BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang tahunnya dengan me-make up ulang buku ini dengan dandanan yang lebih menarik dari sebelumnya. Tak ada yang berubah dari bentuk sampul buku. Yang berubah, hanya warna saja, yang sebelumnya berwarna tosca, kini berwarna hijau tua dengan tulisan berwarna emas.
Yang bikin menarik, terdapat selimut buku dengan gambar hasil lukisan tangan karya Cak Zuk (Muhammad Marzuki), pelukis asal Nganjuk Jawa Timur, yang dikenal memiliki karya seni rupa bertema spiritual, sufistik, dan refleksi kehidupan sehari-hari. Sebagaimana lukisan yang digambarkan oleh Cak Zuk, buku ini bernuansa sufistik, mengisahkan sosok sufi dari Tanah Madura.
Sososk sufi itu, dalam buku ini, bernama Cak Dlahom. Dalam kesehariannya, Cak Dlahom sering berinteraksi dengan Mat Piti, Romlah, Gus Mu, Pak Lurah, dan Sarkum, anak dari istri Bunali yang meninggal tragis karena nasibnya luput dari perhatian tetangganya yang gemar ke masjid, namun abai terhadap kondisi sekitar. Dan masih banyak tokoh lainnya.
Dalam kesehariannya, tingkah laku Cak Dlahom dianggap gila atau sinting dan melawan arus. Penilaian itu wajar. Siapa yang tidak aneh melihat orang tinggal di kandang kambing, telanjang bulat di kuburan, berbicara sendiri, menuangkan tanah kuburuan di masjid dan tingkah tidak wajar lainnya.
Namun, di balik sikap tidak wajarnya itu, ada pesan yang menghentak, yang membuat orang bungkam, berpikir keras, luluh, sadar diri, bahkan bertaubat. Mat Piti, adalah orang terdekat Cak Dlahom yang sering bertanya maksud dibalik sikap tidak wajarnya. Romlah, Gus Mut, Pak Lurah, dan tokoh lainnya, perlahan, sama seperti Mat Piti.
Obrolan-Obrolan Sufi Cak Dlahom
Terlepas dari tingkahnya yang dianggap tidak wajar, Cak Dlahom justru ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, pada suatu hari di bulan Ramadhan pertama -sebagaimana bab dalam buku, Cak Dlahom berdiri di depan masjid dan membaca spanduk bertuliskan “Selamat Datang Ramadhan. Kami Rindu Padamu”, dengan suara keras dan berulang-ulang.
Sontak kelakuan aneh Cak Dlahom mengundang respon dari orang-orang yang melihatnya. Seperti biasa, anak-anak kecil selalu mencacinya dengan umpatan “Dlahom Gila”. Mat Piti, yang juga melihatnya, segera menghampirinya. Cak Dlahom bertanya kepada Mat Piti mengenai hukum puasa, dan mengapa puasa itu diwajibkan, sama seperti sholat. Meski wajib, banyak orang yang meninggalkannya.
Kata Cak Dlahom, sesuatu yang diwajibkan Tuhan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, untuk apa diwajibkan?. Mat Piti mati kutu mendengar petuah yang menyambar seperti kilat itu.
Di lain kesempatan, Cak Dlahom bergegas ke masjid menemui penceramah yang lantang menyampaikan bahwa iblis itu makhluk terkutuk dan layak dibelenggu. Terjadi perdebatan alot antara penceramah dengan Cak Dlahom di tengah ramainya jama’ah yang hadir.
Sosok sufi yang dianggap tidak waras ini, lagi-lagi membuat lawan bicaranya mati kutu dan sadar diri. Kata Cak Dlahom, tidak ada satupun ciptaan Tuhan di muka bumi ini yang sia-sia, termasuk iblis. Tanpa iblis, manusia tidak akan bergairah menjalani ibadah, dan ibadah tidak memiliki nilai. Sebab, tidak ada rasa malas yang dilawan, tidak ada sombong yang dihindari, tidak ada istiqomah yang diusahakan, dan seterusnya.
Lalu Cak Dlahom mengutip kisah Nabi Sulaiman yang diberikan wewenang untuk menangkap jin dan iblis. Umatnya pada saat itu melaporkan kondisi pasar yang sepi. Dan penyebab sepinya pasar adalah tidak ada gairah orang-orang untuk mencari nafkah dan beribadah.
Pada suatu waktu, Cak Dlahom kembali menunjukkan sikap anehnya. Karung berisi tanah yang berasal dari kuburan istri Bunali, pembantu Pak Lurah yang meninggal gantung diri karena kelaparan, dituang-hamburkan oleh Cak Dlahom di dalam masjid.
Tanah kuburan yang berhamburan di lantai masjid ini adalah simbol perlawanan kepada orang-orang yang rajin beribadah di masjid, sementara istri Bunali dan anaknya, Sarkum, dibiarkan kelaparan dan susah, bahkan meninggal dalam keadaan gantung diri.
Cak Dlahom, meski sikapnya seperti orang tidak waras dan melawan arus kebiasaan masyarakat pada umumnya, namun kehadirannya seperti alarm: mencegah dan mengingatkan orang yang hendak melakukan keburukan. [T]





























