12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
in Pameran
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

Pameran "Garbha Wedana: A Story Before It Begins" berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“GARBHA Wedana: A Story Before It Begins” menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan 20 perupa muda Bali ini berlangsung di Simple Mind Art Space, lantai dua Old Table (eks Simple Mind Artspace), Kuta, Badung, Bali. Muralis Dwymabim membuka pameran pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pameran ini berlangsung hingga 10 November 2026.

Bagi Dyurupa, pameran ini bukan sekadar perayaan kreativitas, melainkan juga kesempatan untuk merenungkan proses penciptaan. Sore itu, para seniman, terutama perupa muda, berkumpul untuk menyaksikan karya sekaligus bertukar gagasan. Pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana seni menjadi bahasa yang menghubungkan beragam pengalaman dan pemikiran.

Sebelum pembukaan resmi, pengunjung berkumpul di area depan Old Table, restoran yang berada tepat di bawah ruang pamer. Sambil menikmati kopi, teh, dan kudapan, mereka berbincang tentang seni dan pengalaman berkarya. Percakapan santai itu mengawali kunjungan mereka ke ruang pameran.

Dari restoran, pengunjung menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana, 20 karya dari 20 seniman tersaji dengan pendekatan visual, medium, dan gagasan yang beragam. Meskipun berangkat dari persoalan berbeda, karya-karya tersebut bertemu dalam satu gagasan utama Garbha Wedana: ruang kemungkinan sebelum sesuatu dilahirkan.

Keragaman itu terlihat dari bentuk dan ukuran karya yang dipamerkan. Ada karya yang terpajang di dinding, ada pula yang digantung pada tiang. Sejumlah instalasi menawarkan pendekatan visual yang menggelitik sekaligus mengundang rasa ingin tahu.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Perupa sekaligus penulis pengantar pameran, I Wayan Suma Bagia, melihat daya tarik pameran ini pada cara setiap seniman menafsirkan ruang sebelum kelahiran. Romantisme, simbol, elemen visual, dan rekaman emosi menjadi bagian dari perenungan mereka. “Mari kita kembali ke titik nol dan meresapi Garbha Wedana,” ajaknya.

Melalui medium dan sudut pandang yang berbeda, para seniman berusaha menyelami momen ketika sebuah gagasan belum menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Proses penciptaan tidak selalu bermula dari bentuk yang sudah jelas. Kegelisahan, ingatan, pengalaman, bahkan sesuatu yang belum dapat dijelaskan sepenuhnya, bisa menjadi titik awal sebuah karya.

“Karya-karya di ruang ini bukanlah muara akhir dari sebuah narasi, melainkan undangan terbuka bagi penikmatnya untuk merenung bahwa jangan-jangan bagian paling penting dari sebuah cerita justru terjadi tepat sebelum cerita itu dimulai?” ungkap Suma Bagia.

Menurut Suma Bagia, karya-karya tersebut mengajak pengunjung memikirkan bagaimana sebuah kisah dapat hadir sebelum bentuknya terbentuk. Peserta pameran terdiri atas anggota resmi Dyurupa dan perupa yang diundang secara khusus. Dengan perspektif, kedalaman pemaknaan, dan medium artistik masing-masing, mereka menafsirkan tema pameran melalui cara yang beragam.

Ragam Tafsir tentang Asal Mula Kehidupan

Salah satu tafsir hadir melalui karya Ajung atau Nilam Biru yang mengangkat cerita rakyat Timun Mas. Dengan menghadirkan sosok ibu Timun Mas, karya ini menelusuri asal mula kehidupan melalui kisah yang telah hidup dalam tradisi tutur Nusantara.

Seniman lain mengembangkan gagasan yang lebih luas. Aristya Purnama, misalnya, menghadirkan Episode 0, sebuah refleksi tentang bencana dan anugerah yang, menurut penafsirannya, berakar pada nafsu. Sementara itu, Tridanapvtera memandang cinta sebagai asal mula penciptaan.

Ciggy mempertanyakan apakah kelahiran manusia ke dunia merupakan berkah atau justru kesialan bagi individu yang mengalaminya. Ugi Gayali memaknai perjalanan menuju kelahiran sebagai zona antara, sedangkan Giri Arnaga mengangkat kisah awal penciptaan manusia melalui pendekatan visual yang megah.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Simbol-simbol tertentu juga menjadi pintu masuk untuk membicarakan penciptaan. Cartdz dan Yubin, misalnya, menghadirkan burung sebagai pembawa benih sekaligus simbol persiapan kehidupan. Adapun Con menampilkan simbol tangan yang seolah hidup di antara sosok-sosok tubuh yang gelap dan samar.

Pendekatan berbeda tampak dalam karya I Wayan Ady Surya Pratama. Ia mengeksplorasi akar, air, daun, kristal, dan lumut sebagai bentuk-bentuk yang menyerupai organisme, tetapi belum menjadi sosok utuh. Unsur-unsur tersebut menggambarkan kehidupan yang masih berada dalam tahap pembentukan.

Prangga Wardana memilih Catur Muka, representasi Dewa Brahma sebagai dewa penciptaan sekaligus ikon yang berkaitan dengan titik nol Kota Denpasar. Sementara itu, Putu Winata menghadirkan Jatiluwih dalam bentuk baru melalui pengolahan rasa dan pengalaman artistik.

Tafsir yang berpijak pada tradisi spiritual muncul dalam karya Sri, yang mengangkat konsep Catur Sanak sebagai pembimbing spiritual dalam proses menuju kelahiran. Windu Septayana, di sisi lain, memandang ketidaksempurnaan dalam proses kelahiran sebagai bagian dari perjalanan seseorang untuk menemukan bentuk dirinya sebagai manusia.

“Terakhir, kita juga dapat menilik karya-karya yang lebih intrinsik, dengan pendekatan-pendekatan yang lebih personal,” papar Suma Bagia.

Pendekatan personal itu terlihat dalam karya Anik Argianti, Karin Puspitasari, dan Kendisan, yang menelusuri proses sebelum proses itu sendiri dalam penciptaan karya seni. Ichalecir dan Novi Sumariani mengangkat fase-fase kehidupan yang menjadi titik awal kelahiran kembali diri mereka dalam pengertian personal.

Pengalaman personal yang lebih intim hadir dalam karya Teratai Api. Ia merefleksikan fase kelahirannya sendiri, yang diwarnai trauma dan kepedihan akibat pengalaman sang ibu selama masa kehamilan. Melalui karya tersebut, kelahiran berkelindan dengan ingatan dan jejak emosional yang menyertainya.

Dari Tradisi Kelahiran ke Proses Penciptaan

Ketua panitia pameran, Prangga Wardana, menjelaskan bahwa Garbha Wedana merupakan langkah awal Dyurupa untuk membangun ruang kreatif yang terbuka, organik, dan terus berkembang melalui pertemuan berbagai gagasan serta praktik artistik.

“Melalui tema A Story Before It Begins, Garbha Wedana mengangkat gagasan tentang fase sebelum kelahiran, bukan hanya sebagai proses biologis, tetapi sebagai ruang tempat sesuatu tumbuh, dipersiapkan, dirawat, dan perlahan menemukan bentuknya,” ujarnya.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Gagasan tersebut berangkat dari tradisi Hindu Bali, khususnya Magedong-gedongan, ritual yang berkaitan dengan kehidupan bayi di dalam kandungan. Dalam tradisi ini, kandungan tidak hanya dipahami sebagai ruang biologis, tetapi juga sebagai ruang sakral tempat kehidupan dijaga dan dipersiapkan sebelum hadir ke dunia.

Pemaknaan terhadap masa sebelum kelahiran juga ditemukan dalam tradisi Mitoni atau Tingkeban di Jawa, yakni rangkaian upacara kehamilan yang menandai fase penting menjelang kelahiran. Kedua tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana kebudayaan Nusantara memberi arti pada masa penantian melalui doa, persiapan, perawatan, restu, dan harapan.

Dalam Garbha Wedana, pemaknaan itu diperluas ke ranah penciptaan seni. Sebuah karya juga memiliki masa sebelum kelahirannya, ketika gagasan mulai tumbuh dari keresahan, pengalaman, ingatan, percobaan, atau sesuatu yang belum memiliki bentuk jelas.

Gagasan tersebut kemudian disimpan, dirawat, diuji, dan dipertanyakan sebelum perlahan berkembang menjadi karya. Proses ini menunjukkan bahwa penciptaan membutuhkan waktu, pergulatan batin, serta keberanian untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

“Pameran ini tidak hanya berbicara mengenai apa yang telah lahir, tetapi juga mengenai apa yang terjadi sebelum kelahiran itu sendiri,” papar Prangga Wardana.

Karya sebagai Ruang Kandungan

Sebanyak 20 seniman berpartisipasi dalam pameran ini dengan menghadirkan lukisan dan instalasi melalui eksplorasi material serta pendekatan visual yang beragam. Masing-masing membawa tafsir tentang fase sebelum kelahiran sesuai dengan pengalaman dan cara pandang mereka.

Ada yang menelusuri asal mula kehidupan, merekam proses penciptaan, mengungkap pergulatan batin, mengeksplorasi material, atau mencari kemungkinan bentuk yang masih terus berkembang.

Karya-karya itu tidak hanya menunjukkan hasil akhir dari proses kreatif, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan yang mendahuluinya. Setiap karya menjadi semacam ruang kandungan bagi gagasan, tempat sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk dapat tumbuh dan perlahan menemukan arahnya.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Dari sudut pandang ini, karya seni tidak hanya berbicara melalui bentuk yang terlihat. Di dalamnya tersimpan proses, keraguan, pengalaman, dan berbagai kemungkinan yang mengiringi penciptaannya. Pengunjung diajak melihat lebih jauh daripada apa yang sudah terwujud, lalu membayangkan perjalanan yang mendahului bentuk tersebut.

Episode Nol dalam Perjalanan Dyurupa

Ketua Umum Dyurupa, Aristya Purnama, mengibaratkan perjalanan kreatif komunitas ini sebagai sebuah cerita berseri. Dalam perumpamaan tersebut, Garbha Wedana bukanlah episode pertama, melainkan episode nol: bab sebelum cerita dimulai, ketika gagasan masih berada dalam ruang penciptaan dan berbagai kemungkinan belum tertutup.

A Story Before It Begins berbicara tentang apa yang berlangsung sebelum sesuatu menjadi nyata. Gagasan masih tumbuh, proses belum tuntas, dan kemungkinan belum menemukan bentuknya. Pameran ini menjadi pernyataan awal Dyurupa dalam memasuki ruang seni rupa sekaligus pijakan untuk membangun perjalanan kreatif bersama.

Aristya menjelaskan, Dyurupa merupakan komunitas seniman rupa berbasis di Bali yang tumbuh dari semangat untuk berkembang bersama dalam lingkungan kreatif yang terbuka, organik, dan saling mendukung.

Cara kerja komunitas ini terinspirasi oleh prinsip agroforestri, sistem yang mengandalkan hubungan antarelemen untuk membentuk ekosistem hidup, adaptif, dan berkelanjutan. Prinsip tersebut diterapkan dalam kegiatan berkarya, berdiskusi, dan menyusun program seni. Setiap anggota diberi ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan karakter individualnya.

Bagi Dyurupa, hutan bukan sekadar sumber inspirasi visual, melainkan gambaran tentang keberagaman, keterhubungan, dan keseimbangan. Setiap anggota memiliki latar belakang, gaya, perhatian, dan pendekatan artistik yang berbeda. Perbedaan itu menjadi modal untuk saling menguatkan sekaligus memperluas kemungkinan berkarya.

“Melalui pameran, kolaborasi, dan berbagai inisiatif kreatif, Dyurupa berupaya menghadirkan ruang seni yang dinamis, relevan, dan mampu membangun hubungan yang lebih luas antara seniman, karya, ruang, dan publik,” ujar Aristya Purnama.

Lewat Garbha Wedana: A Story Before It Begins, Dyurupa memperkenalkan diri sebagai komunitas seni rupa baru di Bali sekaligus menawarkan pemahaman tentang penciptaan sebagai proses yang terus bertumbuh. Sebagaimana kehidupan yang bermula di dalam kandungan, gagasan artistik membutuhkan ruang untuk dirawat, dipertanyakan, dan dikembangkan sebelum menemukan bentuknya.

Garbha Wedana mengajak pengunjung kembali ke titik nol, ke ruang ketika segala sesuatu belum memiliki nama, bentuk, dan makna. Kelahiran yang tampak di hadapan dunia hanyalah satu bagian dari perjalanan; sebelum itu, ada proses panjang yang berlangsung dalam senyap, membentuk kemungkinan hingga sesuatu siap hadir.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: DyurupaGarbha Wedana: A Story Before It BeginsPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

Next Post

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman ---Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co