalui kegiatan bersama. Salah satunya Les Fest Ngembak Geni, festival rakyat yang digelar setelah Hari Raya Nyepi dan disebut sebagai program tahunan desa. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk merayakan tradisi sekaligus memperkenalkan kehidupan budaya Desa Les kepada pengunjung.

Meski demikian, pengembangan budaya sebagai bagian dari wisata membutuhkan kehati-hatian. Tidak semua kegiatan adat dapat diperlakukan sebagai atraksi yang bebas diakses. Ada aturan, nilai, dan batas-batas yang perlu dihormati ketika wisatawan berinteraksi dengan kehidupan sosial masyarakat.

Ladang garam di pinggir Pantai Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Adi Wistara menegaskan bahwa tradisi lokal perlu diperkenalkan dengan tetap menghormati masyarakat sebagai pemiliknya. Pengembangan wisata harus memperhatikan adat istiadat, norma masyarakat, dan aturan yang berlaku.

Prinsip tersebut penting agar kegiatan pariwisata tidak mengubah praktik budaya hanya demi memenuhi keinginan pengunjung. Pemerintah desa, pengelola wisata, tokoh adat, dan masyarakat perlu berkoordinasi untuk menentukan kegiatan yang dapat diperkenalkan serta cara penyajiannya.

Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dalam promosi dan pengelolaan dapat membantu memperluas pengetahuan tentang potensi desa. Mereka dapat mempelajari sejarah lokal, mengenali produk masyarakat, dan mengembangkan cara baru untuk memperkenalkannya kepada pengunjung.

Dengan dukungan yang sesuai, kegiatan tersebut berpotensi menghubungkan pengetahuan lokal dengan kebutuhan pengelolaan wisata. Kesempatan berusaha pun dapat tumbuh dari beragam bidang, tidak hanya dari pengelolaan destinasi utama.

Iktiar Menjaga Alam

Pengembangan pariwisata Desa Les berhadapan langsung dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Pesisir, terumbu karang, air terjun, dan perbukitan merupakan bagian dari daya tarik desa. Ketika kunjungan wisata berkembang, kebersihan kawasan dan perlindungan sumber daya alam perlu mendapat perhatian yang sama besar dengan peningkatan layanan.

Artikel tentang potensi Desa Les yang terbit pada Agustus 2024 menyebutkan bahwa desa sedang berupaya mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan mendaur ulang sampah anorganik menjadi biji-biji plastik untuk diproses kembali. Upaya tersebut menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pekerjaan pengembangan desa, meskipun pelaksanaannya membutuhkan konsistensi dan dukungan masyarakat.

Desa Les juga memiliki usaha peternakan madu kele, yakni madu yang dihasilkan lebah jenis Trigona, yang dikenal sebagai lebah tanpa sengat. Usaha ini menambah ragam produk lokal sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkaitan dengan lingkungan.

Bagi Adi Wistara, lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat merupakan aset utama Desa Wisata Les yang harus dijaga. Seusai kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Agustus 2024, ia menyampaikan, “Pemerintah desa dan adat berkomitmen untuk menjaga desa kami agar terhindar dari pembangunan yang merusak alam.”

Ia kembali menegaskan pentingnya prinsip tersebut ketika menjelaskan arah pengembangan desa wisata. “Pengembangan pariwisata tidak boleh mengorbankan kelestarian alam maupun nilai-nilai yang telah diwariskan oleh leluhur,” ujarnya.

Pesona Air Terjun Yeh Mampeh Desa Les | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pemerintah desa mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik, menjaga kebersihan kawasan wisata, melindungi sumber air dan kawasan alam, serta meningkatkan kesadaran wisatawan untuk menghormati lingkungan setempat.

Tantangan itu juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas destinasi. Pembangunan fasilitas pendukung perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Kebersihan kawasan, perlindungan terumbu karang, dan pemeliharaan sumber air membutuhkan perhatian berkelanjutan dari pemerintah desa, pengelola wisata, dan masyarakat.

Adi Wistara mengakui bahwa keterbatasan sarana dan prasarana, kapasitas sumber daya manusia, konsistensi promosi, dan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan. Penghargaan ADWI memberi dorongan bagi desa untuk terus berbenah, tetapi kualitas pengelolaan harus dijaga setelah ajang tersebut selesai.

“Karena itu, kami tidak ingin berhenti pada pencapaian penghargaan. Kami ingin menjadikan ADWI sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat kelembagaan pengelola, dan membangun pariwisata yang mandiri serta berkelanjutan,” katanya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberlanjutan membutuhkan pekerjaan yang berlangsung setiap hari. Pemerintah desa perlu menjaga koordinasi, meningkatkan kemampuan pengelola, dan memastikan program yang dirancang berjalan sesuai kebutuhan. Masyarakat juga perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam pemeliharaan fasilitas, kebersihan kawasan, dan perlindungan lingkungan.

Dalam pengembangan pariwisata, kelestarian alam berkaitan langsung dengan kehidupan warga. Laut menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, kawasan perbukitan mendukung kegiatan pertanian dan perkebunan, sementara sumber air memiliki fungsi bagi kehidupan sehari-hari dan kegiatan spiritual. Pengelolaan destinasi perlu memperhitungkan hubungan-hubungan tersebut.

Setelah Penghargaan ADWI 2024

Perjalanan Desa Les menuju ADWI 2024 berlangsung melalui serangkaian tahapan. Pada Agustus 2024, desa ini masuk 50 besar dari 6.016 desa wisata yang mengikuti ajang tersebut. Kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ketika itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi desa secara langsung. Don Rare mempresentasikan daya tarik alam, budaya, dan produk lokal, sementara pemerintah desa dan masyarakat ikut menyambut kunjungan tersebut.

Penilaian ADWI tidak hanya memperhitungkan daya tarik destinasi. Aspek yang dinilai juga meliputi amenitas, digitalisasi, kelembagaan dan sumber daya manusia, serta resiliensi atau pengelolaan berkelanjutan yang memperhatikan lingkungan. Sebuah desa wisata perlu menjaga daya tarik, menyediakan layanan, membangun kapasitas pengelola, dan memastikan kegiatan wisata dapat bertahan dalam jangka panjang.

Pada November 2024, Desa Les diumumkan sebagai penerima penghargaan Desa Wisata Terbaik 2024. Pencapaian itu menjadi pengakuan nasional atas upaya desa mengembangkan potensinya. Setelah perhatian publik beralih, pekerjaan pengelolaan tetap berlangsung.

Salah satu persoalan yang perlu dijawab adalah sejauh mana perkembangan pariwisata memberi dampak ekonomi kepada masyarakat. Adi Wistara mengatakan bahwa pengembangan Desa Wisata Les diharapkan meningkatkan daya tarik kunjungan, memperluas pasar produk lokal, dan membuka peluang pendapatan bagi warga.

Namun, ia berhati-hati ketika ditanya mengenai besaran peningkatan kunjungan, penerimaan desa, atau pendapatan masyarakat. Menurutnya, angka-angka tersebut perlu dihimpun dan dibandingkan dengan data sebelum pengembangan desa wisata.

“Data tersebut perlu dihimpun dari catatan pengelola destinasi, laporan keuangan yang relevan, dan pelaku usaha. Kami tidak ingin menyampaikan angka yang belum terverifikasi karena yang terpenting adalah memastikan bahwa perkembangan pariwisata benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat,” jelasnya.

Sikap tersebut menunjukkan perlunya pencatatan yang lebih teratur dalam pengelolaan desa wisata. Data jumlah kunjungan, keterlibatan UMKM, transaksi produk lokal, dan pendapatan pelaku usaha dapat membantu pemerintah desa mengevaluasi program. Pendapatan desa, penerimaan pengelola destinasi, dan penghasilan pribadi pelaku usaha juga perlu dibedakan karena berasal dari sumber yang berbeda.

Data semacam itu dapat membantu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pertumbuhan pariwisata sudah membuka kesempatan usaha bagi lebih banyak warga, dan bagian mana yang masih membutuhkan dukungan?

Pemerintah desa ingin memperkuat promosi digital, memperluas jejaring pemasaran, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan potensi UMKM, termasuk garam tradisional, kuliner, kerajinan, serta wisata edukasi. Pelibatan pemuda, perempuan, dan kelompok masyarakat lainnya juga menjadi bagian dari rencana pengembangan.

Don Coffee Dimel, kedai sederhana yang dibangun Don Rare sebagai ruang temu dan memasarkan produk UMKM Les | Foto: Don Coffee

Adi Wistara menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai ukuran penting keberhasilan desa wisata. Pemerintah desa dapat memfasilitasi koordinasi dan membuka akses dukungan, tetapi pelaksanaan program membutuhkan kerja bersama dengan pengelola destinasi, pelaku usaha, kelompok masyarakat, dan tokoh adat.

“Target kami adalah menjadikan Desa Wisata Les sebagai destinasi yang semakin berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat,” katanya.

Ia menyebut beberapa arah pengembangan yang ingin didorong, seperti peningkatan kualitas pengelolaan destinasi dan sumber daya manusia, penguatan promosi digital, perluasan jejaring pemasaran, pengembangan produk UMKM, serta keterlibatan pemuda, perempuan, dan kelompok masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif.

“Kami juga ingin memperkuat keterkaitan antara wisata alam, budaya, dan aktivitas masyarakat agar wisatawan memperoleh pengalaman yang autentik sekaligus memberikan manfaat bagi warga,” ujarnya.

Desa Les memiliki beragam modal, dari bentang alam nyegara-gunung, air terjun, terumbu karang, tradisi Bali Mula, kesenian, kuliner, garam tradisional, hasil olahan lontar, dan usaha masyarakat. Pengembangannya membutuhkan hubungan antara daya tarik wisata, layanan yang memadai, produk lokal yang dapat dipasarkan, dan lingkungan yang terjaga.

Don Rare berusaha membangun hubungan tersebut melalui jaringan pariwisata yang dimilikinya. Ia memperkenalkan garam dan produk UMKM kepada calon pembeli, termasuk pelaku usaha kuliner dan pengelola layanan wisata. Sementara itu, pemerintah desa berupaya membuka kesempatan bagi warga untuk mengambil peran melalui usaha, pelatihan, promosi, dan pengembangan atraksi.

Kedua upaya itu bertemu pada kebutuhan yang sama, yaitu memberi masyarakat kesempatan untuk terlibat dalam perkembangan pariwisata. Pemerintah desa memfasilitasi koordinasi dan merancang arah pengembangan, sedangkan pelaku usaha menghubungkan produk dan pengetahuan lokal dengan pasar yang lebih luas.

Bagi Adi Wistara, keberhasilan Desa Wisata Les perlu terlihat dari perubahan yang dirasakan masyarakat. Ia ingin pariwisata membuka lapangan usaha, meningkatkan pendapatan, menjaga kelestarian alam, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Ukuran tersebut menuntut kerja yang lebih panjang daripada persiapan mengikuti kompetisi atau menerima penghargaan. Pemerintah desa perlu terus mengevaluasi pengelolaan, warga membutuhkan akses terhadap peluang ekonomi, dan pelaku usaha perlu memperoleh dukungan untuk mengembangkan produknya. Pada saat yang sama, adat dan lingkungan harus tetap mendapat tempat dalam setiap keputusan pengembangan.

Di Desa Les, pekerjaan itu berlangsung melalui banyak jalan, di antara petani garam yang mempertahankan keterampilannya, perajin yang menghasilkan karya, pelaku kuliner yang menyajikan makanan lokal, warga yang merawat kawasan wisata, serta pemerintah desa yang mengupayakan koordinasi dan dukungan.

Penghargaan ADWI 2024 telah membawa nama Desa Les ke tingkat nasional. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan perhatian tersebut membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat. Bagi Adi Wistara dan Don Rare, pariwisata berbasis masyarakat memberi arah untuk menghubungkan kekayaan alam, kebudayaan, dan usaha warga dengan kehidupan ekonomi desa.

Perjalanan itu masih membutuhkan pembenahan, pencatatan yang lebih baik, promosi yang konsisten, dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Hasilnya kelak tidak cukup dilihat dari jumlah penghargaan atau kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kesempatan yang terbuka bagi warga untuk mengembangkan usaha dan menjaga tempat tinggal mereka sendiri.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

Tags: Anugerah Desa Wisata IndonesiaDesa Wisata Les
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

Next Post

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

by Jaswanto
October 28, 2026
0
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

Read moreDetails

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

by Jaswanto
October 26, 2026
0
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

Read moreDetails

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

by Jaswanto
October 24, 2026
0
Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

Read moreDetails

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails
Next Post
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co